SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.

SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.
Wacana Untuk Menyerah.


__ADS_3

“Sebab masalahnya adalah pad ague. Kemarin Devano udah bener-bener bikin hati gue sakit bukan main. Gue udah nggak bisa berbuat apa pun selain diam, hingga pada akhirnya seperti inilah yang terjadi. Gue ngerasa di titik yang udah nggak bisa ketemu sama Devano.”


Ayla menghela napas panjangnya dengan sempurna, kemudian ia memandang Nuna.


“Antara gue masih sakit hati banget sama ucapannya, sama antara gue takut kalau ketemu dia lagi bakal ngebuat hati gue dengan bodoh jatuh cinta lagi sama dia. Kedua alasan inilah yang ngebuat gue takut buat ketemu sama Devano. Dua hal yang ngebuat gue berpikir jika Devano adalah sosok semengerikan itu sampai gue nggak tahu harus gimana.”


Nuna terdiam sejenak, memang Ayla dengan Devano itu seperti K-POP dengan biasnya. Jadi, bagaimana bisa Ayla menjadi benci dengan idolanya sendiri? Bahkan itu akan menjadi sebuah tanda tanya besar untuk dirinya.


“Sekarang gue paham dan mengerti, jika nggak semua hal bisa elo atasi sendiri. Dan gue juga yakin setengah mati jika ini adalah masalahnya, masalahnya adalah kalau elo ketemu sama Devano lagi, dan kayaknya ribuan kali gue ingetin elo tentang ini pun elo nggak akan pernah peduli.”


“Nah!”


“Elo kan kalau udah ketemu Devano kayak udah dihipnotis, kayak udah nggak bisa ngapa-ngapain selain kayak nggak bisa melakukan semuanya dengan waras, elo jadi manusia yang paling nggak waras kalau sama Devano.”


“Nah!”


“Sepertinya elo butuh perlindungan yang bisa nyadarin elo dan ngebuat elo terbelenggu agar nggak melulu ngurusin Devano.”


“Caranya gimana, Nuna?” tanya Ayla yang agaknya penasaran juga.


Nuna diam sejenak, ia mencoba mencari solusi terbaik tang pernah ada untuk Ayla.


“Eh, cowok yang selalu jadi ekor elo. Coba elo sama dia aja.”


“Hah, siapa? Cowok yang mana? Maksudnya gue harus pacaran sama cowok itu begitu?”


“Ya enggak jadian. Duh, siapa sih nama cowok itu. Arka, iya Arka! Maksud gue, Arka kan kayaknya kesel itu sama Devano dan dia selalu ngintilin elo kemana-mana, dan elo juga selalu nentang Arka.”


“Terus?”


“Kan kata Arka kalau dia dikasih kepercayaan sama Bang Daren buat ngejagain elo di sekolah kan?”


“Terus?”


“Nah, untuk sekarang dan selanjutnya elo nggak usah dan nggak perlu ngebantah Arka lagi. Elo nurut saja sama dia, dengan elo nurut sama Arka, maka elo memiliki kesempatan sedikit untuk ketemu sama Devano, lebih dari itu pun Arka pasti akan ngelarang elo buat dideketin Devano. Nah, berada pada zona Arka akan ngebuat elo selamat dari Devano kan?”


Ayla langsung menjentikkan jarinya, agaknya apa yang dikatakan oleh Nuna adalah benar adanya. Kalau dia berada di sekitar Arka itu akan membuat Ayla tidak akan didekati oleh Devano. Sebab Ayla tahu jika Arka dan Devano seperti tikus dan kucing yang sama sekali tidak akan pernah akur.


“Gue baru kepikiran gini, Nuna. Thanks banget ya. Gue bener-bener seneng sekali sama elo. Gue bahkan nggak bisa berkata apa-apa lagi sekarang. Elo emang sahabat gue yang paling keren.”


“Nuna! Apa sih yang nggak bisa diselesaikan sama gue!” percaya diri Nuna.


Ayla kembali tersenyum lebar, kemudian ia memeluk tubuh Nuna dengan sempurna.

__ADS_1


“Sekali lagi makasih ya, Nuna!”


“Hm, tapi apa bener elo mau menghidari Devano?” tanya Nuna diulang.


Ayla mengerutkan keningnya dengan sempurna, sebuah pertanyaan dari Nuna yang tidak bisa dibantahkan oleh siapa pun.


“Maksud lo?”


“Lihat aja di seluruh kamar lo, semua gambar Devano semuanya. Devano udah kayak aktor papan atas yang elo gilai tahu nggak.”


Ayla pun tersenyum malu sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


“Habis gimana lagi, menurut gue mataharinya gue itu Devano. Kalau nggak ada Devano gue pasti nggak akan bisa bernapas dan hidup.”


“Cara elo menyukai Devano itu udah ekstrem dan ngeri tahu nggak, Ay. Dan apakah elo yakin bisa ngehindari Devano setelah ini di saat elo ngejadiin Devano sebagai mataharinya elo?”


Ayla kembali diam, dia pun menundukkan wajahnya dengan sempurna sekarang, detakan jarum jam pun tak lantas membuat Ayla bergeming.


“Bahkan mendung nggak selamanya buruk kan?” jawab Ayla.


Nuna memandang Ayla lagi, sebenarnya Nuna bisa melihat dengan jelas rasa ragu itu terpancar pada diri Ayla. Namun, Nuna tidak mau untuk mematahkan semangat Ayla agar bisa melupakan Devano.


Toh bagi Nuna hal ini agaknya cukup membuat Ayla merasa jika ini akan baik-baik saja sampai kapan pun.


“Kita jalani mendungnya bareng-bareng. Kadang, mendung juga enak kan? Kita nggak perlu kepanasan, kita bisa menikmati suasana adem dan bisa lihat langit.”


“Memang semua orang berpikir itu baik, dan semuanya akan baik-baik saja, tapi nggak ada yang tahu dalaman orang itu kayak gimana.”


“Bener! Dan biasanya hanya sahabat yang peka. Iya nggak?”


“Iyain deh.”


“Duain deh!”


“Hahaha!”


“Dek, kamu sama siapa? Kenapa kamarmu rame banget!”


Ayla dan Nuna pun langsung menutup mulut mereka. Ternyata jam sudah menunjukkan pukul setengah dua dini hari. Mereka tidak menyangka kalau akan begadang sampai sepagi ini.


“Abang Daren baru pulang?” tanya Ayla mengalihkan.


Ayla tidak bilang kalau Nuna datang, kalau abangnya tahu, abangnya pasti marah. Bukan kenapa-napa, Daren adalah tipikal orang yang kalau ada tamu wajib dijamu. Sementara tadi Nuna datang malah yang membawa makanan untuk Ayla.

__ADS_1


“Iyalah baru dateng. Buktinya baru pulang gini.”


Daren pun menjawab dengan sedikit kesal, iya memutar knop pintu kamar Ayla, tapi lagi-lagi pintu itu dikunci.


“Kamu kenapa sih, Dek? Kenapa pintunya dikunci mulu?”


“Nggak kenapa-kenapa, Bang. Oh ya, Bang. Kenapa Abang pulang malem?”


“Kana da acaea di kampus. Abang udah cerita sama kamu kan?”


“Kenapa kok lama acaranya?”


“Ya ampun bocah,” dengus Daren. “Ya emang ini acara untuk pelantikan pengurus organisasi baru dan lama, Dek. Jadi ya harus disiapin mateng-mateng.”


“Gitu ya, Bang.”


“Iya lah. Kenapa sih kamu tanya sama Abang gitu? Kamu lagi sama siapa, Dek?”


“Kenapa nanya, Bang?”


“Nggak sama cowok kan?”


“Ya elah, emang Abang dengernya suara cewek apa cowok?”


“Cewek.”


“Lha itu udah tahu, pakai nanya pula.”


“Ya Tuhan ini bocah.”


“Siapa?”


“Temen lah Bang, masak iya nggak temen aku bawa pulang.”


“Susah sih ngomong sama kamu. Intan apa Nuna? Apa keduanya?” tebak Daren.


Siapa lagi memang yang bisa dibawa oleh Ayla? Bahkan sudah sedari SMP pun adiknya itu hanya memiliki dua teman itu dan bertahan sampai sekarang.


“Ya salah satu lah Bang, emangnya Abang minta yang mana?”


“Kamu ini banyak bicara.”


“Udah, Bang. Aku mau tidur, besok sekolah!”

__ADS_1


Lama, Daren tak menjawab. Kemudian terdengar suara dengusan yang samar-samar.


“Baiklah, selamat tidur, Dek.”


__ADS_2