
“Seharusnya gue nyalahin beberapa jawaban gue biar dapet nilai jelek dan remidi sama-sama Ayla juga.”
“Udah, Nuna. Sampai kapan elo mau nyalahin diri elo sendiri? Siapa yang tahu kalau Ayla bakal salah ngejawab pertanyaannya kan? Soal ini ada di kisi-kisi semuanya. Jadi elo nggak salah kalau elo dapet jawaban semuanya, Nuna.”
Nuna terdiam, dia lantas memegang kepalanya dengan sempurna. Hal ini adalah sebuah kesalahan yang sangat besar.
“Ayla sedang nggak baik-baik saja, itulah kenapa mungkin dia belajar jadi nggak fokus, dan kita sebagai sahabat harus ngertiin dia, Intan.”
“Kita kurang ngertiin dia gimana sih, Nuna? Selama ini kita ngertiin dia banget. Bukan karena dia mudah down lantas kita harus ngejaga terus perasaannya. Hal itu adalah hal yang malah keliru. Kita sama saja malah akan membuat Ayla jadi pengecut. Nggak berani menghadapi kenyataan dan kecemasan atas dirinya sendiri. Kita harus paham dengan hal ini.”
Nuna pun diam, dia menundukkan wajahnya dengan sempurna. Ada rasa sesak mendalam yang tidak bisa ia utarakan sama sekali. Bahkan rasa sesak itu sudah mendarah daging dengan begitu nyata.
“Sesekali biarkan Ayla untuk menghadapi kenyataan yang ada, agar dia pelan-pelan belajar. Lagi pula hanya remidi ulangan biologi kan? Untuk yang lainnya kita akan bantuin dia sebisa kita. Bagaimana?”
Nuna pun menoleh pada Intan, agaknya ucapan Intan itu sangat masuk akal. Biar bagaimana pun, pelan-pelan Ayla harus bisa menghadapi kenyataan. Agar semuanya bisa dipikirkan dengan baik-baik saja.
Sementara Arka yang mendengar itu pun tidak menyalahkan dua sahabat Ayla. Apa pun yang terjadi kepada Ayla pun bukan tanggung jawab mereka. Ini tentunya adalah hal yang sangat baik juga.
Arka pun langsung bergegas masuk ke dalam kelas, dia duduk di sebelah Ayla yang sibuk dengan buku paketnya.
“Biasanya remidi itu tujuh puluh persen dari soal ulangan tadi. Jadi pelajarai aja soal ulangan tadi. Kalau elo udah yakin bisa semua, yang tiga puluh persennya elo bisa salah-salahin.”
Arka pun berbicara dan hal itu berhasil membuat Ayla menoleh. Namun tidak seperti biasanya yang Ayla akan mengatakan banyak hal. Dibandingkan itu Ayla lebih memilih diam.
Arka tahu sebenarnya pikiran Ayla sekarang bercabang-cabang. Antara pikiran rumah dan merasa kesepian, antara pikiran masalah Devano kemudian pikiran masalah ulangan, dan dari semua siswa hanya Ayla yang menjalani remidi.
“Makanya kalau di kelas itu belajar. Elo sih sibuk dan pikiran elo bercabang-cabang. Sekarang elo tahu kan, mikirin cowok nggak jelas itu nggak ada untungnya sama sekali? Bahkan bisa dikatakan merugikan. Udah jangan sedih lagi, jangan terlalu depresi kayak gitu. Elo nggak sendiri kok, gue juga remidi. Nanti kita remidi bareng-bareng, ya.”
Ayla kembali memandang Arka, matanya menjadi berkaca-kaca kemudian dia mengembuskan napasnya dengan berat.
__ADS_1
“Gue ngerasa jadi cewek bego banget. Nggak pernah bisa mikirin tujuan gue sekolah buat apa. Di pikiran gue selalu ada Devano, dan Devano aja. Sampai gue nggak bisa mikir yang lainnya. Gue bego kan ya?”
“Semua orang punya sifat kebegoan masing-masing, dan kalau elo di pelajaran bego emang kenapa? Nggak dosa, ngerugiin orang lain? Enggak kan?” ucap Arka.
Ayla pun terdiam, apa yang dikatakan oleh Arka memang benar. Bego bukanlah sebuah hal yang merugikan, tapi tetap saja bego adalah sebuah hal yang memalukan.
Ayla menghela napas panjangnya dengan sempurna, dia pun pada akhirnya meganggukkan kepalanya juga. Percuma dia berdebat dengan Arka, cowok itu tidak akan pernah bisa dikalahkan, dia akan selalu menang dalam segala hal dan tentu saja hal ini cukup merugikan semua orang.
“Baiklah, ini adalah hal yang memang cukup melelahkan jika dibahas lebih lanjut.”
“Jadi gimana, berani remidi sekarang?” tanya Arka setengah menantang.
Ayla hanya diam, matanya terpaku mendengar ucapan dari Arka. Tentu saja hal ini adalah hal yang membuat Ayla merasa jika dirinya belum siap dalam segala hal.
“Gue ….”
“Udah jangan banyak berpikir!”
Ayla melambaikan tangannya pada Nuna dan Intan, keduanya sama-sama tidak bisa melakukan apa pun juga karena Arka cukup keras kepala juga. Ini adalah hal yang mebuat Nuna dan Intan agaknya ikut syok juga.
“Lo mau bawa gue ke mana sih? Lepasin gue, gue bisa jalan sendiri, Arka!”
“Gue mau ajakin elo remidi!”
“Gue malu dilihat banyak orang!”
“Biarin. Emang gue pikirin!”
“Arka lepasin gue, ih!”
__ADS_1
“Nggak akan!”
“Arka!”
Dan kejadian itu disaksikan oleh semua orang, tak terkecuali dengan Devano. Yang memilih diam sambil melipat kedua tangannya di dada.
“Lihat tuh, Dev, cewek elo. Di saat elo merjuangin dia sampai elo ngomong jahat ke Cindy, tapi cewek elo sendiri malah pegangan tangan sambil lari-larian sama cowok lain kayak di film India.”
Devano melirik Abian dengan kesal, kemudian ia masuk ke dalam kelas. Sesekali Devano menghela napasnya panjang, lalu dia memijat pelipisnya yang sakit.
“Kabarnya Ayla tadi kena remidi. Dari seluruh siswa dia dan Arka berdua aja yang nilainya ancur. Padahal udah jelas, udah dikasih kisi-kisi juga sama Bu Siuci, dan ulangannya itu sama persis di kisi-kisi itu. Bego banget sih tuh cewek, nggak pantes sama elo yang jenius, Dev.”
Devano langsung memukul meja bahkan sampai Abian nyaris melompat, tanpa mengatakan apa pun Devano memilih pergi dari kelas. Entah kenapa hari ini suasana hatinya sedang buruk, dan Devano tidak mau memperburuk suasana dan dia tidak mau kesal sendirian.
“Sekarang gimana rasanya, Kak?”
Langkah Devano terhenti ketika ia melihat Nuna dan juga Intan berdiri tepat di depannya.
“Faktanya, pura-pura itu adalah hal yang paling menyakitkan, bukan? Apalagi pura-pura nggak peduli dengan orang yang kita sayang.”
Rahang Devano pun mengeras, ia tak mengatakan apa pun selain memalingkan pandangannya ke arah lain.
“Ayla nggak bisa belajar karena elo, Kak. Elo tahu sendiri gimana kondisi psikis Ayla sekarang. Jika nilai akademiknya Ayla sampai jatuh, nggak ada yang bisa disalahin selain elo.”
Nuna dan Intan pun langsung pergi, membuat Devano terdiam. Devano menundukkan wajahnya dengan sempurna. Kemudian dia memegangi keningnya.
Entah kenapa otaknya terasa panas sekarang dan pikirannya menjadi bercabang kemana-mana. Sebuah hal yang sama sekali tidak bisa dipikirkan oleh Devano sama sekali pada awalnya. Apa yang sedang dipikirkan oleh Devano?
Bahkan dia sendiri tidak tahu tentang pikirannya, yang jelas semua yang ada di dalam otak Devano benar-benar kacau.
__ADS_1
“Sekarang elo hanya punya dua pilihan. Mundur selagi cewek itu dalam kondisi benci sama elo dan berpikir elo adalah cowok yang paling nyakitin dia, atau maju untuk mempertahankan apa yang udah elo miliki selama ini.”