SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.

SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.
Tentang Arka -2


__ADS_3

“Kamu tahu nggak alasan Arka nggak naik kelas dan sekarang jadi teman satu angkatan sama kamu?”


“Pasti karena tawuran?” tebak Ayla.


Dia benar-benar tidak tahu kenapa abangnya begitu suka sekali kalau membahas Arka.


“Bukanlah, waktu itu dia masuk ke rumah sakit, Dek.”


“Pasti karena tawuran.”


“Bukan!” kesal Daren.


Ayla pun akhirnya langsung diam. Percuma memang kalau membahas sesuatu tapi tidak sefrekuensi. Di mana yang satu suka dan yang satu benci. Maka tidak akan pernah ada titik temunya sama sekali.


“Dia dirawat di rumah sakit karena abis donorin satu ginjalnya kepada seorang Bapak-Bapak yang kebetulan mengalami kecelakaan cukup parah saat dia melintas di area tersebut. Bapak-Bapak itu adalah tukang sol sepatu, yang menjadi tulang punggung keluarga yang sehari-harinya uangnya saja tidak pernah cukup. Entah bagaimana kecelakaan itu terjadi, atau memang Bapak itu sudah menderita penyakit ginjal sudah lama. Yang jelas, Dokter mengatakan jika Bapak tersebut butuh pendonor ginjal segera.”


Daren melirik Ayla yang kini memandangnya dengan serius, Daren pun tersenyum juga pada akhirnya.


“Kebetulan Daren yang membawa Bapak-Bapak itu ke rumah sakit, mendengar hal tersebut, Arka pun berinisiatif mencoba ikut tes kecocokan ginjal dan hasilnya ginjalnya cocok untuk Bapak itu, dan kamu sudah bisa tebak kejadian setelahnya kan? Arka langsung meminta Bapak tersebut segera dilakukan operasi beserta dengan dirinya. Dan butuh waktu tiga bulan untuk perawatan agar Arka bisa benar-benar pulih, dan waktu tiga bulan itu bagi pihak sekolah adalah waktu yang cukup lama untuk melakukan libur atau izin apa pun, hingga akhirnya pihak sekolah memutuskan untuk Arka tinggal kelas. Pihak sekolah sebenarnya tidak salah, ini adalah peraturan, terlepas dari apa pun yang terjadi. Lebih dari itu juga, Arka sendiri sempat dipanggil oleh kepala sekolah untuk ditanyai alasan kenapa dia tidak masuk selama itu, tapi Arka tidak mau mengaku sama sekali. Bahkan sampai orangtuanya pun tidak ada yang tahu. Orangtuanya tahu akhir-akhir ini ketika tidak sengaja mamanya melihat beberapa resep obat yang disembunyikan Arka, kemudian kebetulan ada nama rumah sakitnya, dan mamanya konfirmasi kenapa dengan anaknya sampai mengonsumsi obat tersebut.”


“Maaf sebelumnya, Bang. Hal ini agaknya cukup janggal, bukankah operasi pengambilan ginjal ini cukup berisiko fatal dan ini adalah operasi besar? Tapi bagaimana bisa orang tua Arka nggak ada yang tahu? Bukankah ini aneh sekali, Bang? Lantas siapa yang melakukan tanda tangan untuk surat pernyataan persetujuan sebelum operasi itu berlangsung? Aku yakin, pihak rumah sakit pun tidak akan langsung mengoperasi orang, apalagi mengambil ginjal orang seenaknya saja tanpa adanya prosedur lengkap. Sebab pasti mereka sendiri pun tidak mau kalau sampai di kemudian hari mereka akan disalahkan dari pihak keluarga yang bersangkutan, kan?”


“Waktu itu Arka mengajak omnya, dan entah bagaimana caranya akhirnya hal itu terjadi, yang jelas seperti itulah kisahnya, dan ini adalah kenyataan dan bukan rekayasa, Dek.”


Ayla pun akhirnya diam juga. Kalau abangnya sudah bilang jika yang melakukan itu adalah omnya Arka atau siapa pun, tentunya Ayla sudha tidak bisa memberi bantahan apa pun. Meski dalam hati sekalipun, Ayla berpikir kenapa omnya Arka tidak menghubungi orangtuanya Arka dulu, dan malah bersikap lancang sekali dengan mengambil keputusan sepihak.


“Baiklah, Arka adalah malaikat nggak bersayap ya, Bang.”

__ADS_1


“Iya, setelah itu pun demi pemulihan Bapak itu, Arka meminta selama enam bulan full, Bapak itu tidak boleh bekerja apa pun dulu. Bapak itu diberi uang oleh Arka untuk bisa memenuhi kebutuhan keluarganya. Bukan selamanya, tapi sampai enam bulan itu saja.”


“Mereka nggak mikir kalau yang nabrak itu Arka kan, hingga Arka bertanggung jawab seperti itu? Terus yang nabrak Bapak itu gimana?”


“Meninggal di tempat.”


“Apa?”


“Ya, jadi pemotor mabuk atau gimana yang menghindari mobil, Abang juga nggak paham sih, Abang tahu ini karena cerita dari teman Abang. Kebetulan teman Abang ini sahabatnya Arka, dari temannya Abang inilah Abang jadi kenal sosok Arka.”


Ayla menganggukkan kepalanya lagi. Memang, Arka benar-benar seperti sosok penyelamat yang sangat keren, dan Ayla tidak bisa mengubah sudut pandang itu.


“Baiklah, jika Abang bilang begitu tandanya Arka baik. Makasih, Abang, udah kirim orang baik buat aku.”


“Karena Abang nggak mau kamu disakiti orang lagi.”


Ayla pun langsung menoleh dengan sempurna, matanya memandang abangnya dengan mimik penasaran yang luar biasa.


“Oh, enggak. Nggak usah dibahas.”


“Maksud Abang apa sih?”


Daren pada akhirnya menghela napas panjangnya juga, ini adalah hal yang cukup pelik jika harus diceritakan kepada Ayla.


“Kamu kan suka banget dibully sama banyak orang. Abang nggak mau kamu jadi korban bullyan dari siapa pun juga.”


Ayla tersenyum juga pada akhirnya, sepertinya abangnya ini bahkan jauh lebih paham tentang dirinya dibandingkan dengan Ayla sendiri.

__ADS_1


“Makasih ya, Bang.”


“Untuk?”


“Peduli sama aku.”


Daren terdiam, dia memandang adiknya yang kini sudah menundukkan wajahnya dengan sempurna.


“Aku ngerasa kalau aku adalah manusia yang paling nyebelin di seluruh dunia, nggak ada gunanya, suka ngeluh dan suka nyusahin banyak orang. Di dalam rumah pun aku juga anak yang paling nggak bisa dihandalin. Bahkan apa-apa, urusan masak pun harus Abang. Aku nggak bisa apa-apa.”


“Kamu jangan gitu, jangan merendah. Kamu bisa kok, bisa merusuh maksudnya.”


“Kan bener, bisaku hanya ngerusuh doang.”


Ayla kini terlihat sedih, Daren langsung memukul mulutnya, agaknya dia merasa bersalah. Kenapa coba dia harus mengatakan hal seperti ini kepada Ayla.


“Udah jangan dipikirin ah, nggak usah mikir yang aneh-aneh. Kamu nggak bisa apa-apa, kamu nggak tahu apa-apa, dan lain sebagainya pun nggak masalah. Tugasmu adalah bahagia, Ayla. Itu adalah tugas utamamu, kamu tahu?”


Ayla kembali diam, dia memandang abangnya dengan mata berkaca-kaca dengan sempurna.


“Abang ….”


“Dibandingkan dengan Abang, kamu adalah anak yang paling nggak beruntung di keluarga kita. Kamu belum sempat ngerasain kasih sayang Mama, dan buat anak cewek, kasih sayang Mama adalah hal yang paling penting.”


“Aku malah yang ngerasa bersalah sama Abang, dan Papap.”


“Kok?”

__ADS_1


“Karena buat ngelahirin aku Mama meninggal. Aku merasa kayak aku adalah sumber sial yang paling menyakitkan hati.”


“Dek, kamu nggak salah. Itu adalah takdir, dan aku yakin diulang berkali-kali pun, Mama akan ngambil keputusan ini. Hamil dan punya anak cewek itu udah jadi mimpi Mama, keputusan Mama sendiri. Sedari awal, kehamilan Mama itu udah berisiko, tapi Mama yang maksain untuk nerusin kehamilan ini. Jadi, masalah apa pun nggak ada sangkut-pautnya sama kamu, Dek. Itu udah jadi keputusan Mama dan itu mutlak.”


__ADS_2