SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.

SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.
Rasa Resah (Salah Paham).


__ADS_3

Ayla pun hanya diam. Apa yang bisa dia lakukan selain diam? Pada kenyataannya memang ini bukanlah hal yang baik yang bisa untuk diperbicarakan oleh siapa pun. Termasuk sosok mamanya Devano. Ayla bukan siapa-siapanya Devano, untuk apa dia datang kesini? Ini tentu saja adalah hal yang buruk. Tidak bisa dibayangkan kalau sampai Ayla akan mengakui sebagai ceweknya Devano dalam kondisi dia sendiri sudah memutuskan semuanya sendiri.


Ya, Ayla dan Devano tidak memiliki hubungan apa pun juga.


“Maaf, Tan. Aku hanya temennya Devano, nggak lebih.”


Itu adalah jawaban dari Ayla, kemudian dia tersenyum kecut pada akhirnya. Bukankah lebih baik dia pulang sekarang, dibandingkan jika dia harus terus-menerus diperlakukan dengan cara seperti ini? Bukankah lebih baik Ayla pulang sekarang? Dia hanyalah tamu yang tak diundang di sini.


“Baiklah, kalau emang semuanya baik, dan Devano juga masih dirawat aku permisi dulu.”


Ayla pun pada akhirnya langsung pergi, hingga akhirnya Gilbert mengejar Ayla. Demi apa pun, Gilbert yang merasa bersalah di sini, sebab ia yang mengajak Ayla untuk ikut serta.


“Ay, tungguin gue!” teriak Gilbert.


Ayla yang berjalan lewat lorong itu pun pada akhirnya terhenti, kemudian dia melihat Gilbert berlari padanya.


“Ya ampun, jalan elo cepet banget.” Gilbert terengah.


“Ada apa ya?” tanya Ayla, yang memang dia tidak kenal sosok bermata abu-abu itu.


Iya, Gilbert blasteran itulah mengapa jika dia cukup menjadi pusat perhatian selama pertandingan basket berlangsung.


“Duduk dulu deh sini.”


“Emangnya kita kenal ya? Gue kan nggak kenal elo.” Ayla masih keras kepala.

__ADS_1


Sebab ia merasa aneh juga, duduk manis dan berbincang berdua bersama dengan orang yang tidak dia kenal sama sekali.


“Kenal lah, gue sahabat Devano. Elo nggak inget? Elo kenapa sih, abis kepentok apaan?” tanya Gilbert.


Ayla diam. Gilbert langsung menepuk jidatnya dengan susah kemudian dia tersenyum lebar.


“Eh, sorry, sorry … gue lupa. Duduk dulu kita ngobrol berdua dulu. Kayaknya emang ngobrol berdua jauh lebih enak dibandingkan kita saling salah-salahan dengan nggak jelas kan?” Gilbert pun terkekeh juga.


Ayla pada akhirnya duduk, tapi duduknya cukup sungkan dan menjauh tentu saja.


“Perkenalkan, gue Gilbert. Gue sahabatnya Devano saat ia di SMP sampai sekarang. Kami emang satu tim basket, dan persahabatan kami emang dimulai saat kami sama-sama suka basket, main bareng dan lain sebagainya. Ada begitu banyak hal yang memang kita bahas sehingga persahabatan ini jadi akrab tentu saja. Dan kemudian ya … masalah kayak gini muncul dan maaf, gue yakin tadi elo bener-bener sakit hati dengan yang diucapkan sama mamanya Devano ya? Tante Sarah emang kayak gitu orangnya, kalau ngomong emang suka nyakitin hati kadang-kadang. Tapi Tante Sarah ada bagian sisi baiknya kok, dia bisa ngurus semuanya dengan baik, dia terlalu juju raja sama semuanya dan semua hal menjadi lebih ngeri dibandingkan dengan ini semuanya.”


“Gue emang bukan siapa-siapanya Devano, jadi gue wajarin kok kalau Tante Sarah ngomong gitu.”


“Bukan siapa-siapanya gimana, jelas-jelas elo kan ceweknya.”


“Kalian ribut apa gimana sih?”


“Lo tahu dari mana gue sama Devano ada hubungan?”


“Devano yang bilang sendiri.”


“Kapan?”


Gilbert kini bingung sendiri dengan pertanyaan dari Ayla tersebut.

__ADS_1


“Kemarin pas dia ngajakin tanding.”


“Oh.”


“Jadi, gimana bisa kemarin dia ngomong kalau kalian pacaran sekarang elo yang bilang kalau enggak. Kan aneh sekali jadinya.”


Gilbert menarik sebelah alisnya lagi, dia yakin kalau ini adalah sebuah hal yang tersembunyi, ya sebuah hal itu tergantung dari beberapa orang dan salah satunya adalah alasan kenapa semua ini bisa terjadi, terlebih ditambah dengan Devano yang mengajak dirinya untuk bertanding basket dengan salah satu cowok di sekolah. Cinta segitiga, Gilbert mengulum senyumnya dengan sempurna, senyuman jahil itu tercetak dengan begitu indahnya.


“Jadi ini kisahnya cinta segitiga?” tebak Gilbert.


Ayla yang mendengar tebakan Gilbert pun memekik kaget juga. Bagaimanapun hal ini tentunya bukan hal yang baik.


“Kenapa harus cinta segitiga? Enggak kok, enggak sama sekali.”


“Ah yang bener? Buktinya kan seperti ini, Devano ngajakin gue buat ngalahin cowok bernama Arka itu, nggak lain karena Arka ini naksir juga sama elo. Jadi kisahnya mereka sedang ngerebutin elo kan?” selidik Gilbert.


Wajah Ayla pun merah padam, bukan karena dia merasa apa yang dikatakan oleh Gilbert membuatnya besar kepala. Justru sebaliknya, Ayla malu, Ayla merasa jika dia tidak sepantas untuk untuk dijadikan oleh bahan rebutan dari dua cowok tersebut.


“Sebenernya ini semua karena gue sih.” Ayla akhirnya mengaku.


“Jadi posisinya sedari awal, Arka dan Devano emang udah nggak akur. Kemudian gue ada masalah sama Devano yang ngebuat gue meminta secara langsung kepada Arka buat ngebantuin gue ngejauh dari Devano. Lebih dari itu kemudian semuanya berubah, Arka bener-bener ngebuat semuanya. Kemudian Arka nantangin Devano buat basket. Tujuannya dari Arka satu, yaitu ngebantuin gue agar Devano nggak gangguin gue, dan Arka bilang kalau Devano akan kalah kemudian Devano akan berhenti gangguin gue. itulah yang sebenarnya terjadi. Jadi nggak ada itu yang namanya segala hal yang ada dan yang lain sebagainya, semuanya tentu saja sumbernya dari gue. Andai aja gue nggak ngomong kayak gitu pasti nggak ada pertandingan basket, pasti nggak ada hal yang ngebuat semuanya menjadi lebih rumit kayak gini. Lebih dari itu pasti Devano nggak akan cidera dan nggak akan dibawa ke rumah sakit sekarang, dan secara nggak langsung gue yang udah nyebabin semuanya. Ini adalah hal tragis, dan dari segala macam bentuk ketragisan semuanya gue yang udah jadi biang kerok. Jadi gimana gue akan baik-baik saja kalau nanti Devan akan kenapa-napa, gue yang salah dan jug ague harus tanggung jawab.”


Gilbert pun kembali diam lantas ia memandang Ayla lagi yang sudah mau bercerita panjang lebar itu kepadanya.


“Kalau boleh tahu, sebenarnya elo dan Devano kenapa sih sampai kayak gini?”

__ADS_1


“Gue tahu kalau emang gue dan Devano katanya pacaran. Namun gue juga tahu kalau status pacaran ini hanyalah dijadikan Devano sebagai tameng agar dia nggak dikejar-kejar cewek lain. Gue ini hanya apa sih, gue hanya cewek yang nggak terkenal yang nggak akan dicintai oleh siapa pun juga. Gue hanya cewek biasa yang jauh dari kata terkenal, setelah gue denger sendiri langsung dari ucapan Devano gue mundur. Tapi Devano malah semakin aneh dengan cara dia berlagak menjadi seorang cowok yang baik dan berusaha mempertahankan hubungan. Padahal sedari awal nggak sama sekali, bahkan ucapannya pad ague selalu kasar dan menyakitkan. Gue nggak paham sama sikap Devano. Kalau emang dia mau mempermainkan gue, seharusnya nggak gini caranya.”


__ADS_2