SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.

SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.
Rindu Mama.


__ADS_3

Ayla terdiam di dalam kamar, untuk kali ini di malam minggunya Ayla lebih memilih mengunci pintu dan membiarkan dirinya terkurung di sana. Ini adalah tentang sebuah hal, ini adalah tentang sebuah cinta yang dianggap sebelah mata, dan Ayla tidak tahu bagaimana cara untuk mengatasi ini semua.


Helaan napas terasa begitu berat, Ayla duduk di balkon sambil memeluk kedua lututnya. Tidak lupa, boneka beruang kesukaannya pun ikut duduk di sampingnya.


Ayla sedang memandang bintang ….


Jika bintang malam selalu tampak bersinar di samping rembulan, kenapa nasib Ayla tak seindah bintang-bintang?


Kadang-kadang Ayla begitu ingin menjadi bintang, dan rindu dengan bintang-bintang.


“Mama, aku kangen banget sama Mama. Gimana kabarnya Mama? Mama baik-baik saja di sana kan?” gumaman itu ditunjukkan pada satu bintang yang paling terang.


Ayla mendongak sambil merutuki dirinya sendiri, sedih hati Ayla merasakan kehidupannya yang berantakan. Tanpa mamanya, Ayla tidak berarti apa-apa.


“Andai aja Mama masih ada, andai aja Mama ada sama-sama Ayla. Pasti Ayla nggak akan kayak gini. Pasti Ayla bisa tanya sama Mama gimana rasanya jatuh cinta, dan gimana cara ngungkapin cinta dengan baik dan benar.”


Ayla meletakkan kepalanya di atas lutut kemudian dia meghela napas panjangnya dengan sempurna.


“Sekarang apa Mama tahu, Ayla sedang diejek cowok yang Ayla suka, Ma. Ini bener-bener ngebuat mental Ayla hancur. Semua ucapannya, benar-benar nggak enak didengar telinga. Apa yang ia ucapkan kepadaku terasa begitu menyakitkan. Ayla nggak tahu harus berbuat apa.”


Ayla pun kembali mengembuskan napas panjangnya lagi, ini adalah hal sulit.


“Bukankah seharusnya Ayla membenci dia, Ma? Bukankah seharusnya Ayla menghindarinya aja, Ma? Tapi mengapa Ayla malah seperti ini? Ayla masih saja ngarepin dia, berharap ama dia, dan masih cinta ama dia. Padahal udah jelas, dia udah nyakitin Ayla sampai di titik di mana Ayla udah nggak ada harga dirinya lagi. ini benar-benar nyakitin.”


“Ayla, kamu ada di dalam, Dek? Kenapa pintunya kamu kunci? Kamu kenapa di dalam? Kamu nggak apa-apa, kan?”

__ADS_1


Teriakan itu membuat Ayla menoleh, tapi dia enggan untuk sekadar bangkit dari duduknya.


Ayla ingin sendiri, Ayla ingin merenungkan semuanya sendiri, dan Ayla tidak mau diganggu oleh siapa pun, meski itu adalah abangnya.


“Dek, kamu—“


“Bang, aku nggak kenapa-kenapa, kok! Aku hanya sedang nonton film dan nggak mau diganggu! Jadi, please … jangan gangguin Ay, Bang! Ay nggak fokus ama filmnya nih!” seru Ayla.


Dia pun nengusap air matanya dengan kasar, ada begitu banyak hal yang ingin ia sembunyikan, ada banyak hal yang begitu ingin Ayla tumpahkan sendirian, dan dia tidak mau ada orang lain yang tahu.


“Baiklah, asal filmnya nggak aneh-aneh ya?”


“Nggak kok, film kartun aja, Bang!”


“Yaudah, Abang hanya mau nanya. Makan malam mau makan pakai apa?”


“Oke, kalau nanti menunya nasi goreng lagi jangan protes, ya!”


“Siap!”


Dan suara itu sudah benar-benar hilang, setelah bunyi langkah kaki menuruni tangga tidak ada. Ayla mengembuskan napasnya lagi.


Sebenarnya tidak ada yang salah sama abangnya hingga Ayla harus menghindari abangnya. Hanya saja bagi Ayla dalam masalah seperti ini, seorang cowok tidak akan pernah mengerti apa pun yang ia rasakan. Ayla hanya butuh mamanya seorang, tapi mamanya sudah tidak ada di sisinya.


Sungguh, Ayla tidak tahu harus bagaimana. Jangankan merindukan mamanya masih berhak, bahkan kenangan bersama dengan mamanya pun Ayla tidak punya.

__ADS_1


Kata papanya, mamanya meninggal tepat setelah melahirkan Ayla. Bahkan saat itu, mamanya belum sempat menimang Ayla, mamanya belum sempat menyusui dan mencium Ayla.


Hal ini tentunya bukanlah masalah yang adil bagi Ayla. Sebab bagi seorang anak, Ayla begitu merindukan sosok yang belum pernah sama sekali dia ketahui. Hanya sebingkai foto mungil yang selalu Ayla genggam erat dan simpan dengan rapi sampai sekarang. Selebihnya Ayla tidak punya apa-apa lagi untuk bisa mengenang sosok Mama yang Ayla punya. Sosok yang bahkan cara merindukannya saja Ayla tidak bisa.


“Mama, Mama tahu nggak kalau besok itu hari Ibu. Temen-temen Ayla semuanya pada sibuk nyiapin kejutan buat Mama mereka. Kayaknya sama seperti biasanya, deh. Ayla nggak bisa ngerayain sama siapa pun. Abang pasti sibuk di kampus.”


Ayla menahan napasnya dengan sempurna, rasa sakit itu mulai mengoyak dadanya.


“Abang itu sekarang jadi ketua BEM, Ma. Dia sekarang jarang ada waktu buat Ayla. Sementara Papap, Papap sekarang itu sibuk sekali, Ma. Papap nyaris nggak pernah berada di rumah dalam waktu yang lama. Bahkan sekarang, udah menginjak minggu ke tiga Papap ada di Jepang. Terlalu sering dinas di luar kota, Ma. Ayla jadi nggak punya teman kalau di rumah. Ayla sendirian, Ayla kesepian, Ma.”


Ayla kembali menangis, dia ingin dipeluk seseorang yang disebut Mama. Namun Ayla sama sekali tidak bisa.


“Mama di sana ngelihat Ayla nggak? Mama bisa tahu Ayla sedang ngapain sekarang nggak? Kata Papap, kalau Ayla rindu sama Mama, Ayla harus ngelihat langit, dan ngelihat bintang yang paling terang. Di sana kata Papap ada Mama, bintang itu adalah bintangnya Mama. Terus Ayla bisa cerita apa aja, dan sepertinya Ayla mulai nggak percaya.”


Ayla tersenyum getir kemudian mengusap wajahnya dengan kasar, besok adalah hari rabu dan Ayla harus sekolah lagi.


“Ma, Ayla besok sekolah, Ma. Namun Ayla nggak mau sekolah. Ayla nggak mau ketemu ama dia. Ayla nggak punya muka, Ma. Ayla nggak bisa berhadapan dengan dia. Ayla takut, jika Ayla berhadapan dengan dia. Maka dia akan mengatakan kata-kata kasar lagi kepada Ayla, dan hal itu membuat Ayla sedih.”


Ayla menahan napasnya dengan sempurna, dia mulai bisa menenangkan dirinya sendiri sekarang.


“Kalau udah cerita kayak gini, Ayla jadi tenang, Ma. Meski Mama nggak pernah bisa dengerin, tapi seenggaknya Ayla bisa ngomong dan cerita sama angin. Mama tahu nggak, kalau teman-teman Ayla itu julikin Ayla adalah cewek yang riang. Mereka nggak tahu siapa Ayla.”


Ayla pun tersenyum, kini ia mendongak pada langit dengan lebih tinggi. Kedua kakinya terjun bebas di bawah kursi kemudian dia tersenyum begitu lebar.


“Ayla itu bukan cewek ceria, Ayla itu adalah cewek cengeng yang merindukan Mama. Ayla adalah cewek cemen yang jatuh cinta ama cowok dingin yang pada akhirnya nyakitin Ayla. Ayla bodoh, itu adalah kenyataannya.”

__ADS_1


Ayla kini membuang napas dengan begitu berat, lalu ia berdiri di pembatas balkon kamarnya.


“Mama, Ayla kangen Mama! Nanti kalau Ayla udah bahagia, Ayla pasti akan tunjukin ama Mama! Doakan Ayla agar selalu bahagia, ya, Ma! I love you, Mama! Ayla di sini akan berjuang untuk diri Ayla, dan kebahagiaan Ayla sendiri! Mama nggak usah khawatir ama Ayla!”


__ADS_2