SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.

SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.
Sebuah Perjuangan.


__ADS_3

“Sekarang, kamu ikut aku.”


“Nggak mau!”


“Aku maksa!”


Devano pun menarik tangan Ayla, didudukan pada sebuah kursi yang di sana kebetulan hanya mereka berdua.


Devano mengambil beberapa lembar soal-soal, diberikannya kepada Ayla satu lembar, pensil beserta dengan penghapusnya.


“Jadi, lekas lakukan semuanya. Aku ingin kamu mengerjakan soal yang aku berikan kepadamu.”


“Nggak mau, nggak ada untungnya buat gue.”


“Kalau kamu mau berubah, kalau kamu ingin jadi pintar dan nggak remidi lagi, aku yakin kamu mau ambil tantangan ini. Aku hanya ingin melihat sejauh mana kamu menyerap belajar kelompok dengan dua sahabatmu itu.”


“Gue ….”


“Udah kerjain aja. Tinggal ngerjain gini kan?”


Ayla pun terdiam, dia tidak bisa berkata apa-apa sekarang, dia bingung mau melakukan apa, dia bingung mau berbuat apa. Yang jelas bagi Ayla apa yang dilakukan oleh Devano sungguh aneh dan tidak tidak akan pernah bisa mengimbangi hal tersebut.


“Ini sungguh hal yang cukup aneh.”


Ayla meski menggerutu pun pada akhirnya mengerjakan semua soal yang diberikan oleh Devano, ada banyak soal yang bahkan Ayla sendiri tidak bisa untuk menjawabnya nyaris sama sekali.


Ayla tidak tahu, kenapa Devano memberikan soal-soal sesulit ini. Namun anehnya soal-soal ini begitu tampak familiar sekali.


“Apakah kamu sudah mengerjakannya, aku sudah memberimu waktu selama enam puluh menit dan dari enam puluh menit pun satu pun kamu belum menyelesaikannya?”


“Soalnya susah, bagaimana aku akan menyelesaikannya?”

__ADS_1


“Bagaimana bisa kamu mengatakan jika soalnya susah, jelas-jelas itu adalah soal-soal ulangan yang sudah kamu lalui selama ini.”


Ayla terdiam, dia sama sekali tidak menyangka jika soal yang merupakan soal ulangannya terdahulu? Bahkan Ayla sendiri juga tidak menyangka jika semuanya akan seperti ini.


“Ini ….”


“Apakah kamu tidak merasa pernah mengerjakan semuanya?” tanya Devano.


Benar!


Ayla memang merasa tidak asing sama sekali. Hanya saja Ayla tidak menyangka jika ini adalah masalahnya, Ayla menghela napas panjang. Begitu banyak hal yang menjadi pikiran dan harus dipikirkan, ini adalah hal yang memang pernah dia lakukan, tapi ini adalah hal yang tidak pernah terbayangkan.


“Jadi bagaimana, apakah kamu sudah merasa paham sekarang? Ini bukan hanya sekadar memori tapi ini tentang masalah bagaimana kamu mengingat polanya. Kalau pola ini saja kamu nggak bisa ingat, bagaimana kamu akan ingat semuanya. Pasti akan jauh lebih sulit dibandingkan dengan apa pun.”


“Kenapa gue masih nggak bisa nangkep segala hal yang sudah terjadi ini, ya.”


“Karena kamu terlalu fokus dengan yang lainnya. Kamu fokus dengan beberapa sisi lain yang pernah ada tentu saja.”


Ayla kembali diam, dia kembali mengerjakan soal-soal itu. Dia kemudian menghela napas panjangnya dengan sempurna lalu ia memandang Devano lagi, menyerahkan jawabannya kepada Devano dan berharap jika ia akan menyelesaikan semuanya dengan baik.


Devano pun diam, dia meneliti beberapa soal dan jawaban dari Ayla, menahan napas kemudian mencoret-coret semua pekerjaan milik Ayla.


Tentu saja hal itu membuat Ayla kaget dan tidak terima, ini adalah hal yang paling menegesankan yang pernah ada, ini adalah hal yang tidak pernah bisa dibayangkan oleh semuanya.


“Kenapa lo coretin semua jawaban gue!”


“Karena jawabanmu banyak salahnya.”


“Seharusnya lo ngasih tahu salahnya di mana, jangan diem aja langsung nyalahin kayak gini. Kan nggak adil namanya kalau kayak gini modelanya, gimana sih. Nggak paham sama sekali gue dengan semuanya ini.”


“Kenapa kamu jadi marah, nanti yang salah aku bantuin benerin dengan trik yang lebih ringkas dan sederhana. Kamu nggak perlu banyak berpikir dan banyak bicara, sebab hal ini tentunya juga akan baik buat kamu.”

__ADS_1


Ayla kembali diam, dia langsung melihat sebuah buku tulis yang ada di depan Devano, yang bahkan baru saja Devano keluarkan dari dalam tas.


“Ini semuanya adalah rangkuman dari yang aku tulis buat anak kelas sepuluh dan kebanyakan keluar mulai dari ulangan dan semester awal sampai genap. Kamu nggak perlu belajar macam-macam. Belajar aja dari yang aku catet buat kamu di sana. Aku sengaja ngebuat semuanya jadi model sederhana, jadi kamu bisa dengan mudah belajar semuanya, nggak perlu bingung-bingung dan banyak pikir. Cukup dengan teori termudah yang pernah ada.”


Ayla pun melihat buku tersebut lagi, tapi dia tidak membacanya sama sekali. jangankan membaca, membuka pun tidak. Kemudian Devano melipat kedua tangannya di depan dada.


“Nanti malam kamu belajar materi biologi, aku akan tes kamu besok. Di jam istirahat, di sini juga. Awas saja kalau kamu nggak dateng, aku akan panggil kamu lewat pengumuman sekolah agar semua orang tahu kalau aku nyariin kamu. Paham sekarang?”


Ayla hanya bisa mencibir tanpa suara, kemudian ia melihat Devano berdiri, menaruh buku yang hendak dia ambil tadi, kemudian memandang Devano lagi.


“Buku ini terlalu berat buat kamu, dari pada kamu ngebuang waktumu sia-sia lebih baik fokus sama buku yang aku kasih aja, ya.”


“Baiklah kalau gitu, gue ambi.”


“Aku masuk kelas dulu, nanti ada ulangan soalnya.”


Ayla melirik pada pergelangan tangan Devano yang diplester, kemudian ia juga memperhatikan mata Devano yang merah dan Devano pun tampak mengupa berkali-kali.


Ayla lalu membuka buku catatan tersebut, sangat rapi dan begitu banyak. Ayla merasa jika Devano semalaman suntuk membuat catatan ini, dan entah kenapa mengetahui kenyataan itu, hati Ayla merasa menghangat, ia merasakan bagaimana perjuangan Devano itu benar-benar sangat begitu nyata.


“Apa benar jika Devano benar-benar berubah dan sekarang udah nunjukin semuanya, dia mau berubah dan mau nerima gue sebagai ceweknya?” ucap Ayla.


Ayla pun langsung menggelengkan kepalanya dengan sempurna, agaknya dia tidak mau berharap. Sebab harapannya itu yang akan menjebak dirinya sendiri dalam rasa kecewa yang amat tinggi.


“Ayla, ya ampun elo! Kami udah nungguin elo sedari tadi dan udah beliin elo makanan. Kenapa elo malah ngelakuin hal seperti ini? Nggak dateng-dateng lo ini, apa hubungannya dengan elo dan gimana dengan semuanya dengan semuanya.”


“Gue nggak apa-apa kok, gue baik-baik aja, gue hanya nyari beberapa referensi buku dan emang susah nyarinya. Ini adalah hal yang nggak baik sama sekali gue belum nemuin satu buku pun yang bisa buat dapet gue jadiin bahan belajar.”


“Terus buku itu? Tebel banget, buku itu ada di perpustakaan emang?” tanya Nuna.


Ayla pun langsung bergegas menyembunyikan buku tersebut, menggaruk tengkuknya yang tak gatal kemudian tersenyum dengan kaku.

__ADS_1


“Ini dari perpus dan baru.”


Ayla merasa jika dirinya adalah manusia paling bodoh di seluruh dunia, dia sama sekali tidak menyangka jika dia malah berbohong seperti ini.


__ADS_2