
“Jadi yang main Nuna?” tanya Daren.
Pagi ini ketiganya sudah berada di meja makan. Daren sengaja pesan sarapan pagi ini, sebab ia tahu kalau ada sahabatnya Ayla yang datang. Tidak mungkin Daren menyajikan nasi goreng lagi dan lagi. Meski nasi goreng adalah jurus pamungkasnya.
“Iya, Bang. Gue yang dateng. Ay kesepian di rumah. Jadi gue mutusin buat nemenin dia. Om sibuk dinas ke luar kota, sementara Abang sibuk di kampus. Ay juga butuh temen, Bang.”
Nuna berharap jika Daren pun paham. Ini adalah hal yang cukup rumit untuk Nuna. Dia ingin Daren sedikit lebih peka kepada adiknya.
Daren menghela napas panjang, kemudian dia menatap Ayla yang hanya diam saja. Ayla bahkan tidak mengatakan apa pun.
Ya, Daren tahu sebagai seorang adik Ayla sering ditinggal-tinggal. Ayla pasti akan merasa kesepian, dan itu adalah hal yang tidak pernah terpikirkan oleh siapa pun juga.
“Kamu kesepian kalau di rumah, Dek?”
“Jelaslah kesepian, rumah segede ini. Dari pulang sekolah sampai pagi baru ketemu abangnya.”
Nuna pun langsung menyindir Daren. Daren terdiam dengan sempurna, kemudian dia kembali memandang Ayla.
Ya, Daren merasa terlalu menyibukkan diri di kampus. Dia terlalu bergelora untuk mengurus semuanya. Ini adalah hal yang membuat Daren menjadi merasa bersalah kepada Ayla.
“Gue tahu, Bang. Kalau elo itu tipikal orang yang memiliki jiawa sosial tinggi. Tipikal orang yang paham benar dengan semua hal yang berhubungan dengan kemanusiaan makanya Abang suka sekali kalau harus memiliki tim dan melakukan banyak kegiatan di kampus.”
Nuna memandang Daren lagi, pandangan itu bahkan tidak ada sungkan dan takutnya sama sekali.
“Namun satu wacana yang harus Bang Daren pikirkan. Jika bagaimana bisa Abang ingin melakukan semua hal sosial yang sangat baik, jika Abang saja nggak ngemanusiain adik Abang sendiri. Ini adalah masalahnya, kan?”
Daren pun terdiam dengan tamparan dari Nuna. Ini adalah hal yang paling mengerikan yang pernah ada di dunia ini.
“Gue paham, gue bakal ngatur ulang jadwal agar seenggaknya nggak pulang terlalu larut malam.”
Ayla hanya tersenyum kecut mendengar itu, dia sendiri tidak berharap lebih sama sekali kepada Daren. Sebab bagaimanapun dia berusaha untuk membuat Daren mengerti jika dia butuh sosok Abang yang selalu ada untuknya.
Namun bagi Ayla, Daren sendiri pun memiliki kehidupannya sendiri. Daren pun akan selalu menjadi sosok Daren yang sedia kalah. Tidak bisa untuk dipikirkan oleh Ayla yang akan selalu membawa Ayla ke mana pun Ayla pergi.
“Aku sih nggak begitu berharap dan ngekang Abang. Aku tahu kalau Abang punya kehidupan pribadi Abang sendiri. Kalau posisinya Abang lagi pengen ngurusin hidup Abang masak iya aku harus ikut campur dan ngebebanin Abang. Nggak bisa kan?”
Ayla tersenyum manis kepada Daren, kemudian dia menghela napas panjangnya dengan sempurna.
“Aku nggak mau jadi beban buat Abang, aku nggak mau jadi beban buat siapa pun.”
Daren terdiam, dia merasa tersentil dengan ucapan dari Ayla. Sebuah hal yang membuat Daren merasa bersalah luar biasa karena ini.
“Ya udah sih, nggak usah dibahas. Kita sarapan kemudian langsung sekolah. Abang langsung pergi kuliah hari ini?” tanya Ayla lagi.
Daren pun langsung menganggukkan kepalanya dengan sempurna. Seperti orang bodoh dia benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang.
“Oh iya, Bang. Abang punya nomor teleponnya Arka?” tanya Ayla tiba-tiba.
__ADS_1
Daren langsung mendongak, agaknya dia cukup terkejut dengan pertanyaan dari Ayla tersebut.
“Tumben tanya Arka duluan. Padahal biasanya paling anti sama Arka. Kenapa?”
“Nggak kenapa-napa, punya nggak?”
“Ya punyalah, Abang kirim ke kamu ya.”
“Makasih, Bang.”
“Heh, buat apa tanya nomornya Arka?” Nuna bertanya sembari berbisik.
“Kan semalem elo bilang gue harus nempel mulu sama Arka kan? Jadi gue mau kirim pesan ke dia.”
“Pesan apaan?” Nuna agaknya cukup waspada dengan rencana Ayla ini.
Bagaimana tidak, ini adalah hal yang paling tidak masuk di akal. Padahal maksud Nuna, Ayla hanya perlu diam saat Arka mendekatinya. Tidak perlu harus mengirimkan pesan untuk meminta izin menempel pada Arka.
“Y ague bilang kalau di sekolah, jangan kemana-mana. Sama gue aja, gitu.”
“Ya ampun, Ayla. Kenapa sama elo? Kenapa sih elo bisa sepolos ini?”
“Ya udah sih, nggak apa-apa. Arka santai kok anaknya.”
“Ya Tuhan!”
*****
“Kenapa lo senyum-senyum sendiri, Ar?” Aksa—teman baik Arka pun bertanya.
“Enggak, nggak ada apa-apa. Sok tahu banget sih lo.”
“Ya elah, seumur-umur elo nggak pernah senyum aneh kayak gitu, giliran gue tanya auto ketus aja lo.”
“Adalah.”
“Ada cewek pasti ya?” tebak Aska.
Arka hanya tersenyum saja kemudian dia melemparkan bola basket kepada Aska.
“Kenapa emang?”
“Karena senyum lo kayak taman. Ada bunga-bunganya gitu.”
“Anjir dibilang kayak taman. Emang senyum gue kebun bunga apa?”
“Hahaha!”
__ADS_1
“Basket yuk, Ar. Gue udah lama nggak main nih!”
“Halah, elo main pun akan kalah sama gue!”
“Tahu, tahu … yang kapten basket!” seru Aska kemudian.
Arka pun terdiam sebentar kemudian ia menunduk, entah kenapa setiap ia dijuluki kapten, membuat hati Arka tidak nyaman sama sekali.
“Ar, elo nggak apa-apa, kan?” tanya Aska.
Agaknya Aska lupa kalau ada memori buruk bagi Arka dalam dunia perbasketan dan itulah kenapa jika Arka paling tidak suka disebut kapten.
“Nggak, nggak apa-apa. Kapan turnamen lagi?”
“Bulan agustus kayaknya. Kenapa? Kan elo yang pasti tahu jadwalnya dari Pak Ridwan.”
“Enggak, tanya aja.”
“Kumpulin tim sih, Ar.”
“Kan udah ada tim.”
“Anak kelas dua belas yang udah mau ujian masak masih elo masukin? Seharusnya kita nyari anak-anak dari kelas sepuluh.”
Arka pun menganggukkan kepalanya juga, kemudian dia kembali memandang Aska.
“Gue kan anak kelas sepuluh.” Arka menjawab.
Aska pun tertawa lepas mendengar ucapan Arka tersebut.
“Salah sendiri lo dua bulan bolos, balik lagi ke kelas sepuluh kan?”
“Anjir emang Pak Hanung. Dikira sekolah apaan, pakai ditinggal kelas segala.”
“Udah berasa murid baru ya kan?”
*****
“Ay! Nuna!”
Ayla dan Nuna pun menghentikan langkahnya saat di lorong kelas, keduanya melihat Intan yang berlari terengah mengejar dua sahabatnya tersebut.
“Ampun deh, kalian kenapa dateng barengan? Tumben?” tanya Intan penuh selidik.
Menginapnya Nuna di rumah Ayla adalah rahasia, dan Intan tidak perlu tahu akan hal itu. Bukan apa-apa, hanya saja bagi Nuna ini hal yang tidak perlu.
Nuna tahu betul siapa Intan, kalau sampai Intan tahu dirinya menginap di rumah Ayla. Pasti, perang dunia ke sepuluh akan terjadi.
__ADS_1