SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.

SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.
Semangat.


__ADS_3

“Kak Devano!”


Histeris seluruh ruangan terdengar menggema, Ayla, Nuna, dan Intan langsung menoleh sambol menutup telinga. Ketiganya agaknya cukup kaget dengaan kedatangan Devano yang kini tengah datang sambil menenteng tas jinjing berwarna merah muda. Ya, warna kesukaan Ayla.


Nuna dan Intan pun menyikut lengan Ayla, sementara Ayla hanya bisa berdiam diri dengan bodoh. Hal ini sungguh cukup canggung, bahkan dia sendiri mulai bingung harus bagaimana.


Masalahnya selama ini dialah yang mengidolakan Devano, dialah yang mengejar Devano, dan di saat hatinya sudah lelah untuk melakukan itu semua, Devano malah balik mengejarnya. Sungguh Ayla belum terbiasa atas hal dicintai dari dicintai, atas dasar dikejar bukan mengerjar. Meski dia adalah seorang cewek yang lumrahnya dicintai dan dikejar, tapi Ayla tidak menyukainya, dia bukan tipikal cewek seperti itu.


“Ay, boleh ngobrol? Aku bawain sesuatu nih!” kata Devano.


Ayla mengangguk kaku, masih sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal ia pun berdiri dan berjalan mendekati Devano, spontan suara berisik itu mulai terdengar lagi, hingga Ayla memilih berjalan beberapa langkah agak jauh dari kelas.


Agar suasana menjadi hening dan dia sendiri bisa saling berbincang dengan Devano dengan nyaman.


Keduanya sama-sama saling berdiri hadap-hadapan, baik Devano dan Ayla. Keduanya seolah sama-sama saling salah tingkah. Entah karena apa dan bagaimana, tapi ini yang terjadi, tidak bisa dibayangkan bagaimana keduanya menjadi seperti ini.


“Ada beberapa buku paket, ada beberapa novel kesukaanmu, dan juga barang-barang yang kamu sukai ada di sini.”


“Hah?” ucap Ayla bodoh.


Devano menundukkan wajahnya kemudian dia berusaha untuk tersenyum manis, bahkan senyumannya itu berhasil membuat Ayla merasa salah tingkah dan tersipu-sipu. Untuk pertama kalinya ia melihat senyum Devano, senyum malu yang begitu luar biasa manis.


“Kok elo … maksudnya, kok kamu tahu?” tanya Ayla.


“Aku tahu semuanya tentang kamu, dari yang remeh-temeh sampai yang penting sekalipun.”


Ayla menganggukkan kepalanya dengan sempurna kemudian dia tersenyum juga, melirik lagi kepada Devano yang masih memandanginya.


“Hari ini pulang bareng yok, aku mau ajak kamu ke kafe cinta.”

__ADS_1


“Untuk?”


“Makan sambil belajar.”


Ayla kembali diam kemudian dia mengintip teman-temannya dari jendela kelas.


“Kalau kamu mau, kamu bisa ajak mereka juga untuk belajar bersama.”


“Boleh?” semangat Ayla. Devano pun menganggukkan kepalanya dengan sempurna. “Syukurlah, sebenernya mereka itu udah pengen banget belajar sama kamu. Aku beberapa kali ulangan ini dapet seratus loh! Dan mereka penasaran kenapa nilaiku jadi bagus terus, jadi aku cerita tentang buku catatan dan pada pinjam buat difotokopi.”


“Heh, difotokopi?” kaget Devano.


Ayla menganggukkan kepalanya dengan sempurna, dengan mimik wajah bodohnya itu.


“Kenapa emang?”


“Itu catatan kan khusus buat kamu, kenapa kamu kasihkan kepada orang lain? Nanti kalau yang lain dapet seratus juga gimana?”


“Maaf, nanti aku ambil deh.”


Devano sudah tidak bisa berkata apa-apa, dia hanya bisa menghela napas panjangnya, ada beberapa hal yang dipikirkan dan Devano sendiri tahu jika Ayla adalah tipikal manusia seperti apa. Ya, Ayla itu adalah orang tang tidak enakan, dia selalu berpikir aneh-aneh dan juah-jauh, tentu saja hal ini membuat Ayla akan mengatakan iya kepada siapa pun yang membutuhkan catatan itu.


“Ya sudah, kalau memang sudah terlanjur nggak apa-apa, yaudah aku balik dulu, ya.”


“Heem, hati-hati.”


Ayla melihat Devano yang setengah berlari menuju kembali ke kelasnya, banyak cewek yang mencoba menggoda Devano tapi Devano sama sekali tidak bereaksi. Memang hal ini cukup membuat Ayla kesal, atau bahkan cemburu. Hingga kemudian Ayla tersenyum juga.


Bagaimana ia harus cemburu? Bukankah seharusnya ia bangga? Devano adalah cowok populer di sekolah dan Devano sudah menjadi miliknya. Punya cowok yang digilai banyak cewek adalah sebuah kebanggan yang menyenangkan.

__ADS_1


Ayla kembali masuk, Nuna dan Intan sudah begitu heboh untuk sekadar mengetahui isi tas warna merah muda yang sangat menggoda tersebut. Keduanya bahkan langsung membuka tas tersebut.


“Eh, Ay. Gue nggak jadi fotokopi deh.”


“Kenapa emang?”


“Gue lihat tulisan Kak Devano gue ngerasa bakal jadi kejam banget, ini kan dia tulis dengan tangan dan khusus buat elo, masak iya gue dengan tega fotokopi hadiah dari cowok buat pacarnya, kan nggak etis sama sekali.”


“Bener juga sih,” kata Aylaa kemudian dia terkekeh juga. “Tadi dia juga sempet protes katanya kok dikasihkan ke temen-temennya kan itu spesial. Tapi kalian berdua nggak perlu khawatir kok. Devano bilang ngajakin gue ke kafe cinta dan dia ngajakin kalian.”


“Buat?”


“Buat belajar bareng. Jadi intinya kita sepulang sekolah dapat les pribadi daro Devano.”


“Aah, mau, mau!” teriak Intan.


“Udah Kak Devano itu pinter, jadi kita bisa dapet banyak ilmu sama dia dan …” kata Intan terhenti dia melirik-lirik dengan wajah mupengnya. “Kapan lagi coba bisa ngobrol deket sama cowok paling populer di sekolah, ini berkat Ayla nih. Kita bisa deket-deket sama Kak Devano. Gue yakin kalau akan banyak cewek yang pasti ngerasa kesel dan iri sama kita.”


“Ah, udah deh. Nggak usah mikir yang aneh-aneh, kita fokus amaa tujuan kita ajalah belajar, agar kita bisa masuk jurusan sesuai dengan apa yang kita pengen terus kita bisa lulus kemudian kuliah.”


“Nuna, kayaknya elo sendiri deh yang udah punya pemikiran sejauh itu. Ya ampun, gue aja belum mikirin kuliah dan ambil jurusan apa, kepala gue pusing bener kalau mikir masalah jurusan.”


“Bukannya kita udah sepakat buat ambil jurusan IPA?”


“Otak kalian nyampek, otak gue gimana?” protes Ayla.


“Kenapa ama otak elo? Kan elo udah ada Kak Devano.”


“Nah, bener tuh kata Intan. Elo kan ada Devano, dan mulai sekarang kita akan belajar bareng sama dia. Jadi kenapa elo maasih galau dan risau, Ayla? Mana dong semangat elo, elo itu harus semangat jangan semangatnya pas ngejar cowok aja, tapi semangat ngejar cita-cita.”

__ADS_1


Ayla menghela napas panjang, entah kenapa dia tidak pernah merasa baik-baik saja dan akan selalu minder setiap kali membahas tentang mata kuliah sekolah. Ayla merasa jika IQnya tidak pantas dan tidak mencukupi untuk membahas itu semuanya.


“Baiklah, gue bakal coba. Tapi kalau akhirnya gue gugur, gue nggak bisa berharap banyak, kalian jangan maksa-maksa lagi ya? Sebab gimanapun juga otak udang gue nggak akan pernah bisa menandingi otak kalian manusia normal yang mendapatkana kecerdasan di atas rata-rata semuanya kan?”


__ADS_2