SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.

SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.
Berdebatan Kecil.


__ADS_3

“Jadi bener ya, cewek kelas sepuluh itu udah putus sama Kak Devano?”


“Iyalah, udah gue duga kalau hubungan mereka nggak akan bertahan lama. Itu pun pastinya cewek itu yang gatel buat ngerayu Kak Devano.”


Ayla hanya bisa diam, semetara Intan mengelus bahu Ayla untuk menguatkan. Memang siapa yang tidak akan kesal mendengar hal itu? Bahkan sepertinya banyak hal yang tidak bisa dibayangkan hanya karena ucapan ini.


Salah satu risiko memiliki hubungan dengan cowok populer, kalau menurut mereka tidak sebanding ya akan dihina-hina. Itu bahkan seolah menjadi sebuah hukum rimba yang sudah biasa.


“Heh, apa yang sedang kalian bicarain!” bentak Nuna.


Sambil memukul dinding yang ada di samping dua cewek tersebut, kemudian Nuna melotot dengan sempurna.


Memang Nuna terkenal tomboy, bisa dikatakan kalau Nuna adalah cewek yang suka dengan keributan. Namun semua keributan yang ia lakukan tidak lain untuk membela sahabat-sahabatnya. Terutama … Ayla.


Hal ini tentunya bukanlah hal yang menyenangkan, dianggap sebagai sosok paling mengerikan yang pernah ada. Tapi Nuna sama sekali tidak peduli.


“Siapa bilang kalau sahabat gue yang kegatelan sama Kak Devano. Justru Kak Devano yang ngejar-ngejar sahabat gue. Asal kalian tahu saja ini adalah hal yang tidak bisa dibandingkan. Lagian kalau mereka putus, bisa gue pastiin kalau yang mutusin itu bukan manusia bernama Devani, melainkan sahabat gue yang bernama Ayla. Apa kalian paham dengan semua ini?”


Dua cewek itu tidak bisa menjawab ucapan Nuna, alih-alih membantah pun mereka tidak bisa. Hingga akhirnya, yang mereka lakukan adalah berlari sekencang-kencangnya. Mereka takut jika Nuna murka dan akan memukuli mereka.


“Nuna, elo kayaknya terlalu keras deh,” kata Ayla sambil tersenyum getir. Ini adalah hal yang harus diubah dari Nuna, sebab kalau tidak selain Nuna tidak punya teman, bisa-bisa Nuna tidak bisa punya pacar. “Elo itu jadi cewek yang lembut dikit deh, biar cowok-cowok pun mau deketin elo.”


“Gue nggak butuh lah dideketin cowok. Menurut penelitian gue, sebagian besar cowok itu nyakitin.”

__ADS_1


“Emang lo mau nikah sama siapa? Sama cewek, apa sama kambing?” celetuk Intan.


Nuna pun tersenyum juga dengan begitu lebar, sebuah senyuman yang menurut Intan dan Ayla cukup aneh sekali.


“Biarin ajalah, gue sehat-sehat gini. Gue bahagia dan sebagainya gini. Nanti kalau gue udah tua, terus gue ngerasa butuh suami, barulah nyari. Nggak butuh yang ganteng dan yang kaya, biasanya mereka semuanya nyakitin banget. Tentu saja ini adalah hal yang sangat baik, gue hanya butuh bahagia banget di sisa hidup gue. Gimana, bukankah hal ini sangat nyenengin?”


“Elo bayangannya udah setinggi gunung Himalaya banget ya, sampai nggak ngerti lagi harus gimana gue sekarang ngurusin elo sama aja kalau gue gila tentu saja.”


Ayla pun tersenyum juga, dia sama sekali tidak menyangka jika kedua sahabatnya ini terus berseteru terus. Namun anehnya, meski sering berdebat, keduanya sama-sama tidak akan pernah bisa berpisah bahkan sampai kapan pun juga.


“Kalian kapan sih bisa akur, nggak bertengkar kayak gini terus. Ya ampun, ngelihat kalian ribut ngebuat kepala gue pusing.”


“Dia nih!”


“Dia nih!”


“Jadi nanti malam jadi kan nginep di rumahnya Ayla buat belajar kelompok?” tanya Intan.


Nuna agaknya kelepasan bicara. Sialnya dia malah mengajak Intan untuk belajar kelompok di rumah Ayla, yang berarti Intan pasti senang karena memiliki kesempatan emas untuk dekat-dekat dengan Daren.


Bukan apa-apa, masalahnya adalah Intan pasti di rumah Ayla tidak akan fokus belajar kelompok, yang ada Intan malah akan fokus menggoda Daren, dan hal itu tentunya akan membuat kesal Nuna. Sebab yang akan kerepotan adalah Nuna, pasti Intan punya seribu satu alasan untuk meminta Nuna mengerjakan tugasnya.


“Ay,” bisik Nuna pada akhirnya. “Bilangin sama Abang lo, pas kita dateng ke rumah elo, Bang Daren suruh nginep kampus aja sih.”

__ADS_1


Ayla yang tahu maksud Nuna pun hanya mengulum senyum. Dia paham dengan sangat alasan Nuna mengatakan hal itu. Memangnya siapa yang tidak kesal? Bahkan semua orang pun pasti akan kesal dengan tingkah dari Intan. Sikapnya yang terlalu kentara itu benar-benar membuat semua orang malu. Meski Ayla sendiri tidak menampik jika apa yang ia lakukan kepada Devano pun sama. Memalukan martabatnya sebagai seorang cewek.


“Udah deh beres, bisa gue pastiin kalau Intan bakal bener-bener belajar nanti. Emang kapan sih kalian mau ke rumah?”


“Nanti malam. Jadi kita adakan pertemuan belajar kelompok tiga kali seminggu, jadi dalam satu hari kita belajar materi untuk dua hari ke depan. Kalau waktu ulangan kita belajarnya double. Gimana? Gue rasa hal ini tentunya sungguh efektif sekali. Apalagi buat elo yang dibiarin sendiri aja otak elo langsung nyari sosok bernama Devano. Pokoknya gue nggak akan ngebiarin elo sendirian, Ayla.”


Ayla pun tersenyum juga, lantas ia langsung memeluk erat tubuh Nuna, dia benar-benar senang dengan Nuna.


“Gue nggak dipeluk juga nih?” tanya Intan.


Dia langsung bergabung dalam pelukan Nuna dan juga Ayla.


“Gue bersyukur, gue beruntung, dan gue seneng banget bisa punya sahabat kayak kalian. Semoga gue selamanya bisa bersama kalian. Nggak hanya waktu SMP dan SMA aja, kuliah dan setelah kehidupan lainnya juga ya.”


“Lo ngomong apa sih, Ay? Ucapan elo ngeri tahu nggak!” kesal Intan.


Bagaimana Intan tidak marah jika apa yang diucapkan Ayla seperti orang yang ingin melalukan sebuah perpisahan, sebuah hal yang membuat tidak nyaman Intan dan Nuna.


“Jangan ngomong kayak gitu lagi ah, lagian tanpa elo ngomong kayak gitu pun, kami akan selalu ada sama-sama elo. Ya nggak, Tan?”


“Bener! Apalagi kalau gue udah jadi Kakak Ipar lo, yakin deh gue bakal jadi Kakak Ipar yang paling manis buat elo!”


“Yeee, kalau itu mah keinginan elo doang kali, Tan! Gue aja yang bukan adeknya Bang Daren ogah. Bisa-bisa Ayla yang elo jadiin Kakak, elo itu manjanya nggak ketulungan, bawel dan ruwetnya juga nggak ketulungan. Gue nggak bisa bayangin gimana jadinya kalau sampai elo jadi Kakak Ipar dari Ayla. Apalagi jadi istrinya Bang Daren, bisa meledak kepala Bang Daren karena punya cewek dua aneh di rumahnya. Udah pusing ngurusin Ayla, ditambah pusing ngurusin elo juga. Emangnya elo nggak lelah dan capek apa ya? Ini adalah hal yang bener-bener deh, nggak paham gue ama konsep elo.”

__ADS_1


“Namanya juga usaha, apa salahnya sih, Nuna! Elo ini terlalu berlebihan, deh. Masak iya seumur hidup gue bakal gini terus. Nggak akan kan?”


“Udah, kenapa kalian ribut lagi sih!”


__ADS_2