SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.

SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.
Menenangkan Ayla.


__ADS_3

“Ay!”


Nuna agaknya cukup kesal dengan Ayla hari ini, bagaimana tidak. Hari ini Ayla benar-benar tidak fokus dalam belajar, sesekali Ayla terus memandang pemandangan luar.


Aneh, memang. Namun Nuna sendiri tidak tahu, ada yang berbeda dari Ayla. Jika memang biasanya dia murung tapi biasanya Ayla masih bisa diajak bicara. Namun sekarang ….


“Ayla, lo itu kenapa sih?”


Nuna kini langsung memukul lengan Ayla dengan buku, Ayla langsung terjingkat. Keduanya sengaja langsung belajar kelompok setelah pulang sekolah. Tentu saja setelah ganti baju, makan siang dan istirahat sebentar.


Mumpung Intan belum datang, itulah pikiran mereka. Sebab jika Intan datang mereka tidak akan pernah konsentrasi belajar.


Sebab yang dilakukan Intan pasti terus berbicara dengan suara yang cempreng, dan hal itu benar-benar mengganggu Nuna dan Ayla.


“Sorry, gue nggak konsentrasi.”


“Elo mikirin apa sih? Bukannya kita udah sepakat buat belajar kelompok duluan sebelum Intan datang? Kenapa lo malah yang nggak konsentrasi sendiri? Elo ini ya kadang-kadang, ngeselin juga. Nggak paham sama sekali gue sama elo ini.”


“Yaudah, ayok belajar. Gue udah siap!”


Ayla pun langsung mengambil buku, lalu ia membuka halaman yang dibuka oleh Nuna.


“Elo kenapa sih? Percuma aja kalau elo ngomong mau belajar, elo melototin buku itu sampai mata elo mau lepas pun, kalau pikiran elo nggak ada di sini, nggak akan masuk itu ilmunya. Percuma, tahu nggak lo?”


Nuna membanting buku paketnya kemudian bertopang dagu, memandang Ayla yang sudah menundukkan wajahnya dengan sempurna.


“Sekarang coba jelaskan sama gue, elo ini kenapa? Elo ada masalah apa? Jelasin sama gue, Ayla. Atau elo masih kepikiran sama Devano?”


Ayla menahan napasnya dengan sempurna, kemudian dia memandang Nuna dengan mimik wajah tegangnya.


“Udah deh elo jujur saja sama gue, jangan ada yang elo tutup-tutupin sama sekali. Gue nggak mau kalau sampai semua ini akan menjadi rancu, hal ini benar-benar membuat pusing. Elo jujur dari hati elo yang paling dalam.”

__ADS_1


“Sebenernya, tadi itu pas sepulang sekolah …” ucapan Ayla terhenti, ia menghela napas panjangnya dengan sempurna.


“Devano sebenernya tadi ngajakin ketemu.”


“Apa? Ketemu? Di mana?” tanya Nuna.


“Di kafe cinta.”


“Terus alasannya dia ngajakin elo ketemu itu apa?”


“Mau ngajarin gue, dia bilang kalau gue belajar masih ada Intan nggak bakal bisa belajar, gitu.”


“Devano ngomong kayak gitu?”


“Iya.”


“Terus kenapa lo nggak ngomong sama gue tentang ini dari tadi? Gue bisa temenin elo nyamperin dia, Ayla.”


Bahkan dia sudah lemas sekali sembari membahas ini, sungguh menurut Ayla hal ini tidak akan pernah terpikirkan kalau sampai Nuna malah akan ikut menemaninya bertemu dengan Devano.


“Ayla, kenapa sih lo nggak coba sinkron hati sama ucapan lo, agar elo itu tenang dan nggak kepikiran macam-macam. Tentu saja ini adalah hal yang jauh lebih pantas untuk diperjuangkan dibandingkan elo terus menentang apa yang ada di hati elo, Ayla.”


“Namun—“


“Gue tahu kok, gue tahu banget kalau elo itu kesel, elo itu marah, elo itu hancur dan sakit hati dengan semua yang diucapkan oleh Devano kan? Gue juga tahu kalau elo masih sayang dan cinta sama Devano.”


Ayla bahkan sudah tidak bisa berkata apa-apa, mulutnya kini terkatup rapat-rapat dengan sempurna.


“Sekarang, ini bukan tentang sakit hati, atau bukan tentang yang lainnya. Dengar ucapan Intan tadi kan kalau Devano sendiri yang marahin Kak Cindy untuk klarifikasi hubungan mereka, gue ngerasa kalau Devano ini cowok yang aneh. Di satu sisi dia sok nggak peduli sama elo dengan segala ucapan jahat dan kejamnya. Namun di satu sisi kenapa dia bilang kalau dia udah punya pacar elo? Padahal sudah jelas siapa sih yang nggak suka sama Kak Cindy? Dia itu adalah cewek tipe semua cowok gue rasa dan ini adalah hal yang begitu sangat aneh. Atau jangan-jangan Devano ini nggak punya selera sama cewek.”


“Maksud elo?”

__ADS_1


“Maksud gue gini …” Nuna kini menggaruk kepalanya, agaknya dia bingung mau mengatakan apa sekarang. Sebab dia tahu yang diajak bicara ini adalah si lugu dan polos Ayla. Bukan si nyablak Intan.


“Maksud gue adalah apa kemungkinan kalau Devano itu suka sama cowok?”


“Hah? Gimana bisa? Maksud elo Devano suka sama Abian?”


Ayla langsung kaget, mimik wajahnya serius dengan mata yang melotot. Dia sama sekali tidak menyangka jika kedekatan Devano dan Abian akan sejauh ini.


Pantas saja, selama ini siapa yang berani dekat-dekat dengan Devano? Siapa yang selalu bersama-sama dengan Devano?


Hanya Abian! Dan ternyata inilah alasan kenapa Ayla dijadikan tameng oleh Devano, ternyata untuk menutupi segala aib yang Devano lakukan bersama-sama dengan Abian.


Mimik wajah Ayla langsung pucat pasi, dia benar-benar tidak paham harus bagaimana dan berbuat apa.


Ayla langsung terduduk lesu, dia meletakkan kepalanya di atas meja. Sungguh sebuah hal yang membuat Ayla syok bukan main.


“Ya ampun, Ayla! Gue itu hanya bilang mungkin, itu belum tentu bener. Kenapa sih lo jadi cewek polosnya keterlaluan, kenapa sih lo nggak mikir dulu dan disaring dulu, kenapa lo langsung percaya begitu saja sama yang gue omongin sih? Ini adalah hal yang sangat ngeselin, gue bener-bener kudu bawain elo kemana-mana dengan segala hal yang ada. Elo ngebahayain semua orang, Ayla.”


“Ya maaf, gue jadi kepikiran dengan semuanya. Kalau dipikir-pikir, ini akan menjadi salah satu kenyataan yang mungkin bisa gue terima.”


“Maksud lo?”


“Ya kalau memang kenyataannya Devano nggak suka cewek kan gue jadi bisa nerima, jadi gue nggak ngerasa nggak pantes gitu buat dia. Namun dianya emang yang nggak selera sama cewek, nggak gue doang, dan pantas aja kalau Devano nggak naksir cewek, seenggaknya hal itu bisa buat gue semangat kan? Iya kan?” kata Ayla.


Nuna jadi tersenyum mendengar hal itu, kemudian dia menggelengkan kepalanya dengan sempurna.


“Ya sudah, emang itu kesukaan elo. Gue nggak peduli yang jelas apa yang akan gue ucapkan emang cukup baik. Selama dengan itu elo bahagia kan, jadi siapa peduli? Seenggaknya elo sekarang udah mikirin Devano lagi, elo nggak perlu galau lagi kan?”


Ayla pun menganggukkan kepalanya, dia kembali menghela napas panjang. Jujur ini adalah hal yang cukup melegakan, meski rasa sakit pun dengan segala hal yang ada tentu saja.


“Baiklah, sekarang kita belajar kelompok aja, keburu Intan dateng. Entar bisa repot sekali, kita nggak akan bisa konsentrasi kalau manusia itu datang.”

__ADS_1


“Tadi aja udah bilang mau bawa make up barunya, nggak bisa kebayang kalau dia akan bawa itu, kita pasti akan jadi korban.”


__ADS_2