Seratus Delapan Puluh Derajat

Seratus Delapan Puluh Derajat
Menerobos Hujan


__ADS_3

Mendengarkan penjelasan Firman Arin sebenarnya paham maksud dari perkataan sahabat masa kecilnya itu. Namun di dalam hati ia tidak terima. Ia kesal dan marah pada papanya. Ia tetap berpikir bahwa papanya lebih menyayangi Firman daripada dirinya.


Tiba-tiba suasana hatinya mulai berubah. Ia menjadi tidak nyaman dan ingin segera pergi dari tempat itu. Namun hal itu tak mungkin ia lakukan. Karena tadi, Ia sendiri yang menyetujui untuk berteduh disana hingga hujan reda. Sedangkan hujan masih saja turun begitu deras.


Arin memilih duduk di sofa dan meletakkan tasnya disana. Ia memperhatikan seluruh fasilitas yang ada di ruangan itu. Sangat berbeda dengan fasilitas yang ia miliki di tempat kosnya.


“Kamu mau ganti baju? Aku ada kemeja yang cocok dipakai cewek kayaknya.” Ucap Firman sedikit ragu dengan usulannya.


“Enggak! Gak usah. Bajuku basah dikit aja kok!” tolak Arin yang sebenarnya semakin kesal di dalam hatinya.


“Nanti kamu.masuk angin dek! Itu air hujan loh!” ujar Firman masih dengan penawarannya.


“Enggak! Aku mau handuk aja buat mengeringkan rambut aku.”


“Aku punya hair dryer! Tunggu ya, aku ambilkan di dalam.”


Arin hanya mengangguk sedikit dan mulai melepaskan jepit yang tadinya menghiasi rambutnya.


Tak lama kemudian Firman datang membawa hair dryer di tangannya dan segera mencari stop kontak. Setelah menemukan stop kontak di bawah televisi ia lalu menghubungkannya ke listrik. Hair dryer sudah mulai menyala saat ia mengetes tombol on off-nya. Terlihat normal dan berfungsi dengan baik, Ia lalu menyerahkannya pada Arin yang Masih duduk di sofa.


Arin juga langsung menerima dan mengeringkan rambutnya.


“Apa kamu mau mandi aja dulu? Tanya Firman terlihat mulai khawatir.


“Enggak. Entar di kosanku aja!” jawab Arin sambil terus mengeringkan rambutnya.


“Ya udah! Aku buatkan teh hangat dulu ya? Atau kamu mau wedang jahe? Supaya menghangatkan badanmu.” Firman menawarkan minuman yang cocok di minum saat lagi kehujanan seperti demikian. Ia begitu khawatir Arin akan masuk angin.

__ADS_1


“Wedang jahe aja! Tapi, jangan terlalu manis!” perintah Arin pada Firman.


Firman mengangguk dan segera menuju ke arah dapur.


Setelah berhasil mengeringkan rambutnya. Arin mengamati seluruh ruangan dan juga fasilitas yang ada di kontrakan itu. Di dalam hati Arin menjadi semakin iri melihat betapa lengkapnya fasilitas yang ada di rumah kecil namun mewah itu. Ia benar-benar tidak mengerti kenapa papanya lebih memilih memberikan hal terbaik itu untuk Firman daripada memberikan kepadanya. Padahal dialah anak kandungnya. Sementara Firman dalam pikiran Arin hanyalah anak dari selingkuhan papanya.


Ingin rasanya ia menelpon mamanya dan menumpahkan hal yang ada di dalam pikirannya saat ini. Ia ingin segera bercerita pada mamanya tentang perbedaan perlakuan papanya pada dirinya dan Firman.


“Ini tehnya!” ucap Firman saat melihat Atin memandangi sebuah foto lama dirinya dan ibunya yang ada di lemari hias di sebelah televisi.


“Tante apa kabar? Lama gak ketemu ibumu mas! Kalau kamu di Jakarta. Ibumu tinggal sama siapa?” tanya Arin  penuh dusta. Padahal ia sangat malas membahas tentang ibu Firman. Namun pertanyaan itu sengaja  ia ciptakan untuk menyelidiki fakta bahwa papanya memang benar-benar selingkuh dengan ibu Firman.


“Ibu sekarang sendirian tanpa aku Rin! Ingin sekali rasanya sering pulang. Tapi jarak terlalu jauh.” Jawab Firman dengan nada yang sedikit menyiratkan kesedihan dalam dirimya.


“Sejak kamu kuliah disini. Ibumu pernah kesini?” tanya Arin penasaran.


“Sering lah! Kalau lagi kangen aku. Ibu biasanya diantar om Irawan ke sini!” ucap Firman santai.


“Nginep enggak?” tanya Arin lagi-lagi memancing penjelasan Firman.


“Nginep dong! Kadang satu minggu! Setelah itu ia akan dijemput lagi oleh papamu. “ jawab Firman tanpa mengetahui bahwa pertanyaan Arin sebenarnya adalah pertanyaan jebakan. Ada maksud tersembunyi di balik semua pertanyaannya itu.


“Papa jemput sendiri?” lagi-lagi Arin mengeluarkan pertanyaan yang ingin mengorek informasi tentang hubungan keduanya.


“Iya, papamu mana pernah pake sopir? Kemana-mana beliau selalu nyetir sendiri.”


Jika papanya menjemputnya sendiri maka sangat meyakinkan bahwa mereka akan memiliki banyak kesempatan untuk berduaan. Arin semakin sakit hati mendengar jawaban Firman. Ia segera melihat ke luar. Berharap hujan benar-benar berhenti dan ia ingin segera pulang ke kosan.

__ADS_1


“Kenapa nengok keluar? Ngecek hujan? Kayaknya bakalan awet deh!”


Arin tak menjawab karena di dalam hatinya semakin bergemuruh perasaan bencinya pada ibu Firman. Begitu juga perasaan bencinya kepada Firman yang semakin besar. Di dalam hati ia menyumpahi mereka berdua. Ia bertekad benar-benar akan membuat Firman kehilangan kepercayaan papanya. Entah dengan cara apa dan bagaimana. Ia harus memikirkannya mulai sekarang.


Rasa dendam di dalam dadanya semakin membuncah dan seakan tak bisa terbendung lagi.


“Aku mau pulang!” ucapnya dengan kemarahan yang tertahan.


“Loh? Di luar masih hujan!” Firman berusaha menahan Arin.


“Gak papa! Aku khawatir kemalaman kalo nunggu hujan reda. Kamu punya jas hujan kan? Aku pinjam!” ucap Arin dengan ekspresi datarnya.


Melihat perubahan di wajah Arin. Firman tak ingin berpikiran negatif.  Ia tak ingin menciptakan masalah lagi bagi mereka berdua. Sebenarnya Ia bingung dengan perubahan raut wajah Arin yang begitu  tiba-tiba. Namun ia tak berani untuk bertanya. Ia memilih menuruti perintah Arin.


“Aku ada satu! Tapi, gak papa pake kamu. Entar aku hujan-hujanan aja!”


“ Kalau begitu, Aku mau pesan taxi Online saja!” ujar Arin. Perkataannya membuat Firman sedikit terkejut.


“Enggak jangan pake taxi! Aku aja yang antar kamu. Aku khawatir kalau malam-malam kayak gini kamu naik taxi sendirian.” Firman mencoba melarang Arin.


Tanpa berbasa-basi lagi Arin berdiri dari duduknya dan hendak membuka pintu keluar.


“Tunggu dek! Ini pake dulu jas hujannya! Entar kamu masuk angin dan sakit.” Dengan terburu-buru Firman mencari jas hujan di tempat biasa ia meletakkannya. Setelah menemukan benda itu Ia segera memberikan kepada Arin.


Arin menerimanya dan segera memakainya. Ia tak ingin terlihat bahwa saat ini ia sedang marah. Ia sebisa mungkin menahan bulir-bulir bening yang sebentar lagi akan keluar dari kedua kelopak matanya. Arin memilih tak mengeluarkan kata sedikitpun dan seperti tergesa-gesa membuka pintu rumah Firman.


Di luar hujan masih saja turun dengan derasnya. Ia tak peduli lagi dan menerobos keluar melawan hujan. Firman juga segera berlari menyusulnya.

__ADS_1


Firman mengeluarkan motornya dan menghidupkannya tepat di depan Arin. Setelah motor itu menyala Arin tanpa banyak berpikir lagi langsung naik dan memeluk erat pinggang Firman.


Motor itupun melaju cepat melawan derasnya air hujan. Sementara Firman begitu basah dan kedinginan. Ia memilih berkorban untuk sesrorang yang sangat ia sayangi itu. Ia tak peduli lagi apakah setelah itu dirinya akan baik-baik saja atau justru sebaliknya.


__ADS_2