SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.

SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.
Seperti Ingat.


__ADS_3

“Gue nggak nyangka sekarang kita duduk berempat dan Kak Devano yang bakal ngajarin kita. Wih, seneng banget rasanya. Ditraktir lagi!” semangat Intan.


Nuna hanya bisa menyikut-nyikut lengan Intan, dia malu setengah mati dengan sikap Intan yang benar-benar norak seperti ini. Siapa sangka sosok Intan di depan Devano menjadi cukup memalukan. Padahal biasanya, Intan dikenal sebagai sosok yang elegan luar biasa.


“Bisa diem lo? Jangan malu-maluin kita.” Nuna berbisik. Intan hanya menepis tangan Nuna kemudian dia kembali tersenyum lebar seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Tentu hal ini malah membuat Nuna kesal bukan main.


Sementara Ayla dia agaknya cukup malu dengan tingkah Intan, Intan malah seperti sosok penggemar garis keras akan Devano. Ayla mulai berpikir jika mungkin dulu dia sememalukan itu, mengikuti Devano ke mana pun Devano pergi, jadi cukup wajar jika Devano kesal dan marah-marah sama dia. Bagaimana tidak, setiap hari dikintilin dengan cara seperti itu, pastinya selain tidak nyaman akan terasa gerah juga.


“Gue jadi ngaca ama diri gue sendiri dan sekarang gue malu.” Ayla pun akhirnya berucap.


Nuna terkekeh juga dengan ucapan dari Ayla ini. “Elo mah lebih parah, ngirim surat cinta, beliin barang-barang. Pasti cowok takut sama elo kali.”


“Bener juga ya.”


“Elo udah kayak apa sih yang ngefans terlalu kayak gitu, bikin takut semua orang tahu nggak.”


“Masak iya?”


“Tanya sendiri Devan, dia ada di sini kan?”


“Bener juga ya.”


“Sudah kalian mengerjakannya. Gue di sini untuk melihat kalian mengerjakan soal, bukan untuk melihat kalian berbicara hal yang aneh-aneh.”


“Maaf.”


Ketiganya kembali mengerjakan soal-soal lagi, kemudian ketiganya saling pandang. Soal yang diberikan Devano benar-benar susah, bahkan mereka mendapatkan izin untuk membuka buku paket pun percuma. Tidak ada satu pun jawaban yang ditemukan mereka di sana.”


“Kak Devano,” panggil Intan. Devano pun langsung menoleh. “Ini soal kelas berapa sih? Sulit-sulit amat. Selama kami pelajaraan biologi kayaknya nggak ada soal sesulit ini deh. Kayaknya gue lihat dan bongkar buku paket nggak ada, gue pun bahkan udah buka internet pun nggak ada.”


“Itu soal aku yang membuatnya, jadi tidak ada di mana pun. Soal yang jawabannya ada di memori otak kalian, bukan hanya di buku paket saja.”


“Jadi intinya jawabannya kita mengarang bebas nih?” tanya Nuna.


“Gue hanya ingin mengetes sejauh mana wawasan kalian, itu saja. Sebelum kita lanjut kepada materi berikutnya.”


Nuna dan Intan juga Ayla pun saling pandang, kemudian ketiganya menganggukkan kepala mereka juga.


“Baiklah, kami akan kerjakan sesuai pengetahuan kami. Kalau salah jangan dimarahi. Dan kalau benar harus sedikit dipuji.”


“Baiklah.”


Mereka semakin semangat mengerjakan. Yang pertama selesai adalah Nuna, kemudian Intan, dan sedikit lama dari itu adalah Ayla.


Bisa ditebak, meski posisinya Ayla sekarang sudah sedikit pintar, tetap saja, Ayla adalah Ayla. Dia adalah sosok yang tidak begitu paham jika harus melakukaan hal seperti mengarang bebas.


Devano melihat dan mengoreksi, betapa banyak bullpen merah ia gunakan untuk mencoret beberapa jawaban yang ada di sana. Kemudian dia menunjukkan semua hasil di depan ketiganya.

__ADS_1


“Anjir, paling tinggi dapet nilai sepuluh yaitu Nuna. Gue dan Ayla dapet nilai enol dong.”


“Emang jawabannya gimana sih? Coba kasih tahu kami deh.” Ayla agaknya cukup penasaran juga.


“Jika kalian berpikir dan mencoba untuk merenungi lebih dalam lagi, gue yakin kalian bisa menjawabnya. Seperti contohnya jawaban Nuna yang bener.”


Mereka langsung melihat jawaban Nuna, kemudian mereka mengangguk-anggukkan kepalanya juga.


“Itu buat PR, gue harap kalian udah bisa menjawabnya di rumah. Sekalian ini,” kata Devano terhenti, dia lalu memberikan 3 buku pada masing-masing cewek yang ada di depannya.


“Banyak banget manfaatnya semoga kalian bisa belajar dengan ini.”


“Wah, baik banget. Makasih Kak Devano.”


“Makasih Devano.”


“Terimakasih.”


“Sekarang kita pulang?” tanya Intan lagi.


Devano pun menganggukkan kepalanya dengan sempurna, sambil menghela napasnya dia langsung berdiri, dibarengi oleh mereka yang mencoba merapikan semua buku yang ada di atas meja itu.


“Ay, Kak devaano. Gue dan Nuna pulang naik taksi aja ya.”


“Kenapa gitu, bukannya kita searah?” tanya Ayla.


“Namun—“


“Udah deh, Ay. Ini kesempatan elo ama Devano bareng-bareng kan?”


Ayla langsung memandang Devano, sementara Devano hanya diam. Ekspresinya masih sama lempeng dan biasa saja.


“Yaudah deh, kalau gitu hati-hati ya.”


Nuna dan Intan pun langsung pergi, dan tiba-tiba suasana menjadi hening juga segan, hal ini agaknya cukup membuat Ayla bingung, dia sendiri tidak pandai berbicara. Di saat semua teman-temannya mengoceh dia hanya diam saja dan memperhatikan, terlebih posisinya ini dia bersama dengan orang yang pendiam.


Ayla kembali memandang Devano dengan takut-takut, rasa sungkan langsung merayapi dirinya dengan begitu nyata.


“Kita … pulang?” tanya Ayla.


“Mau ke suatu tempat?” ajak Devano.


“Ke mana?”


“Nanti kamu akan tahu.”


Devano lantas membuka tangannya di depan Ayla. Ayla hanya terdiam dan bingung, apa maksud dari Devano itu.

__ADS_1


“Aku nggak punya uang.”


Devano mendengus, memandang lagi pada Ayla kemudian menghela napas panjangnya juga.


“Pegang tanganku.”


“Oh.”


Ayla pun langsung menggenggam tangan Ayla. Tersenyum manis kemudian dia menunduk. Tangan besar Devano begitu empuk dan hangat, bahkan membuat sekujur tubuh Ayla hangat. Ayla sama sekali tidak menyangka jika Devano akan membuat permintaan seperti ini, saling berpegangan tangan padahal hanya untuk ke parkiran kemudian keduanya akan jalan lagi.


“Kamu suka air?” tanya Devano.


“Lumayan.”


“Suka danau?” tebak Devano.


“Katamu kamu tahau aku sedikit banyak.”


“Aku tahu kamu suka air dan danau, tapi tidak tahu sekarang.”


“Kamu ada-ada saja, apa bedanya memang aku sekarang sama dengan yang dulu?”


“Ada, banyak.”


Devano kembali memandang Ayla, rahangnya mengeras dengan sempurna.


“Ayo kita pergi.”


“Yok!”


Mereka pun langsung menuju tempat yang dimaksud oleh Devano. Ayla hanya bisa diam, memandang pemandangan luar, benar-benar diam tanpa mengatakan apa pun.


“Ada apa? Nggak asing sama tempat ini?” tanya Devano.


“Iya, kayak pernah kesini. Padahal enggak pernah sama sekali.”


Devano tersenyum tipis juga. “Biasanya emang gitu, kayak mimpi pernah ke suatu tempat, kemudian di dunia nyata pun merasakan juga. Biasanya memang seperti itu, jangan terlalu dipikirkan.”


“Emang kayak gitu ya?”


“Iya.”


Ayla kembali mengangguk dan memandang pemandangan luar, sekilas ia seperti melihat sesuatu di matanya. Ayla pun mengucek matanya yang kini terasa buram.


“Kamu kenapa?” tanya Devano panik.


“Enggak, hanya saja mataku jadi burem. Kepalaku jadi sakit. Aku seperti ngelihat sesuatu yang aneh di kepalaku.”

__ADS_1


__ADS_2