
Pagi ini Ayla duduk manis di bangkunya, agaknya masalah ‘belajar kelompok’ dengan adanya Intan benar-benar tidak efektif sama sekali. Bukannya Ayla bisa tenang belajar, malah membuat Ayla dan juga Nuna begadang.
Sepanjang malam Intan terus mengobrol, Intan terus mengajak kedua sahabatnya bercerita dan mengeluarkan semua masalahnya. Meski menurut Ayla dan Nuna masalah Intan bukanlah masalah yang benar-benar berat.
Hingga subuh, mereka bertiga baru bisa tidur dengan tenang. Itu pun karena Intan sudah tidur.
“Rasanya mata gue sepet banget.”
Ayla langsung meletakkan kepalanya di atas meja, matanya masih setengah terbuka dan tertutup dengan begitu lama.
“Sepertinya nanti gue izin ke UKS aja lah. Gue mau tidur.”
Ayla kembali memejamkan matanya, untungnya dia berangkat sangat pagi hingga hanya ada beberapa siswa yang datang.
“Apakah kamu begadang semalam?”
“Heem.”
“Kenapa kamu harus begadang? Apakah kamu sedang belajar?”
“Heem. Sama Nuna dan Intan.”
Ayla terdiam, keningnya berkerut dengan sempurna. Kedua alisnya saling beruatutan dengan sempurna.
Siapa gerangan yang mengajaknya berbicara? Kenapa harus ada kata ‘aku-kamu’? Sebuah hal yang membuat Ayla bingung setengah mati.
“Kamu siap—“
Ucapan Ayla pun terhenti, tepat ketika telapak tangan besar itu menutup wajahnya dengan sempurna.
“Nggak usah bangun, tetap dalam keadaan seperti ini.”
“Elo ….”
Dada Ayla terasa sesak, ia tahu siapa gerangan sosok yang ada di sampingnya ini.
Ya sosok itu adalah … Devano.
__ADS_1
“Kalau kamu mau belajar, nggak akan efektif kalau sama dua sahabatmu yang nggak jelas itu. Si sok cantik pasti nggak akan memberimu efek apa pun dan memajukan kinerja otakmu.”
Ayla tahu yang dimaksud ‘si sok cantik’ itu adalah Intan. Dan memang benar apa yang dikatakan Devano. Namun, dari mana Devano tahu tabiat dari Intan? Seolah Devano telah kenal lama dengan dua sahabat Ayla.
“Setiap pulang sekolah aku tunggu di kafe samping sekolah. Kita akan belajar sampai jam lima sore.”
“Kenapa gue harus?” kata Ayla.
Agaknya dia tidak mau menjadi yang terbodoh, agaknya dia tidak mau menjadi manusia yang mudah lemah dan luluh atas semua hal yang diberikan oleh Devano kepadanya.
“Jangan ganggu gue, jangan usik gue, dan jangan ngebuat semua orang semakin salah paham dengan kita. Kita nggak ada hubungan apa-apa.”
“Siapa yang berhak memutuskan hubungan ini? Kamu nggak akan bisa, hanya aku yang bisa.”
“Elo ….”
“Jika kamu mengantuk pergilah ke UKS. Belajar dengan kondisi seperti ini malah akan membuatmu dimarahi guru.”
Setelah mengatakan itu, Devano mengelus puncak kepala Ayla. Kemudian dia berdiri dan pergi.
Bisa dilihat dengan jelas oleh Ayla bagaimana sosok tinggi tegap itu berjalan keluar. Ayla pun menekan dadanya dengan sempurna.
Namun, bagaimana Devano malah seperti ini. Hal ini tentunya bukanlah hal yang baik-baik sama sekali untuknya.
“Enggak, gue nggak mau peduli sama dia. Gue mau fokus sama hidup gue. Kalau sampai gue datang ke kafe tersebut, maka gue akan menjadi sosok yang paling bodoh di seluruh dunia.”
“Jadi elo beneran pacaran sama Kak Devano ya?” tanya Sisil.
Ayla pun langsung mendongak, matanya menyipit dengan sempurna. Ini adalah hal yang membuatnya kaget.
Dan betapa semakin kaget dia saat dia membuka mata. Ternyata di kelas sudah ada lebih dari lima teman sekelasnya yang sudah datang, dan kini mereka memandanginya dengan sempurna.
“Eh.”
Hanya itu yang keluar dari mulut Ayla, tidak pernah terbayangkan oleh siapa pun juga kalau Devano datang ke kelasnya dan seberani itu.
“Kak Devano kayaknya sayang banget sama elo, Ay.”
__ADS_1
“Iya bener banget, kayaknya dia juga denger gosip yang nggak jelas itu. Dateng kesini buat klarifikasi nggak sih.”
“Bener! Emang kan Kak Devano terkenal dengan sosok yang paling nggak suka ngomong. Jadi mungkin pembuktiannya dengan sikapnya.”
“Manis banget nggak sih?”
“Beruntung banget elo, Ay!”
Ayla hanya bisa menahan napasnya dengan sempurna. Ini adalah hal yang paling mengerikan yang pernah ada di dunia.
Saat semua teman-temannya berpikir jika Devano begitu mencintainya, padahal kenyataannya?
Tidak sama sekali.
Ayla tersenyum getir, dia tidak pernah mengerti dengan segala hal yang terjadi ini.
“Semuanya nggak sama kok yang seperti apa yang kalian bayangkan. Biasa aja.”
“Kayaknya Kak Cindy emang cinta bertepuk sebelah tangan sama Kak Devano ya, Ay?” tanya Sisil lagi.
Ayla tentu saja kembali diam, dia sendiri tidak tahu harus menjawab apa. Tentu saja ini adalah hal yang tidak terbayangkan oleh dirinya juga.
Kenapa Ayla harus menjawab tentang masalah ini? Padahal kenyataannya sendiri juga Ayla merasa jika dirinya sama sekali tidak sebanding dengan Cindy.
“Mungkin mereka sahabatan. Jangan bilang gitu ah. Kak Cindy adalah cewek cantik, dia adalah primadona di sekolah. Siapa yang nggak kenal dengan kak Cindy kan? Kalau ada apa-apa aja yang diajukan kabarnya Kak Devano dan Kak Cindy. Jadi gue rasa ya emang semuanya seperti ini.”
Sisil pun duduk juga, kemudian dia mengulum senyum dengan sempurna.
“Mungkin selama elo pacaran sama Kak Devano, pastinya banyak sekali yang mengatakan kalau elo dan Kak Devano nggak cocok. Padahal menurut gue bukan kayak gitu.”
Ayla pun hanya diam, dia menelan ludahnya dengan sempurna. Sambil menahan napasnya dengan sempurna.
“Kadang-kadang semua orang itu menjadi egois dengan tiba-tiba dengan memilih semuanya dengan sangat mengerikan. Padahal tentu saja hal ini nggak ada hubungannya. Yang namanya sebuah hubungan itu, bukan tentang siapa yang paling sebanding dan siapa yang paling cocok. Melainkan siapa yang paling membuat nyaman. Sebab kenyamanan adalah hal yang nggak pernah terbayangkan oleh siapa pun kan?”
“Kayaknya elo paling paham dengan hal ini, Sil. Biasanya kalau cewek-cewek malah akan suka sekali bully gue, ngomong kalau gue nggak panteslah, gue melet Kak Devano lah, atau Kak Devano terpaksa dengan hal yang lainnya. Lagi pula bahkan bagi gue sendiri pun gue nggak berharap kayak gini.”
Ayla tertunduk lesu dengan masih menghela napasnya yang terasa sesak juga berat.
__ADS_1
“Gue mencoba menyerah dan mundur sebab gue tahu jika Kak Devano hanyalah imaji gue saja, Sil. Gue ngerti kalau dapetin Kak Devano bisa dikatakan dengan sesuatu yang mustahil. Jadi bagaimana bisa aku bertahan dengan sesuatu yang mustahil, sungguh nggak mungkin sama sekali kan?”
“Kenapa mustahil? Kan tadi jelas-jelas Kak Devano datengin elo. Bukan bayangan atau pun di mimpi elo. Gue dan teman lainnya yang ngelihat juga kok, dan sikap dia manis banget ke elo. Jadi di bagian mananya yang mustahil, Ayla?”