SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.

SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.
Sisi Kelam Devano.


__ADS_3

“Devano! Devano! Devano!”


“Arka! Arka! Arka!”


Dan permainan basket itu pun dimulai, semua orang bertepuk tangan riuh. Ada yang menjerit histeris dan lain sebagainya. Ini adalah hal yang benar-benar sangat menegangkan, menyenangkan dan lain sebagainya. Tidak pernah bisa dibayangkan, bagaimana pertandingan yang awalnya mungkin akan dikira berat sebelah menjadi pertandingan seseru ini. Ya, ini seperti pertandingan dua tim profesional.


“Ya Tuhan, gue nggak nyangka sama sekali. Ternyata Kak Devano pinter main basket juga!” histeris Intan.


Seorang cowok yang ternyata ikut nimbrung di kursi yang ketiganya duduki itu pun langsung melirik dengan tajam, hal ini tentu saja menjadi sebuah hal yang cukup membingungkan.


“Asal kalian tahu kalau Devano itu sebenernya pas SMP juga kapten basket tim yang dia ajak main ini. Dia mendapat rekomendasi untuk gabung di tim basket nasional, bahkan ditawari sendiri oleh sang pelatih. Namun dia nggak mau.”


“Hah, elo tahu dari mana? Jangan sok tahu deh!” kesal Nuna.


“Gue adalah adik kelasnya dia waktu di SMP.”


Mendengar hal itu, Intan pun langsung menyikut Nuna. Sementara Ayla yang melihat cowok berkacamata bernama Abraham itu menganggukkan kepalanya sembari terus diam dan mendengarkan.


“Kenapa dia nggak mau? Dia suka basket kayaknya.”

__ADS_1


“Papanya waktu itu sakit keras, dan mamanya nggak ngebolehin Devano buat main basket. Saat itu tim basket inti SMP kami hancur, retak dan pertengkaran itu nggak bisa dihindari. Devano langsung pamit, ngelepasin jabatan kaptennya kemudian mundur. Awalnya teman-teman Devano nggak ada yang terima, tapi pas tahu kenyataan dan alasan Devano ngelepas basket, mereka langsung paham dan ngerti. Jadi Devano berat banget, gue aja yang nggak sahabatnya aja kasihan, nggak bisa kebayang semuanya bisa kayak gini. Sosok yang diharapkan waktu itu ada turnamen antar sekolah yang udah disiapkan jauh-jauh hari.”


“Mamanya kenapa gitu?”


“Ambisi mamanya adalah Devano itu jadi pengusaha, penerus papanya. Papanya sakit waktu itu, Devano anak tunggal. Siapa lagi yang bisa diharapkan selain dia. Itu adalah kenyataannya.”


Kini, bukan hanya Intan dan Nuna, Ayla pun tahu bagaimana kelam dank eras kehidupan Devano. Devano dipaksa melakukan hal yang sebenarnya belum dia harus pegang sama sekali. Devano dipaksa untuk melakukan hal yang lebih tidak manusiawi, dan jika mungkin pada akhirnya Devano menjadi sosok dingin dan mungkin bisa dikatakan kejam dan kasar. Mungkin semua hal itu karena tekanan dari kehidupan Devano yang membentuk karakter Devano dan memaksa Devano menjadi sosok seperti itu.


Ayla tidak menyangka jika Devano akan melalui hal seperti ini, sebuah hal yang sangat menyakitkan yang agaknya Ayla tidak bisa membayangkan.


Hal ini tentu saja menjadi hal yang menyakitkan, bagi Devano sendiri dan juga bagi sekitar. Untung saja teman-teman Devano solid, mampu tetap bertahan untuk Devano dalam keadaan apa pun. Sebab jika tidak, siapa lagi yang bisa menjadi pegangan Devano sekarang? Tidak pernah ada.


Abraham pun kembali menaikkan kacamatanya, kemudian dia memasang mimik wajah yang serius.


“Karena mereka nggak mau menjadi penghambat untuk Devano. Mamanya Devano pasti akan terus mencari dan mengintai gimana gerak-gerik anaknya ketika di sekolah. Itulah kenapa mereka memilih satu SMA yang dekat dengan SMA ini. Mungkin untuk beberapa saat mereka tampak nggak sama-sama, tapi percayalah persahabatan mereka adakah persahabatan yang paling solid yang pernah ada. Persahanatan mereka itu kompak dan nggak ada yang bisa nandingin.”


“Mamanya kok ngekang banget sih, heran. Masih aja ada manusia zaman sekarang kalau ada manusia seperti emaknya Devano.”


“Mau bagaimana lagi, bisnis keluarga Devano dibangun dari Kakek Devano hingga papanya Devano. Sangat disayangkan kalau sampai diambil alih oleh tangan yang salah yang bukan keturunan dari keluarga Devano sendiri. Iya kalau mereka jujur dengan keuangannya, kalau enggak? Mungkin itu salah satu kekhawatiran dari mamanya Devano, itulah sebabnya sebisa mungkin Devano dipaksa untuk bergegas mengganti alih semuanya. Padahal sebenernya Devano nggak pengen jadi pengusaha.”

__ADS_1


“Tahu lagi dari mana lo?” selidik Nuna.


“Waktu itu gue pernah beberapa kali ketemu Devano di perpus. Dan nggak lama ini jug ague lihat Devano di perpus.”


Ayla pun langsung salah tingkah, dia takut jika Abraham mengetahui apa yang dilak ukan Devano kepadanya.


“Setiap kali gue lihat dia di perpus, gue selalu lihat dia ngebawa atau ngebaca buku anatomi tubuh manusia atau ilmu kedokteran, gue sangat yakin kalau sebenernya Devano nggak pengen jadi pengusaha, tapi ingin menjadi seorang dokter.”


“Ah, itu mah presepsi lo aja kali. Hanya dengan ngelihat dia bawa buku tentang kedokteran lantas ia jadi dokter gitu? Ya enggak lah, kalau seumpama gue suka film biru terus elo mikir kalau gue pengen jadi pemeran film biru?”


“Gue sih nggak sampai kesana ya, hanya gue bisa menafsirkannya ke arah situ, sebab Devano bukan sosok manusia yang akan ngelakuin hal yang sia-sia. Dia adalah orang yang hanya akan ngelakuin hal yang bertujuan untuk dirinya, sama seperti membaca buku. Kalau emang buku itu hanya sekadar bacaan dia pasti nggak akan sedalam itu ngelakuinya, kecuali kalau dia emang ingin memperdalam semuanya, maka dengan baik ini akan menjadi hal yang akan terus ia gali dan begitu ingin ia tekuni.”


Ayla kembali diam, entah mengapa dia merasa jika ucapan Abraham memang benar adalah sosok Devano seperti itu. Ayla meski ia merasa jika baru kenal Devano dan merasa semuanya begitu singkat, tapi dia merasa tahu bagaimana sosok Devano itu sendiri dan yang lain sebagainya. Sosok yang tidak bisa dibantahkan oleh siapa pun, dan sosok yang paling mengerti tentang semua hal yang baik-baik tentang Devano. Mungkin hanya sekadar perasaan Ayla saja, tapi Ayla menyamakan semuanya dan pas seperti apa yang Abraham ucapkan.


“Kalau menurut gue emang Devano seperti kayak gitu sih, dia nggak mungkin hanya ngebuang waktu buat ngelakuin hal yang hanya ngebuat dia penasaran. Dia suka sesuatu dia pasti akan bersungguh-sungguh dalam melakukannya, kayak gitu sih ya mungkin. Mungkin, karena gue sendiri juga nggak begitu paham sama Devano. Bahkan dia main basket dengan Arka ini pun gue sendiri nggak paham.”


“Bukannya semua ini Devano lakuin karena elo ya?” ucap Abraham.


Sontak beberapa orang yang kebetulan duduk di sekitar sana langsung menoleh karena ucapan Abraham yang sangat keras itu.

__ADS_1


“Bukannya elo tahu sendiri kalau Devano nggak mungkin ngelakuin hal yang dia sendiri hanya setengah hati? Coba lo pikirin, kenapa sampai segininya Devano, sampai manggil semua sahabatnya hanya demi tanding dan memenangkan pertandingan basket ini. Bukankah itu berarti elo dianggap sangat penting dalam hidupnya?”


__ADS_2