
“Devano, mana Devano, mana putraku!”
“Maaf, Tante. Devano sedang ada di ruang perawatan IGD, Tan. Tante tenang aja, semuanya—“
Dan tamparan itu mendarat di pipi Gilbert dengan sempurna, sebuah hal yang membuat Gilbert menelan ludahnya dengan susah. Ia pun hanya bisa bergeming dengan bodoh.
“Ini pasti ulah kalian kan?” kata mamanya Devano.
Matanya memicing penuh dengan emosi, tentu saja hal ini harus diperhatikan dengan seksama pakaian dari teman-teman Devano menggunakan pakaian olahraga semua yang artinya telah terjadi pertandingan basket tadi sehingga Devano harus dirawat di rumah sakit.
“Bukannya Tante sudah bilang kepada kalian, jauhi Devano, jauhi Devano! Kenapa kalian nggak ada yang paham juga? Sekarang apa yang terjadi sama anak Tane sehingga terjadi kayak gini? Jelaskan semuanya kepada Tante dan jangan ada satu hal pun yang ditutup-tutupi sama sekali!”
Semua yang ada di sana pun menundukkan wajah mereka, rasa bersalah merayap di hati mereka.
Merasa bersalah bukan karena adanya hal yang bersangkutan dengan mamanya Devano. Namun lebih kepada Devano secara pribadi. Mereka merasa menjadi sahabat yang kurang baik sama sekali.
“Maafkan kami, Tan. Tadi Devano ngehubungi kami secara serentak, karena dia ada tantangan main basket ama salah satu temen sekolahnya. Jadi kami ngebantu Devano untuk jadi tim Devano. Kemudian ada satu insiden yang ngebuat cidera di lengan Devano kambuh lagi, dan Devano tetep maksain main hingga pada akhirnya …” kata Gilbert terhenti. Ia bahkan harus menghirup banyak oksigen agar bisa lancar berbicara sekarang.
“Pada akhirnya, ada bola yang mengenai kepala Devano. Bola itu lumayan keras, jadi Devano … Devano pingsan, Tan.”
__ADS_1
“Apa-apaan itu? Sampai ada bola yang mengenai Devano dan di lapangan sebanyak itu apakah nggak ada yang melihat?”
“Tan, kami—“
“Sudah, cukup! Keluar kalian semuanya dan pergi sana! Jangan pernah datang lagi di sini, jangan pernah ganggu anak Tante dan berhenti mengijuti anak Tante terus! Karena kalian, Devano harus dirawat di rumah sakit, ia harus menanggung semuanya sementara perusahaan sedang membutuhkannya sekarang ini.”
“Tan, Devan masih SMA.” Hanung pun akhirnya bersuara.
Bagaimana tidak, dia merasa jika mamanya Devano sudah begitu sangat keterlaluan dan melampaui batas kesabaran manusia pada umumnya, di sini Devano sedang sakit. Tapi mamanya masih saja memikirkan masalah perusahaan dalam kondisi Devano benar-benar sangat memprihatinkan sekali.
“Seharusnya Tante itu ngurusin kondisinya Devan, kondisi fisik dan mental. Tante nggak tahu gimana kondisi mentalnya Devan setelah Om meninggal. Devan benar-benar tertekan, Devan benar-benar Tante tekan kayak gini itu nggak baik buat mental dia, masa depan Devan pribadi sendiri, cita-cita Devan sendiri dan juga apa yang begitu Devan inginkan, bahkan hobi dan sahabat Devan pun Tante atur semuanya. Apakah Tante pikir semuanya akan baik-baik saja kayak gini, Tan? Kasihan banget Devan, Tan. Dia hanya ingin bahagia. Lebih dari itu juga adalah di perusahaan pun sudah ada pemimpinnya kan, Tan. Ada banyak direktur-direktur yang memiliki jam terbang tinggi dan lulusan tinggi juga yang ngurus sampai sana. Jadi gimana Devan yang masih anak bau kencur, yang pendidikannya aja baru SMA harus Tante paksa buat ikut nimbrung dalam masalah perusahaan yang semuanya orang dewasa. Kami tahu kok kalau emang Devan ini anak jenius, jenius banget emang. Tapi ini adalah masalah besar, Tan. Masalah perusahaan.”
“Kok bisa, Tan?”
“Entahlah, permainan mereka sungguh licik. Mereka tahu Tante nggak paham masalah bisnis dan saham. Tante mau tanya siapa jika kenyataannya semua sahabat baik papanya Devan nggak ada yang bisa dipercaya. Tante hanya percaya sama Devan. Tante nggak mengharap agar Devan mengusai perusahaan itu, sebab Tante tahu pemilik saham pun nggak hanya papanya Devan. Hanya saja masalahnya adalah mereka begitu licik dan picik, itulah mengapa kenapa Tante nggak mau kalau sampai saat Devan dewasa nanti, saham papanya habis. Lalu, Devan dapat apa? Itu adalah usaha keras papanya, perusahaan itu dirintis oleh kakeknya Devan mulai dari enol. Jadi bagaimana bisa Tante akan diam saja melihat semua kejahatan itu langsung berusaha menyingkirkan sosok yang udah mengurus semuanya dari bawah tentu saja. Siapa yang nggak akan menjadi baik? Yang nggak akan pernah terpikirkan oleh siapa pun.”
Semuanya pun langsung diam, tentu saja hal ini adalah hal yang sangat miris. Posisinya keluarga Devano hanya memiliki Devano, satu-satunya penerus dari keluarganya. Tidak ada yang lain dan segala hal yang ada, tentu aja ini adalah hal yang tidak bisa dibayangkan para sahabat Devano.
“Maafin kami, Tan. Kami sungguh nggak berpikir sampai sana. Kami hanya percaya kalau semuanya akan menjadi baik dan berpikir dengan segala cara yang ada. Kami adalah satu kesatuan, kami adalah anak kecil yang mungkin pikiran kami nggak akan pernah sejauh itu.”
__ADS_1
“Itulah sebabnya, Devano nggak punya waktu buat main-main. Dia harus segera menjadi yang pantas ngurus perusahaan.”
Ayla yang sedari tadi duduk manis mendengar percakapan itu pun hanya bisa diam, sungguh dia sama sekali tidak menyangka jika keluarga Devano menjadi sepelik ini. Ayla menundukkan wajahnya dalam-dalam, ternyata masalah keluarganya adalah masalah yang amat cukup pelik, tapi kenyataannya ada masalah lain yang jauh lebih pelik dibandingkan masalah keluarganya. Yaitu masalah keluarga Devano.
Pasti begitu banyak hal yang dipikirkan Devano sekarang, dan kini siapa yang akan diharapkan oleh Devano dengan semuanya. Tidak ada, mereka semuanya hanya berharap dalam kesatuan yang tidak bisa dipikirkan siapa-siapa tentu saja.
“Kami berusaha semaksimal mungkin buat ngedukung Devan, sekarang setelah tahu Devan kayak gini kondisinya kami bisa ngebantu apa pun asalkan Tante ngomong, kami siap, Tan.”
Mamanya Devano lantas melirik Ayla, kemudian dia mendengus kesal. Ini saja adalah hal yang janggal jika dalam tim basket ada satu cewek di sana.
“Siapa dia? Apakah tim basket ada anak perempuannya juga?” tanya mamanya Devano.
Sadar jika mamanya Devano menanyakan dirinya, Ayla pun langsung bergegas bangkit dan memperkenalkan diri.
“Perkenalkan, Tan. Namaku Ayla, aku teman sekolah Devano. Tadi aku—“
“Kamu pacarnya Devano?” tebak mamanya Devano.
Ayla diam, dia bahkan tidak berano mengatakan apa pun juga sebagai jawaban atas ini semuanya.
__ADS_1
“Kamu tahu, sampai kapan pun Devan nggak boleh mikirin pacaran, dia harus fokus dengan karirnya dan perusahaan papanya.”