SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.

SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.
Saling Rindu.


__ADS_3

“Selamat pagi, eh udah rame aja.”


Arka yang melihat Cindy dan yang lainnya berkunjung di rumah sakit. Bahkan ruangan rawat inap Devano penuh sesak tentu saja. Ini adalah hal yang seharusnya tidak dianjurkan oleh pihak rumah sakit. Namun, kebetulan petugas jaga tidak melihat dan tidak sidak pun pada akhirnya semuanya bisa masuk dengan sempurna.


“Arka, elo di sini juga?” kaget Cindy.


Mata Cindy langsung memandang arah belakang Arka, agaknya ia cukup kesal juga melihat sosok yang ada di belakang Arka tentu saja. Ini adalah hal yang tidak akan pernah baik-baik saja, kalau sampai ada apa-apa, tentunya Cindy akan menyalahkan Arka.


“Tante, aku adalah teman Devano, semua juga adalah teman Devano.”


Mamanya Devano pun melirik Ayla, tentu saja mimik wajahnya langsung berubah tidak suka. Bagaimanapun, mamanya Devano tahu tentang hal ini tentu saja. Sebab semuanya tidak akan pernah menjadi baik sama sekali kalau sampai Devano bereaksi karena kedatangan Ayla tentu saja.


“Oh, ya sudah. Silakan kalau mau menjenguk Devan, tapi dia baru saja minum obat. Kalau minum obat biasanya cukup lama akan sadar dan bangun. Tapi tidak apa-apa, silakan ajak bicara siapa tahu Devan tidak mengantuk. Tante mau tunggu di luar cari makan siang.”


“Terimakasih, Tante.”


Semuanya pun kembali memasang wajah masing-masing dengan tegang dan lain sebagainya. Siapa yang akan tahu dan siapa yang akan paham? Ini adalah dua kubu di mana satu kubu milik Cindy dan satu kubu milik Ayla. Meski pada kenyataannya adalah, Ayla sendiri juga tidak merasa jika dirinya bukanlah sosok yang harus berebutan Devano dengan Cindy. Sebab menurut Ayla, Devano bukanlah mainan yang bisa digunakan sebagai rebutan, Devano memiliki hati dan memiliki hak tentu saja, dia memiliki hak penuh untuk memilih siapa yang ia cinta dan siapa yang dia tidak cinta. Itu saja sudah cukup, dan siapa pun yang menjadi pilihan Devan sendiri pun Ayla juga tidak peduli. Ya, Ayla sama sekali tidak peduli. Dia sudah sangat cukup dengan semuanya, dia hanya ingin menyembuhkan dirinya sendiri dengan segala hal-hal yang ada juga.


“Kenapa sih cewek yang udah nggak dianggap oleh Devano masih punya muka sekali dateng kesini, emangnya elo nggak punya harga diri dengan segala hal yang ada.”


Salah satu teman Cindy pun pada akhirnya memandang Ayla dengan tatapan tak sukanya yang luar biasa tentu saja.


Ayla yang merasa seolah menjadi tamu tak dianggap oleh semua orang yang ada di sini pun pada akhirnya menundukkan wajahnya dengan sempurna. Ini adalah hal yang sangat memalukan baginya, bukankah sedari awal dia pulang saja? Tidak usah ikut dan duduk manis di rumah sambil membayangkan dan berdoa agar Devano sembuh? Sebab Ayla sendiri juga merasa jika yang dibutuhkan Devano bukanlah kehadirannya sama sekali, melainkan doa jarak jauh dengan segala hal yang ada di dunia ini. Sungguh, ia merasa begitu sedih, dia merasa begitu hancur. Bahkan saking hancurnya Ayla tidak tahu lagi harus melakukan apa sekarang. Ayla menarik ujung seragam milik Nuna, dia meminta pertolongan tentu saja. Dan beberapa hal dengan segala hal yang ada.

__ADS_1


“Na, balik aja yuk.” Ayla berbisik dengan mimik wajah takutnya yang luar biasa. Dia sudah merasa tidak nyaman sama sekali di sini.


“Udah, ngapain lo pergi. Kenapa lo ciut ama antek-anteknya Cindy yang nggak jelas itu. di sini yang berhak milih itu Devano, bukan elo atau yang lainnya. Paham, Ay. Udah deh elo diem aja, lo di sini cukup bersama gue, semuanya akan baik-baik aja dan nggak perlu mikir masalah lain-lainnya tentu saja.”


Ayla pun pada akhirnya menganggukkan kepalanya kemudian dia menunduk sebab merasa ciut dengan semua orang yang ada di depannya.


“Sekarang yang dateng duluan itu siapa sih? Yang disambut hangat itu siapa. Jadi mendingan kalian pulang deh, jangan buat kami nggak akan suka dengan tingkah kalian.”


“Emangnya elo yang tuan rumah di sini ya? Bener-bener nggak jelas banget si elo ini.” Nuna masih keras kepala tentu saja, ada beberapa hal tentu saja. Ada beberapa hal yang tidak akan menjadi baik kalau mereka dijadikan satu tentu saja.


“Udah, ngapain kalian ribut sih. Tujuan kita sama yaitu jengukin Devano. Noh, anaknya aja masih tepar tapi kalian suka bener berdebatnya, dan nggak ada yang punya hak buat ngusir siapa pun, sebab kita semua sama-sama tahu tentu saja. Tentu saja semuanya akan baik-baik aja kalau kalian nggak ribut, terutama elo, Cindy!”


“Lho, kok gue sih. Emang gue ada omong apaan? Selama ini gue diem aja lho, gue nggak omong apa pun, gue sendiri juga diem aja sedari tadi.” Cindy yang merasa difitnah oleh Arka pun pada akhirnya kesal juga. Tentu saja dia merasa difitnah tentu saja.


Cindy yang hendak bicara pun langsung mengurungkan niatnya, tepat saat ia mendengar suara dengusan Devano. Dan itu tandanya jika posisinya Devano bangun dari tidur.


“Dev, elo udah bangun?”


Cindy yang baru saja melihat Devano membuka mata, mengucek mata kemudian menguap pun menyipitkan matanya melihat semua yang ada di sana. Tentu saja Devano memasang mimik wajah dingin yang luar biasa tentu saja.


“Ngapain ada banyak orang di sini?” tanya Devano dengan nada suara yang tidak suka. Tentu saja Devano marah, dan tidak suka tentu saja.


Siapa yang tidak tahu siapa Devano? Sosok yang paling tidak suka privasinya diganggu oleh siapa pun, lalu tiba-tiba semua orang ada di sana dan berkerumun tentu saja.

__ADS_1


“Oy, Devano!” seru dari Arka.


Devano mengerutkan keningnya dengan sempurna, dia memandang kemudian matanya terbelalak melihat Ayla. Sosok yang selama ini dia rindu dan Devano begitu menyukainya.


“Ayla ….”


Bahkan yang memanggilnya adalah Arka, tapi Devano sama sekali tidak peduli, ini malah fokus kepada Ayla.


Arka hanya mendengus, untuk kali ini dia benar-benar mengalah. Tentu saja ada beberapa hal yang pasti akan baik-baik saja, karena Devano sakit. Coba kalau Devano sehat, tentunya Arka tentu saja tidak akan terima dan akan terus berusaha membuat Devano pisah dengan Ayla.


“Ay, noh dipanggil.” Nuna berbisik kepada Ayla. Kemudian Ayla memandang Nuna dengan mimik wajah tegangnya yang luar biasa.


“Ada apa?”


“Eh nanya ada apa? Kesana nggak?”


“Tapi ….”


Nuna langsung mendorong tubuh Ayla maju, dengan demikian tubuh Ayla menabrak ranjang milik Devano, dan Devano pun langsung menangkap tangan Ayla dengan sempurna.


“Dev ….”


Ayla hanya bisa bercicit dengan begitu bodoh, kemudian dia memandang devano, dadanya pun tiba-tiba terasa sesak bukan main.

__ADS_1


__ADS_2