SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.

SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.
Mengambil Hati Mama Mertua.


__ADS_3

“Lo nggak dateng ke rumah sakit?” tanya dari Nuna melihat Ayla yang duduk manis di halaman sekolah.


Ayla yan kini sedang makan mie kesukaannya pun menoleh pada Nuna, dia diam sejenak kemudian menghela napas panjangnya dengan sempurna.


“Pengen.”


“Ayok gue anter.”


“Nggak akan bisa.”


“Kenapa?”


“Karena ini masalahnya, mamanya Devano itu nggak suka sama gue.”


“Hah?” kaget Nuna.


“Kok bisa?”


“Kemarin kan saat di rumah sakit, gue doang kan yang cewek. Terus mamanya Devano tanya gue ini siapa, kenapa cewek sendiri di sana kemudian mamanya Devano nebak kalau gue itu adalah ceweknya Devano dan lo bisa tebak gimana ucapannya? Ya, gue nggak boleh pacaran sama Devano.”


“Mamanya Devano emang menganut ajaran lama?”


“Enggak. Elo inget ucapan dari Abraham kan? Nah, mamanya ini pengennya Devano itu fokus aja ke sekolah terus kerjaan papanya dan perusahaan itu. Jadi nggak boleh pacaran dan harus fokus dengan semua pekerjaannya. Ya kayak gitulah, pokoknya Devano fokus dengan segalanya, Devano harus memikirkan banyak hal sekali. Ini bener-bener bikin horror sekali. Gue langsung pulang makanya.”


“Jadi gitu masalahnya? Gue baru tahu.”


“Ember.”


“Terus elo ama Devano gimana? Jujur deh sama gue ini aja. Nggak usah ada yang perlu elo pendemin dan abaikan dengan semuanya. Gue adalah sahabat elo, gue juga adalah yang nemenin elo dalam segala keadaan.”


“Baiklah, baiklah … sejujurnya emang iya, gue masih cinta sama Devano, Nun. Ya gimana lagi, Devano itu adalah idola gue dan gue adalah sosok yang nggak pernah bisa bohong sama elo. Tapi gimana, kalau Devanonya yang nggak suka sama gue, masak iya gue maksa. Apa yang Devano ucapkan beberapa waktu yang lalu bikin gue sakit. Namun yang bikin kesel, pas saat gue ngejauh dia malah dateng dan maksa buat balik deket sama gue. Gue ini kayak mainan buat dia, Nuna. Kenapa sih gue selalu dimainin dan juga apa yang dia inginkan? Gue nggak paham dan nggak tahu harus apa dan gimana. Gue bener-bener bingung. Apalagi saat dia tanding basket sama Arka dan sampai kayak gini kan. Ini adalah bukti yang ngebuat gue semakin nggak enak hati sama sekali. Gimana mau jadi gue dan gimana jadinya semua ini. Pusing banget gue, Nuna.”


“Yaudah, sekarang masalahnya ada pada Devano kan? Yaudah sekarang kita fokus sama Devano dulu buat negasin dan nentuin dari segala harus ditegasin. Gimana, cukup bagus kan ide gue.”


“Apa semuanya akan baik-baik aja?”


“Tentunya dong, emangnya elo mau digantung dan diperlakukan kayak gini, enggak kan?”

__ADS_1


Ayla pun menganggukkan kepalanya dengan sempurna, menghela napas panjangnya dengan sempurna tentu saja.


“Baiklah, terimakasih banyak ya, Nuna. Elo bener-bener sahabat gue yang paling baik.”


“Eh, Guys! Elo udah denger nggak? Gue ada kabar yang amat sangat mengerikan nih!”


“Kabar apaan deh?”


“Itu si cewek centil.”


“Cewek centil siapa?”


“Cindy itu lah, dia dan temen-temennya mau nengokin Kak Devano. Gue beneran nggak tahu cara gimana yang baik-baik aja hingga semuanya jadi baik, sungguh ya bener-bener. Katanya mereka akan ngaku temen sekelas atau apalah sama mamanya, nggak tahu dapet kabaran dari mana kalau Kak Devano di rumah sakit dan mamanya Kak Devano galak.”


Ayla kini mencengkeram tangannya. Jika dintanya apakah dia tidak rela, tentu saja jawabannya pasti tidak akan pernah rela kalau sampai Devano didekati cewek mana pun. Namun, Ayla sendiri tidak bisa menahan dan memaksa kalau Devano harus dekat dengan cewek mana-mana. Posisinya saat ini hubungannya dengan Devano itu tidak jelas sama sekali, dan ini adalah hal yang cukup mengerikan dibandingkan dengan siapa pun.


“Jadi elo cemburu ya?” tanya Intan tiba-tiba.


“Udah deh elo nggak usah jadi kompor. Kalaupun iya emangnya kenapa? Manusiawi lagi, ini adalah hal yang emang nggak bisa disanggah siapa pun. Kalau emang kenyataannya adalah ini kenapa? Yang namanya hati dan rasa pun nggak bisa dipaksa benci dalam satu waktu juga, kenapa elo yang kayak gini sih jadinya, Tan? Elo sahabatnya Ayla apa bukan coba?”


“Ya sahabatnya lah, gue kan hanya nanya. Gue penasaran setengah mati dengan semuanya. Makanya gue tanya aja.”


“Hey cewek-cewek!”


Ketiganya pun menoleh saat Arka sudah berlarian mendekati Ayla dan teman-temannya.


“Apaan?” tanya Ayla.


“Para guru ada beberapa yang dateng nengokin Devano nih, dan ada rapat juga. kayaknya sekolah bakal pulang pagi.”


“Terus apa hubungannya sama elo?”


“Gue mau nengokin Devano.”


“Terus apa hubungannya sama kita?” tanya dari Nuna lagi.


“Kalian mau ikut sekalian nggak ke rumah sakit buat nengokin Devano?”

__ADS_1


Nuna dan Intan saling tukar pandang, kemudian keduanya memandang Ayla dengan sempurna.


“Kayaknya ini emang kesempatan emas deh, Ay. Gimana kalau kita ikutan Arka, kalau rame-rame gue yakin kalau mamanya Devano nggak akan marah, beliau juga nggak akan tahu tentang elo kan?”


“Beneran gitu ya?”


“Ya, gue yakin kalau beneran gitu.”


“Jaadi gimana? Ya itung-itung apa yang gue lakuin ini sebagai permintaan maaf atas apa yang udah gue lakuin kepada Devano yang mungkin semua orang berpikir kalau gue ngelakuin hal itu dengan cara sengaja. Padahal demi Tuhan, gue bener-bener nggak sengaja sama sekali ngelakuin itu. Gue beneran nggak tahu kalau Devano itu ada cidera.”


“Iya, kami paham. Jadi gimana, Ay?”


“Baiklah, gue ikut.”


“Yaudah buruan kita ambil tas kita dan bersiap pulang.”


Di sisi lain, Devani agaknya benar-benar tidak bisa istirahat. Setelah ada beberapa teman sekelasnya yang datang menjenguk kini timnya Cindy ikut menjenguk juga. Dengan membawa hal-hal yang begitu amat berlebihan menurut Devano.


Ada yang membawa buket bunga, buah serta beberapa kado yang kesannya Devano ini tidak sedang berada di rumah sakit dan sedang sakit melainkan sedang merayakan ulang tahun yang benar-benar tidak jelas sama sekali.


“Ternyata teman-temannya Devano banyak yang perempuan ya?” mamanya Devano agaknya cukup terkejut juga dengan kedatangan Cindy dan kawan-kawannya.


“Kami adalah teman seangkatan Devano, Tante. Kami datang karena baru mendengar kabarnya kalau Devano sakit.”


“Besok sudah boleh pulang kok.”


Teman-temannya langsung menyuruh Cindy untuk maju ke depan bersama dengan mamanya Devano.


“Cindy, Tante.” Cindy pun memperkenalkan diri.


Mamanya Devano menarik sebelah alisnya, sambil memandang Devano dengan mimik wajah yang cukup bingung tentu saja.


“Oh, Cindy. Kamu temannya Devano?”


“Teman baik, Tante. Sahabat yang selalu ngertiin Devano.”


“Oh, seperti itu. Terimakasih sudah menjadi sahabat Devano, ya.”

__ADS_1


“Sama0sama, Tante. Aku dan Devano memang memiliki banyak kesamaan, jadi nggak ada masalah kalau kami sama-sama dekat.”


“Oh, seperti itu.”


__ADS_2