SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.

SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.
Protes Arka.


__ADS_3

“Gimana keadaan Devano, elo kemarin jenguk dia kan?” tanya dari Arka.


Ayla pun terdiam saat Arka datang ke rumahnya. Tentu saja hal ini membuat Ayla bingung bukan main. Hingga akhirnya Ayla sadar jika rumah Arka ada tepat di depan rumahnya.


“Kenapa lo kesini? Abang nggak ada di rumah, Papap pun nggak ada di rumah. Hanya gue sendiri.”


“Gue penasaran dengan kabar Devano, gue nggak tahu kalau sebelumnya dia ada cidera. Jadi gue bener-bener syok saat denger kalau dia dilarikan ke rumah sakit karena bahunya cidera apa lengannya cidera.”


Ayla pun diam, dia bingung mau menjawab apa. Benar jika memang di rumah sakit saat itu. Tapi masalahnya adalah, Ayla tidak selesai. Ayla langsung pulang karena mamanya Devano tidak menyukainya, lebih dari itu yang Ayla tahu hanyalah Devano sadarkan diri, masalah cidera dan lainnya Ayla sama sekali tidak tahu.


Ayla kembali memandang Arka, kalau sampai dia bilang tidak tahu pastilah Arka akan semakin banyak bertanya, dan Ayla malah akan bingung menjawabnya sepertiapa.


Ayla menghela napas panjangnya dengan sempurna, kemudian dia mengajak Arka untuk duduk di teras rumah.


Ya, Ayla paling tidak bisa kalau dipaksa-paksa. Ayla malah akan bingung setengah mati dengan paksaannya itu. Ayla menghela napas panjangnya lagi, tentu saja hal ini memiliki satu kesatuan yang tidak bisa Ayla hadapi.


“Kayaknya baik-baik aja.”


“Kayaknya.” Arka menarik sebelah alisnya.


“Kane lo ada di rumah sakit, kok bilang ngomongnya kayaknya sih. Kayak nggak yakin gitu, Ay.”


“Di sana ada banyak orang, jadi gue milih nggak deketi Devano. Lagian masih berada di ruang IGD dan belum dapat kamar. Jadi pas denger dia sadar gue langsung cabut pulang karena udah malem dan Nuna juga Intan juga sama-sama udah jemput gue.”


Ayla melirik Arka, dia kemudian menganggukkan kepalanya dengan sempurna. Arka pasti percaya kan? Jangan sampai kalau Arka tidak percaya dengan apa yang dia ucapkan ini.


Ayla jujur, dia tidak berbohong, dia tidak mengatakan apa pun yang sebenenarnya. Hanya saja masalah yang lainnya itu berbeda.


“Jadi gitu, sebenernya gue hanya isengin dia, mepetin dia terus sampai dia gue pikir kesel gitu sama gue. Siapa sangka ternyata dia nggak kesal tapi kesakitan, dan tadi pas dia digotong itu gue sempet kaget dan ternyata ada salah satu temen SMPnya dulu yang ternyata satu sekolah sama kita, dia bilang kalau dulu Devano kapten basket SMP mereka dan semua yang ikut itu temen satu timnya. Devano dulu dapat tawaran buat ke tim nasional tapi karena cidera dia milih ngundurin diri dan satu alasan kenapa dia nggak terlihat olahraga sama sekali dan sibuk dengan buku dan jadi kutu buku emang karena cideranya itu.”


Ayla pun mengangguk sebab memang dia tahu hal itu juga dari Abraham tentu saja.


“Ya emang kayak gitu kisahnya, gue aja baru tahu dari adek kelasnya kok.”


“Gue nyesel baget karena hal ini, gue nggak tahu dia siapa dan nggak cari tahu dulu latar belakangnya kayak gimana. Bener kalau gue emang kesel sama Devano, tapi kalau karena gue cideranya makin parah pun gue nggak ngebenerin apa pun yang gue lakuin. Ini adalah hal yang fatal, Ayla.”


“Kalau lo mau minta maaf kenapa nggak minta maaf aja? Lo bisa kan minta maaf langsung tentu saja.”


“Gue nggak berani lah kalau di rumah sakit, ntar dia ngadu ke bonyoknya lagi, apalagi tuh temen-temennya kayaknya kompak banget, mau motong leher gue kayaknya. Tatapannya tajam banget.”


“Mereka orang baik kok.”

__ADS_1


“Lo tahu dari mana?”


“Gue ngobrol sama salah satu di antara mereka yang namanya Gilbert dan masalah ini pun mereka nggak ada nyinggung elo dan temen-temen elo yang seolah sengaja mepetin Devano terus, yang ada Nuna dan Intan yang curiga kalau elo sengaja.”


“Demi Tuhan gue nggak sengaja, Ay!”


“Entah, gue nggak tahu.”


“Lho, elo ada di sini, Ar? Kenapa di luar aja? Ayo masuk.”


Ayla pun memutar bola matanya jenggah, kemudian dia memandang kesal pada abangnya.


“Dia kan cowok, nggak ada orang di rumah. Yakali gue izinin dia masuk.”


“Ya maaf, ayo masuk, Ark.”


“Nggak deh, Bang. Gue di sini aja, lagian gue udah mau pulang.”


“Nggak main game sama gue nih.”


“Kayaknya Abang capek gini. Baru pulang kuliah, Bang.”


“Ah, Abang aja yang ketua BEM makanya sibuk. Coba kalau mahasiswa biasa, pasti nggak sibuk.”


Ayla tersenyum sinis, bahkan sepertinya Arka jauh lebih waras dari pada abangnya tentu saja.


Daren melirik Ayla, kemudian dia tersenyum kaku. Iya dia janji kalau akan lebih mengurangi jadwalnya di kampus, tapi tetap saja hal itu sulit sekali. Sebagai ketua BEM dan ada beberapa kegiatan yang akan dimulai, pastilah dia akan sangat sibuk sekali.


“Lo kenapa kesini?”


“Gue hanya tanya sama Ayla masalah temen satu sekolah.”


“Tentang? Kenapa? Tawuran apa gimana?”


“Enggak tentang Devano yang cidera.”


“Devano?” kaget Daren.


Kemudian dia melirik Ayla, dan tersenyum samar.


“Abang kenal?”

__ADS_1


“E … enggak. Kaget aja namanya karen banget. Kayaknya orangnya keren juga.”


“Nggak sih, anaknya tengil. Cakepan jug ague, Bang.”


“Emang kenapa lo tanyain dia ke Ayla?”


“Karena dia cidera?”


“Bahunya cidera?”


“Kok lo tahu, Bang.”


“Ah, enggak. Nebak aja.”


“Iya, dia tadi main basket sama gue, bahunya cidera dan pingsan. Dibawa ke rumah sakit sama Ayla.”


Daren langsung memandang Ayla dengan mimik wajah penuh selidiknya yang luar biasa itu.


“Kamu ikutan ke rumah sakit? Emang kamu kenal yang namanya Devano itu?”


“Mantan.”


“Apa!” kaget Daren.


“Nggaklah, apaan sih elo, Ar!” kesal Ayla.


Arka terkekeh juga, kemudian dia menggelengkan kepalanya dengan sempurna.


“Entahlah, Bang. Masalah Devano ama Ayla ini ruwet, gue nggak mau ikut campur sih, tapi Abang nyuruh gue buat jagain Ayla. Jadi kalau Devano nyakitin Ayla gue yang marah.”


“Emang Devano pernah nyakitin Ayla?”


“Bener! Katanya Devano pacaran sama Ayla hanya karena ingin ngehindari cewek-cewek, Devano itu nggak suka sama Ayla dan benci sama Ayla. Katanya gitu, Bang. Tengil banget kan Devano ini, makanya gue kesel dan buat Devano biar nggak nyakitin Ayla, gue tantangin dia main basket tadi, eh nggak tahunya dia punya cidera sebelumnya dan tadi kena lagi, masuk rumah sakit deh jadinya.”


“Ada ya yang kayak gitu? Masak Devano sejahat itu sama Ayla?”


“Tanya ama bocahnya langsung deh, Bang, bahkan Ayla ini dibully di sekolah karena Devano.”


“Beneran, Dek?” tanya Daren yang seolah tidak percaya sama sekali.


Ayla diam sejenak kemudian dia menganggukkan kepalanya dengan sempurna.

__ADS_1


__ADS_2