
“Jadi gimana, Ay? Ceritain sama kami dong kisahnya. Masak iya elo pendem sendiri, nggak asik deh.” Nuna yang penasaran dengan semua percapan Devano dan Ayla pun akhirnya bertanya.
“Tumben elo, Nun. Biasanya kalau gue yang kepo elo yang ngomel dan bilang jangan kepo lo! Eh sekarang elo yang kepo.”
“Ya sesekali nggak apa-apa kan? Gue bener-bener penasaran ama kisah cinta mereka yang kayak kepingan puzzle ini.”
“Udahlah, nggak usah dibahas-bahas hal yang nggak perlu kayak gini.” Arka pun protes.
“Kenapa lo, Ar? Cemburu lo?”
“Nggak asik, pembahasan antara cewe itu nggak asik, nggak seru banget kayaknya.”
“Bilang aja kalau elo cemburu.”
“Elah, gue cemburu.”
Semua orang pun langsung tertawa terbahak-bahak mendengar hal itu. Sementara Ayla hanya mengulum senyum.
Iya, Ayla bahagia. Tapi entah kenapa ada rasa yang menggantung dalam hati kecilnya. Ayla sendiri tidak tahu harus bagaimana dan berbuat apa. Dia juga tidak tahu kenapa hatinya tidak bisa bahagia yang begitu selepas itu tentu saja.
Ayla kembali mengingat percakapannya dengan Cindy beberapa waktu yang lalu, yang cukup membuat Ayla tidak bisa untuk terlalu euphoria kesenangannya ini, karena ia sendiri tidak mau membuat semua orang dalam masalahnya hanya karena dirinya. Ini adalah tentang hati, benar sekali. Jadi bagaimana bisa hati ini bisa berbagi-bagi dengan cara yang sangat mengerikan.
“Gue tahu kalau elo sama Devan itu sama-sama saling cinta, dan mungkin Devan sekarang ngerengek buat dapetin elo. Namun, gue rasa harus ngomong ini sama elo. Gue dan elo sama-sama saling cinta sama cowok yang sama tentu saja, gue nggak berharap kalau gue bisa menang dari elo dengan cara yang mungkin nggak bener atau lain sebagainya. Hanya saja …” kata Cindy ketika ia berada di toilet dan kebetulan juga Ayla berada di tempat yang sama.
“Ini adalah cinta monyet, dan gue yakin suatu saat Devano bakal tahu siapa yang dibutuhkan untuk berada di sampingnya dibandingkan siapa yang dia cintai saat ia masih remaja. Elo nggak pinter, elo bodoh, sementara Devano adalah sosok yang begitu pintar, dia butuh pasangan yang pintar dan bisa ngimbangin dia yaitu gue. Jadi, selama ini masih bisa disebut dengan cinta monyet maka silakan kalian untuk bersama sampai hati kalian senang. Gue nggak akan ngelarang, gue nggak akan sama sekali buat ngebantu kalian dengan segala hal yang ada. Berusaha sebaik apa pun dan dengan cara apa pun juga nggak akan merubah keadaan. Otak lo IQnya di bawah rata-rata, Ayla.”
Setelah mengatakan itu dengan percaya diri, Cindy pun pergi. Membuat Ayla terdiam dengan mimik wajah yang paling bodoh yang pernah ada, tentu saja hal ini membuat dirinya tidak tahu harus berbuat apa, dan bahkan dari segala hal yang ada tentu saja membuat Ayla berpikir jika benar, apa yang dikatakan oleh Cindy benar, dia itu anak yang bodoh, cewek bodoh yang tidak memiliki kepandaian apa pun. Lantas apa benar dia cukup pantas untuk berada di sisi Devano? Di saat dalam keadaan ini sendiri dia tidak tahu harus bagaimana dan harus berbuat apa.
__ADS_1
“Ay, kenapa sih elo malah ngelamun terus. Ada masalah apa? Sini dong cerita sama kita. Balikan sama Devano nggak malah ngebuat elo bahagia tapi kayaknya beban di pikiran lo banyak ngalahin menteri keuangan aja lo.”
“Bingung deh gue.” Ayla pada akhirnya berceletuk tentu saja.
Kemudian dia menghela napas panjangnya dengaan sempurna, menggaruk tengkuknya dengan sempurna.
“Nggak masalah sih, nggak apa-apa. Masalahnya nggak ada. Hehehe.”
Semuanya pun mendengus dengan sempurna, ada beberapa masalah juga yang cukup baik kalau semuanya tidak akan pernah mendapatkan penyelesaian masalah kalau sampai dia cerita kepada semuanya, dan akhirnya Cindy akan memiliki begitu banyak musuh. Ayla tidak mau kalau sampai semua orang yang dia sayangi menjadi benci dengan Cindy dan semuanya karena dia.
“Gue itu nggak mau kayak yang seneng-seneng banget itu, takutnya nanti gue sedih. Kalian pernah dengerkan perumpamaan kayak gitu, jangan terlalu bahagia, karena bahagia dan air mata itu selisihnya tipis, setipis kulit bawang yang dipisah jadi tujuh. Itu katanya.”
“Kata siapa sih? Gue baru denger peribahasa model gitu?”
“Ehm, peribahasa kuno sih.”
“Ada lah.”
Semua orang langsung diam, semua pembahasan ini menjadi cukup membingungkan hingga akhirnya Arka bersin beberapa kali, bersin disengaja untuk membuat percakapan garing yang dilakukan oleh Ayla.
“Gue laper nih, makan yuk. Dari pulang sekolah sampai malem gini nggak makan nih gue.”
“Yok makan yok!” imbuh Intan.
“Laper nih!” tambah Nuna.
Ayla kembali menganggukkan kepalanya juga, biar bagaimanapun ini memang harus dilakukan. Mereka memang sedari tadi belum makan sama sekali, bahka Nuna dan Intan yang rencananya akan makan siang di sekolah, karena mengerjakan rangkuman dari Bu Nita mengurungkan niat mereka untuk makan. Pastilah mereka kelaparan.
__ADS_1
“Gimana kalau gue yang traktir kalian?” tanya Ayla.
Semua anak langsung memandang Ayla dengan sempurna, wajah mereka pun langsung berbinar dengan sempurna.
“Seriusan lo?”
“Duarius lah. Bentar, bentar …” kata Ayla kemudian, merogoh tasnya kemudian dia mengambil dompet mungilnya. “kalau nggak salah nih ya, gue bawa tabungan gue deh.”
“Anjir amat, elo dapet uang saku berapa sih emang sehari, Ay? Sampai bawa tabungan elo segala mau traktir kita-kita. Makan ayam kremes dua puluh rebuan nggak apa-apa deh, laper gini apa aja enak deh!” kata Arka.
“Gue nggak pernah bawa duit sih biasanya. Bawa duit pas buat jajan di kantin paling enggak dua puluh ribu.”
“Anjir amat lo, pantes jadi bendahara lo.”
“Eh cukup deh, ada nih tiga ratus ribu yuk. Buru kita ke mana. Tiga ratus ribu harus cukup buat kita berempat ya.”
“Ah, bisalah makan enak. Yok cari, gue punya tempat yang seru buat nongkrong.”
Semuanya pun langsung mengangguk dengan semangat, kemudian Arka bergegas mencari tempat yang ia maksud.
Tak berapa lama, Arka pun memakirkan mobilnya. Semuanya langsung keluar dengan mimik wajah yang takjub.
Bagaimana tidak, ada sebuah kafe yang lokasinya agak ke bukit, dan mengusung tema alam. Di mana semua pengunjung bisa melihat lampu-lampu kota dari atas yang seperti kunang-kunang. Pemandangan yang sejuk dengan lampu-lampu kecil di sekelilingnya terasa begitu hangat dan menyenangkan.
Semuanya berdecak kagum melihat hal itu, merasakan kembali kea lam yang segar dan bebas. Ini adalah hal yang paling menyenangkan, bahkan rasanya Nuna, Intan dan Ayla tidak mau pulang, ingin lebih lama bermanja-manja di tempat ini.
“Tahu aja lo tempat bagus, Ar.”
__ADS_1
“Gue mah tahu semuanya. Ini tempat tongkrongan temen-temen gue.”