SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.

SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.
Sebuah Tantangan.


__ADS_3

Dan hari ulangan pun dimulai, Ayla sama sekali tidak menyangka jika semua jawaban yang ia dapat dari Devano ada semua dan bahkan nyaris seratus persen ada tentu saja. Hal ini sungguh membuat Ayla senang bukan main.


Yang pertama jika Ayla belajar dengan buku panduan Devano, dia hanya belajar garis besar dan hal-hal inti. Dia tidak perlu membaca semuanya dan itu akan jauh lebih efektif sekali. ini adalah hal yang paling membuat semuanya menjadi lebih mudah dan menyenangkan tentu saja.


“Yes, gue udah kelar!” jawab Ayla.


Tak sengaja dia mengatakan itu dengan nada tinggi, bahkan sampai guru dan teman-temamnya menoleh kepada Ayla.


“Elo gila, Ay? Soal sesulit ini baru tiga puluh menit elo udah pulang udah kelar? Jangan ngadi-ngadi deh lo!” kata Nuna dengan mimik wajah seriusnya tentu saja.


Ayla pun terseyum, ia menggaruk tengkuknya dengan sempurna. tentu saja ini adalah hal yang membuat Ayla bingung. Hingga kemudian, ia memilih duduk manis, sambil terus mencoret-coret kertas karena dia sudah tidak punya alasan lagi untuk menulis apa pun. Bagaimana tidak, kertas jawabannya sudah keisi semua dengan begitu rapi.


“Yang sudah, silakan boleh dikumpulkan!”


“Belum, Bu!” teriak semua murid kompak.


Bagaimana mereka selesai jika soal-soal ulangannya sangat sulit? Bahkan waktu empat puluh lima menit sangat tidak cukup untuk mereka sama sekali.


“Ayla, katanya kamu sudah selesai mengerjakan soal? Sini, berikan kepada Ibu.”


Ayla menelan ludahnya dengan susah, hingga akhirnya Nuna menyikut lengan Ayla. Tentu saja, Nuna duduk di sebelah Ayla sekarang.


“Baik, Bu.”


“Elo gila, ya, Ay?”


“Udah, gue emang beneran udah selesai.”


“Nggak elo beneran itu ngisinya? Nggak elo koreksi dulu?”

__ADS_1


“Gimana gue mau ngoreksi, emangnya boleh? Gue yakin kok sama jawaban gue.”


Keras kepala Ayla tentunya membuat Nuna tidak bisa berkata apa-apa. Nuna hanya bisa memijat pelipisnya yang mendadak sakit karena Ayla.


“Ayla itu yakin udah ngerjain semuanya? Sampai dia ke depan kayak gitu?” Intan pun bertanya kepada Nuna, sambil menoleh ke belakang.


“Gue sendiri juga nggak paham, hanya saja itu yang gue harepin jawabannya salahnya dikit. Elo tahu sendiri siapa Ayla kan?”


“Gue jadi ngeri-ngeri sedep kalai mikirin ini.”


Ayla yang sudah maju ke depan pun langsung menyerahkan lembar jawabannya, mimik wajah guru kimia itu pun tampak cukup mencela Ayla. Bagaimana tidak, guru kimia tersebut sudah sangat yakin kalau tidak ada yang bisa menjawab seratus persen benar terlebih dalam waktu sesingkat itu. ini adalah menjadi hal yang tidak bisa diwajarkan bahkan oleh guru kimia tersebut.


“Ini, Bu.”


Ucapan Ayla sambil menyerahkan lembar jawaban, guru tersebut langsung mengambilnya dan mengoreksi semua. Awalnya guru itu tersenyum, lama-lama guru tersebut terdiam.


Ia langsung memandang Ayla dengan mimik wajah tak percayanya, bedehem kemudian menaruh kertas jawaban tersebut di atas meja.


Guru tersebut pun menggelengkan kepalanya dengan sempurna, berdehem beberapa kali kemudian ia menyuruh Ayla untuk kembali duduk di bangkunya.


“Tidak apa-apa, kembalilah duduk di tempatmu.”


“Baik, Bu.”


“Untuk yang lainnya silakan kalian mengumpulkan kertas jawaban kalau sudah selesai. Waktunya tinggal sebentar lagi.”


“Iya, Bu!” teriakan kompak itu pun langsung memenuhi ruangan dengan sempurna.


Sementara Ayla memilih keluar dari kelas, ia duduk di depan kelas sambil melihat-lihat ponselnya. Sesekali ia menghela napas panjangnya dengan sempurna.

__ADS_1


Di ujung matanya dia bisa melihat Arka dengan teman-temannya sedang main basket. Ayla kembali diam dengan sempurna kemudian ia menghela napas juga, memang dari gosip yang ia dengar Arka adalah pemain basket yang cukup dan bahkan sangat handal. Hal ini tentu saja menjadi perbandingan tersendiri untuk semua orang. Siapa yang tidak mengenal Arka di sekolah ini? Meski siswa tersebut tinggal kelas, tapi sedari dulu Arka memang dikenal sebagai kapten basket bahkan sedari SMP, dan Ayla sendiri melihat pertandingan Arka dengan teman-temannya cukup paham bagaimana permainan Arka bisa disebut dengan sempurna.


Ayla menghela napas panjangnya untuk kesekian kali, dia kemudian melihat beberapa lorong-lorong sekolah. Matanya memandang Devano yang sudah memandangnya sedari tadi. Jujur, Ayla benar-benar bingung. Ayla benar-benar tidak tahu harus bagaimana dan juga harus berbuat apa. Dia menundukkan wajahnya tapi takut salah tingkah, hingga akhirnya Ayla memutuskan untuk tetap memandang Devano.


“Ini gila, kan? Dia udah ngebantuin gue sedari lama. Jadi nggak salah kalau gue bilang makasih sama dia?”


Ayla bergumam dengan sendirinya seolah ia sedang berkutat dengan hati nuraninya, tentu saja hal ini menjadi bahan pertimbangan sendiri. Hal ini menjadi hal yang tidak bisa dibandingkan dengan siapa pun juga.


“Nggak, nggak … nggak! Gue nggak boleh datengin dia duluan, gimana ceritanya gue harus datengin dia duluan? Dia udah buat salah dan dia udah buat kisruh, gimana ceritanya gue harus melawan di saat gue sendiri kesal dengan segala ucapannya yang nyebelin itu? Nggak, gue nggak akan pernah mau nyamperin dia bahkan hanya demi kata terimakasih dan lain sebagainya!”


“Hey, Devano!” teriak Arka.


Bahkan sekarang Ayla langsung menoleh memandang Arka dengan sempurna. Hal ini justru membuat Ayla kaget dan bingung dengan sempurna tentu saja.


“Lo kesini deh, ayo kita tanding basket. Siapa yang menang bisa dapetin Ayla! Gimana elo berani nggak ngelawan gue? Jangan bilang kalau elo nggak berani, elo kan cemen sekali!”


Devano terlihat begitu diam, sementara Ayla menelan ludahnya dengan susah tentu saja. Ini adalah hal yang cukup mengerikan dibandingkan dengan apa pun. Bahkan rasanya Ayla begitu penasaran dengan jawaban Devano. Ayla bukannya bangga menjadi bahan taruhan atau direbutkan tentu saja. Hanya saja Ayla ingin tahu apakah dia cukup penting untuk Devano. Itulah masalahnya, itulah hal yang membuat Ayla penasaran bukan main.


“Kenapa lo diem aja? Cemen ya, lo nggak berani ya?” tanya dari Arka lagi.


Devano meghela napas panjang kemudian dia memandang Arka dengan bengis.


“Ayla bukan barang yang bisa dijadikan sebagai bahan taruhan.”


Cukup itu berhasil membuat hati Ayla meleleh, cukup itu berhasil membuat Ayla merasa tersanjung. Dari ucapan Devano cukup menjelaskan jika Devano tidak ingin kalau sampai dirinya dipermalukan oleh tempat umum, dan tentu saja ini adalah hal yang membuat Ayla tersanjung bukan main.


“Yaudah deh, kalau gitu kita ganti aja. Ayo kita tanding siapa yang menang dialah yang berhak atas Ayla? Maksud gue yang boleh deketin Ayla yang menang pertandingan ini, jadi nggak ada alasan lagi kan lo buat ngelak tawaran gue?”


Devano diam sejenak kemudian ia menganggukkan kepalanya dengan sempurna.

__ADS_1


“Satu lawan satu, sepulang sekolah di lapangan outdoor sekolah.”


__ADS_2