SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.

SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.
Amarah Devano.


__ADS_3

Cindy pun melirik Devano, agaknya dia merasa segan juga. Bagaimana tidak, ini adalah hal yang cukup sulit dan rumit. Bagaimana Cindy mengatakan hal itu? Agaknya ternyata Cindy juga merasa jika dia segan dengan Devano. Terlebih saat Devano dalam kondisi tidak sedang bisa diganggu oleh siapa pun juga.


“Elo tahu dari mana sih kalau gue pacarnya Devano?” tanya Cindy. Mencairkan suasana.


Abian tersenyum meledek Cindy, kemudian dia memandang Devano lagi. Melirik Devano yang bahkan mengabaikan keduanya.


“Udah nyebar kemana-mana kan? Itu beneran ya?”


“Ah, elo bisa aja. Gue samperin Devano dulu, ya.”


Cindy memang sengaja untuk menggantung ucapannya, membuat semua orang berpikir aneh-aneh dan dengan segala hal yang ada. Cindy berdiri tepat di depan meja Devano yang kondisinya Devano masih sibuk dengan buku paketnya.


“Devano …” panggil Cindy.


Devano sama sekali tidak menggubris panggilan dari Cindy. Bahkan dia masih setia dengan buku paketnya.


“Gue boleh pinjem buku—“


“Jangan nyebar gosip yang enggak-enggak.”


Cindy langsung terdiam, mendengar ucapan dari Devano yang lugas dan tegas. Cindy memandang Devano dengan mimik wajah bingungnya yang luar biasa tersebut.


Bahkan ucapan Devano cukup jelas terdengar di telinga Abian. Abian yang mendengar pun ikut diam. Untungnya kondisi kelas masih cukup sepi.


“A … apa maksud lo?” tanya Cindy pada akhirnya.


Dia sudah merasa cukup aneh, dia merasa ada hal yang mungkin telah salah prediksi sebelumnta.


Devano menutup buku paket dengan cukup keras, rahang Devano mengeras. Melihat Cindy sekilas kemudian dia melipat kedua tangannya di dada.

__ADS_1


“Masalah gosip itu hentikan. Gue nggak mau digosipkan dengan cewek mana pun dan membuat cewek gue salah paham.”


Dan ucapan Devano itulah yang berhasil membuat Cindy kaget, pun dengan Abian.


Bagaimana tidak, ini adalah masalahnya. Bagi Abian yang mendengar hal itu agaknya cukup kaget juga. Abian merasa jika memang Devano sedang berpacaran dengan Cindy, tapi nyatanya malah dibantah langsung oleh Devano bahkan di depan Cindy.


Sementara bagi Cindy sendiri. Dia benar-benar sangat malu. Bagaimana tidak, Devano mengatakan hal seperti itu tepat di depan Abian, dan ada juga beberapa anak-anak di dalam kelas yang kini sudah memandang Cindy dengan sambil berkasak-kusuk tentu saja.


Jujur, Cindy malu. Malu bukan main hingga semuanya membuat Cindy malu bukan main tentu saja.


“Elo salah paham, Devano. Bukan gue yang nyebar gosip itu. Lagi pula coba elo pikir, gimana ceritanya gue mempermaluin diri gue sendiri dengan nyebarin gosip yang nggak jelas kayak gitu? Itu malu-maluin gue, Devano.”


“Gue nggak peduli, entah itu elo atau siapa pun, yang gue tahu elo nikmatin itu bagi gue elo sama saja kayak yang nyebarin gosip tersebut.”


Cindy kembali diam, napasnya menjadi sesak bukan main. Tidak pernah terbayangkan oleh siapa pun jika Cindy akan mendengar ucapan ketus dari Devano. Ucapan ketus yang biasanya Devano lontarkan untuk orang-orang yang dibenci oleh Devano tentu saja.


Cindy melirik Abian. Abian yang melihat itu pun langsung mendekati Devano dan juga Cindy.


Abian pun langsung menyenggol Cindy, tentu saja hal itu membuat Cindy tahu jika keadaannya di sini sudah benar-benar tidak aman sama sekali.


“Baiklah, gue baik dulu, ya, Devano. Gue akan perjelas semuanya, nanti malam gue bakal cari orang yang nyebarin gosip itu dan minta maaf di depan umum.”


“Nggak perlu di depan umum. Minta maaf aja sama Ayla.”


Cindy kembali diam, kedua tangannya mengepal dengan sempurna. Ragang Cindy mengeras, dia sama sekali tidak menyangka jika sosok dekil seperti Ayla yang sama sekali tidak pernah dandan itu sampai membuat Devano sampai seperti ininya.


“Elo kenapa sih sama cewek itu? Dia itu dekil, dia itu nggak keurus, dia nggak bisa dandan dan kalau berpenampilan selalu aneh. Bahkan katanya pas SMP dia sering dibully oleh semua orang karena dia bego. Kenapa sih elo ini malah ngebelain dia terus dan—“


“Karena dia cewek gue.”

__ADS_1


Cindy tidak pernah menyangka jika hal ini akan terdengar di telinganya. Tentu saja hal ini membuat Cindy kesal bukan main dengan segala hal yang ada tentu saja.


“Baik, terserah elo aja, Dev.”


Cindy pun langsung pergi sambil menangis, sementara Abian hanya menyaksikan hal itu dalam diam.


Mau mengejar Cindy, tentunya hal ini adalah hal yang paling tidak masuk akal sama sekali. Siapa Abian? Pasti Cindy pun malah tidak akan pernah menganggapnya sama sekali.


Kalau Abian marah kepada Devano, tentu saja hal ini juga tidak akan pernah baik juga. Bukannya Abian bisa membuat Devano sadar diri, yang ada Devano malah memarahi Abian dengan sangat mengerikan.


Abian pun pada akhirnya memilih duduk dalam diam, melirik Devano yang sudah sibuk kembali dengan buku paketnya. Jujur hal ini sangat mengganggu Abian jika dia tidak mengatakan apa pun kepada Devano.


“Dev, kalau gue boleh ngasih saran. Elo nggak seharusnya segalak dan seketus itu sama Cindy. Elo tahu kan kalau Cindy itu perempuan.”


Devano tidak menjawab sama sekali ucapan dari Abian, hingga akhirnya Abian merasa kesal juga karena hal ini.


“Dev—“


“Kalau elo kasihan sama Cindy, kenapa nggak lo sendiri yang pacaran sama dia?”


Abian pun kembali diam, tentu saja pernyataan dari Devano membuat Abian tidak bisa mengatakan apa pun juga. Tentu saja hal ini adalah hal yang menyakitkan oleh Abian. Karena merasa kesal dan tidak mau kalau berdebat lagi kalau dia berdebat dengan Devano, Abian pun mengambil buku paket juga kemudian memutuskan untuk belajar dengan serius.


Sementara itu di kelas Ayla, dia tampak duduk merenung sambil melihat sebuah kertas ulangan di tangannya. Hasil kertas ulangan yang membuat Ayla terdiam tanpa berkata apa-apa.


“Semuanya mendapatkan nilai baik. Ibu sangat senang dengan pencapaian kalian. Namun hanya ada satu siswa yang mendapatkan nilai benar-benar dibawah rata-rata. Ibu cukup bersedih dengan hal ini.”


Semua siswa yang ada di kelas itu pun langsung saling pandang, agaknya mereka tentu saja merasa cukup aneh. Menebak siapa gerangan satu siswa yang menurut mereka ‘bodoh’ bukan main bagi mereka.


“Ayla Cantika Putri, silakan nanti setelah jam istirahat kamu datang ke ruang guru dan menemui Ibu. Kamu akan ikut remidi di ruang guru.”

__ADS_1


Semua orang langsung memandang Ayla, Ayla tidak mengatakan apa pun selain mengangguk. Menundukkan wajahnya dalam-dalam. Nilai dua puluh lima dan ditulis dengan tinta merah dengan begitu nyata.


__ADS_2