
Aylah berjalan dengan gontai, hingga ia melihat sepasang sepatu kets itu berada di depan pandangannya. Tadi setelah remidi dia cepat-cepat pergi, karena Ayla tidak mau ditarik-tarik lagi oleh Arka. Benar jika Arka memang tidak mengesalan dan sekaranng Ayla bisa dikatakan bergantung dengan Arka. Hanya saja masalahnya adalah Arka terlalu berlebihan dan sesuatu yang berlebihan benar-benar membuat Ayla tidak suka.
Ayla mencoba mengabaikan sosok pemilik sepasang sepatu kets tersebut, dia tidak mendongak. Masih menunduk karena takut menjadi pusat perhatian. Namun sepasang sepatu itu mengikuti langkahnya. Ayla ke kiri, pemilik sepasang sepatu kets itu pun melakukan hal yang sama. Pun dengan dia bergeser ke kanan. Hingga Ayla kesal kemudian dia mendongak hendak memarahi pemilik sepasang sepatu kets tersebut tapi gagal total. Sebab ….
“Kamu!”
Kata Ayla, hatinya kembali diremas dengan sempurna, sebab sosok yang ada di depannya ini adalah … Devano.
Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa?
Padahal sudah sekuat tenaga Ayla menghindari Devano, bagaimana bisa lelaki itu malah berada tepat di depannya sekarang? Sebuah hal yang berada di luar nalar yang membuat Ayla sama sekali tidak berharap jika hal itu terjadi,
Ya, setidaknya ini adalah untuk kali pertama Ayla tidak mengharapkan kehadiran dari sosok bernama … Devano.
Ayla tanpa sadar pun melangkah mundur, seolah melihat sosok yang begitu amat mengerikan untuknya. Itulah yang dilakukan Ayla sekarang. Sementara bagi Devano apa yang dilakukan Ayla cukup mengejutkan untuknya.
Tidak pernah terpikir bagi Devano sekalipun jika dirinya akan menjadi seseorang yang bahkan membuat Ayla merasa trauma.
Devano maju selangkah, Ayla mundur tiga langkah. Mimik wajah Ayla begitu tegang, wajah Ayla terlihat pucat pasi. Bahkan kedua tangannya mengepal dengan kuatnya di samping pahanya. Hal ini tentunya adalah hal yang tidak pernah terbayangkan bahkan oleh Devano sendiri.
“Ay—“
“Sorry!”
Ayla pun hendak berlari pergi, tapi tangannya langsung ditahan oleh Devano. Langkah Ayla terhenti, dia langsung berbalik badan kemudian mendorong tubuh Devano sampai mundur beberapa langkah ke belakang. Akhirnya genggaman tangan itu pun terlepas dengan se,purna sekarang.
“Jangan sentuh gue!”
Gue?
Devano terdiam, rahangnya mengeras. Entah kenapa dia tidak begitu suka ketika Ayla menyebut gue-elo dengan begitu nyata. ada banyak hal yang menguras kewarasannya dan dari semua kewarasan itu setidaknya Devano tahu jika hal ini tidak akan pernah baik dan tidak akan pernah menjadi baik selamanya.
“Aku mau bicara sama kamu.”
__ADS_1
Ayla meringis ketika Devano menyebut aku-kamu. Sebuah hal yang tentunya bertolak belakang. Bagaimana tidak, kemarin-kemarin Devano begitu dingin dan menyakiti Ayla, tapi sekarang?
“Gue rasa nggak ada yang perlu dijelasin. Gue udah sadar dengan ucapan elo kemarin dan gue udah mutusin buat mundur. Sorry, gue terlalu percaya diri. Sehingga saat elo bilang kalau gue adalah cewek elo, gue menjadi satu titik yang sok bangga. Padahal sebenarnya elo hanya ngerjain gue.”
Satu hal yang membuat Devano terdiam dengan ucapan Ayla. Dia benar-benar diam tanpa melakukan ekspresi apa-apa.
“Gue di sini sadar dan emang gue harus sadar diri. Gue nggak mau terpengaruh oleh apa pun. Elo adalah bintang kelas dan elo idola, elo pantes sama Kak Cindy. Sementara gue yang terlalu fokus sama elo, gue yang terlalu menggilai elo telah lupa sama tujuan gue sekolah. Gue sekolah demi Papap dan Abang Daren, gue nggak mau remidi lagi karena seorang cowok. Gue … gue …” kata Ayla terbata.
Dia menundukkan wajahnya dengan sempurna, air mata itu pun langsung menetes begitu saja dari pelupuk matanya.
“Maafkan gue jika selama ini gue udah gangguin elo, maafin gue jika selama ini gue udah maksain ngasih elo surat cinta dan barang-barang konyol, maafin gue jika selama ini gue selalu manggil-manggil elo bahkan ketika gue SMP. Maafin gue atas semuanya, mulai dari sekarang elo akan aman.”
Devano menarik sebelah alisnya. Aman? Apa yang dimaksud Ayla dengan aman?
“Gue nggak akan lagi ngelakuin apa pun buat elo. Gue nyerah, gue nyerah buat narik hati elo, dan gue nyerah buat merjuangin elo. Gue nggak mau lagi nyakitin diri dan hati gue sendiri. Di sini gue akan mundur, gue udah nggak kuat dibully lagi karena elo dan gue udah angkat tangan. Selamat ya, Dev. Elo nggak akan gue ganggu lagi.”
Ayla tersenyum samar kepada Devano dengan air mata yang membanjiri pipinya dengan sempurna.
Devano hanya bisa diam di tempatnya, kedua tangannya mengepal kuat dengan begitu nyata. Dadanya terasa begitu sesak dan rasa sakit mulai menyelimuti hatinya.
Hal ini tentu saja bukankah yang diinginkan oleh Devano sendiri. Namun lebih dari itu, Devano merutuki dirinya sendiri. Bagaimana tidak? Ia sudah berada sejauh ini tapi dirinya malah diam seperti orang dungu. Tidak pernah terpikirkan bahkan oleh siapa pun juga. Hingga akhirnya apa? Dengan sebongkah kekalahan Devano memutuskan untuk pergi.
*****
“Ayla! Ya ampun, kami nyariin elo kemana-mana juga. Eh elonya nggak ada, padahal kami udah nungguin elo di taman depan ruang guru. Kapan elo keluarnya sih?”
Ayla memandang Nuna dan Intan, dia lantas tersenyum lebar. Dia sudah mencuci muka agar tangisnya tidak terlihat oleh kedua sahabatnya tersebut.
“Kalian sih kebanyakan ngerumpi. Gue udah teriakin kalian, gue udah minta izin kebelet pipis, kalian nggak denger. Jadi gue lari dulu ke kamar mandi.”
Itu adalah jawaban yang menurut Ayla paling masuk akal, Ayla tersenyum kepada Nuna dan Intan dengan sempurna.
“Gimana remidi lo?”
__ADS_1
“Dapet lapan puluh.”
“Nah kan apa gue bilang, elo itu bisa. Elo itu kebanyakan yang dipikirin jadi nggak konsentrasi!” seru Intan.
Nuna kini menepuk bahu Ayla dengan sempurna.
“Mulai malam nanti, kita akan belajar kelompok. Hanya dengan ini kita berdua bisa mastiin elo belajar dari pada ngelamun, apalagi ngelamuninnya sama cowok nggak jelas seperti Devano.”
“Duh, kok sulit ya.”
“Harus!”
“Iya, iya!”
*****
“Gimana sama cewek elo, Dev. Lancar semua?” tanya Abian.
Devano kembali mengabaikan Abian sebab menurutnya hal ini sudah benar-benar tidak penting lagi untuknya.
“Cewek elo kayaknya kesusahan deh, Dev.”
“Jangan sok tahu.”
“Gue denger dari—“
“Yang jadi cowoknya itu gue atau elo?”
Devano memandang sinis Abian, kemudian dia memalingkan wajahnya dengan sempurna.
“Kalau elo masih mau sebangku sama gue, tutup mulut sampah lo itu. Berhenti ngejelekin Ayla lagi.”
Abian pun langsung diam, dia langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Dia sama sekali tidak menyangka jika Devano akan semarah ini kepada dirinya. Ya, Devano marah besarkepada dirinya.
__ADS_1