SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.

SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.
Cerita Ayla.


__ADS_3

“Udah sampai nih, buruan keluar. Entar kamu telat lagi.”


“Siap, Bos!”


Ayla pun salim dengan Daren, melambaikan tangannya tinggi-tinggi hingga Daren pergi.


“Cie, pacar baru, Ay?”


Salah satu teman Ayla pun langsung menggoda, Ayla tersenyum saja mendengar hal itu.


“Enggak, Abang gue.”


Teman itu pun langsung menganggukkan kepalanya dengan sempurna, memandang mobil tersebut yang sudah menghilang.


“Enak ya, Ay, punya Abang.”


Ayla tersenyum lagi. seandainya dia bisa memilih, pastilah ia akan memilih satu keluarga utuh. Di mana bukan hanya ada abangnya, melainkan orangtuanya yang lengkap juga.


Jadi sekali lagi, takdir adalah takdir. Takdir tidak bisa untuk diimbangi oleh siapa pun. Seberapa banyak kita meminta dan memohon, itu adalah salah satu jalan-Nya. Jadi Ayla rasa tidak masalah jika mungkin keluarganya tidak lengkap, dan tidak utuh. Asalkan tidak ada pertengkaran di dalamnya itu sudah anugerah terindah yang diberikan Tuhan kepadanya.


“Iya enak. Elo lihat Nuna nggak, Sel?”


Selvi—nama teman sekelas Ayla tersebut, rambutnya keriting, dan pendek sebahu. Selvi adalah salah satu teman Ayla yang cukup baik. Jika dibanding-bandingkan dengan teman sekelas Ayla lainnya.


“Gue aja baru dateng kayak elo, gimana bisa tahu Nuna ada di mana. Tapi kayaknya tadi dia udah berangkat pagi sih.”


Ya, Selvi adalah tetangga Nuna. Itulah kenapa Ayla bertanya tentang Nuna kepada Selvi. Sebab Ayla yakin jika sedikit banyak, Selvi akan tahu di mana gerangan Nuna berada.


“Yaudah kalau gitu, ayo masuk kelas.”


Selvi menganggukkan kepalanya, lantas ia memandang Ayla dengan sempurna.


“Kenapa lo mandangin gue kayak gitu, Sel? Ada yang ingin elo tanyain sama gue?”


Selvi menggaruk tengkuknya yang tak gatal, kemudian ia memandang Ayla lagi.


“Gue denger kabar kalau hubungan elo sama Kak Devano nggak baik-baik aja ya, Ay?” tanya Selvi.


Ayla yang sudah merencanakan semua harinya berjalan dengan mulus dengan menghindari nama Devano terlebih orangnya pun langsung menghentikan langkahnya dengan sempurna.


Gerbang sekolah sudah ada di depan mata, tapi pertanyaan Selvi benar-benar bisa melukai perasaannya.


Hubunganya dengan Devano sedang tidak baik-baik saja?

__ADS_1


Bahkan, Ayla sendiri tidak tahu. Hubungannya yang mana itu? Sebuah hubungan semu yang hanya sepihak dan ini tentu saja bukanlah hal yang diinginkan oleh Devano sama sekali.


“Emang kami pernah pacaran, ya? Kapan?”


“Kan pas penutupan MOS Kak Devano ngomong kalau elo pacarnya dia.”


“Udah jangan dipercaya.”


Ayla mengibaskan tangannya dengan sempurna, pura-pura tersenyum dengan manis seolah dia memandang remeh masalah ini.


Padahal … hatinya hancur.


“Kak Devano waktu itu hanya bergurau, kok. Dia nggak serius ngomong kalau aku ceweknya dia. Karena waktu MOS gue udah ngelakuin kesalahan, jadi gue dikerjain sama dia. Nggak bener-bener pacaran kok kami.”


“Namun, waktu elo dikerjain di kamar mandi, Kak Devano ngebelain elo. Ngancam semua kakak kelas dan mengatakan kalau elo ceweknya dia.”


“Ya masuk akal lah, Sel. Kan dia yang udah bikin salah paham. Makanya dia ngerasa bersalah kali. Udahlah nggak usah dibahas, bukannya dia udah pacaran sama Kak Cindy. Nah itulah pacar aslinya Kak Devano.”


Selvi kembali diam, dia kembali memandang Ayla dengan seksama. Bagaimana tidak, Selvi tahu kalau Ayla ini mengidolakan Devano sekali. Bahkan dari hari pertama pendaftaran saat Selvi belum kenal dengan Ayla pun tahu tentang hal itu karena saking histerisnya itu.


“Elo nggak apa-apa kan?”


“Nggak apa-apa gimana maksudnya nih?”


Ayla kembali diam, kini keduanya kembali berjalan dengan sempurna. Sama-sama masuk ke dalam kelas hingga beberapa menit kemudian bel masuk pun berbunyi dengan sempurna.


“Gue udah mutusin buat berhenti ngefans sama Kak Devano. Gue udah buangin semuanya. Gue udah baik-baik saja kok, elo tenang saja. Lagi pula, Kak Devano bukannya memiliki hak penuh kan kalau dia ingin punya pacar. Bukan karena gue ngefans banget sama dia kan, gue juga bukan Pak Lurah yang bisa ngelarang orang buat pacaran, apalagi orangtuanya.”


Selvi pada akhirnya terkekeh juga, kemudian dia menganggukkan kepalanya dengan sempurna.


“Yaudah kita fokus belajar, gue yakin kok kalau elo pasti mudah dapet cowoknya. Elo itu cantik, Ay. Elo akan mudah dapetin cowok yang cakep-cakep.”


Ayla hanya tersenyum getir dengan sempurna, kemudian dia menganggukkan kepalanya dengan sempurna. Kemudian menghela napas panjangnya lagi tentu saja.


Keduanya pun langsung masuk ke dalam kelas. Ayla agaknya tidak sadar jika di belakangnya ada sosok yang sedari tadi mendengar dengan jelas semua yang ia katakan sedari tadi.


“Dev, elo ngapain ke gedung kelas sepuluh!”


Abian pun langsung menepuk bahu Devano yang hendak melangkah masuk ke salah satu ruang kelas sepuluh.


Devano menoleh memandang Abian, kemudian Devano pun menelan ludahnya. Membalikkan badannya dengan sempurna kemudian dia tersenyum juga.


“Ntar ada ulangan fisika nih, lekas masuk sebelum Pak Anwar dateng.”

__ADS_1


Devano menganggukkan kepalanya juga, kemudian dia berjalan mengekori langkah Abian.


“Dev, elo kenapa?” tanya Abian lagi.


Entah kenapa Abian merasa jika Devano beberapa hari ini cukup aneh. Abian tahu jika Devano adalah sosok yang pelit bicara. Hanya saja, pelit bicara dan diamnya Devano sekarang benar-benar berbeda. Suka sekali merenung, dan tampak begitu sangat sedih.


“Elo ada masalah ya, Dev?” tanya Abian lagi.


Devano melirik Abian dengan tajam, kemudian dia menahan napasnya dengan sempurna.


Sama seperti biasanya, mengabaikan sosok yang ada di sampingnya tersebut, yang memandangnya dengan mimik wajah kelam tersebut.


“Kalau ada masalah elo ngomong aja sama gue, Dev. Siapa tahu gue bisa ngebantuin elo. Gue—“


“Gue nggak butuh apa-apa.”


Ini adalah jawaban yang tidak manis, memang. Tapi setidaknya Abian bisa tenang. Setidaknya Devano masih membalas ucapannya, tentu hal ini akan cukup menjadi baik-baik saja lebih dari siapa pun.


“Ya udah, gue percaya.”


Devano kembali diam, agaknya dia masih kesal dengan Abian. Entah kenapa sosok bernama Abian ini adalah sosok yang selalu menempel di dalam dirinya ke mana pun Devano pergi.


“Ada Cindy, Dev!” kata Abian lagi.


Devano tidak melirik sama sekali, masuk ke dalam kelas kemudian menaruh tasnya. Mengambil buku paket fisika kemudian dia membacanya dalam diam.


“Bi!” panggil Cindy.


Cindy memang tidak satu kelas dengan Devano. Dia berada di kelas IPS tentu saja, dan menjadi primadona di sekolah.


“Ya, Cin?”


Abian yang merasa jika Cindy ini adalah cewek cantik pun langsung bergegas mendekat juga.


“Panggilin Devano dong. Gue mau ngomong penting, nih!”


Abian yang sudah mendekati Cindy pun menoleh, memandang Devano sambil tersenyum kaku. Bagaimana lagi, Devano sepertinya tidak ingin diganggu dengan siapa pun.


“Bukannya elo ceweknya ya?” tanya Abian.


Cindy mengulum senyum malu-malu.


“Elo samperin sendiri aja deh! Gue takut!”

__ADS_1


__ADS_2