SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.

SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.
Mencoba Tidak Peduli.


__ADS_3

“Sekarang kita jadwalnya belajar kelompok kan?”


Intan yang sudah mengemasi bukunya untuk dimasukkan ke dalam tas jinjing mahalnya itu pun bertanya.


Nuna hanya mengangguk saja, sementara Ayla memilih diam sambil memperhatikan dua sahabatnya.


“Bukannya kemarin udah belajar kelompok ya? Kenapa harus belajar kelompok lagi?” tanya Ayla bingung.


Bagaimana dia tidak bingung juga pada kenyataannya belajar kelompok yang mereka lakukan tidak lebih dari mendengarkan ocehan Intan sambil begadang.


Bisa dibayangkan jika perbandingannya adalah, belajar kelompoknya dua jam. Mendengar curhatan Intan selama enam jam.


Tentu saja semua ilmu yang mulai masuk di otak Ayla bukannya tumbuh malah layu, berganti dengan semua keluhan Intan dalam menjalani kehidupan yang tidak baik-baik saja ini.


“Kan besok ulangan Bahasa Indonesia, Ay. Elo inget kan, kalau besoknya ulangan malam itu juga kita harus belajar kelompok?” Intan mengingatkan.


Ayla memandang Intan sambil menahan napasnya, sungguh hal ini bukanlah hal yang disukai Ayla sama sekali. bahkan bisa dikatakan bahwa lebih baik Ayla duduk manis saja dan belajar sendiri di rumah.


“Nggak usah deh, kalian—“


“Gue bakal bawa pakaian ganti dan seragam, jadi pas nginep di rumah elo nggak perlu pulang lagi. Sumpah deh ini merepotkan.”


“Namun—“


“Ada gue, Ay. Gue bakal tegas malam nanti.” Nuna yang seolah paham dengan apa yang dikhawatirkan oleh Ayla pun langsung dengan tegas mengatakan hal itu, membuat Ayla akhirnya percaya jika malam nanti semuanya akan baik-baik saja dan Intan tidak akan pernah berbuat usil lagi.


“Gue berharap banyak sama elo.”


“Ada apa sih?”


“Ada elo!” kesal Nuna.


Intan pun langsung merengut.


“Gue boleh jujur sama elo nggak sih, Tan?”


“Apa?”


“Maaf tapi sebelumnya kalau elo ngerasa tersinggung atau apa pun.”


“Apaan sih?”

__ADS_1


“Kita ini niatnya belajar kelompok kan?”


“Tentu dong.”


“Belajar kelompok buat ngebantu Ayla biar bisa belajar jauh lebih efektif dibandingkan belajar sendirian?”


“Bener sekali!”


“Jadi gue mohon, mohon banget deh sama elo. Kita fokus kepada tujuan kita aja ngebantu Ayla. Elo nggak usah gangguin gue sama Ayla setelah itu. Gue nggak masalah sama sekali kalau elo mau curhat. Tapi inget waktu, Intan. Jangan sampai subuh juga, besoknya kita itu harus sekolah. Kalau cara elo setiap belajar kelompok kayak gitu, Ayla bukannya malah pinter tapi malah bego. Selain semua yang dipelajarinya raib karena curhatan elo yang nggak jelas itu, ditambah dia ke sekolah pasti mengantuk. Lo lihat tadi, sepanjang pelajaran berapa kali Ayla ditegur guru gara-gara mengantuk? Dan siapa yang udah ngebuat Ayla kayak gitu?”


Intan langsung memandang Ayla, dia menampilkan mimik wajah seriusnya yang luar biasa. Intan sama sekali tidak menyangka jika Ayla akan kerepotan karenanya.


“Ayla itu anak rumahan, Ayla itu anak yang udah dididik nurut dan disiplin sama Om dan juga Abang Daren, yang nggak bisa melek lebih dari jam sebelas malem. Jadi gue harap ubah kebiasaan lo itu, atau kegiatan belajar kelompoknya kita udahin aja. Dari pada malah menyiksa Ayla kan kasihan Aylanya juga nantinya, nggak dapat apa-apa malah dapet hal yang di luar nalar tentu saja.”


Intan memandang Ayla lagi kini sambil memasang mimik wajah sedih luar biasa tentu saja.


“Ay, apa elo keganggu gara-gara gue?”


“Bukannya ngeganggu sih, Tan.”


Ayla sendiri tidak ingin kalau hal tersebut akan membuat Intan merasa sedih, apalagi kalau sampai tersinggung. Sungguh Ayla tidak mau hal seperti itu terjadi.


“Hanya saja apa yang dikatakan Nuna itu bener, gue nggak kebiasa tidur larut malam, dan pasti kalau gue tidur larut malam di sekolah gue ngantuk banget.”


Baiklah apa?” tanya Nuna yang mendengar jawaban aneh dari Intan, mimik wajah Intan berubah suram dan hal itu cukup membuat takut Ayla dan Nuna.


“Gue bakal tidur jam sebelas malam demi kalian.”


“Seriusan?”


“Iya deh meski agak kepaksa.”


Nuna menepuk bahu Intan kemudian ia tersenyum sangat lebar, memang sedikit pujian akan cukup membuat Intan akan merasa senang bukan main tentu saja.


“Gue yakin elo bakal bisa ngalahin ego elo. Katanya elo kan calon istrinya Abang Daren. Nah calon Kakak Ipar itu harus sayang dan peduli sama adek ipar, kalau enggak ya enggak bisa jadi Kakak Ipar. Masak iya, Adek Ipar harus ngalah sama Kakak Ipar kan nggak lucu?”


Mendengar ucapan Nuna, mimik wajah muram Intan pun berubah menjadi sumringah. Ini adalah hal yang tidak pernah terbayangkan, keduanya sama-sama tidak pernah berpikir bahkan sampai sejauh itu.


Seefektif itu kah nama Daren bagi Intan? Sehingga mimik wajahnya langsung berubah drastis dengan cara yang paling manis seperti ini.


“Nah kan bener, kan gue calon Kakak Ipar buat Ayla. Gue bakal jadi Kakak Ipar yang paling manis.” Intan berkata dengan penuh semangat.

__ADS_1


“Ya udah kalau gitu kita pisah dulu pulangnya, gue bakal balik ke rumah elo sambil bawa peralatan buat sekolah besok.”


“Oke, gue setuju. Kalau elo, Nuna?”


Nuna memandang Ayla dia tersenyum samar sambil menunjukkan jempolnya yang panjang itu.


“Gue udah siapin semuanya kok, tinggal pulang bareng sama elo aja.”


“Serius?”


“Iyap. Jalan kaki sambil menuju halte yang ada di sebelah kafe cinta itu kayaknya enak, dibandingkan nunggu bis dari sekolah. Selalu penuh dengan orang-orang nggak jelas.”


“Jadi kita naik bus dari sana aja?” tanya Ayla lagi.


Nuna pun menganggukkan kepalanya dengan sempurna.


“Bisa kan?”


“Iya, boleh. Ayo kita pergi.”


Mereka bertiga pun sama-sama pergi, dan Intan yang berpisah sendiri. Nuna dan Ayla berjalan menyusuri bahu jalan sambil sesekali bercerita.


“Elo berani banget, Nuna. Ngomong kayak gitu sama Intan, kirain tadi Intan bakal marah besar dan itu ngebuat gue udah ngerasa ketakutan.”


“Udah elo tenang aja sih, Intan itu kelemahannya adalah Bang Daren. Kalau kita bilang semuanya ini demi Bang Daren pasti dia langsung bakal luluh. Beruntung lagi itu elo, elo adalah adiknya Bang Daren. Coba kalau enggak, mungkin tadi Intan udah berubah jadi singa.”


Ayla terkekeh juga mendengar hal itu, kemudian dia melirik pada salah satu kafe yang ada di sisi jalan dengan mimik wajah tegangnya.


“Elo kenapa, Ay?” tanya Nuna.


Ia pun ikut melirik pada kafe tersebut, kemudian Ayla cepat-cepat menarik tangan Nuna agar tidak melihat siapa saja yang ada di kafe itu.


Ya, di dalam sana sudah ada Devano. Entah sengaja atu tidak, entah untuk dirinya atau tidak. Namun entah bagaimana Devano sudah ada di sana.


Apakah benar Devano sedang menunggu kedatangannya?


“Ayla!”


“Eh, iya?”


“Elo kenapa sih? Nggak fokus banget, pengen maen ke kafe itu?” tanya Nuna penasaran.

__ADS_1


“Oh enggak, yok kita langsung balik!”


__ADS_2