
Pagi ini Devano sudah kembali bersekolah, semua sorak-sorai anak-anak yang bergembira bisa melihat sosok rupawan Devano. Bagaimanapun, Devano tetap menjadi bintang, yang paling diidolakan oleh semua orang.
Pagi ini ada yang berbeda dari Devano, ia menenteng tas berwarna pink. Mulutnya terus menyunggingkan seulas senyum samar,membuat siapa pun yang melihat agaknya merasa cukup aneh dengan sikap Devano tersebut. Ya, Devano cenderung berubah, cukup ramah dengan senyuman yang sesekali merekah, yang bahkan biasanya sebelum mengalami cidera dan dibawa ke rumah sakit, sebab Devano saat itu benar-benar begitu tampak misterius dan masih sama begitu dingin dan tidak tersentuh. Itulah sosok Devano selama ini yang bahkan orang lain ketahui, jika sekarang Devano berubah menjadi sosok yang manis seperti ini.
“Lo udah balik sekolah, Dev?”
Devano pun mengangguk sempurna mendapat pertanyaan dari Abian. Hal ini agaknya cukup membuat Abian lega.
“Padahal gue mau jengukin elo, mau bareng ama Cindy gue malah ditinggal. Kirim pesan ke elo ribuan kali tanya elo di rumah sakit mana enggak lo bales.”
“Gue udah sehat, kan?” kata Devano.
Abian pun menganggukkan kepalanya dengan sempurna, kemudian dia tersenyum juga.
“Nggak seru sekolah kalau nggak ada elo, nggak ada yang dikeceng-kecengin sama anak-anak cewek.”
Devano diam seribu bahasa, dan sudah tidak menanggapi ucapan Abian. Dan itulah ciri khas dari Devano. Abian bukannya merasa keberatan, dia justru malah senang. Devano kembali itulah yang terpenting dan Abian tidak peduli telah berubah seperti apa sosok Devano ini.
Sementara itu, Ayla sudah masuk ke dalam kelas, berkali-kali dia ulangan dan selalu mendapatkan nilai seratus. Banyak anak yang bertanya-tanya dan penasaran apa yang dilakukan oleh Ayla sehingga menjadi sepintar ini sekarang.
“Coba deh bilang sama gue, amalan apa yang udah elo lakuin sampai-sampai elo selalu dapet nilai seratus kayak gini?” tanya dari Nuna.
Ayla mengulum senyum, kemudian dia meletakkan sebuah buku catatan di atas meja. Buku itu bisa dibilang sangat tebal sekali, bahkan saking tebalnya sampai Nuna menebak jika itu adalah dua buku yang dijadikan satu.
__ADS_1
“Apaan nih?”
“Katanya tadi elo tanya amalan apa yang udah gue lakuin, tuh amalannya.”
“Apaan nih?”
“Ya buku amalan gue. Jadi gue itu dikasih ama Devano buku ini, di sini itu kayak per materi ada point-point pentingnya aja yang diambil dan yang kemungkinan besar akan muncul kalau lagi ulangan, dan semester. Jadi ibaratnya Devano ngerucutin materi yang ada di buku sehingga gue bisa enak belajarnya, nggak perlu kalau pas ulangan dan semester harus belajar sebanyak ini yang terlalu banyak ini.”
“Seriusan?”
“Iya, dan ajaibnya emang yang ada di buku itu keluar semuanya.”
“Seriusan?”
“Duarius malah.”
“Duh gue pinjem dong, Ay. Mau gue fotokopi nih! Mana tulisannya rapi banget lagi. Ini seriusan Kak Devano yang nulis ini?” tanya Intan seolah tidak percaya.
“Iyalah, Devano. Emang dari guru-guru pernah cerita kalau Devano itu tulisannya kayak ketikan computer. Rapi banget, banget, dan gue baru lihat ini dan seriusan rapinya minta ampun kayak gini. Bener-bener nggak bisa bayangin sih.”
“Iya sih bener banget ya, rapi banget.”
“Kalau kalian mau fotokopi dan anggap buku itu berguna ya silakan. Gue sama sekali nggak keberatan kalau harus berbagi ama kalian berdua kok, gue mah santai-santai aja, seriusan.”
__ADS_1
“Seriusan?”
“Duariusan malah.”
“Makasih, Ayla! Kayaknya emang Kak Devano serius sama elo deh, Ay. Buktinya dia ngelakuin ini semuanya buat elo. Kalau dia nggak cinta sama elo, mustahil dan enggak banget sih sampai dia nulis tangan sampai berlembar-lembar banyaknya hanya demi elo. Padahal sedari yang kita tahu kan kalau Kak Devano itu sibuk banget, alih-alih ngerjain kayak ginian, ngebuang waktu aja kan bagi dia.”
“Bener banget yang elo bicarain, Tan. Dan sekarang gimanapun ya namanya juga Devano, anaknya emang dingin, kalau ngomong asal nyablak jadi dimaklumi aja dengan segala ucapan ketusnya, kerasnya dibalik itu ternyata dia adalah sosok yang begitu penyayang sekali. Penyayang dengan caranya sendiri.”
“Kalian please lah, berhenti ngomong kayak gini. Stress banget tahu nggak kalau kalian ngomongin kayak ginian mulu. Otak gue bener-bener rasanya nggak nyampek sama sekali, gue bingung harus gimana dan harus berbuat apa.”
“Kan elo tinggal nikmatin masa pacaran elo sama Devano, Ay.”
“Tapi gue ngerasa canggung, udah nggak bisa kayak dulu yang dikit-diikit aaah, Devano, gitu.”
“Perasaan lo udah beda?”
“Entah apa namanya kalai gue ngomong ini ya, gue ngerasa kayak ada yang kurang dan gue nggak tahu kurangnya di mana. Kalau suka karena udah balikan sama dia kan seharusnya gue girang banget, gue merasa jika ini adalah hal yang sangat menyenangkan, gue kegirangan dan jingkrak-jingkrak atau dada gue bergetar hebat. Tapi sekarang gue nggak ngalamin itu semuanya, ya gue ngerasa biasa aja, dan bener-bener standar aja perasaan gue, nggak ada baik-baiknya dan nggak ada bagus-bagusnya sama sekali, kayak yang … yaudah deh, jalanin aja, jadi semangatnya itu udah hilang.”
“Apa elo udah kehilangan nafsu ama Kak Devan? Atau jangan-jangan elo udah ada naksir sama cowok lain?”
“Ya enggak lah, gue kan nggak segampang itu ngelupain seseorang dan nggak semudah itu pindah ke lain hati, yang jelas rasanya ini bener-bener aneh sekali. Ntahlah, kita coba aja pelan-pelan dan endingnya bakal gimana.”
“Kalau emang elo udah nggak cinta sama Devano mending elo jujur, jangan maksain diri, itu yang sakit bukan hanya elo doang, tapi Devano juga. atau mungkin hati elo masih terlalu sakit dengan semua ucapan menyakitkan Devano ke elo waktu itu?”
__ADS_1
“Mungkin ya, karena rasanya bener-bener kayak nggak bisa gue beri ampunan gitu, dia udah bener-bener ngomongnya ngelukain perasaan gue, tapi pikiran gue masih nggak mau lepas dari Devano. Gimana sih, itu yang gue rasain sekarang dan rasa itu bener-bener nggak bisa terbantahkan sama sekali. Sampai gue bingung harus gimana buat maafin dia, buat ngelupain semua ucapan dan perlakuan kejamnya itu sama gue.”
“Emang itu lumah dan elo berarti cewek, yang namanya hati cewek itu kebanyakan emang kayak gitu, mereka bisa dengan muda saja memaafkan tetapi mereka nggak akan pernah bisa melupakan dan ini adalah kenyataannya, ini adalah hal yang nggak akan pernah bisa dibandingkan dengan siapa pun, sebab setiap orang pasti memiliki batasan lumrah, batasan wajar dan batasan jika hal itu sudah dianggap sangat keterlaluan hingga nggak bisa terlupakan.”