
“Kamu ini bener-bener manusia paling lelet di seluruh dunia, Dek!”
Ayla agaknya cukup kaget melihat penampakan abangnya yang sudah ada di pintu keluar sekolah. Dia sama sekali tidak tahu kalau abangnya datang menjemput, bahkan abangnya tidak menghubunginya terlebih dahulu.
“Abang, kok bisa ada di sini?”
“Bang Daren! Ya ampun, setelah gue datengin rumah elo berkali-kali tapi elonya nggak ada, sekarang gue lihat elo di sini juga!” Intan yang begitu histeris melihat kedatangan Daren pun langsung melompat, merengkuh lengan Daren dengan sempurna.
Dan selama itu pula Daren hanya bisa memutar bola matanya jenggah. Jujur, hal seperti ini benar-benar membuat kesal Daren sekali.
“Elo ini apa-apaan sih, dilihat orang nggak pantes banget tahu nggak?”
“Nggak peduli, asalkan ada Bang Daren di sini.”
“Duh, Tan. Elo please lah jangan malu-maluin kami. Berasa kayak apa aja.”
“Nebeng ya, Bang?” tanya Intan. Yang bahkan mengabaikan ucapan dari Nuna.
Nuna dan Ayla pun menghela napas panjang mereka, saling pandang dan memijat pelipis mereka dengan sempurna.
Hal ini tentu saja menjadi salah satu prasangka sendiri. Tidak pernah terbayangkan, dan terpikirkan. Hal ini menjadi salah satu cara terburuk yang pernah ada di dunia ini.
“Udah, ya ampun jangan bikin gue pusing.”
Ayla pun pada akhirnya menengahi, kemudian dia menarik Daren dan merengkuhnya dengan sempurna.
“Ini Abang gue, kalian minggir. Jangan disentuh, karena masih gue segel!”
“Ya ekah, Ay. Sama sahabat sendiri aja.”
“Lihat tuh, udah banyak yang lihatin elo. Apa elo nggak malu apa?” tanya Ayla.
Intan baru sadar, ia pun menebarkan pandangannya dengan sempurna, kemudian dia menundukkan wajahnya. Malu, akhirnya dia baru saja menyadari itu.
“Baiklah, kita kayaknya langsung masuk ke mobil deh?”
“Gue mau ajak Ayla jemput Papa di bandara, kayaknya kalian langsung pulang aja deh. Gue pesenkan grab.”
Daren pun langsung menghalangi Intan untuk masuk ke dalam mobilnya, kemudian ia bergegas membukakan pintu untuk Ayla.
__ADS_1
Intan yang cemberut langsung ditarik oleh Nuna, dan tarikan itu dari arah tas rangsel mahalnya.
“Elo ini emang keluarganya Ayla apa? Mereka ini mau ketemu sama Om, berikanlah waktu mereka buat berkumpul sama keluarga. Kenapa sih lo kalau lihat Bang Daren bener-bener udah kayak orang kesurupan, nggak ngerti lagi gue harus apa. Stress dan malu sendiri gue lihatin tingkah lo yang aneh itu.”
“Iya, iya gue paham. Gue udah bisa mengendalikan diri.”
Intan pun pada akhirnya tersenyum lebar, memandang Nuna dengan sempurna tentu saja.
“Ay, Bang Daren, hati-hati ya. Titip salam buat Om!”
“Oh ya, gue juga udah minta sama Papap buat bawain kalian oleh-oleh. Besok ingetin ya, gue bawain ke sekolah.”
“Janganlah, kami aja yang dateng ke rumah elo besok.”
“Siap, Bos!”
“Ya sudah kami berangkat dulu, ya!” kata Daren.
“I Love You, Bang Daren!”
Daren pun hanya menggelengkan kepalanya, melesat pergi dan hal itu tentu saja membuat Ayla terkekeh juga.
“Gimana caranya aku bisa cinta, yang ada aku jijik sama dia. Please lah, aku itu suka adalah cowok yang suka ngejar cewek, bukan cewek yang suka ngejar cowok duluan. Sikap Intan bener-bener bikin aku geli, nggak paham lagi aku garus gimana buat ngurusin yang namanya Intan ini.”
Ayla terkekeh lagi, dia pun menghela napas panjangnya dengan sempurna, ada banyak hal dan cara dan itu cukup membuatnya menjadi jauh lebih baik sekali.
“Dahlah, kita jangan bahas Intan. Kita bahas yang lain aja.”
“Misalnya, contohnya?” tanya Ayla.
“Ulangan kamu gimana? Lancar semuanya?”
“Kemarin ada yang remidi, kemudian dapet tujuh puluh dan tujuh lima.”
“Baguslah.”
“Baguslah? Abang nggak marah?”
“Asal nggak remidi kan? Ya, kenapa harus marah coba?”
__ADS_1
“Kan aku udah buat kesalahan? Aku bego dan nggak kayak Bang Daren yang nilainya seratus terus.”
“Ngaco ah, setiap anak itu memiliki kelebihan sendiri-sendiri, Dek. Mau di bidang akademik, di bidang seni dan lain sebagainya. Ini adalah hal yang sangat wajar, jadi aku rasa kamu itu bener-bener manusia yang paling aneh di dunia. Jangan terpancing dengan ucapan dan semua hal yang mengerikan, fokuslah dengan satu hal dan itu keinginanmu. Abang nggak mau kamu terbebani dengan segalanya, Abang mau kamu menikmati hidup tentu saja. Hal ini tentu saja merupakan tuntutan dan juga peranku jadi seorang Abang yang sukses. Sukses itu bukan membuat kamu menjadi sosok yang hebat, tapi membuatmu menjadi sosok yang bahagia. Ini adalah hal yang membuatku senang, harapanku adalah kamu, Dek. Tujuanku untuk membahagiakanmu, bukan memaksamu untuk jadi kayak aku.”
Ayla yang merasa terharu pun langsung merengkuh lengan Daren, entah kenapa ucapan Daren kali ini benar-benar membuatnya tenang dan senang, dan semuanya membuat Ayla menjadi nyaman.
“Aku janji aku akan jadi adek yang paling bahagia buat Bang Daren, adek yang akan ngebuat Bang Daren bangga sama aku ya.”
“Janji?”
“Janji!”
“Jangan sedih lagi, apalagi sedih karena cowok. Kamu itu adeknya Daren, kalau Daren aja jadi rebutan masak adeknya malah ngemis minta perhatian sama cowok, jangan nurunin pasaran Abang.”
“Kalau itu mah susah, Abang!”
“Susah gimana? Kamu kan nggak jelek-jelek amat, kamu juga modis, kenapa jadi susah dapetin cowok?”
“Kan masalahnya itu, aku bukan tipikal cewek yang suka dikejar cowok. Sama seperti apa yang Bang Daren bilang tadi. Aku itu lebih suka ngejar cowok.”
“Terus cowok yang kamu kejar itu nggak ngejar kamu, gitu?” tebak Daren. Ia pun mengerutkan keningnya dengan sempurna.
“Iyap! Kurang lebih seperti itu.”
“Emang siapa sih cowok yang kamu gilai sampai kamu mempermalukan keluarga kayak gini? Sumpah ya, Abang malu banget, harga diri Abang langsung hancur seketika karena kamu.”
Ayla pun terkekeh juga, kemudian dia kembali merengkuh lengan kokoh abangnya.
“Abang jangan lebay deh, aku nggak akan ngelakuin hal yang aneh-aneh kok. Aku adalah aku, dan aku adalah sosok yang akan membanggakanmu. Lagi pula kayaknya di sekolah nggak ada tuh yang tahu kalau kamu abangku. Padahal kamu kan alumni baru di sana, bahkan fotomu masih terpajang di sana, Bang.”
“Kenapa kamu nggak ngomong kalau kamu adalah adeknya Abang?”
“Buat apa sih? Emangnya mereka akan percaya? Enggak kan? Abang itu dulu primadona sekolah sementara aku itu nggak dianggap di sekolah, kita itu bagai langit dan bumi, Bang.”
“Jadi cari apa yang membuatmu menarik dan tunjukkan dong.”
“Nggak ah, aku nggak suka jadi pusat perhatian.”
“Dasar! Maunya jadi pusat perhatiannya Devano doang?”
__ADS_1
“Abang tahu dari mana tentang Devano?”