SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.

SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.
Sebuah Pelukan.


__ADS_3

“Lo tahu di mana dia?”


Tanya itu berhasil membuat Ryan yang baru saja melangkah hendak pergi ke kantin pun terhenti. Matanya melotot kaget, dia sama sekali tidak menyangka jika sosok yang ada di depannya kini mengajaknya untuk berbicara.


“Dia … siapa?” tanya Ryan bingung.


Tentu saja dia bingung, dia yang dimaksudkan oleh sosok itu pastinya adalah sosok yang lain yang tentu saja ini akan menjadi membuat pertanyaan untuk Ryan. Toh pada kenyataannya, baru-baru ini kenyataannya Ryan memiliki banyak teman dan dia tidak tahu teman yang mana yang dimaksudkan oleh sosok tersebut.


“Cewek yang tadi sama elo.”


Sosok itu mempertegas, Ryan pun paham sekarang tentang ‘dia’ yang dimaksud yaitu adalah Ayla. Dan Ryan benar-benar tak menyangka jika hal itu adalah benar adanya. Ada senyum yang terpancar di sana, seokah senyum jika semua gosip yang awalnya ditolak oleh semua orang kini menjadi satu keyakinan yang ada, tentu saja ini akan menjadi bahan pertimbangan yang ada yang tidak pernah terbayangkan oleh siapa pun.


“Dia mau ke perpus. Katanya dia—“


Ucapan Ryan terhenti, saat sosok itu langsung pergi tanpa permisi. Ryan hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sungguh dia sama sekali tidak menyangka jika bisa bertemu dengan manusia seperti sosok tersebut.


“Udah tanyanya nggak sopan, perginya nggak sopan pula!” keluh Ryan.


“Kalau orang cakep mah bebas ya, coba kalau gue yang kayak gitu. Bisa-bisa gue digampar banyak orang. Ah, hidup emang ngeselin dan nyebelin, nggak pernah adil buat yang badlooking kayak gue!”


Setelah mengatakan itu, Ryan pun langsung pergi. Ia bergegas ke kantin sebelum bel istirahat berakhir.


Di sisi lain, Ayla menghela napas panjang. Dia menyisir beberapa bagian rak yang ada di depannya. Mencoba mencari judul buku sesuai yang ada ia cari di internet beberapa waktu yang lalu.


Tentu saja hal itu akan membantu Serena. Ia bahkan yakin sekali kalau semuanya dalam keadaan baik dan dengan segala hal yang ada.


“Di mana sih, kenapa kok nggak ada.”


Ayla agaknya mulai merasa kesal, bagaimana juga dia sudah mencoba mencari tapi tidak bertemu. Hingga akhirnya Ayla mendongak pada bagian rak sebelah atas. Kemudian matanya menangkap pada satu buku.


“Ya Tuhan, ketemu!” pekik dari Ayla.


Ia berusaha sekuat tenaga untuk meraih buku tersebut tapi tangannya sama sekali tidak tergapai. Tinggi tubuh Ayla benar-benar tidak mencapai bagian paling atas rak tersebut.


“Siapa sih yang membuat rak setinggi ini? Kenapa mereka nggak mikir kalau ada manusia seperti gue yang mini yang nggak mungkin tergapai kalau mau ambil buku di sana!” gerutu dari Ayla.

__ADS_1


Tentu saja ini adalah hal yang tidak bisa dibayangkan oleh Ayla, berkali-kali Ayla mencoba hingga yang terakhir kali, ada sosok tangan yang menjuntai dari belakangnya, dan tangan itu mengambil buku tersebut.


Ayla langsung menoleh, matanya terpaku melihat sosok yang sudah menghimpitnya dengan sempurna dari belakang.


Ya, sosok itu adalah … Devano.


Ayla langsung terdiam kaku, dia sama sekali tidak menyangka jika Devano ada di sini bersama-sama dengannya.


“Elo kenapa ada di sini?” tanya Ayla pada akhirnya.


“Kenapa kemarin kamu nggak dateng?” tanya Devano.


Akhirnya keduanya hanya saling bertanya, mereka berdua sama-sama enggan untuk menjawab pertanyaan tersebut tentu saja.


“Aku nungguin kamu sampai sore.”


Akhirnya Devano memperjelas ucapannya, Ayla hendak pergi. Tapi kedua tangan Devano sudah mengunci tubuh Ayla dengan sempurna. Sehingga tubuh Ayla yang terhimpit pun tidak bisa berbuat apa-apa. Tentu saja ini adalah hal yang cukup menyakitkan untuk Ayla. Ayla takut dan juga bingung bukan main.


“Minggir, gue mau pergi.”


“Enggak. Aku nggak akan ngebiarin kamu pergi.”


“Aku maksa.”


Rahang Devano mengeras, mata hazelnya menajam memandang Ayla. Seolah ia ingin meminta suatu hal yang disebut dengan sebuah kepastian tentu saja.


“Jangan pernah maksa aku untuk berbuat di luar batasanku, Ayla.”


“Lo sendiri yang bilang. Bukankah elo yang ngomong kalau gue adalah cewek yang sangat menyebalkan dan nggak pantes buat elo?”


“Kamu cinta sama aku.”


“Gue nyerah.”


Ayla pun akhirnya mengatakan hal itu, Devano langsung terdiam. Kedua tangan yang sedari tadi mengunci Ayla pun terlepas dengan sempurna.

__ADS_1


“Gue nyerah buat dapetin elo, gue nyerah buat cinta sama elo, gue nyerah buat ngefans dan ngejar elo. Gue nyerah buat semuanya!” teriak Ayla.


Untung saat itu kondisi perpustakaan sepi, dan kebetulan juga penjaga perpustakaan sedang di luar. Andaikan pun ada beberapa siswa, mereka pasti hanya berdecak menandakan kalau mereka benar-benar sedang tidak suka sama sekali.


“Kamu tidak boleh menyerah.”


“Kenapa lo maksa?”


“Karena aku nggak akan pernah ngebiarin kamu nyerah gitu aja, Ayla.”


Devano langsung memeluk tubuh Ayla, Ayla yang dipeluk lagi-lagi hanya bisa mematung. Dia sama sekali tidak mengerti, dia sama sekali tidak paham permainan apa yang sedang Devano mainkan dengannya, hingga Devano melakukan hal yang di luar batas nalar Ayla.


“Kenapa lo ngeselin, lo ngeselin!”


Ayla pun terus berontak dalam dekapan Devano, air matanya meleleh begitu saja. Dia benar-benar lelah, merasa dipermainkan oleh cowok yang mendekapnya dengan erat kini.


“Apakah lo pikir gue ini boneka?” kesal Ayla.


“Yang bisa lo perlakukan seenak hati elo, seenak jidat elo, dan seolah-olah elo punya ha katas semuanya tentang gue. Ini nyakitin gue banget, gue nggak mau kayak gini!”


Devano hanya diam, rahangnya kembali mengeras dengan sempurna. Tentu saja ini adalah sebuah pertanyaan yang tidak bisa dibantahkan oleh siapa pun juga.


Untuk meminta maaf, kenapa Devano sangat berat sekali? Bahkan mungkin Ayla akan memaafkan Devano setelah hal ini.


“Lo mau ngomong apa buat ngebelain diri elo, Dev?”


Devano masih diam, matanya kini tampak merah. Rahangnya masih mengeras, tubuhnya mundur setelah didorong oleh Ayla.


“Gue udah capek, emang gue kenal elo baru. Gue ngejar elo pun baru, tapi permainan yang elo mainkan sama gue itu nggak lucu! Lo udah buat gue hancur, kenapa lo tambah bikin gue semakin hancur, Devano!”


Devano menundukkan wajahnya dalam-dalam, kini ia menutup sebagian wajahnya. Jika dikata masalahnya seperti ini tentu saja semuanya memiliki masalah, tapi Devano bukannya mempermudah masalah dia malah kembali diam dan memperkeruh suasana.


“Gue nggak pantes buat elo, sedari awal kan gue tahu. Masalahnya adalah satu, elo mau ada rencana apa lagi hingga buat gue kayak gini? Elo mau gimana lagi? Ada ulah apa lagi? Atau gue sebagai alasan elo buat nolak Kak Cindy? Dengan elo bilang gue pacarnya elo dengan gitu elo bisa lepas dari Kak Cindy? Atau elo aslinya homo?”


Devano langsung memekik, ia sama sekali tidak menyangka jika Ayla akan mengatakan jika dirinya homo.

__ADS_1


Dengan mimik wajah kesal, Devano langsung menarik tengkuk Ayla. Mencium bibir Ayla sekilas, lalu ia melepaskannya.


“Apakah kamu masih berpikir jika aku homo?”


__ADS_2