
“Ye! Akhirnya selesai juga ulangannya. Gimana, Ay. Kamu bisa ngejawab semuanya dengan lancar kan?” tanya Intan.
Ayla masih diam, agaknya dia cukup ragu. Kalau ditanya apakah ia bisa menjawab semua soal pasti jawabannya adalah tidak yakin, tapi Ayla cukup yakin dengan separuh soal yang dia kerjakan.
“Ya … begitulah.”
Ayla pun akhirnya menjawab, jujur dia bingung harus bagaimana. Dia sendiri tidak tahu apa yang bisa ia lakukan dan ucapkan. Ini adalah hal yang membingungkan untuk dirinya. Dan yang jelas Ayla tidak mau menunjukkan apa pun di depan teman-temannya.
Karena Ayla tidak mau membuat teman-temannya kepikiran, itulah yang dipikirkan Ayla sekarang.
Sudah cukup Ayla menjadi beban, sudah cukupp Ayla menjadi manusia yang bisa dikatakan paling bodoh di seluruh dunia dan membuat teman-teman Ayla kesal bukan main, mungkin.
Jadi sekarang Ayla adalah Ayla, Ayla akan berubah menjadi sosok Ayla yang hebat, keren, dan baik hati. Ia tidak akan terlihat sebagai sosok Ayla yang menyedihkan lagi.
“Ya udah, untuk ngerayain semua ini. Gimana kalau kita makan-makan di kantin? Laper nih!” seru Intan lagi.
“Sama, gue setuju kalau itu. Gue juga laper! Makan yok!” imbuh Nuna.
Kedua sahabat Ayla itu berdiri,mem buat Ayla hanya bisa terdiam dengan mimik wajah bodohnya. Sebab sampai sekarang Ayla masih duduk manis di bangkunya tanpa mengatakan apa pun.
“Ayok, Ay. Kenapa lo diem aja di situ, ada apa?” tanya dari Nuna, dan Intan.
Ayla menahan napasnya dengan sempurna, lalu ia tersenyum lebar hingga mata kecilnya itu nyaris menghilang.
“Kalau kalian mau makan, silakan kalian makan dulu, ya. Gue mau ada urusan bentaran.”
“Urusan bentaran apaan?”
“Gue mau ke toilet.”
“Yaudah kami tungguin, kan sejalan juga kan?” ucap Nuna.
__ADS_1
Ayla masih diam, dia menahan napasnya. Bagaimana tidak, sebenarnya Ayla tidak benar-benar ingin pergi ke toilet, ada hal lain yang hendak dia lakukan untuk menjadi siswa pintar yang bisa menjawab semua soal dengan benar.
Salah satunya adalah pergi ke … perpustakaan.
“Gue sebenernya mau pergi ke perpustakaan.”
Akhirnya Ayla pun jujur jika dirinya ingin pergi ke perpusatakaan. Bukan apa-apa, hanya saja Ayla ingin belajar. Dari pada harus menghabiskan waktu yang tidak jelas, dia ingin jika otak kecilnya ini terisi sengan sesuatu yang bermanfaat. Dan siapa tahu dengan Ayla banyak membaca dia menjadi banyak paham akan banyak hal, kemudian dia bisa menjadi pintar.
“Lo seriusan mau ke perpustakaan?” tanya Intan. Sambil menelan ludahnya dengan sempurna.
Ayla kembali menganggukkan kepalanya dengan sempurna, tentu saja ini adalah sebuah pertanyaan yang cukup membuat Ayla merasa jika, benar saja selama ini dirinya bahkan merasa sangat anti dengan yang namanya perpustakaan.
“Gue pengen pinter, jadi nggak ada salahnya kan kalau gue membaca sesuatu di sana. Kalian silakan ke kantin, beliin gue jajanan yang buat kenyang ya.”
“Lo seriusan ini, nggak bercanda kan?” tanya Nuna kemudian.
Ayla kembali menganggukkan kepalanya dengan sempurna.
“Yakin!” jawab Ayla dengan semangat.
“Baik, kalau gitu kami pergi dulu ya. Gue bakal beliin elo makanan, elo nggak apa-apa kan sendirian?”
“Ya ampun gue udah gede gini, ya nggak apa-apa lah, gue baik-baik saja banget. Kalian nggak perlu mikirin dan khawatir sama gue, ya.”
“Baiklah, kalau gitu kami pergi dulu, ya.”
“Siap.”
Ayla pun pada akhirnya mengambil buku tulis kosong, bulpoin dan penggaris. Kemudian dia bergegas pergi ke perpustakaan.
“Oy, lo mau ke mana, Ay?” Rian, salah satu teman sekelas Ayla pun berteriak.
__ADS_1
Ayla menoleh dengan sempurna, kemudian ia menganggukkan kepalanya juga. Padahal dia belum menjawab pertanyaan dari Ryan.
“Gue mau ke perpus.”
“Tumben rajin.”
“Iyalah. Biar pinter, biar nggak remidi terus.”
“Bisa aja elo ah. Jangan gitu kali, Ay. Remidi itu hal yang biasa, dulu pas gue SMP gue juga remidi terus. Lagi pula peralihan dari SMP ke SMA tentunya nggak mudah kan?”
Ayla terdiam, dia nahan napasnya dengan sempurna. Lalu dia menganggukkan kepalanya juga.
“Sebenernya kenapa gue bisa dapet nilai bagus kemarin? Karen ague nyontek.”
Ayla pun langsung memekik kaget, dia sama sekali tidak menyangka jika ada model seperti Ryan juga, yang agar mendapat nilai bagus maka harus mencontek. Pantas saja nilai Ryan seratus kemarin. Ayla benar-benar tidak menyangka jika hal ini terjadi, sebuah hal yang pastinya membuat dirinya tidak bisa berkata-kata sama sekali.
“Elo nyontek, Yan?”
“Iya. Emang kenapa? Ada yang salah?”
Ayla tidak bisa berkata apa pun selain bengong. Bagaimana bisa Ryan malah bertanya apakah ada yang salah? Padahal sudah jelas sekali kalau yang dilakukan Ryan adalah sebuah kesalahan yang bisa dikatakan jika kesalahan tersebut tidak bisa dimaafkan sama sekali.
“Oh, iya …” kata Ayla dengan bodohnya. Dia tidak mau membuat gara-gara, dia tidak mau menjadi musuh seseorang, yang harus dia lakukan adalah … diam sekarang. “Itu hak pribadi sih, gue juga nggak bisa nyalahin siapa-siapa.”
“Lo sendiri tahu di sekolah itu yang dicari sekarang adalah hasil akhir, mana ada sekarang guru yang peduli dengan proses? Mereka akan cenderung sayang dengan siswa yang nilainya bagus, dan nggak peduli dengan siswa yang nilainya jelek. Sekalinya yang nilainya jelek atau nakal dibenci, kenapa sih jarang banget guru zaman sekarang yang paham dan lebih peduli sama murid mereka? Kenapa guru sekarang jarang yang peka?”
Ayla pun hanya bisa diam, dia bahkan dia tidak bisa berkata apa-apa sekarang. Sebab jujur dia sendiri juga tidak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus dipikirkan, sebab apa yang dikatakan oleh Ryan memang kenyataannya terbukti benar adanya.
“Gue nggak akan nyalahin siapa pun sebab apa yang elo ucapkan adalah benar adanya dan ini adalah hal yang sangat nyata. Hanya saja nggak semua guru nggak seperti itu kok, ada juga guru yang baik dan pengertian, mereka bahkan mengerti sifat dari masing-masing siswanya. Gue yakin kalau di SMA kita banyak guru yang kayak gitu.”
“Semoga aja sih, soalnya gue udah kadung trauma dengan guru-guru kayak gitu, bayangin aja gue di SMP nemu guru kayak gitu semua, dan gue nyaris dikeluarkana dari sekolah karena apa? Karena gue bego!”
__ADS_1
Ayla terdiam lagi, dia menelan ludahnya dengan sempurna. Dia sama sekali tidak menyangka jika Ryan memiliki trauma seperti itu juga di masa-masa sekolahnya.
“Gue harap elo bisa nemuin sosok guru terbaik elo di sekolah kita yang sekarang ya, Yan.”