
Aroma yang menyeruakkan bau tanah pertanda turunnya hujan pertama di musim ini semalam. Embun Yang bergelayut manja di ujung dedaunan dan membasahi tubuh rumput liar. Genangan air memenuhi lubang-lubang jalanan tak beraspal. Hamparan padi berwarna hijau di sebagian tempat dan juga menguning di sebagian tempat yang lain. Membentuk sebuah kotak yang tersusun rapi menurun. Pemandangan pedesaan yang cukup bisa dikatakan asri dan siap memanjakan mata para pengunjung.
Dari kejauhan tampak dua orang anak sedang sibuk bermain dan berlarian diantara tumpukan jerami di tengah sawah. Salah satunya membawa sebuah wadah berbentuk cekung nan besar. Sedangkan yang lain hanya berbekal sebilah celurit kecil Yang tak terlalu tajam. Bisa dikatakan itu hanyalah sebuah celurit mainan.
Dialah Arinal Haque, perempuan kecil yang masih duduk di bangku kelas empat sekolah Dasar. Berambut panjang lebat nan legam. Bermata bulat Yang dihiasi oleh bulu mata lentik. Anak lain Yang saat itu bersamanya adalah Firman. Saudara jauh Yang umurnya dua tahun lebih tua diatasnya.
“Mas! Ini disini ada banyak kayaknya!” seru Arin penuh semangat. Penampilannya Yang sedikit kumal menandakan bahwa ia belum mandi. Sepagi itu memilih pergi ke sawah bersama sahabat sekaligus saudara jauhnya. Kebetulan hari itu merupakan hari libur sekolah bagi mereka berdua.
“Dimana?” tanya Firman sambil melangkah menuju ke arah Arin Dan juga tumpukan jerami Yang tadinya ditunjuk oleh Arin.
“Ini loh mas, di dalam tumpukan jerami Yang ini.” Jawab Arin sambil menunjuk sebuah tumpukan Yang lumayan besar dibandingkan dengan tumpukan jerami lain yang ada disekitarnya.
“Coba kamu buka!” perintah Firman pada Arin.
“Gak mau ah, aku takut!” jawab Arin cepat. Ia malah memilih melangkah sedikit jauh dari tumpukan jerami Yang ditunjuk olehnya barusan.
“Takut apa sih dek?” tanya Firman sambil memulai aksinya menyingkap jerami dengan celurit kecil di tangannya.
Benar saja, dengan sekali sibakan Firman dibuat takjub dan juga senang. Tampak didalamnya berjejer beberapa jamur yang lumayan besar. Jamur jerami merupakan satu dari sekian jenis jamur yang bisa dikonsumsi oleh manusia. Jamur jenis ini biasa disebut jamur merang. Jamur merang merupakan satu dari spesies jamur yang memiliki gizi tinggi. Sehingga banyak orang yang mengolahnya menjadi makan lezat.
“Aku takut ada kaki seribu.” Jawab Arin menjelaskan alasan yang menjadi katakutannya. “Kata teman-teman, kaki seribu itu kalau gigit orang bisa membuat sakit. Kalau udah sakit, katanya gak ada obatnya loh mas! Obatnya hanya bulan dan Bintang doang yang bisa menyembuhkan,” ujar Arin melanjutkan penjelasan dari alasannya barusan. Mendengar hal itu sontak membuat Firman terkejut dan tertawa terpingkal-pingkal. Ia tak kuasa menahan tawa yang begitu saja keluar dari mulut kecilnya. Sambil memegangi perutnya dengan tangan kanan.
“Ish, apaan sih? Gak lucu tauk! Ari takut beneran.” Arin sedikit kesal dengan respon Firman yang tak menanggapi serius ketakutannya. Bukannya malah menenangkan hatinya yang sedang khawatir, Firman malah menertawakan penjelasannya.
“Ya ampun dek! Mana ada bulan dan Bintang bisa dijadikan obat?” tanya Firman sedikit meledek. “Lagian siapa juga yang bisa ngambil?”
“Ya, itu kan kata teman-teman mas! Aku hanya mencoba memberitahu kamu. Awas loh ya! Kamu beneran kena gigit kaki seribu!” Ujar Arin serius sambil menakut-nakuti Firman.
“Ah, mas gak takut tuh! Mana ada?” Firman memilih sibuk memetik jamur yang tumbuh lebat di dalam tumpukan jerami yang barusan ia buka. “Cerita ngawur kayak gitu kamu percaya dek!” serunya pada Arin yang masih memilih menjauh dari tempat ia berada.
“Sini dek! Bantuin ngambil jamurnya! Ini lumayan banyak loh, masak mas harus mengambilnya sendiri?” perintahnya sedikit memaksa Arin melawan katakutannya. “Awas ya! Entar kamu juga ikutan makan jamurnya!” perintahnya lagi dengan nada sedikit mengancam.
Dengan langkah yang sedikit ragu dan penuh perasaan was-was. Arin perlahan maju kearah Firman berada. Beberapa detik kemudian setelah ia tepat berada di samping Firman. Sebuah ide yang sedikit iseng tiba-tiba terpikir dalam benak Firman. Ia segera mencari binatang kecil berwarna coklat yang memiliki kaki banyak di antara tumpukan jerami yang sejak tadi ia ambil jamur-jamurnya. Setelah menemukan satu, segera Ia genggam dalam tangan sebelah kiri dengan sigap.
“Dek! Tangan kamu kenapa?” ujar Firman dengan nada yang penuh kekhawatiran. Padahal itu hanya akal-akalannya saja dalam melaksanakan misi yang sedang ada di dalam pikirannya.
“Emang kenapa tanganku?” jawab Arin sambil mengangkat kedua tangannya dan memperhatikan dengan membolak-balik kedua telapaknya.
“Sini deh mas liat dulu! Kayaknya ada sesuatu barusan!” desak Firman penuh sandiwara.
“Apaan sih? Gak ada apa-apa kok!” sekali lagi Arin mengecek kembali kedua telapak tangan yang memang tidak ada apa-apa disana.
“Ya ampun, sini dulu deh! Aku kan pengen liat dek! Soalnya aku barusan liat sesuatu menghampiri tanganmu!” lagi-lagi Firman setengah memaksa Arin menunjukkan tangannya. Arin dengan polosnya menyodorkan kedua tangannya tepat di depan wajah Firman seraya membuka lebar kedua telapaknya.
Melihat hal itu, Firman dengan segera meletakkan kaki seribu yang ukurannya lumayan besar di telapak tangan Arin. Arin yang sedari tadi tidak sadar bahwa sebenarnya ia sedang dikerjai oleh Firman reflek terkejut dan menjerit dengan keras. Segera Ia lemparkan binatang yang menurutnya paling menjijikkan di muka bumi ini. Tidak hanya itu, ia juga reflek menangis seketika itu juga.
__ADS_1
“Mas Firman jahat!” ujarnya sesaat setelah akhirnya ia memilih berlari pergi dari hadapan Firman.
Bukannya minta maaf ataupun menyesal, Firman malah memilih tertawa pada sikap Arin yang menurutnya lucu.
Keesokan harinya, Firman mencari Arin yang biasanya berangkat sekolah bersama. Namun pagi ini saat ia menjemputnya di rumah dengan sepeda ontelnya. Ia tak menemukan Arin melainkan Nenek Aminah yang sedang sibuk mengurus bunga-bunga kesayangannya. Menurut Nenek, Arin sengaja berangkat duluan minta anter Pak Lukman. Tukang kebun di rumah nenek Arin. Sepertinya Arin masih marah dengan kejadian kemaren pagi di sawah. Wajar saja ia marah dengan tingkah laku usil Firman. Apalagi Firman tidak datang untuk sekedar membujuk atau meminta maaf kepada Arin.
Di sekolah Ia langsung mencari Arin ke kelasnya. Setelah sampai di sana ia menemukan Arin yang saat itu sedang duduk di bangku deretan nomer tiga sambil memegang sebuah pensil ditangannya kanannya dan sebuah alat rautan di tangan kiri. Ia sangat fokus meraut pensil kesayangannya. Sehingga tidak sadar bahwa ada seseorang yang dari tadi memperhatikan dan juga menghampirinya.
“Arin!” sapa Firman sambil menggertak meja yang ada dihadapan Arin. Arin kaget dan langsung mengangkat wajahnya. Melihat bahwa itu Firman Ia langsung menautkan kedua alisnya dan berpaling ke arah lain. Tanpa menghiraukan Firman yang tersenyum manis ke arahnya.
“Hei, kok tadi berangkat duluan?” tanya Firman.
Arin diam tak menjawab. Masih sibuk dengan rautan pensil ditangannya.
“Arin!” panggil Firman sekali lagi.
Bukannya menjawab yang dipanggil malah memilih beranjak pergi melewati Firman yang masih berharap jawaban dari sapaannya.
Melihat tingkah Arin, Firman akhirnya mengekori dari belakang.
“Iya deh. Mas minta maaf!” ujar Firman sambil berjalan mendahului Arin dan berbalik menghadap ke arah Arin. Ia mengucapkan Kalimat itu sambil memegangi kedua telinganya.
Sadar bahwa Firman menghadang jalannya. Arin memilih berhenti dan memandang wajah Firman.
Arin menghela nafas berat.
Mendengar pertanyaan itu Firman sedikit mengernyitkan keningnya dan berpikir.
“Hantu!” jawabnya singkat.
“Selain itu!” ucap Arin sedikit kesal.
Terlihat Firman yang mulai memasang wajah lebih serius dari sebelumnya.
“Tikus!”
“Selain itu!” seru Arin mulai agak.meninggikan suaranya karena semakin kesal.
“Apa lagi yah?” ucap Firman seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Gak tau aku dek! Aku taunya dua itu aja!”
“Ok, aku kasik tau ya. Yang nomer tiga itu ya kaki seribu! Dan mas dengan teganya nakut-nakutin aku pake binatang itu!”
“Ya, aku kan gak tau dek! Minta maaf ya?” tanya Firman sambil menyatukan kedua telapak tangannya.
“Gak!” jawab Arin dan menepis tangan Firman. Ia lagi-lagi berjalan melewati Firman yang masih berdiri.
__ADS_1
Firman tak kenal kata menyerah. Ia tetap mengekori Arin dari belakang.
“Oh, aku punya sesuatu loh buat kamu!” ujar Firman sedikit memancing rasa penasaran Arin.
Arin tetap diam dan tak menghiraukan ucapan Firman.
“OK, kalau kamu gak mau. Padahal ini adalah hal yang sangat cantik dan kamu pasti menyukainya.”
“Bodo’ aku gak peduli!” ucap Arin sambil mencibir.
“Beneran nih? Awas nyesel yah! Aku hanya punya satu loh. Dan ini hanya satu-satunya di dunia saat ini.”
“Gak penting!”
“OK, ngambek aja terus. Aku sih gak mau ambil pusing. Temenku banyak.” Firman mulai sedikit menggertak.
Arin berpaling dan manghampiri Firman. Kini wajah mereka sampai berdekatan.
“Mana?” tanya Arin sambil menyodorkan telapak tangannya.
“Katanya gak penting?”
“Uh, ya udah kalau gak niat ngasik!” sungut Arin semakin kesal karena merasa dipermainkan.
“Eh, eh, eh, tunggu dulu!” Firman meraih tangan Arin yang hampir berlalu pergi.
“Ini!” Ujar Firman seraya meletakkan sesuatu dalam genggaman tangan Arin.
Arin membuka genggaman tangannya dan melihat apa yang ada disana.
“Wah! Ini?” ucapnya takjub setengah tak percaya. Sebuah kalung dengan liontin berbentuk mermaid. Karakter kartun yang paling disukai Arin. Liontin itu terbuat dari Clay. Tampak cantik dan unik. Terlihat seberapa besar usaha yang telah dilakukan pembuatnya. Arin menatap penuh haru pada Firman.
“Itu aku yang membuatnya sendiri dengan tanganku.” Ucap Firman membanggakan diri karena telah berhasil membuat kalung secantik itu.
“Suka?” tanya Firman memastikan bahwa usahanya tidak sia-sia.
“Suka banget! Makasih!” Arin tersenyum bahagia.
“Jadi aku dimaafin kan?” tanya Firman sekali lagi.
Bukannya menjawab. Arin malah melangkah pergi dengan senyum kemenangannya.
Begitulah kehidupan yang terjadi diantara keduanya. Persahabatan yang terkadang sesekali dihiasi oleh pertengkaran tetap tak menjadikan keduanya bermusuhan.
Hingga suatu hari sebuah peristiwa penting memisahkan persahabatan mereka. Perceraian kedua orang tua Arin membuatnya harus ikut mamanya ke kota lain. Ia dipaksa berpisah dari papa maupun nenek kesayangannya di desa. Arin tak mengerti mengapa kedua orangtuanya memilih berpisah.
__ADS_1
Arin kecil hanya bisa merasakan kesedihan dan juga perasaan kehilangan. Namun ia tak pernah berani bertanya tentang apa yang sesungguhnya terjadi. Ia hanya bisa menangis sendirian dan merasakan kesedihan itu seorang diri. Tanpa teman yang bisa diajak berbagi seperti Firman.