SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.

SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.
Sebuah Kado.


__ADS_3

Malam ini, Nuna dan Ayla duduk berdua di ranjang Ayla. Seperti apa yang Ayla ucapkan jika ayahnya tidak ada di rumah, dan Daren pun belum pulang karena sibuk kuliah.


“Kenapa nggak dari kemarin-kemarin sih elo ngomong kalau sendirian di rumah. Kalau elo ngomong kan gue bisa dateng dan nginep di rumah elo.”


Nuna pun akhirnya protes, ia merasa jika dia telah menjadi sahabat yang tidak baik untuk Ayla. Bahkan saat Ayla dalam keadaan krisis kepercayaan diri seperti ini.


Nuna tahu, Ayla sudah kehilangan ibunya lama. Salah satu hal yang menyebabkan Ayla jauh lebih pesimis dan suka merendahkan dirinya sendiri, ketika ada masalah pun selalu suka memendam semuanya sendiri. Ya, itu adalah Ayla, dan Nuna harus menjadi sosok sahabat yang sadar, dan sabar. Sadar untuk tahu kapan Ayla membutuhkannya, dan sabar untuk mengurusi Ayla yang sudah berada dalam keadaan terpuruk seperti ini.


“Gue nggak mau ngerepotin elo atau pun Intan. Sebab gue tahu, kalian juga punya kegiatan kalian masing-masing, dan kehidupan kalian nggak hanya berporos sama gue kan?”


Nuna sudah bisa menebak itulah jawaban dari Ayla, salah satu hal lainnya adalah jika Ayla adalah manusia yang tidak enakan. Hal itu tentu saja akan berdampak yang cukup menyebalkan, bahkan rasanya Nuna tidak bisa berbuat apa pun kalau Ayla sudah seperti itu.


“Ay, kami ini sahabat elo. Jadi, mana mungkin ada rasa merepotkan dan lain sebagainya. Elo kenal sama kami udah kapan sih? Udah lama, kan? Jadi please, deh. Berhenti bersikap seolah kami ini baru ngenal elo dan ngebuat persahabatan kita jadi nggak enak hati seperti ini. Persahabatan kita itu adalah persahabatan paling wajar sedunia, Ay. Malah jika elo nggak minta bantuan sama kami itulah malah yang ngebikin persahabatan itu itu nggak wajar sama sekali.”


Ayla menunduk, dia sama sekali tidak tahu jika sahabat-sahabatnya begitu ingin memberi dukungan untuknya, padahal menurut Ayla, dia tidak mau mengganggu. Ayla tahu jika baik Nuna dan juga Intan, keduanya sama-sama memiliki kesibukan, dan itulah kenapa Ayla tidak mau kalau rengekannya tentang satu masalah yang sama, yaitu Devano membuat dua sahabatnya bosan dan berpikir jika dirinya tidak pantas didengarkan sama sekali.


“Emangnya kalian nggak capek kalau gue terus ngebahas Devano dan cerita juga ngeluh tentang gue sama Devano?” tanya Ayla.


Nuna memutar bola matanya dengan jenggah, kemudian ia melempar bantal pada Ayla.


“Ya bosen. Habisnya dunia elo seolah berputar pada Devano mulu, kayak nggak ada cowok lain yang lebih bonefit dibadingkan dengan Devano. Namun gue juga tahu, Intan pun juga tahu kalau elo cinta sama Devano, dan yang namanya cinta emang kayak gitu. Apalagi tingkah Devano yang nyebelin, siapa yang akan terima kalau sahabatnya diresein Devano kan?” kata Nuna.

__ADS_1


Ayla kembali tersenyum, kemudian ia menganggukkan kepalanya dengan sempurna.


“Terimakasih ya, Nuna. Elo baik banget, Intan juga baik banget. Seenggaknya gue ngerasa lega karena gue udah cerita kayak gini sama elo. Mendem semuanya sendiri emang enggak enak.”


“Omong-omong, Ay. Emangnya elo pernah ya ngobrol berdua sama Devano selama elo lepas dari pandangan gue dan juga Intan. Maksud gue sebelum insiden dari malam penutupan MOS itu.”


Ayla pun terdiam, kemudian dia menggelengkan kepalanya dengan sempurna. Lalu ia ingat sebuah insiden yang nyaris membuatnya malu bukan main.


“Kayaknya bisa dibilang kalau itu adalah insiden yang paling memalukan sepanjang sejarah. Gue nggak bisa ngomong itu baik apa enggak atau gimana, hanya saja menurut gue itu adalah insiden.”


“Insiden gimana maksud elo?”


“Gue kan waktu MOS terakhir pas kita rambutnya dipita-pitain warna-warni itu, gue lama balik nyamperin elo dan Intan kan? Nah waktu itu gue kebelet pipis. Jadi gue buru-buru ke toilet sambil ngerekam buat dokumentasi pribadi. Nah di san ague nggak sengaja ngerekam Devano yang keluar dari toilet cewek, dengan penampilan acak-acakan.”


“Merasa kaget dan malu mungkin, Devano marah sama gue. Berusaha ngambil rekaman itu tapi nggak gue kasih. Mungkin dia marah setelah itu dan hanya itu kayaknya kejadian yang gue alami sama Devano sebelum Devano bilang hal aneh itu.”


“Jadi ngapain Devano keluar dari toilet cewek? Apa ada cewek di dalam toilet yang dimasuki Devano?”


“Nggak ada sama sekali, kondisi toilet malah sepi. Gue sih nebak kalau saat itu Devano sakit perut, karena selain rambutnya acak-acakan, mukanya pucet sambil pegangin perut.”


“Emang nggak ada toilet cowok?”

__ADS_1


“Waktu itu di toilet cowok pas gue lihat ada tulisan perbaikan. Entah perbaikan semua atau salah satu, tapi ada tukang di sana.”


Nuna kini menganggukkan kepalanya dengan sempurna. Sekarang ia paham kenapa Devano memilih Ayla untuk dijadikan tameng. Ayla telah mengetahui sisi terburuk Devano dan tentu saja sebagai cowok yang merasa jika dirinya sempurna, satu keburukannya saja adalah sebuah aib yang harus dihapuskan dari muka bumi.


“Sekarang gue paham kenapa Devano pilih elo buat dijadiin tameng. Dia hanya pengen biar elo nggak bocor. Dengan elo jadi ceweknya dia, otomatis elo nggak bakal nyeritain masalah memalukannya dia di toilet itu.”


“Padahal gue nggak ngerasa kalau dia memalukan sama sekali. Lebih dari itu gue ngerasa kalau dia sangat keren setiap saat.”


“Itu sih elo, selalu ngerasa kalau dia adalah sosok yang nggak bisa dibantahkan oleh siapa pun juga.”


“Ya kan emang dia cakep, pinter, dan cool. Siapa coba yang nggak bakalan suka sama dia? Semua anak di sekolah saja semuanya suka sama dia kan?”


“Menurut pandangan gue Devano itu seperti bihun. Putih, tinggi, lencir dan datar.”


Ayla terkekeh juga mendengar penilaian dari Nuna, sebuah penilaian yang sangat luar biasa.


“Mungkin karena ras dia beda sama kita yang orang pribumi dengan kulit kuning langsat kali ya, makanya gue ngelihat dia seperti bihun. Padahal Ay, elo udah cewek paling putih dari sejarah kehidupan gue. Putih alami ya nggak polesan kayak cewek yang sama-sama sama Devano tadi. Tapi tetep aja masih saja kalah putih sama Devano.”


“Kan ras kita beda, Nuna.”


“Oh ya.” Nuna menempeleng kepalanya sendiri. “Terus sekarang elo gimana? Nggak mungkin kan kalau elo benar-benar lepas tangan sepihak seperti itu? Ini adalah hal yang nggak akan pernah nguntungin elo sama sekali, Ay.”

__ADS_1


Ayla paham jika ucapan dari Nuna adalah benar. Diams aja pun malah akan merugikan baginya. Namun di sisi lain, Ayla sendiri juga bingung, ia pun bahkan tidak tahu bagaimana ia bisa bertemu dengan Devano, dalam kondisi Ayla yang masih merasa sakit hati berat dengan manusia seperti Devano.


“Kalau masalah ini gue juga bingung, Nuna. Gimana kira-kira ngebuat gue berani ketemu Devano.”


__ADS_2