SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.

SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.
Tentang Arka.


__ADS_3

Pagi ini Ayla sudah begitu rapi, berdiri di depan cermin rias dengan manis. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai dengan sempurna. Bagian depan ia kepang kecil sisi kiri dan kanan. Ayla memandang pantulan wajahnya di depan cermin. Ia kemudian menghela napas panjangnya dengan sempurna.


Hari ini dia akan bertempur lagi, hari ini ia akan menghindar lagi, hari ini ia akan berada di titik paling menyebalkan lagi. Menjadi manusia paling mengerikan yang pernah ada hanya karena dia tidak ingin bertemu dengan Devano.


Ayla memiringkan wajahnya, sebuah kotak terbuat dari kayu yang bercat warna merah hati pun ia buka, seluruh gambar, kaus, poster, kalung yang berhubungan dengan Devano telah ia singkirkan. Bahkan sekarang Ayla sudah melepas semua foto Devano dari seisi kamarnya dengan sempurna. Ini adalah hal yang paling menyakitkan, saking menyakitkannya Ayla tidak tahu harus berbuat apa.


Kini pada akhirnya Ayla pun tahu, melepaskan seseorang yang begitu dia gilai tidak semudah jika memutuskan untuk jatuh cinta kepada orang tersebut.


Ya, ini adalah tentang cinta. Ayla sekarang paham, perasaan yang ia rasakan kepada Devano bukanlah sekadar mengagumi, mengidolakan, menggilai atau semua hal yang berhubungan seperti fans kepada idolanya. Lebih dari itu, Ayla menginginkan lebih. Ayla menginginkan lebih dari sekadar itu, oleh sebab itu rasa sakit yang dirasakan oleh Ayla ketika mendengar ujaran Devano begitu sangat nyata.


Pada dasarnya, seseorang yang paling berpotensi melukai kita adalah dia yang paling kita cinta.


“Dek, kamu udah siap apa belum? Abang mau ke kampus nih, kita barengan, ya!”


Ayla menoleh pada pintu kamarnya, kemudian dia mengembuskan napas panjangnya dengan sempurna.


“Bentar, Bang. Ay pakek minyak wangi dulu!”


Ayla pun bergegas menyemprotkan minyak wangi ke seragam sekolahnya, menampar pipinya berkali-kali dan meyakinkan dirinya sendiri.


Ini adalah hal yang nyata, ini adalah kenyataan yang sempurna. Jadi bagaimana bisa Ayla harus lari, jika dia sendiri tidak tahu bagaimana memperbaiki dirinya sendiri.


“Ayla, elo harus bisa, elo harus sanggup buat semuanya lebih mudah. Devano itu layaknya bintang, sementara elo hanyalah liliput. Selamanya liliput nggak akan pernah bisa ngegapai bintang. Hanya angan yang bodoh yang membuat liliput bisa sadar diri untuk itu.”


“Dek, lama banget sih lo!”


“Eh, iya, Bang. Iya!”

__ADS_1


Ayla pun langsung mengambil tasnya, berlari membuka pintu kemudian tersenyum lebar. Menunjukkan deratan gigi putihnya yang berjajar rapi di sana,


“Ya ampun cewek, dandananya lama bener. Untung tadi udah sarapan dulu. Ayo berangkat!”


“Ayok, Bang!”


Keduanya kini berangkat, Daren langsung membukakan pintu mobil untuk Ayla. Kemudian dia masuk di pintu seberangnya. Daren memandang adiknya yang kini tampak bergembira.


Tidak pernah disangka sama sekali jika Ayla sesenang ini, hanya karena Daren meluangkan waktu untuk berangkat lebih awal, demi bisa berangkat bersama adiknya tercinta.


Dulu, Daren tidak pernah berpikir jika mungkin Ayla akan kesepian dan lain sebagainya. Dia hanya fokus pada organisasi, dia hanya fokus kepada dirinya sendiri dan teman-temannya. Padahal, adiknya jauh lebih penting dari pada siapa pun, yang harus Daren jaga. Sebab, siapa lagi yang bisa menjaga adiknya jika bukan dia? Ibunya pun sudah meninggal lama, mereka hanya tinggal berdua terlepas dari Ayah mereka yang sibuk bekerja.


Dan di sinilah, kekompakan dari seorang Abang dan adik harus dikuatkan. Dan Daren sebagai seorang Abang harus bisa membuat adiknya merasa aman, nyaman, dan bahagia.


“Apakah kamu suka kalau Abang anterin kamu ke sekolah kayak gini, Dek?” tanya Daren.


“Iyap, aku senang! Gimana nggak senang, jarang-jarang kan Abang kayak gini. Bisa nebengin aku ke sekolah. Aku seneng banget, Bang!”


Daren hanya bisa tersenyum getir, rasa bersalah pun kini mulai menyelimuti hatinya. Seharusnya, sedari dulu dia bisa melakukannya. Tapi Daren tak bisa melakukannya sama sekali. Seharusnya sedari lama Daren bisa lebih paham dan peka. Kalau tidak karena Nuna, mungkin sampai sekarang Daren tidak akan pernah merasa peka.


“Oh ya, gimana Arka? Apakah di sekolah dia ngejagain kamu sesuai dengan yang Abang perintahkan?” tanya Daren lagi.


Ayla pun langsung menoleh, dia hanya tersenyum kaku. Menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.


“Apakah ada sesuatu yang salah?”


“Sebenarnya dia nggak bisa disebut jahil atau bisa bantuin aku sih, Bang. Awalnya cowok itu nyebelin banget. Dia selalu manggil aku Monyet, Bulan, dan lain sebagainya. Kalau nggak gitu selalu aja nyari gara-gara. Capek banget rasanya, Bang! Dan yang lebih ngeselinnya lagi, cowok itu sepertinya senang sekali ngebuat gara-gara. Namun sekarang …” kata Ayla terhenti.

__ADS_1


Ayla mengulum senyum dengan sempurna. Bukan apa-apa, hanya saja Ayla merasa jika sekarang Arka cukup membantunya.


“Namun sekarang, Arka cukup ngebantu kok, Bang. Dia kayak obat tikus, manjur.”


“Hah? Obat tikus gimana maksudnya?”


“Oh, enggak. Nggak apa-apa, bercanda, Bang!” jawab Ayla.


Mana mungkin Ayla akan bercerita tentang masalah Devano? Mana mungkin Ayla akan mengatakan kepada Daren kalau Devano sudah dianggap seperti tikus baginya?


Ayla tidak mungkin mengatakan hal sejujur itu, ini adalah hal paling rumit yang pernah ada di dunia ini, dan ini adalah rahasia besar milik Ayla.


“Dasar kamu ini, kamu pikir Arka itu apaan? Dia itu anak orang kaya, Dek. Jadi jangan dianggap sembarangan.”


“Siapa yang anggap dia sembarangan sih, Bang. Dia itu yang suka jahil sama aku. Sekarang sih udah nggak begitu jahilnya, syukur sih. Sekarang Arka udah bener-bener nurutin perintah Abang, ngelindungin aku banget. Makasih ya, Bang.”


“Beruntung kamu, Dek. Dapet bodyguard kayak Arka. Coba kalau enggak.”


“Beruntung apanya, di bagian mananya aku beruntung coba? Anaknya bandel, suka bikin rusuh, suka bikin gara-gara. Bahkan nyaris setiap hari dia dihukum buat berdiri di depan tiang bendera. Kabarnya juga Arka ini ketua geng badung yang suka tawuran. Dilihat dari segi mana pun, aku rasa nggak ada beruntung-beruntungnya.”


“Arka itu sebenernya anak yang baik kok. Hanya saja dia ini baiknya fleksibel.”


“Maksudnya? Gimana ceritanya baik aja harus pakai fleksibel segala?”


“Ya fleksibel. Dia akan jahat kalau ada orang yang jahat sama dia, pun sebaliknya. Dan kebanyakan orang itu salah paham sama dia, itulah sebabnya mereka tahunya yang buruk-buruk aja tentang Arka. Andai mereka tahu siapa sebenarnya Arka, pasti mereka nggak akan berpikir jika Arka adalah cowok, murid, atau bahkan anak yang badung.”


“Kalau itu namanya belum kenal baik sama Arka, Bang. Makanya nggak tahu Arka kayak gimana, ada-ada aja bilang Arka fleksibel. Kayak karet aja.”

__ADS_1


__ADS_2