SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.

SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.
Arti Sahabat.


__ADS_3

“Ini hadiah buat elo, Dev.”


Suara itu hampir terdengar samar dibalik kerumunan siswa pelajar yang sedang mengintip. Tepat di tangga menuju lantai dua, seorang cowok berdiri dengan angkuh, di depannya ada seorang cewek dengan postur tubuh tinggi, berambut ikal sepunggung, kulit putih pucat dengan wajah yang amat cantik.


Ya, Cindy, bisa dikatakan jika dia adalah siswi paling populer di sekolah. Sering disandingkan dengan Devano. Namun, Cindy selalu mengklarifikasi jika hubungannya dengan Devano hanyalah sebatas … teman.


Semua siswa yang ada di sana pun bersorak-sorai melihat hal itu seolah mereka melihat sepasang kekasih yang sedang kasmaran. Meski sebagian besar cewek di sekolah mengidolakan Devano, agaknya mereka sangat ikhlas dan mendukung Devano bersama dengan Cindy. Dan itu mereka lakukan dengan cara terang-terangan, sebab bagi mereka Devano adalah milik bersama.


Meski tidak dipungkiri juga, kadang-kadang tidak jarang ada siswi yang bisa disebut nekat. Mereka melakukan upaya individu, yaitu dengan menyatakan cinta langsung atau pun memberikan surat cinta untuk Devano. Yang akhirnya mereka akan menelan kekecewaan, sebab penolakan Devano tidak pernah main-main. Sebuah penolakan yang lugas dan tepat sasaran yang pasti akan membuat semua orang merasa sakit dan juga malu.


“Terimakasih.”


Devano pun mengambil sebuah benda yang dibungkus oleh bungkus kado tersebut dari Cindy, hal itu tentunya berhasil membuat Cindy memang.


Cindy tahu kabar jika Devano sudah punya pacar, tapi Cindy sama sekali tidak peduli. Yang pertama bagi Cindy, selama Devano mau menerima semua barang darinya, selama Devano bisa mengobrol dengannya secara akrab, hal itu semua tidak akan pernah menjadi masalah.


Dan yang kedua adalah, Cindy pun tidak melihat dengan jelas sosok cewek yang menjadi pacar Devano, Devano juga nyaris tidak pernah membanggakan pacar tersebut. Jadi, bagaimana Cindy akan merasa memiliki saingan, dan harus mundur. Jika dia sendiri merasa tidak memiliki saingan siapa pun.


“Lo udah putus sama Devano?”


Nuna yang melintasi gedung kelas dua bersama dengan Ayla, yang tak sengaja melihat kejadian itu pun menghentikan langkah mereka. Melihat Ayla berdiri mematung sambil menggenggam erat buku paket yang ia bawa.


Ayla menghela napas panjang, tepat saat ia memandang Nuna, Devano pun memandangnya dengan sempurna.


“Emang gue ada hubungan apa sama dia? Nggak ada tuh.”

__ADS_1


Tegas, dan lugas. Ayla pun menjawab pertanyaan Nuna dengan cukup keras, agaknya ketika suasana gerombolan itu sepi, cukup bisa masuk ke telinga Devano.


Ayla mengabaikan kehadiran Devano dan juga Cindy, kemudian dia menarik tangan Nuna untuk pergi.


“Gimana, gimana? Kenapa gue nggak paham. Gue nggak ngerti. Setelah kemarin Devano mengatakan kalau elo ceweknya, sekarang udah berubah haluan kalau elo malah nggak nganggap Devano jadi cowok elo? Maksudnya? Gue nggak paham sama sekali, sumpah!”


Ayla pun menghela napas panjang, mendengar Nuna yang agaknya kebingungan dengan ucapannya tadi.


“Jadi ceritanya elo yang mencampakan Devano, atau Devano yang mencampakan elo sih, Ay?”


“Intinya sih sama aja. Intinya Devano nggak beneran cinta sama gue, Nuna. Elo tahu sendiri perbedaan gue sama Devano kayak apa. Dia itu di atas langit, dia pinter, dia disukai cewek satu sekolah, bahkan semua guru pun suka sama dia, dia tampan dan sempurna deh. Sementara gue? Elo tahu gue siapa kan? Dapat peringkat paling bawah aja udah syukur, apalagi bisa ngejar dia. Mustahil. Jadi kemarin dia bilang sama gue kalau gue hanya dijadikan tameng buat dia.”


“Hah, tameng, maksud elo?”


“Iya, gue udah cari di kamus besar Bahasa Indonesia.”


“Nah, kira-kira fungsi gue di hidup Devano seperti itu. Gue hanya dijadiin kambing hitam, agar dia tidak dikejar-kejar cewek. Seenggaknya kalau semua orang tahu dia sudah punya cewek kan dia aman. Nggak ada cewek yang berani nembak dia. Intinya dia hanya memmerlukan itu, yang lainnya enggak penting. Dan gue cukup tahu kemarin, itu sebabnya gue bilang, semuanya udah enggak penting.”


Nuna pun dibuat diam oleh ucapan Ayla, kemudian dia memeluk tubuh Ayla dengan lembut.


“Sabar, ya, Ay. Gue sama sekali nggak nyangka kalau Devano bakal seberengsek itu. Bener kalau gue nggak percaya kalau Devano pacaran sama elo. Namun, alasan Devano ngejadiin elo ceweknya bener-bener nggak manusiawi sama sekali. Apa perlu gue kasih perhitungan Devano? Cowok pucat itu harus tahu diri di mana dia berada sekarang. Berani-beraninya dia mempermainkan sahabat gue seperti ini.”


“Nggak usah, nggak penting dan nggak ada gunanya. Lagi pula, kalau elo ngelakuin itu sama aja elo malu-maluin gue. Gue nggak mau dipermalukan oleh Devano lagi.”


Ayla kini menutup wajahnya dengan buku paket yang ia bawa, kemudian dia mengacak rambutnya frustasi.

__ADS_1


“Duh, bego banget sih gue ini. Kenapa gue harus ngidolain cowok menyebalkan kayak dia? Kenapa hati gue nggak mau berpindah ke lain hati saja? Gue capek, gue sakit, dan gue juga nggak mau berharap lebih. Namun kenapa, ribuan kali Devano nyakitin gue, ribuan kali jug ague nggak bisa ngelupain rasa gue kepadanya.”


Nuna pada akhirnya menggelengkan kepala juga. Bagaimana tidak, ini adalah salah satu pertanda jika Ayla memang enggan untuk bebas dari cengkeraman Devano, dan rasa cinta itu masih ada.


“Gue mau berusaha berhenti, udah cukup gue disakiti hati. Gue udah nggak punya siapa-siapa untuk mengadu. Papap sudah terlalu sibuk dengan dinasnya di luar negeri yang nggak kunjung pulang, sementara Abang terlalu sibuk dengan kegiatan kampusnya. Di rumah gue selalu sendirian, gue nggak punya temen. Padahal saat sedih seperti ini, gue begitu membutuhkan temen.”


“Elo kesepian ya, Ay?” tanya Nuna.


Ayla pun menganggukkan kepalanya dengan sempurna. Dia tidak mau berdusta, dia tidak mau berbohong jika dirinya kesepian.


“Yaudah, gimana kalau ntar malem gue nginep di rumah elo?” ucap Nuna.


Ayla memandang Nuna, antara percaya dan tidak. Ini adalah hal yang jujur sangat menyenangkan untuk Ayla jika iya.


“Elo seriusan mau nemenin gue? Mau nginep di rumah gue?” tanya Ayla semangat.


“Seriusan, tapi jangan bilang sama Intan.”


“Kenapa gitu?”


“Elo tahu sendiri kalau Intan naksir sama Bang Daren. Kalau dia ikut bukannya bikin elo tenang dan terhibur, pasti dia akan sibuk sendiri buat PDKT sama Bang Daren. Gue udah hafal wataknya Intan. Lagi pula, saat ini semuanya fokus ke elo, jangan ke lainnya dulu. Gue tahu perasaan elo sekarang, dan gue nggak mau ada di rumah elo, tapi elo ngerasa gue nggak ada buat elo.”


“Nuna!”


Ayla pun langsung memeluk Nuna dengan sempurna. Dia sangat terharu bukan main, tidak pernah terbayangkan jika pada akhirnya Ayla masih memiliki sahabat sebaik Nuna.

__ADS_1


__ADS_2