SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.

SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.
Rasa Penasaran.


__ADS_3

“Dev, elo mau ke mana? Pulang bareng yuk!”


Abian yang melihat Devano sudah berada di ambang pintu waktu bel tanda berakhirnya sekolah pun memanggil. Sementara Devano berdiri, menghentikan langkahnya kemudian ia memiringkan wajahnya dengan sempurna.


“Lo pulang aja sendiri. Gue nggak bawa mobil.”


Tegas, itulah jawaban Devano. Dia kemudian berjalan pergi, sama seperti biasa. Siapa yang tidak tahu sosok Devano? Dibandingkan dengan harus memiliki beberapa teman untuk pulang bersama, berkumpul bersama, dan lain sebagainya sama-sama.


Devano lebih memilih sendiri, Devano lebih suka jika dunia kecilnya tidak diganggu oleh siapa pun. Sebab menurut Devano, dunia kecilnya ini adalah hak sepenuhnya dirinya, setelah semua hak-haknya dirampas oleh mamanya tentu saja.


Dan bagi Devano tidak ada yang boleh lancang masuk ke dalam dunia kecilnya, kecuali orang yang benar-benar diinginkan oleh Devano. Kecuali … dia.


Devano kembali berjalan, dia mengabaikan teriakan, jeritan, dan tatapan memuja cewek-cewek kepadanya.


Hari ini memang Devao tidak membawa mobil, dia berencana pulang naik bus untuk sebelumnya akan berada di kafe untuk mengajari Ayla.


Itu sudah dipikirkan Devano bahkan semalaman, dia mencoba mencari cara bagaimana agar Ayla tidak marah lagi kepadanya.


Setelah sesaat berjalan, Devano pun sampai di kafe tersebut, dia masuk, memilih tidak memesan apa pun dulu bahkan sampai Ayla datang.


Ya, Devano memang memilimi keyakinan untuk itu. keyakinannya adalah Ayla akan datang apa pun yang terjadi. Ini sudah menjadi salah satu penanda yang cukup penting, dan sepercaya diri itu Devano kepada Ayla.


Devano tahu, berapa kalipun Ayla menangis karenanya, seberapa kali juga Ayla akan datang kepadanya.


Ini bukanlah hal yang merupakan kesombongan, hanya saja bagi Devano cinta Ayla yang terlalu besar kepadanya sungguh cukup membuat Devano yakin.


Devano membuka buku paketnya, kemudian dia memainkan jemarinya di atas meja.


Beberapa menit sudah bahkan nyaris sudah setengah jam. Devano mengerutkan keningnya dengan sempurna, sebab ia merasa kalau ini sudah terlalu lama.


“Maaf, Mas. Jadinya mau pesan apa ya?” tanya salah satu pegawai kafe.


Devano yang merasa sungkan pun agaknya menebarkan pandangannya, bingung juga dia mau pesan apa.


Padahal rencananya, saat Ayla datang dia ingin Ayla yang memesankan makanan untuknya.


“Milkshake storbery dan kentang goreng.”

__ADS_1


Itu adalah jawaban Devano, singkat padat dan jelas. Ia lantas kembali menebarkan pandangannya pada bahu jalan, berharap ada Ayla lewat. Namun Ayla sama sekali tidak lewat.


Ini tentunya membuat Devano semakin resah, pelan-pelan semua pengunjung silih berganti dan yang tersisa hanyalah Devano sendiri.


Antara resah dan bingung, Devano mulai merasa jika hati dan kepercayaan dirinya yang tinggi itu pun menciut juga.


“Eh, cowok itu ganteng banget deh. Dari SMA mana sih dia?” bisik-bisik itu pun mulai tertangkap di telinga Devano.


“Enak sih kalau ada cowok cakep datang, bisa buat cuci mata. Hanya saja udah lebih dari dua jam itu cowok di sini. Tapi nggak ngapa-ngapain, minuman dan kentang goreng yang ia pesan pun masih utuh.”


“Dia benar-benar ngurus semua hal yang nggak penting sama sekali. Banyak sekali orang datang, dan dia benar-benar berada di sini akan merugikan kita.”


Devano hanya bisa menahan napasnya, jam sudah menunjukkan pukul 17.15 dan tidak ada tanda-tanda untuk Ayla datang.


Hingga akhirnya, Devano terdiam sejenak. Menutup buku paketnya, mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan di dalam dompet, menulis sesuatu di sana kemudian ia mengambil tas ransel kemudian beranjak pergi.


“Eh, dia pergi, dia pergi!” seru pegawai yang ada di sana.


Devano hanya melirik sekilas, berjalan menuju halte kemudian ia memutuskan naik bus.


“Lihat apa yang ditulis?” ucap pegawai satunya.


‘Untuk membayar selama gue duduk di sini.’


Cukup singkat dan berhasil menampar mereka, mereka hanya bisa menggaruk tengkuk mereka yang tidak gatal kemudian memilih untuk pergi.


Sepanjang perjalanan di bus, Devano memilih memasang earbud di kedua telinganya, memandang pada tepian jalan yang terus bergerak seirama dengan bus yang bergerak dengan sempurna.


Devano tidak tahu harus bagaimana, otaknya buntu dan tidak menemukan jalan keluar sama sekali. Sesekali menghela napas panjang, kemudian ia memutuskan untuk memejamkan matanya dengan sempurna.


“Cowok cakep banget. Anak SMA sebelah nggak sih?”


“Itu namanya Devano, sumpah ganteng banget asli!”


“Elo kenal?”


“Kenal lah, siapa yang nggak kenal sama Devano. Bahkan elo yang aneh kalau nggak kenal sama dia. Udah terkenal, cakep pula. Dia itu selalu dapet juara satu tiap olimpiade matematika, fisika, sama kima. Otaknya udah nggak diraguin lagi.”

__ADS_1


“Keren banget.”


“Tapi dia udah ada cewek sih, lo jangan ngarep.”


“Siapa?”


“Namanya lupa sih, yang jelas dulu pas Devano SMA kelas sepuluh ceweknya baru SMP. Lucu gitu ceweknya, tapi kok udah nggak pernah jalan bareng ya?”


Rahang Devano pun mengeras mendengar semua percakapan itu, kemudian dia memilih turun ketika bus berhenti.


Terlalu banyak kenangan pahit yang ternyata bukan ia saja yang menyimpannya, akan tetapi orang lain juga. Sungguh tidak pernah terbayangkan, bagaimana situasinya akan seperti ini.


Devano duduk di salah satu halte yang agaknya sepi, ia kembali menundukkan wajahnya dengan sempurna.


Sepasang sepatu kets warna abu-abunya kini tampak sangat nyata yang talinya terlepas sebelah tentu saja.


Hal ini adalah sebuah perkara yang sama sekali tidak bisa dibandingkan, tidak bisa dibayangkan bahkan oleh dirinya sendiri.


“Ayla, kenapa kamu tidak datang?”


Itulah kira-kira gumaman Devano, dia kembali menahan napasnya kemudian mengembuskannya berat. Hingga rintik hujan mulai turun dan membasahi bumi, Devano melihat sosok mengenakan rok abu-abu berdiri di depannya ia duduk.


Devano masih dalam keadaan menunduk melihat sepasang sepatu kets itu yang bawahnya basah.


Senyum manis tersungging, dia mulai mengabaikan antara hal tersebut adalah mimpi dan imajinasi, Devano sama sekali tidak peduli. Devano hanya berharap jika sosok di depannya ini adalah Ayla.


“Lo mau sampai kapan berada di sini, Dev?”


Devano mendongak, dia melihat Cindy ada di depan matanya. Devano pun langsung memasang wajah dingin, kemudian memalingkan wajahnya dengan sempurna.


“Elo kenapa sekarang jadi kayak gini? Elo kayak bukan Devano yang gue kenal.”


Cindy kembali bersuara, kini Devano beranjak dari duduknya. Kemudian melangkah menjauhi diri dari Cindy. Namun Cindy mengejar langkah Devano yang pelan itu.


“Apa bener elo cinta sama Ayla? Apa elo bener-bener cinta sama Ayla sampai elo kayak gini, Devano?”


Kini Devano berhenti, kedua tangannya dimasukkan saku celana, dia memiringkan wajahnya, dan memandang Cindy.

__ADS_1


“Gue bukan berubah, elo aja yang nggak kenal siapa gue.”


__ADS_2