SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.

SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.
Sebuah Asa


__ADS_3

“Jadi, Ayla dateng?” tanya Devano.


Mamanya agaknya cukup kesal dengan pertanyaan itu, kenapa putranya sebegitunya dengan seorang cewek bernama Ayla itu. Sosok yang seharusnya tidak menjadi penting sekali dalam kehidupan Devano.


“Devano—“


“Maaf, pihak keluarga pasien ada? Harus mengurus administrasi dulu di ruang administrasi.”


Mamanya Devano menoleh, kemudian ia tersenyum dengan senyuman paling manis yang pernah ada.


“Baik, Sus.”


Mamanya Devano pun pergi, membuat semua sahabat Devano langsung menghela napas lega tanpa sadar.


Mereka langsung duduk mengelilingi Devano memandang Devano dengan tatapan penuh arti.


“Tadi emang Ayla datang, nungguin elo dari ruang IGD sampai lo dapet kamar.” Gilbert pun akhirnya bercerita.


“Namun sayang waktu itu nggak lama, belum sempat dia ketemu sama elo dan lihat elo sadar, Mama lo udah marahin Ayla. Jadi Ayla mutusin buat pulang, tapi gue susul.”


“Terus?” tanya Devano yang agaknya penasaran.


“Hubungan cinta kalian gimana sih, Dev? Gue nggak paham bener, gue tahu untuk ngejagain beberapa rahasia dari Ayla. Hanya saja, tadi saat kami ngobrol dia bilang kalau dia ini bukan siapa-siapanya elo, dan sebenernya elo itu nggak cinta sama dia, dan elo hanya manfaatin dia buat jadi ceweknya elo hanya untuk ngehindarin dari semua cewek yang mau deketin elo. Gila nggak sih itu?”


Devano pun hanya diam, dia tak mengatakan apa pun. Hingga kemudian Gilbert menepuk bahu Devano dengan sempurna.


“Kalau emang lo cinta itu bilang cinta, kalau enggak bilang enggak. Jangan ngegantungin anak orang, gue tahu dengan elo sampai ngelakuin pertandingan basket yang berisiko kayak gini, yang tipikalnya elo pasti sekadar buang-buang waktu, agaknya sosok Ayla masih sepenting itu. Kenapa lo diem aja dan nggak merjuangin kayak dulu? Kayaknya elo dulu paling semangat, apa-apa Ayla, apa-apa Ayla, sampai heran bocil mana yang udah bikin elo jadi gila.”

__ADS_1


“Masalahnya udah nggak kayak dulu.” Devano akhirnya angkat bicara.


Dia kembali menghela napas panjang, kemudian mengucek matanya yang terasa masih berat.


“Gue dan Ayla udah nggak kayak dulu, gue nggak tahu harus gimana lagi.”


“Bukannya elo tinggal ngomong jujur aja ama dia tentang semuanya? Kemudian elo bilang sama dia kalau—“


“Kejujuran dan kenyataan itu gue yakin malah akan nyakitin dia, Gil.”


“Terus elo mau gini terus? Gimana bisa? Lo tahu yang nantangin elo bukan cowok main-main, Dev. Gue udah cari informasi jika Arka ini dulu adalah anak SMP sebelah, bokapnya pengusaha kaya-raya, dan dia memiliki kemampuan buat maksa. Apa yang dia inginkan pasti bakal dia dapetin. Itu adalah motonya dan nyaris semuanya benar. Dan takutnya kalau elonya diem aja lama-lama jadi kayak gini, Arka ngejar Ayla terus dan nggak nutup kemungkinan kalau lama-lama cinta Ayla ke elo pupus kemudian tumbuh lah cinta Ayla ke Arka. Ya yang namanya dikejar tiap hari, ngerasa diperhatiin, disayangin dan lain sebagainya. Pastilah semua itu akan berubah, sementara sosok yang dia cinta aja nggak peduli. Gimana coba?”


“Apa kata Gilbert benar, ada juga nih pepatah yang bilang, cintai sesuatu itu sekadarnya, kalau berlebihan nggak baik. Kalau Ayla cinta ama elo sampai segitunya berarti membuktikan kalau banyak kemungkinan kalau dia sendiri mungkin akan hilang rasa sama elo kalau terus-terusan elo sakiti tentu saja.”


Yang lain langsung diam, seolah membuat menutup mulut. Karena Devano juga ditekan seperti itu pun tidak akan pernah akan baik-baik saja dengan segala hal yang ada tentu saja.


Semua orang yang ada di sana pun tersenyum juga, apa yang dikatakan oleh Aldi memang benar. Tidak ada yang salah sama sekali, tidak ada yang membuat semuanya menjadi lebih mudah dibandingkan itu tentu saja.


“Baiklah, sekarang biarkan Devano istirahat. Kita cabut dulu, besok kita balik lagi.”


“Thanks, Bro. Thanks udah ada buat gue dan dengan segala hal yang ada, sekali lagi thanks.”


“Sama-sama, kami akan selalu ada buat elo. Gue tahu kalau di SMA elo yang baru elo nggak punya temen kan?”


“Elo kenapa sih nggak mau punya temen anak SMA elo?” tanya Adli.


Devano kembali diam kemudian menghela napas panjangnya dengan sempurna tentu saja.

__ADS_1


“Dia udah ngerasa trauma kali, yaudah deh nggak usah bahas ini lagi. Bahas masa lalu hanya buat sakit hati aja. Jadi balik-balik!” ajak Daniel lagi.


Semuanya pun akhirnya langsung bergegas pulang setelah menyampaikan salam untuk Devano, berjumpa lagi dengan Devano setelah dua tahun terpaksa harus berpisah adalah hal yang sangat menyenangkan.


Devano sendiri secara pribadi merasa senang bukan main, agaknya dia menjadi sosok yang tidak terbayangkan, ini adalah hal yang tidak bisa dibayangkan, pada akhirnya bisa bertemu dan bersama-sama sahabatnya lagi untuk kesekian kalinya.


Sekarang apa yang membuat Devano merasa akan baik-baik saja tentu saja. Sekarang, Devano ini mulai merasa kesepian lagi. Devano benar-benar bingung setengah mati apa yang harus dilakukan oleh Devano sekarang.


Kini Devano kembali tersenyum, dengan Ayla mau datang kepadanya dan untuk mengurusnya juga adalah hal yang paling menyenangkan. Ini tandanya jika Ayla masih peduli dengannya tentu saja. Apa lagi yang akan membuat semuanya baik-baik saja atau bagaimanapun semuanya akan menjadi seperti ini.


“Ay, aku akan mengurus semuanya, aku yakin jika kamu akan kembali kepadaku dengan berbagai cara yang ada. Aku akan berusaha menjadi baik baik-baik saja.”


Semuanya akan baik-baik saja, Devano yakin tentang hal itu. Dia sama sekali tidak peduli dengan semuanya.


“Lho, teman-temanmu udah pada pulang semuanya?” tanya mamanya Devano.


Devano menganggukkan kepalanya dengan sempurna, kemudian dia memandang mamanya lagi.


“Udah, Ma.”


“Tadi Mama habis ngomong sama dokter dan untung aja semuanya baik-baik saja.”


“Nggak perlu dioperasi lagi?”


“Nggak perlu, tapi harus beberapa mengalami tindakan dokter ya mungkin agak nyakitin, kamu keras kepala sih, bukannya—“


“Ma, udahlah ,,, jangan ngebahas hal kayak gini lagi, capek aku ngebahas masalah dan harus diulang-ulang terus. Nggak ada gunanya sama sekali kan.”

__ADS_1


“Baiklah, kamu istirahat dulu. Mama mau pulang sebentar buat ambil keperluanmu.”


__ADS_2