SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.

SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.
Diam Atas Kebenaran.


__ADS_3

Ayla hanya bisa diam, kedua tangannya mencengkeram rok seragam yang ia gunakan. Ia sama sekali tidak menyangka jika ada masalah seperti ini, ia tidak bisa berpikir jernih sama sekali. Bahkan rasanya apa yang bisa diperjuangkan dari hal yang tidak bisa diperjuangkan? Ayla merasa bodoh. Melihat dua cowok yang akan bertanding basket berdua hanya untuk dirinya? Tentu saja hal ini merupakan hal yang benar-benar membingungkan bukan main. Ada beberapa hal yang harus dipikirkan, untuk apa? Hal itu tentunya hanyalah membuang-buang waktu semata.


“Baiklah, gue terima tantangan elo!” semangat Arka.


Arka melirik pada Ayla kemudian ia mengedipkan matanya dengan sempurna, sebuah hal yang membuat Ayla memekik kaget karena hal itu. Sungguh Ayla tidak menyangka jika Arka akan segenit itu.


“Gue bantuin lo jauh-jauh dari Devano, elo tenang aja. Semuanya aman sama gue, oke!”


Ujung bibir Ayla pun berkedut dengan sempurna, ia sama sekali tidak menyangka jika hal ini akan terjadi. Bagaimana tidak, Ayla memang memita tolong untuk mengindari Devano, tapi Ayla sendiri pun tidak mau kalau sampai membuat hal-hal yang aneh bahkan sampai tanding basket seperti ini. Jujur, hal ini memalukan, dan yang paling memalukan buat Ayla adalah, salah satu sahabat Arka malah terus menggaungkan masalah ini kemana-mana. Bagaimana Ayla tidak semakin malu. Pastilah nanti banyak penonton pada pertandingan Devano dan juga Arka. Bukan mereka membentuk tim pendukung demi Ayla, hanya saja melihat Devano dan Arka bertanding basket mungkin akan membuat kesenangan tersendiri untuk mereka.


“Nanti sore ada pertandingan antara Devano Adam Kalendra, dengan Arka Mahesa. Si kutu buku yang biasa disebut raja beruang kutub, dengan kapten tim basket sekolah. Kalian harus nonton, cari siapa idola kalian! Lakukan dengan semangat dengan segala yang ada!” teriakan itu memadati semua penjuru sekolah.


Ayla tidak bisa berkata apa-apa, selain menghela napas panjangnya berkali-kali. Untungnya sahabatnya Arka tidak mengatakan kalau pertandingan ini untuk Ayla. Coba kalau sahabat Arka mengatakan itu juga, pasti Ayla akan merasa begitu malu. Malu bukan main dan malu setengah mati tentu saja.


“Apa-apaan sih, emang bener Kak Devano sama Arka mau tanding basket? Kapan?”


Beberapa cewek yang melintas di belakang Ayla pun saling berbicara, tentu saja hal ini menjadi pembahasan yang sangat hangat bagi mereka. Siapa yang tidak tertarik dengan mereka, Devano itu mascot sekolah, kalau Arka kapten tim basket sekolah kita. Jika dibandingkan, wajah mereka tidak berbeda jauh. Keduanya sama-sama memiliki ketampanan yang bisa dibandingkan satu sama lainnya.

__ADS_1


“Katanya banyak anak yang bakal ngelihat, jarang-jarang lihat Kak Devano tanding basket, selama ini dia itu lebih suka ngehindar. Kalau enggak pas bener-bener pelajaran olahraga disuruh main basket sama guru, mana mau dia buat main basket tentu saja.”


“Wah, kalau dipikir-pikir emang bener juga ya. Baiklah, nanti sore kita lihat, yok!”


Nuna dan Intan yang baru saja keluar dari kelas, mendengar percakapan dua cewek itu pun langsung saling pandang, keduanya pun sama-sama memandang Ayla yang masih duduk anteng di tempatnya.


“Kenapa gitu Kak Devano dan Arka tanding basket? Elo tahu sebabnya?” selidik Nuna.


Ayla menahan napas dengan sempurna, memang kalau sudah berurusan dengan Nuna, Ayla sama sekali tidak bisa berdusta sama sekali. Ini adalah hal yang sangat memalukan untuk dirinya sendiri.


“Ya, kayak gitu.”


Bagaimana jika semua orang tahu jika pertandingan basket ini adalah hanya untuk dirinya, ini tentu saja menjadi salah satu hal yang tidak bisa dibendung. Ayla akan malu dan bahkan tidak akan bisa mendongakkan wajahnya dengan tegak karena saking malunya tentu saja.


“Kayak gitu gimana maksudnya, Ay?” tanya Nuna lagi.


Duduk di samping Ayla kemudian memandang sahabatnya yang sudah tersipu-sipu dengan wajah merahnya yang sempurna.

__ADS_1


“Pasti ada hubungannya sama elo kan?” selidik Intan.


“Iya, emang kenapa?”


Arka tiba-tiba datang mendekati Ayla dan teman-temannya. Ayla semakin menunduk. Malunya benar-benar sudah sampai ke ubun-ubun dengan sempurna.


“Gue mau ngebantuin Ayla buat jauh dari Devano, dengan kesempatan ini gue bakal bikin Devano kalah, sehingga ia nggak punya kesempatan lagi buat deket, apalagi sampai hati buat nyakitin Ayla tentu saja.”


Nuna dan Intan saling mengangguk, agaknya keduanya sangat setuju dengan ucapan dan ide dari Arka, mereka berdua langsung mengangkat dua jempol mereka dengan sempurna.


“Kami setuju untuk kali ini!” seru Intan dan Nuna secara bersamaan.


“Guna menyeimbaingi Ayla yang ingin jauh dari Devano dan gue lihat Devano nggak pernah ang namanya olahraga, gue yakin kalau dalam masalah ini Devano pasti kalah sama elo. Elo kan kapten tim basket, gue yakin kalau elo bakal menang dan juara. Pinter bener lo buat pertandingan yang Devano nggak bisa. Namun …” kata Nuna terhenti.


“Kok bisa Devano kepancing sama elo? Bukannya Devano tipikal cowok yang nggak peduli, cuek dan nggak mikirin siapa-siapa? Tentu saja hal ini adalah hal yang cukup ngebuat semuanya menjadi rumit. Gue baru tahu kalau Devano mau buat tanding hanya karena … Ayla yang dia nggak cinta?”


“Karena gue pancing emosinya, pastinya alasannya itulah. Masak iya Kak Devano beneran mau memperjuangkan cintanya buat Ayla, setelah kata Ayla Kak Devano ngomongnya sejahat itu sama Ayla. Tentu saja hal ini bener-bener udah sangat keterlaluan dan nggak bisa ditinggal diamkan. Jadi ntar jita harus di sini, jangan kemana-mana dan lihat bagaimana semuanya bekerja. Tentu saja semuanya ada hukum alamnya, jangan sampai ngebuat semua hal menjadi rumit dan ricuh sebab hal itu nggak ada gunanya sama sekali.”

__ADS_1


“Intan, tumben banget lo normal dan baik-baik saja. Biasanya elo lah yang bikin ricuh segala hal yang ada.”


Nuna memuji, Intan bahagia. Tapi Ayla hanya diam, seandainya saja. Teman-temannya tahu kejadian yang sebenarnya, tentang apa yang terjadi di perpustakaan itu. Tentu saja mungkin pandangan mereka kepada Devano berbeda, tentu saja semuanya akan menjadi sulit dan rumit, tentu saja semuanya akan menjadi semakin sulit dan tidak bisa dibandingkan oleh siapa pun. Ini adalah tentang hati, bukan tentang dendam dan keegoisan sesaat, hanya saja ada kalanya beberapa hal dan peristiwa terjadi kadang tidak sesuai dengan kehendak hati sama sekali, dan hal inilah yang membuat rumit suasana. Yang membuat hati Ayla mulai goyah dan ragu. Terlebih, karena catatan sakti dari Devano waktu itu.


__ADS_2