SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.

SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.
Cidera.


__ADS_3

“Kita lakukan serangan balik di babak terakhir!”


Arka langsung bersiap untuk memberikan serangan balasan, ia tidak peduli jika musuhnya kini adalah senior, lebih jago atau lain sebagainya. Yang jelas ini adalah langkah pertama bagi Arka untuk membuktikan jika timnya tidak jauh tertinggal, timnya mampu dan layak berjuang melawan tim dari Devano. Ini adalah hal yang sangat membuat Arka semakin semangat, sebuah pembuktian yang luar biasa dan dia yakin kalau dia mampu dan bisa, dia akan melakukan berbagai cara agar bisa menyentuh semuanya agar lebih baik lagi. Dan tidak ada sebuah perjuangan yang akan menjadi sia-sia jika Arka berusaha. Bisa jadi salah satu dari tim Devano melihat bagaimana salah satu temannya bermain degan memukai, kemudian mereka akan memberikan rekomendasi untuk pelatih agar bisa direkrut untuk menjadi tim basket nasional. Tentu saja hal ini adalah sebuah kemugkinan yang paling baik, kemungkinan yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun.


Arka masih mencoba menambah poin, pertandingan semakin seru dan ketat. Setiap kali Devano memegang bola, dengan beringas Arka dan Aska menempeli Devano dan selalu saja bola berhasil lepas dari tagannya.


“Bantu Devano, kasihan dia cidera!” kata Gilbert memberikan saran.


Semua timnya pun langsung mengangguk, lantas Gilbert kembali terdiam. Entah kenapa pertandingan ini terasa semakin aneh. Ya, yang dipepet hanyalah Devano saja. Apakah ini pertandingan basket? Ataukah pertandingan individu.


“Mereka tahu kalau Devano cidera nggak sih? Sedari pertandingan ini yang gue lihat mereka sengaja nempelin Devano terus. Nggak paham sama sekali.”


“Ini bukannya pertandingan persahabatan kan?” tanya Gilbert.


“Kesannya ini kayak pertandingan permusuhan atau dendam apa gimana sih, atau salah satu di antara mereka dendam ama Devano?”


“Mana gue tahu lah, bingung gue mikirin ini. Terlalu banyak yang dipikirin jadi otak gue nggak nyampek sama sekali.”


“Udahlah, kita fokus aja di pertandingan. Yang jelas kita ngejaga Devano dan mempertahankan poin kita. Kita sudah menang jauh dari mereka.”


“Oke!”


Sementara itu, Devano masih tetap diam. Otaknya benar-benar tidak sampai ke mana-mana. Banyak sekali yang dipikirkan beserta dengan cideranya yang menyebalkan. Sungguh, hal ini adalah hal yang paling menyebalkan yang pernah ada.


Devano terus meringis. Tapi dia harus membuktikan kepada Arka kalau dia bisa, dan kalau dia memangkan pertandingan ini dengan segala hal yang ada tentu saja.

__ADS_1


“Lo kenapa sih? Kalau elo sakit ngomong sama gue, nanti gue pending pertandingan ini!”


Devano hanya memandanng Arka dengan sinis, tentu saja hal ini membuat Devano kesal. Andaikan pun Arka tulus melakukan hal itu, bukankah hal ini menjadi bahan wacana sendiri? Arka tidak akan mungkin terus menekan Devano dan membuat Aska menempel sehingga membuat Devano kesulitan bergerak dan menambah cidera pada lengan Devano semakin bertambah sakit.


Devano menghentikan gerakannya setelah ia mengoper bola kepada Erwin, lantas ia berdiri sambil terengah memandang ring. Bola masuk ke dalam ring dengan sempurna dengan tembakan tiga angka.


Devano begitu senang dengan hal ini, ia merasa jika teman-temannya memiliki begitu banyak kemajuan. Bagaimana tidak, tiga dari empat sahabatnya adalah tim nasional, hal ini tentu berpengaruh dari segi latihan dan fisik mereka, cara mereka mengatur strategi dan lain sebagainya.


Jujur Devano merasa iri, jika saja ia mendapatkan kesempatan untuk mengulur waktu, dan memutar keadaan lagi, pastilah Devano akan memilih menjadi salah satu tim basket inti nasional juga, Devano masih bisa bersama dengan teman-temannya dan kini mungkin Devano tidak sekolah di SMA ini.


Namun … Devano kembali tersenyum, dia lantas memandang Ayla. Bahkan ribuan kali diulang pun dia akan memilih SMA yang sama. SMA di mana Ayla akan melanjutkan studinya. Meski Devano sendiri yakin, dia yang awalnya memilih SMA ini pasti Ayla akan datang ke SMA mana pun dia masuki. Tapi tetap saja, bagi Devano SMA ini memiliki banyak arti juga.


“Dev, awas!”


Devano menoleh, belum sempat ia sadar, ia pun langsung ambruk saat lemparan bola itu begitu keras mengarah kepadanya. Semua orang langsung menjerit histeris, Devano pingsan kala itu juga.


Sementara di luar lapangan, Ayla langsung berdiri. Dia sudah tidak bisa menahan rasa penasaran dan khawatirnya lagi.


Dengan cepat ia berlari menuju lapangan, meski Nuna dan Intan terus berteriak agar Ayla tidak masuk ke lapangan karena orangnya memang begitu sangat banyak. Namun Ayla tidak peduli, ini semua karenanya. Devano sampai pingsan karena bola pun karenanya. Jadi bagaimana bisa Ayla akan diam seolah tidak peduli dan acuh? Dia sudah berada dalam ambang batas acuhnya, cueknya, merasa tidak pedulinya dan lain sebagainya. Tentu saja sekarang Ayla masih akan berusaha sekali lagi berjuang untuk mendapatkan semuanya. Ini tentang mimpi dan tentang beberapa hal lainnya yang mungkin agaknya mustahil juga.


“Devano, elo nggak apa-apa?”


Ayla langsung berusaha menyusup kerumunan agar bisa sampai pada Devano, ia melihat Devano tidak pingsan, hanya saja Devano terus memejamkan mata sambil mengeluarkan keringat dingin, tangannya mencengkeram bahunya kuat-kuat.


Melihat Ayla, semua sahabat Devano pun memberikan jalan, memberikan ruang untuk Ayla bisa mendekati Devano, padahal para siswa yang lain sudah saling bisik seolah tidak suka kalau Ayla yang berada di sana.

__ADS_1


“Elo nggak apa-apa? Apanya yang sakit?” tanya Ayla lagi.


Devano menggelengkan kepalanya dengan lemah, tapi tidak dipungkiri jika dia kesakitan luar biasa.


“Bisa bawa Devano ke rumah sakit?” pinta Ayla kepada salah satu sahabat Devano.


Cowok itu menganggukkan kepalanya juga.


“Lo juga ikut, Ay.”


Ayla terdiam, dia sama sekali tidak tahu jika sosok yang kini sudah dibantu temannya memapah Devano itu mengetahui namanya, bahkan dilihat dari jawabannya terasa jelas seolah keduanya adalah teman akrab.


Namun, Ayla sama sekali tidak merasa akrab dengan siapa pun yang menjadi sahabat Devano.


“Okey, baiklah.”


“Gue tunggu di parkiran.”


Ayla pun mengangguk, ia bergegas masuk ke dalam kelas kemudian mengambil tasnya, kemudian ia berlari menuju parkiran untuk ikut membawa Devano ke rumah sakit.


“Ay, lo mau ke mana?” teriak Nuna.


“Gue ke rumah sakit dulu, ya!”


“Ay, nggak usah ikut. Semua orang itu nggak elo kenal dan elo itu cewek sendirian!” Arka berusaha untuk menahan Ayla.

__ADS_1


“Biarin gue ikut, Ar. Ini Devano kayak gini karena gue dan tantangan elo!”


__ADS_2