SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.

SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.
Percakapan yang Gagu.


__ADS_3

Mobil langsung berhenti melaju, kini Ayla dibuat semakin bingung dan ketakutan bukan main. Bukan apa-apa, dia sama sekali merasa jika hal ini adalah hal yang tidak pernah terbayangkan bahkan sampai kapan pun juga. Ini adalah masalahnya, sebuah tanya yang dibalas dengan sebuah hal yang benar-benar membuat Ayla diam membisu seperti manusia paling bodoh di seluruh dunia. Bagaimana Ayla harus menanggapi ini? Ataukah dia harus meminta maaf agar Devano tidak marah? Ayla sama sekali tidak mengerti kenapa Devano sampai semarah itu kepada dirinya. Bahkan, Ayla hanya bertanya. Ya, Ayla benar-benar hanya bertanya tentang apa yang terjadi.


“Lo lupa karena saat kejadian lo pingsan dan kepala lo kepentok pintu cukup keras,” Devano kembali melirik pada Ayla yang bengong memandangnya dengan tatapan bodohnya itu. Devano mengembuskan napasnya berat, dia sama sekali tidak menyangka jika Ayla akan seperti ini. Hingga kemudian dia melajukan jalan mobilnya kembali.


“Tunggu, tapi gue sama sekali nggak ingat kalau gue abis kepentok, gue juga nggak ada di rumah sakit? Sehabis malam penutupan MOS gue pulang dengan selamat, tidur kemudian mimpi ditembak sama elo. Jadi, di mana letak gue jatuhnya, Kak?” tanya Ayla lagi, yang semakin keras kepala membantah kalau dirinya mungkin lupa ingatan atau lain sebagainya. Namun, Devano sama sekali tidak mengatakan apa pun. Alih-alih menjelaskan dengan lebih rinci, yang dia lakukan hanyalah diam. Dia enggan, dan kesal kepada Ayla. Hingga pada akhirnya Devano menghela napas panjang, mengambil jalur kiri pada jalan kemudian masuk pada sebuah komplek perumahan.


Ayla dibuat takjub, bagaimana tidak, bahkan dia sama sekali tidak menyangka jika Devano bahkan hafal jalan rumah Ayla. Ini adalah hal yang benar-benar sangat luar biasa.


“Kak Devano bagaimana bisa tahu alamat rumah gue?” tanya Ayla lagi. Tapi kali ini Devani tidak menjawab, dia hanya melirik Ayla dengan tatapan dinginnya. “Kak—“


“Lo bisa keluar dengan tangan dan kaki elo sendiri, kan?” tandas Devano.


Ayla diam, tidak membantah. Mulutnya terkatup rapat-rapat untuk kemudian dia menganggukkan kepalanya dengan sempurna. Dia pun keluar, dia hendak mengucapkan terimakasih tapi sebelum dia mengatakan itu, Devano langsung pergi begitu saja dan hal itu cukup membuat Ayla kaget bukan main.


Devano seperti sebuah air yang ada di atas daunt alas. Sikap Devano berubah-ubah dan sama sekali tidak mudah ditebak. Jika menurut Ayla, sikap Devano kepadanya bukanlah sikap dari sosok yang dingin. Melainkan sosok yang ketus dan juga galak. Seolah Ayla telah melakukan kesalahan paling besar yang pernah ada di dunia. Meski sampai sekarang Ayla merasa tak melakukan kesalahan apa pun, kecuali merekam secara tidak sengaja Devano yang ada di toilet. Ini adalah masalahnya, ini adalah hal yang tidak pernah terbayangkan bahkan sampai kapan pun itu. Ayla mengembuskan napasnya dengan sempurna. Apa yang coba Ayla pikirkan? Tidak, dia harus fokus. Dia sudah bertanya kepada Devano dan Devano menjawabnya seperti itu. Jadi mulai dari sekarang, status pacar Devano harus disandang oleh Ayla sampai Devano sendiri memutuskan untuk menghentikan status itu.


Senang?


Jujur, seandainya Devano tidak bersikap ketus kepadanya, pastilah Ayla senang. Cewek mana yang tidak akan senang jika cowok idolanya yang begitu ia gilai menjadi pacarnya? Bahkan Ayla merasa itu adalah mimpi terindah yang pernah ada di dunia ini. Hanya saja masalahnya adalah, Ayla sendiri tidak tahu, Devano ketus sekali kepadanya dan bahkan selalu mengatakan hal jahat, dan hal itulah yang membuat Ayla agaknya merasa tertekan dan terus berpikir jika, sebuah hubungan antara dirinya dan Devano benar-benar bukanlah hubungan yang nyata sama sekali.


“Ay, kenapa kamu berdiri sendirian kayak kambing gila di tengah jalan? Mana Arka?” tanya Daren.

__ADS_1


Ayla pun langsung menoleh melihat abangnya yang ternyata sudah berdiri di balkon kamarnya, mengenakan kaus abu-abu dan berkacak pinggang. Ayla memekik, dia mulai panik tidak karuan sekarang. Hingga pada akhirnya Ayla pun sadar akan satu hal jika ini adalah hal yang baik, karena abangnya tidak tahu tadi Ayla pulang diantar oleh siapa.


“Oh, Bang Daren! Gue pulang sendiri! Arka ada urusan bentar tadi, gue kelamaan nunggu jadi gue tinggal deh!” teriak Ayla menajawab pertanyaan dari abangnya.


Ayla pun langsung berlari masuk ke dalam rumah, melepas sepatu dan kaus kaki dengan asal kemudian menaiki anak-anak tangga, membuka pintu kamar abangnya lalu ia tersenyum sangat lebar.


“Bang!” teriak Ayla.


Daren langsung memekik kaget, dia mengelus dadanya dengan sempurna kemudian dia memandang Ayla dengan mimik wajah horornya yang luar biasa.


“Ini bocah, pinter bener gangguin orang! Kenapa? Kenapa wajahmu sumringah sekali?” selidik Daren, mendekati Ayla yang kini sudah rebahan di atas kasur abangnya.


“Apaan sih, nggak jelas banget. Sok-sokkan banget lo. Punya pacar ya lo?” seloroh Daren. Ayla langsung mengambil posisi duduk, membuat Daren yang baru saja mau ikutan tidur langsung melompat kaget dengan sempurna.


“Bang, aku boleh tanya nggak?” Ayla pun akhirnya mengutarakan hal yang membuatnya bingung tersebut.


Daren hanya berdehem, tanpa berniat menjawab ucapan adiknya. Karena merasa kesal bukan main kesalnya dipermainkan oleh Ayla.


“Akhir-akhir ini aku pernah jatoh nggak sih, Bang?” tanya Ayla kemudian. Daren langsung mengerutkan keningnya lagi dengan sempurna, lalu memandang wajah Ayla dengan penuh selidik.


“Maksud kamu?”

__ADS_1


“Ya, maksud aku adalah, apakah aku pernah jatuh sampai hilang ingatan gitu? Amnesia gitu, Bang?” tanya Ayla memperjelas. Daren mendengar itu pun langsung diam, tapi ….


Satu detik ….


Dua detik ….


Tiga—


“Buahahahaha! Siapa yang bilang kalau kamu pernah amnesia sih? Ya ampun, kamu ini tadi sekolah, kan? Nggak sedang halusinasi, kan, Dek?” tanya Daren pada akhirnya.


Wajah Ayla merah padam, dia sama sekali tidak menyangka jika pertanyaannya akan ditertawakan oleh Daren dengan begitu sempurna.


Bodoh! Seharusnya Ayla tidak perlu bertanya.


Kenapa dia harus bertanya kepada Daren? Kenapa dia harus percaya kepada Devano? Semua yang dikatakan Devano hanyalah sebuah ucapan palsu, Devano menjawab sekenanya dan seenak jidatnya saja. Tidak pernah sama sekali kalau Devano benar-benar mengatakan kenyataan.


Lagi pula, Ayla yang punya badan, dan Ayla sendiri benar-benar merasa tidak pernah mengalami yang namanya amnesia atau apa pun itu. Jadi, bagaimana bisa Devano mengatakan hal paling aneh yang pernah ada?


Ayla memijat kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit, dia sama sekali tidak menyangka jika hidupnya akan seperti ini, tidak pernah terbayangkan dan terpikirkan bahkan sampai kapan pun juga, jika semuanya akan menjadi mengerikan seperti ini, dan mulai sekarang, Ayla tidak mau percaya sama sekali dengan Devano!


“Elo pernah jatoh waktu SMP itu kan? Kalau nggak salah kepala lo kepentok pintu pas lagi acara pensi itu kan?” ucap Daren yang berhasil membuat Ayla menoleh dengan sempurna.

__ADS_1


__ADS_2