
“Kebetulan tadi di depan barengan datengnya. Jadi kami barengan ke kelas. Kenapa emangnya?”
“Kalian udah tahu kabar nggak?” ucap Intan.
Intan memang terkenal sebagai si ratu gosip. Jadi sangat wajar jika dia akan paling tahu gosip apa pun di dunia ini terlebih dulu dibandingkan dengan yang lainnya.
“Tahu apaan?” tanya Nuna. Melipat kedua tangannya di dada.
Intan mengulum senyum, kemudian dia memandang Nuna dan Ayla dengan mimik wajah seriusnya.
“Kabarnya Kak Cindy jadian sama Kak Devano ya? Eh sorry, Ay. Ini bukan gue nggak ngehormatin elo yang katanya sebagai ceweknya Kak Devano, enggak sama sekali. Hanya saja gue denger kabar ini di group kelas dan udah rame, katanya bahkan udah dibahas di mana-mana.”
Ayla terdiam, mulutnya terkatup rapat. Ini adalah hal yang sangat mengerikan untuknya, tapi Ayla masih berusaha bersikap tenang.
“Ya udah sih, emang kenapa kalau mereka jadian? Kan mereka cewek sama cowok. Kecuali kalau Devano jadian sama cowok. Itu baru aneh.”
Tanggapan Ayla langsung membuat Intan terdiam, Nuna langsung melotot kepada Intan. Ini adalah hal yang sangat tidak wajar bagi seorang sahabat yang mengatakan hal semenyakitkan itu kepada sahabatnya sendiri.
“Elo ada masalah apa sih sama Ayla? Kenapa elo ngomong kayak gini di depan Ayla? Kenapa kalau ada gosip kayak gini elo nggak ngomong sama gue aja, hah!” teriak Nuna, ketika ia melihat Ayla memilih untuk pergi terlebih dahulu.
“Maafin gue, Nuna. Gue udah terlalu seneng dengan sebuah gosip dan gue pengen bagi ke kalian, pas gue ngomong tadi, gue baru sadar kalau Kak Devano emang dalam hubungan sama Ayla. Tapi kan kita sendiri nggak tahu, Kak Devano beneran suka apa enggak sama Ayla, siapa tahu Ayla hanya halusinasi kan?”
“Ya Tuhan, Intan! Sepicik itu elo nilai sahabat elo sendiri?” kaget Nuna.
Intan langsung menutup telinganya kuat-kuat, dia memandang Nuna dengan mimik wajah takutnya.
“Gue tahu kalau Ayla itu ngidolain Kak Devano sekali, bahkan seperti biasnya K-POP. Namun, segila itu pun gue tahu siapa Ayla. Dia nggak mungkin ngomong ngawur, toh saat acara penutupan MOS sendiri kita denger kalau Kak Devano yang ngomong itu di depan umum. Bukan Ayla kan?”
“Iya, tapi—“
__ADS_1
“Seenggak respek itukah elo sama sahabat lo sendiri? Sampai elo tega ngelukain hatinya?” Nuna memandang Intan dengan mimik wajah kecewanya yang luar biasa.
“Maafin gue, Nuna.”
“Gue tahu kok kalau Ayla itu sekarang sedang terpuruk. Bahkan dia udah mulai belajar buat ngejauhin Kak Devano. Sebab dia tahu kalau Kak Devano nggak serius sama dia. Dia nggak mau sakit hati. Jadi bagaimana bisa kamu mengatakan hal yang melukai hati sahabat lo yang udah terluka?” imbuh Nuna.
Mata Nuna memandang Devano yang agaknya baru datang ke sekolah. Rahang Nuna mengeras, dia sudah gatal ingin membuat perhitungan kepada Devano.
“Ya syukurlah, kalau emang Kak Devano udah jadian sama Kak Cindy. Ayla pun akan sangat senang. Toh pada kenyataannya, udah ada cowok lain yang nggak kalah cakep sedang deketin Ayla, Ayla pun juga udah mulai membuka hatinya sama cowok tersebut.”
“Siapa? Kenapa lo ngomongnya kenceng banget, Nuna?” tanya Intan, yang tidak tahu kehadiran Devano.
Saat itu Devano menghentikan langkahnya, tapi dia memilih diam membisu dan tak mengatakan apa pun.
“Arka, katanya Arka udah nembak Ayla berkali-kali. Dan Ayla bilang kalau Arka nembak dia lagi, Ayla akan menerima Arka. Jadi gue rasa, Kak Devano udah nggak ada hubungannya lagi sama Ayla dan emang Kak Devano udah nggak ada hak buat Ayla.”
“Dia tinggal kelas karena sakit, bukan karena kabur atau ngelakuin kejahatan. Jadi gue rasa sah-sah saja, mana rumah mereka hadap-hadapan lagi.”
“Elo kok tahu?”
“Beberapa waktu lalu gue main ke rumah Ayla yang baru. Gue baru tahu ternyata depan rumah Ayla adalah rumah Arka. Dan Bang Daren pun udah sepercaya itu kepada Arka, dia nyuruh Arka ngejaka Ayla ketika di sekolah dan agar Ayla nggak dijahilin sama orang. Sekarang dari sini elo paham kan?” Nuna memandang Intan.
Tapi Intan menggelengkan kepalanya dengan sempurna, karena dia tidak sepaham itu dengan ucapan Nuna.
“Itu tandanya jika Arka udah dapat lampu merah dari Bang Daren yang itu berarti jika mereka pacaran udah nggak ada yang ngehalangi lagi.”
Nuna kembali melirik Devano, cowok itu langsung pergi. Nuna pun tersenyum puas karena sudah membuat Devano tahu semuanya. Setidaknya, meski benar Devano tidak cinta dengan Ayla, agar Devano tahu jika Ayla bukanlah cewek yang kerjaannya hanya menyembah Devano saja.
“Ayo ah kita ke kelas, elo harus minta maaf sama Ayla karena ucapan lo tadi.”
__ADS_1
“Iya, iya … gue akan minta maaf sama Ayla nanti. Elo nggak usah nyeramahin gue lagi.”
“Janji, ya?”
“Iya, iya!”
Devano berjalan menuju kelasnya, kemudian dia duduk. Banyak pasang mata yang memandang kepadanya adalah hal yang biasa. Devano pun tidak terlalu mempedulikan hal itu.
“Dev, elo udah tahu gosip lo terbaru?” Abian pun bertanya. Duduk sambil menaruh sebuah buku ribuan lembar itu di atas meja.
Devano diam, dia tidak menjawab, tidak mempedulikan dan tidak begitu memperhatikan. Dia lebih fokus dengan ucapan Nuna tadi.
“Elo kabarnya jadian sama Cindy ya?”
Pertanyaan itu membuat Devano melirik juga. Jadian sama Cindy? Bahkan Devano baru tahu kalau ada gosip macam itu.
“Gue sih tahunya dari group sekolah, dan group itu bener-bener rame ngebahas elo dan juga Cindy. Banyak yang ngedukung sih, hanya saja ada juga beberapa yang mempertanyakan hubungan elo sama adek kelas kita itu yang namanya siapa? Ayla. Dan semua gunjingan yang ada.”
Abian pun menjelaskan, Devano sekarang paham kenapa Nuna tadi begitu sangat kesal kepadanya. Apakah Ayla sudah tahu tentang kabar ini?
“Seharusnya sih elo ya yang dihujat karena sudah jadian sama cewel lain di saat status elo masih ada cewek, tapi ajaibnya cewek-cewek di sekolah ini, mereka malah nyalahin Ayla. Kasihan banget dia, harus nerima ini semuanya.”
Devano lagi-lagi hanya diam, dia tidak memberikan tanggapan apa pun. Alih-alih mengatakan sesuati, ia malah memilih untuk mendengarkan musik dan menutup percakapannya dengan Abian.
Percakapan? Tidak ada yang namanya percakapan jika searah, ini hanyalah tentang Abian yang berbicara dan Devano sama sekali tidak menggubrisnya.
Abian melirik Devano, dia pun langsung menghela napas panjangnya juga. Bahkan sepertinya sudah terlalu terbiasa dia merasakan ini semuanya.
“Susah memang kalau ngomong sama orang jenius. Orang jenius ya memang seperti ini. Pelit bicara.”
__ADS_1