
Para peserta OSCAR sudah mulai berkumpul kembali ke halaman kampus. Masing-masing berbaris sesuai dengan deretan kelompoknya. Tak butuh waktu lama bagi Arin menemukan tempat dimana kelompoknya berada. Terlihat tangan Nabila melambai kearahnya. Memberi kode agar Arin segera datang menghampirinya. Arin berjalan sedikit lebih cepat menuju ke arah Nabila berada.
“Udah makan?” tanya Nabila pada Arin.
“Belum,” jawab Arin lesu.
“Loh? Barusan kamu dari mana?”
“Aku udah ke kantin dan pesan makanan. Pas udah mau makan ada beberapa kejadian yang membuatku menjadi kehilangan nafsu makanku, “
“Emang kejadian apa?” tanya Nabila heran. Terlihat jelas bagaimana Jawaban Arin barusan membuatnya sedikit bingung.
“Ada lah, ntar kapan-kapan kuceritakan.”
“Lah terus, gimana kalau entar kamu Lapar? Ini gak bakalan ada sesi istirahat lagi loh sampe sore.”
“Ya ditahan aja,” jawab Arin pasrah.
“Duh, semoga aja kamu gak pingsan ya! Soalnya setelah ini kita bakalan outbond di luar ruangan. Kamu tau sendiri kan? Yang namanya outbond itu seperti apa? Yah, lebih mirip semacam penyiksaan para senior untuk para junior gitu!”
“Ya tau lah! Dulu waktu SMA Udah pernah jadi pelaku begituan. Ngerjain adek-adek kelas yang masih pada polos. He he he.”
“Awas karma berlaku ya?”
“Pura-pura pingsan aja kali ya? Ntar kalo dah keterlaluan banget seniornya?” tanya Arin iseng.
“Eh, tapi kalau kita gak ikutan beginian jadi gak seru loh! Inikan melatih mental kita.” Jawab Nabila mantap.
“ehhem ehhem! Pada ongobrolin apaan ya? Boleh gabung? Kenalkan dong! Namaku Vivi. Nama lengkap Visenza putri andara.” Seseorang tiba-tiba ikutan nimbrung obrolan mereka. Sambil mengulurkan tangannya.
“Namaku Arina. Panggil aja Arin,” jawab Arin sambil membalas jabatan tangan Vivi.
“Aku Nabila. Mau dipanggil apa aja boleh. Asal jangan panggil belek ya!” Nabila mulai berkelakar dengan candaannya.
“Hush! Nabil jorok amat ih!” ujar Arin.
“Gak papa. Buat mencairkan suasana aja. Supaya gak terlalu tegang”. Ucap Vivi sambil tertawa lebar.
“Eh ini mana sih peserta lain kok belum pada ngumpul? Padahal udah lewat sepuluh menit loh, dari waktu yang ditentukan.” Nabila mencoba mencari topik baru dalam percakapan mereka bertiga.
“Iya nih, pengen cepetan dimulai. Supaya cepet-cepet selesai” Arin menambahkan pendapatnya.
Mereka pun asyik dalam dunia mereka bertiga.
Beberapa saat kemudian acara outbond dimulai.
Arin berharap semoga hari ini Ia lolos dari berbagai hukuman apapun. Dia melaksanakan semua hal sebaik mungkin. Supaya tidak sampai dihukum oleh senior Mitha, Firman dan yang lainnya. Namun harapannya itu menjadi pupus seketika. Saat tiba-tiba namanya di panggil di dalam salah satu daftar hitam peserta yang memiliki pelanggaran.
Dia tak menyangka bahwa namanya akan masuk dalam daftar itu. Entah pelanggaran apa yang membuatnya bisa masuk dalam kategori peserta yang saat ini harus maju menghadap kepada ketua BEM. Dengan langkah yang lunglai ia mengikuti arahan untuk segera menghadap bersama sepuluh peserta yang Lain dalam kategori pelanggaran yang sama.
“Kalian tau apa pelanggaran yang telah kalian lakukan?” teriak ketua BEM saat itu juga.
“gak tau senior” jawab sebagian orang. Sebagian yang lain memilih tetap diam.
“Kalian ngerasa membuat pelanggaran atau tidak?”
__ADS_1
Hening
Tiba-tiba salah seorang memberanikan diri untuk mengadakan pembelaan terhadap dirinya.
“Setau saya, saya tidak melakukan pelanggaran apapun senior!”
“Mana ada maling mau ngaku?” bentak senior BEM sinis.
Kata-kata itu membuat sepuluh peserta itu diam. Mereka tak berkutik. Bukan karena takut, namun terlebih karena tak mau berdebat panjang lebar. Mereka paham betul, jika seandainya saat itu mereka tetap bersikukuh merasa tak bersalah. Hal itu malah akan memperburuk keadaan. Bisa-bisa hukuman yang diberikan lebih parah dari yang diperkirakan.
“Siapa diantara kalian yang bernama Arinal Haque? “
Mendengar nama itu dipanggil, Arin segera menjawab sigap sambil mengacungkan tangan.
“Saya senior!”
“Tugas untuk kamu! Cari informasi mengenai orang yang bernama senior toxic. Jelaskan bagaimana Ia sampai dipanggil dengan nama demikian! Sekarang! Segera laksanakan! Jika kamu kembali dengan informasi yang salah. Atau kembali dengan tanpa membawa informasi apapun. Siap-siap saya hukum dengan hukuman yang tak akan pernah terbayangkan! “
“Hah?” Arin hanya bisa melongo, bukan karena tugasnya yang tidak jelas namun karena ancaman yang dikatakan Seniornya barusan.
“Cepat laksanakan!” ujarnya setengah membentak.
“Siap, kami laksanakan senior!”
Arin mondar mandir kesana kemari untuk mencari informasi mengenai siapa itu senior yang memiliki nama samaran Toxic dan kenapa sampai memiliki julukan demikian. Namun, tak satupun senior BEM membuka suara mengenai hal itu. Arin semakin dibuat bingung. Ia hampir putus asa.
Bukan hanya karena capek secara fisik. Namun kini perutnya yang Lapar sudah mulai meronta-ronta. Sesekali ia pegang perutnya yang sudah tidak bisa lagi diajak kompromi. Saat melihat jam tangan di pergelangan tangannya yang masih menunjukkan pukul tiga lewat tiga puluh menitan. Ia hanya bisa meringis dan mengumpat di dalam hatinya. Kenapa Ia tadi tidak menyempatkan makan walau hanya dua atau tiga suapan nasi. Akibatnya kini Ia menjadi semakin lapar. Apalagi ditambah harus mondar-mandir kesana kemari.
Hingga akhirnya Ia sudah tidak kuat lagi berjalan. Matanya juga sudah mulai berkunang-kunang. Kepalanya mendadak pusing. Pada akhirnya ia ambruk juga.
“Woi! Ini ada yang pingsan!” tampak seorang senior berteriak pada teman-temannya yang lain.
Mendengar hal itu beberapa orang datang menghampiri tubuh yang terkulai lemas dibawah itu.
Kebetulan sekali Firman termasuk salah satu orang yang berada di dekat tempat Arin pingsan. Menyadari hal itu, Firman langsung membopongnya menuju ruang UKS. Dengan langkah tergesa-gesa. Ia bawa tubuh itu menuju ruang UKS.
Sesampainya disana, Ia letakkan tubuh Arin diatas ranjang yang berkasur lumayan tebal. Tanpa. Pikir panjang ia membuka kotak obat yang didalamnya sudah disediakan berbagai macam obat. Ia ambil sebotol minyak kayu putih dan mengusapkannya di depan hidung Arin.
“Arin! Arin! Bangun hey! “
Arin masih belum berkutik. Ia masih terpejam dan tak bereaksi sama sekali.
Firman lagi-lagi menuangkan minyak kayu putih ke telapak tangannya dan menyodorkan ke depan hidung Arin. Seorang senior wanita masuk juga untuk membantu.
“Coba mana ku usapkan ke perutnya. Kamu lebih baik jangan disini dulu. Khawatir ntar malu orangnya”. Kata si senior wanita yang masuk barusan.
“Ok, ku serahkan sama kamu ya! Ntar kabari kalau udah siuman. Aku nunggu di luar sini.”
“Siap! Emang ini saudara kamu tah Fir?”
“Iya, dia adek sepupuku.”
“Oh pantesan kamu sigap gitu tadi membopongnya.”
Firman hanya tersenyum dan berlalu pergi dari dalam ruangan UKS.
__ADS_1
Terlihat senior wanita itu memubuhkan minyak telon ke bagian perut Arin. Selain itu ia juga mengoleskannya di bagian pelipis. Beberapa detik kemudian mata Arin yang terpejam mulai bergerak dan terbuka secara perlahan.
“Loh? Ini dimana?” tanya Arin setelah sadar.
“Ini di UKS. Kamu tadi pingsan. Ada keluhan? Sakit bagian mana gitu? “
“Gak ada sih! Hanya sedikit pusing dan..” ucapan Arin terhenti. Sambil tersenyum dia melanjutkan penjelasannya “Sepertinya aku lapar kak!”
“Loh? Kamu belum makan? “
“Belum. Dari tadi pagi belum makan nasi.”
“Ya ampun, pantesan kamu pingsan. Ya sudah, diam disini aja dulu. Istirahat yang nyaman. Aku carikan makan dulu ya?”
“Iya kak! Aku minta tolong ya! Maaf, sebelumnya kalau merepotkan, “
“Gak papa! Udah jadi tanggung jawab kami kok.”
“Oh ya kak! Tadi aku kesini dibopong ya? “
“Iya, tadi Firman yang gendong kamu.”
“Apa? Firman?” tanya Arin setengah terkejut.
“Iya, bukannya dia sepupu kamu?”
“Hmm.. Iya.” Jawab Arin ragu.
“Ya sudah aku minta tolong Firman aja ya? Buat beliin kamu makan?”
“Jangan kak!” reflek Arin melarang hal itu.
“Loh kenapa?”
“Emmm.. Aku gak enak sama dia” Arin mencoba mencari alasan terlogis.
“Udah dibikin enak aja! Katanya kalian saudara? Udah ah, biar perutmu cepet terisi dan tenagamu kembali lagi. Aku kabari Firman dulu ya!”
Senior itu segera bergegas keluar untuk menemui Firman yang sedari tadi menunggu diluar. Sedangkan Arin hanya bisa pasrah.
Melihat seseorang keluar, Firman segera bertanya bagaimana keadaan Arin.
“Gimana? Dia udah siuman?”
“Udah, barusan. Oh iya, kasihan dia pingsan gara-gara gak makan dari tadi pagi katanya. Kamu bisa kan belikan dia makan? “
Mendengar penjelasan temannya Firman terkejut.
“Gak makan? “
“Iya, sana gih buruan belikan makanan dulu. Biar dia istirahat dulu di dalam.”
“Ok, aku titip dia dulu ya? Jangan ditinggal sendirian.” Pinta Firman pada temannya.
“Santai aja. Aku bisa dipercaya kok.”
__ADS_1