
Mendengar suara pintu ruangan terbuka. Arin yang awalnya merebahkan diri demi menghilangkan kepenatan. Reflek terbangun dan memperbaiki selimut yang menutupi setengah dari badannya. Ia segera melihat ke arah pintu yang terbuka. Begitu tau bahwa itu Firman yang datang iapun memalingkan wajahnya acuh.
“Arin ini aku belikan nasi. Entah kamu suka atau tidak sama menunya. Saran aku sebaiknya kamu makan dulu meski sedikit.”
“Taruk aja disitu,” jawab Arin sambil membelakangi Firman.
“Arin nanti kamu pulang sama siapa? Apa perlu kubayar ke kosan?”
“Gak usah! Aku masih bisa jalan sendiri!” jawabnya dengan nada yang sedikit jutek.
“Tapi, gimana kalau entar kamu pingsan lagi dijalan?”
“Gak usah ngurusin aku! Aku bisa sendiri! Ntar aku pulang pake taxi online!”
“Oh ya sudah, kalau begitu aku bisa tenang.”
“Apa perlu kupesankan sekarang?”
“gak usah! Bisa gak sih? Gak usah ikut campur dalam kehidupan aku? Bisa gak sih berlagak seolah kita gak kenal? Apalagi sampe bilang kalo kita sepupuan. Apa maksudnya coba?”
“Arin, aku ngelakuin itu biar orang-orang gak salah paham. Soalnya aku tadi yang bopong kamu kesini!”
“Alasan yang klise”
“Arin, om Irawan sendiri yang minta tolong sama aku buat jagain kamu.”
“Udah ah! Berisik tau enggak? Sana gih cepet keluar! Yang ada aku malah gak nafsu makan lagi entar.” Arin masih bertahan dengan sikap sinisnya.
“Arin, aku-“
“Plise cepetan keluar! Kamu punya telinga kan? Ngerti bahasa indonesia kan? Kalo enggak, aku lempar makanan ini ke arah kamu! “
“Arin kenapa kamu jadi berubah sedrastis ini? Apa sih sebenarnya salahku? Kenapa kamu sebenci itu sama aku?” Firman bertanya sambil Memelas. “Coba kamu jelaskan! Apa ada ulah aku yang bikin kamu gak nyaman? Atau Bikin kamu sakit hati?”
“Gak usah banyak nanya! Gak perlu penjelasan juga! Kesalahan kamu sama aku banyak! Pikir sendiri!”
Mendengar perkataan Arin barusan. Firman hanya bisa tertunduk dan mencoba menghindari perseteruan yang gak akan ada selesainya. Dia yakin bahwa semakin lama Ia disana. Emosi Arin akan semakin tinggi. Bisa-bisa Arin tidak mau makan lagi seperti tadi pagi di kantin. Rasa Khawatirnya terhadap Arin begitu besar. Hingga ia memutuskan untuk keluar saja. Menunggu emosi Arin stabil. Mungkin besok, mungkin lusa, atau mungkin selamanya Arin tetap tidak akan menerima keberadaannya.
Suasana di luar ruangan begitu ramai. Seluruh peserta OSCAR masih sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Firman melirik ke arah jam tangan yang ada di pergelangan tangannya. Jam menunjukkan bahwa sekitar lima menit lagi kegiatan Oscar harus segera berakhir. Menyadari hal itu Ia berlari menuju lapangan untuk mengikuti arahan dari Ketua OSCAR.
“Senior! Keadaan Arin bagaimana?” tanya Nabila pada Firman. Ia segera berlari kecil menuju ke arah Firman berdiri.
“Udah siuman. Sepertinya sekarang lagi makan.”
“Senior kenal dengan Arin? Kok tadi pada rame membicarakan senior yang buru-buru membopong Arin pergi?” Nabila bertanya karena penasaran. Apalagi Ia sudah mulai merasa kagum sama Firman. Sejak saat pertama kali melihat Firman memperkenalkan diri jadi ketua ruang dalam kelompoknya.
__ADS_1
“Iya, saya kenal” jawab Firman singkat. Bisa minta tolong enggak sama kamu?”
“Bisa. Minta tolong apa ya? “ tanya Nabila sedikit salah tingkah.
“Sepertimya kamu satu-satunya peserta yang lumayan dekat dengannya. Bisa kan nanti menemani dia pulang ke kosannya?”
“Bisa kak. Memang sekarang Arinnya mana?”
“Dia ada di ruang UKS. Beneran ya! Saya minta tolong banget. Soalnya kalau dia pulang sendirian, khawatir pingsan atau gimana-gimana di jalan.”
“Siap senior!” jawab Nabila penuh semangat. Ia merasa beruntung bahwa Firman bisa meminta sesuatu padanya. Meski permintaannya adalah untuk menjaga Arin.
“Oh ya, satu lagi. Kalau lagi tidak dalam acara orientasi. Panggil saya kak Firman saja ya! Jangan terlalu formal. Kalau boleh tau nama kamu siapa?”
“Nabila kak.”
“OK, Nabila. Sebelumnya terimakasih ya!”
“Iya sama-sama.”
Firman melangkah pergi dari hadapan Nabila. Sedangkan Nabila hanya bisa menatapnya dengan rasa kagum. Setelah Firman hilang dari pandangannya. Ia langsung mencari ruang UKS untuk menemui Arin.
Tidak cukup sulit untuk mencari ruang UKS bagi mahasiswa baru seperti Nabila. Dia bahkan tiidak perlu bertanya. Mungkin karna letak ruangan itu tidak terlalu ke dalam.
Sesampainya di ruangan yang ada tulisan UKS yang lengkap dengan gambar tanda plus yang lumayan besar. Nabila langsung membuka pintunya.
“Hai!” jawab Arin sambil tersenyum semringah. Ia senang ada Nabila menghampirinya.
“Kamu udah makan?”
“Udah, baru aja selesai. Kamu kok tau aku ada disini?”
“Ya taulah! Hampir seluruh peserta orientasi tau. Betapa heroiknya senior Firman menolong dan membopong kamu yang lagi pingsan. Beneran! Tadi tuh sempet geger banget. Secara gitu loh! Senior Firman.”
“Emang ada apa dengan dia? Kan wajar bantu peserta yang lagi pingsan? Masak mau dibiarkan?”
“Bukan masalah itunya Rin! Tapi aksi heroiknya itu yang bikin kagum. Apalagi dia kan termasuk senior yang cuek dan Gantengnya gak ada obat. Ngalahin Mark print tau enggak. Mirip sih menurut aku.”
“Apa? Ganteng gak ada obat? Istilah apaan tuh?” tanya Arin heran. “Dan mirip siapa tadi?”
“Mark print. Aktor asal Thailand kesukaanku.”
“Ngaco deh kamu!”
“Ya gak ngaco lah! Kalau aku ngaco, cewek-cewek lain juga pada ngaco dong berarti?”
__ADS_1
“Emang se famous itu kah dia di mata kamu?”
“Iya. Eh, kok bisa sih kamu kenal dia?”
“Dia kan sekampung sama aku.”
“Apa? Dia dari daerah yang sama dengan kamu? Berarti kalian udah lama kenal dong?”
“Iya lah, tetanggaan malah.”
“Oh pantesan dia khawatir banget dan nitip sama aku supaya nganterin kamu pulang.”
“Dia nitip sama kamu?”
“Iya, dia khawatir banget tau enggak. Beruntungnya kamu Rin! Aku kan juga pengen ada yang khawatirin aku kayak gitu.”
“Apaan sih! Bikin muak aja tau enggak? “
“Lah, kok muak?”
“Udah lah! Jangan bahas dia terus. Acaranya dah selesai kan?”
“Udah, ini aku bisa nyamperin kamu karena udah selesai. Coba kalau enggak? Mana bisa aku keluyuran begini? Kecuali kalau aku memang pengen di sanksi.”
“Hari ini kamu kena sanksi apa aja?”
“Huh! Jangan ditanya deh. Senior-senior itu udah pada resekl banget. Tampang aja yang ganteng dan cantik. Kelakuan mah udah kayak hantu semua. Bikin merinding!”
“Ha ha ha! Ampe merinding gitu?”
“Iya. Udah ah, kita pulang yuk! Aku anter kamu ke kosanmu. Sekalian main kesana.”
“Yuk! Nginep dikosanku gimana?” ajak Arin pada Nabila.
“Entar aja deh kuputuskan kalo dah nyampe sana.”
Merekapun membereskan semua keperluan selama orientasi dan memilih langsung pulang tanpa keluyuran. Hari yang cukup melelahkan dan solusi terbaik adalah memilih segera pulang ke tempat kost dan tidur semalaman. Besok masih ada hari berat yang akan mereka lalui.
__ADS_1