SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.

SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.
Remidi.


__ADS_3

“Ay,”


Nuna memegang tangan Ayla dengan hangat, memandang Ayla dengan senyum termanisnya yang pernah ada.


“Remidi itu nggak akan ngebuat elo jadi buruk kok, baru nilai dua lima doang kan? Elo inget pas SMP dulu, nilai gue enol lho Ay!”


Ayla terdiam, memandang Nuna dengan sempurna. Sebuah pertanyaan yang tidak terpikirkan oleh Ayla sama sekali.


“Hah?” ucap Ayla dengan sempurna.


“Udah, jangan dipikirin. Nanti abis remidi kita makan-makan gimana?”


“Gue kan bego, Nuna.”


Ayla pun mulai dengan segala hal yang ada, dia memang sudah merasa kalau hal ini tidak mungkin. Dia bodoh, itu adalah kenyataannya. Mau bagaimana lagi untuk mengurusi semuanya? Bahkan dari semua hal yang ada, yang berhasil membuat Ayla semakin ciut.


“Gue sendirian yang dapet nilai dua lima. Sementara nilai terjelek di kelas ini aja tujuh puluh lima.”


Ayla pun kembali mengeluh. Nuna dan Intan hanya bisa menahan napas mereka, keduanya saling pandang. Sebab kalau Ayla sudah sepesimis ini akan benar-benar susah tentu saja.


“Ini karena elo suka banget mikirin Kak Devano, elo itu sekolah tujuannya bukan buat belajar. Tapi buat ngejar Kak Devano. Emangnya, siapa yang nggak tahu kegilaan elo ama Kak Devano? Bahkan semuanya udah merasa risih sama kelakuan elo!”


Ayla pun hanya bisa terdiam, satu temannya bernama Sasa pun langsung mengatakan hal sejahat itu kepadanya. Ini adalah hal paling gila, bahkan sepertinya tidak ada hal yang lebih gila dibandingkan dengan hal ini.


Mengatakan hal menyakitkan adalah hal yang tidak pernah terbayangkan oleh Ayla sama sekali.


“Elo kalau ngomong jangan sembarangan, ya. Emangnya kenapa kalau Ayla punya idola? Ngaca dulu lo, bukannya elo juga kalau ada Kak Devano jadi kegatelan? Jadi jangan nuduh Ayla macem-macem.”


Nuna yang memang notabenya adalah orang yang paling tidak bisa melihat sahabatnya disakiti pun langsung marah besar, ia pun langsung menarik sebelah alisnya sambil memandang Sasa dengan kesal.

__ADS_1


“Atau jangan-jangan elo cemburu sama Ayla, kan? Karena Ayla pacaran sama Kak Devano? Duh, kasihan deh lo kalah saing.”


“Sudah, sudah! Apa yang kalian bahas ini sebenarnya!”


Semua orang pun langsung diam, kemudian sang guru memandang Ayla sambil menghela napas panjangnya.


“Ayla, nanti kamu ikut Ibu.”


“Iya, Bu.”


*****


“Eh, Ar, elo remidi ulangan Biologi?” tanya Aksa.


Arka pun hanya mengangguk sambil melempar kertas ulangannya di atas meja dengan asal.


“Kampret bener gue harus remidi. Sialan tuh Bu Suci. Kenapa sih dia harus ngasih ulangan Biologi serentak kelas sepuluh semuanya? Gue kan belum belajar, mana bisa gue ngejawab pertanyaan-pertanyaan aneh dari soal-soal ulangannya itu. Dasar guru nggak tahu diri lah!” marah Arka.


“Tenang, elo nggak sendiri kok. Dari seluruh kelas sepuluh hanya ada dua murid yang kabarnya bakal remidi.”


“Ah masak? Hebat banget dong gue, bisa mencetak rekor jadi murid paling bego di sekolah.” Arka menjawab dengan bangganya.


“Jelaslah, Arka!” kata Aska masih sambil tertawa.


Arka kini mengerutkan keningnya dengan sempurna, tentu saja hal ini ada yang sangat aneh.


“Terus siapa yang satunya? Kenapa bisa ada murid lain yang mau nandingin rekor kegoblokan gue?” tanya Arka kemudian.


“Iya ada, dan kalau elo tahu pasti elo bakal kegirangan.”

__ADS_1


“Siapa?”


“Ayla.”


“Hah?” ucap Arka sambil bengong.


Aska kembali tertawa juga, sebuah ekspresi yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahkan oleh Aska sekalipun. Bagaimana bisa Arka mengatakan kata ‘hah’ dengan mimik wajah yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya? Sungguh Aska tidak menyangka sama sekali.


“Kenapa? Bukannya lo senang ya? Ini adalah kesempatan elo bisa deket-deket sama Ayla kan? Sepertinya elo naksir berat sama Ayla. Sekarang udah dapet kesempatan buat sama-sama remidi, elo malah bilang hah? Apaan itu?”


“Kok bisa? Kok bisa Ayla remidi? Kan soal itu gampang banget!” kata Arka yang merasa jika ini ada yang aneh dan dia sama sekali tidak terima kalau sampai Ayla remidi.


“Buktinya bisa kan? Kabarnya, maaf-maaf nih ya. Ayla waktu di SMP juga menyandang siswi paling bego di sekolah. Bisa dikatakan kalau dia selalu dapat peringkat paling bawah. Dia masuk di sekolah ini saja katanya nih, papanya bayar beberapa juta gitu buat beli bangku, katanya gitu. Entah bener apa enggak, tapi ngelihat kenyataannya kayaknya emang nggak salah deh, dan dia—“


Ucapan dari Aska pun terhenti, dia hanya bisa melihat kalau Arka sudah berlari sekuat tenaga menuju kelas Ayla tepat saat bel istirahat berbunyi.


Arka pun langsung menghentikan langkahnya, tepat ketika matanya menangkap sosok yang ia cari selama ini di dalam kelas. Membaca beberapa buku paket dan bekerja keras untuk mengingat apa saja yang ada di sana.


Rahang Arka mengeras, dia sama sekali tidak menyangka jika kehidupannya akan seperti ini. Ya, Arka ingat dengan jelas apa yang dikatakan oleh Daren sehingga Daren berkali-kali meminta tolong kepada Arka untuk menjaga baik-baik adiknya.


“Lo tahu, Ar. Ayla itu awalnya adalah siswi yang cerdas. Di sekolah dia selalu mendapatkan perintkat tiga besar umum. Hanya saja setelah kejadian itu, Ayla kayak mengalami depresi dan entah kenapa selain hal yang lainnya dia menjadi susah dalam menangkap pelajaran. Setiap kali dia mendapatkan nilai jelek, Ayla langsung down dan mengurung diri. Dia seolah menyalahkan dirinya sendiri dan gue nggak mau kalau adek gue jadi depresi kayak gini.”


“Kok bisa, Bang?”


“Entahlah, gue sendiri juga nggak tahu kenapa semua ini bisa terjadi. Hanya saja, biasanya Nuna akan menyalahkan beberapa jawabannya agar ia mendapatkan nilai buruk sama seperti Ayla. Bukan apa-apa, tujuannya hanya ingin membuat Ayla tidak berpikir kalau dirinya adalah siswi yang bego. Dengan adanya Nuna yang mendapatkan nilai buruk juga, setidaknya Ayla merasa jika dia memiliki teman yang memiliki nilai sama buruknya. Gue juga nggak tahu sedalam apa hubungan persahabatan mereka. Hanya saja gue ngerasa kalau Nuna seperhatian itu kepada Ayla dan gue ngerasa cukup tersanjung.”


Kedua tangan Arka mengepal sempurna, rahangnya pun mengeras. Dia sama sekali tidak menyangka jika apa yang dikatakan Daren adalah benar adanya.


Kini Ayla menyendiri, di saat semua teman-temannya sibuk ke kantin atau melakukan kegiatan lain. Ayla sibuk dengan buku-buku paketnya, demi bisa belajar dan lancar dalam mengerjakan soal saat remidi nanti.

__ADS_1


“Ini semuanya salah gue!”


Arka pun menoleh tepat saat Nuna berdiri di luar kelas sambil memandangi Ayla di balik jendela.


__ADS_2