
“Mama ingin mengingatkan kamu sama janji kamu terhadap mama!” Tante widya mengucapkan hal itu kepada Arin saat mereka berdua sedang menjalani treatment di Sebuah salon ternama.
Di ingatkan sperti itu Arin menjadi gugup dan tak tau harus menjawab apa.
“Kamu terlalu lelet! Mama malas kalau harus nunggu kamu!” ucap Widya melanjutkan ucapannya.
“Ma! Hal kayak gitu itu butuh persiapan yang matang ma! Gak bisa sembarangan!” akhirnya Arin mulai membuka suara.
Mendengar perkataan Arin mamanya hanya tersenyum mengejek.
“Kamu itu punya tekad enggak sih? Kalau kamu terlalu takut untuk melakukannya sendiri. Mama punya orang yang bisa melakukan hal itu untuk kamu!”
“Ma. Aku butuh waktu!” respon Arin saat mamanya berkata demikian.
“Kalau kamu terlalu lelet seperti ini. Maka semuanya akan terlambat Arin!” bentak mama Arin mencoba mengingatkan Arin. “Tapi. Itu semua terserah kamu! Kalau kamu memang menghendaki semua hal milik kamu jatuh ke tangan laki-laki itu. Its OK! Mama gak akan ikut campur!” ucap mamanya geram.
Mendengar hal itu Arin bagaikan tertampar dan segera sadar bahwa ia memang terlalu mengulur-ulur waktunya.
Saat Arin mencoba berpikir bagaimana dan apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Tiba-tiba seorang wanita cantik berpakaian sangat seksi menghampiri mereka berdua dan terlihat menyapa serta menunduk memberi hormat.
“Perkenal kan. Dia Alexandra! Orang suruhan mama!” ucap mama Arin sambil terus fokus pada perawatannya.
“Apa?” Arin tercengang mamanya memiliki kenalan cewek seperti dia.
“Kalau kamu masih tidak mau bertindak secepatnya. Mama akan menyuruh dia saja! Asalkan kamu tau. Alexa ini bisa saja melakukan aksinya dengan cara membunuh.”
Lagi-lagi Arin dibuat terkejut oleh perkataan mamanya.
“Jadi, kalau kamu memang sudah enggak sanggup. Biarkan dia yang akan melaksanakan tugas itu!” ancam mama Arin kepada Arin yang menurutnya terlalu membuang waktu untuk balas dendam terhadap Firman.
“Mama jangan gegabah ma!” Arin berkata demikian karena sudah mulai gugup. Ia khawatir mamanya benar-benar memerintah pembunuh bayaran untuk menyingkirkan Firman.
“Dia itu ahli dalam segala hal! Dan kerjanya selalu bersih tanpa jejak selama ini.” Ucap mama Arin.
__ADS_1
Orang yang bernama Alexa itu masih saja diam tanpa suara. Auranya memang sangat meyakinkan sebagai seorang pembunuh yang handal. Kali ini Arin benar-benar dibuat ketar-ketir lagi oleh mamanya. Ia mulai gugup dan khawatir. Jika memang akhirnya mamanya yang turun tangan sendiri. Ia yakin Firman akan benar-benar menghilang dari hidupnya.
“Ma! Jangan ma! Kasik aku kesempatan lagi! Aku janji akan melakukan rencanaku secepatnya.” Arin berusaha meyakinkan mamanya dengan rencananya sendiri.
“Baiklah! Mama kasik kamu kesempatan satu bulan saja!” ujar mama Widya memberikan waktu yang menurutnya lumayan lama. Namun bagi Arin justru sebaliknya.
“Apa ma? Hanya satu bulan?” tanya Arin semakin khawatir.
“Iya! Jika tidak. Biarkan Alexa yang melakukan pekerjaannya!” mama Arin mulai mengancam anak semata wayangnya.
Arin memejamkan matanya dan mencoba meyakinkan hatinya bahwa ia akan melakukannya sendiri.
“Iya ma! Arin janji!” ucap Arin mantap.
“Bagus! Alexa kamu bisa pergi sekarang. Lain kali jika nona Arin membutuhkanmu. Nanti aku yang akan menghubungimu!”
“Baik nyonya! Permisi nyonya!” ucap cewek yang bernama Alexa. Setelah menjawab seperti itu. Ia segera pergi entah kemana.
“Mama dimana kenal sama Alexa?” tanya Arin penasaran bagaimana mungkin mamanya memiliki hubungan dengan pembunuh bayaran.
“Iya ma! Iya!” jawab Arin semakin khawatir.
Arin mulai berpikir kembali bagaimana ia akan menjalankan rencananya selanjutnya. Ia tak mau jika memang benar-benar Alexa yang harus turun tangan langsung. Ia tak ingin mamanya terlibat pembunuhan. Ia juga tak ingin kehilangan Firman dengan cara itu. Jika memang ia harus menyingkirkan Firman. Ia akan melakukannya dengan caranya sendiri.
Sementara di rumah Firman. Ia semakin resah dengan sikap Arin kemaren malam. Ia banyak memikirkan semua hal yang sudah ia lakukan. Semua usahanya mendekati Arin tiba-tiba seakan sia-sia saja. Arin sepertinya akan membencinya kembali. Ia sangat khawatir Arin akan kembali menjauhinya. Semalaman ia tidak bisa tidur memikirkan hal itu.
Firman kini semakin yakin perasaannya terhadap Arin memang benar-benar perasaan cinta terhadap lawan jenis. Bukan sekedar kasih sayang seorang kakak terhadap adiknya. Ataupun kasih sayang seorang sahabat terhadap sahabat masa kecilnya
Firman merenungkan banyak hal. Ia mulai memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa mengungkapkan perasaannya yang sesungguhnya kepada Arin. Ia tak mau memendamnya seorang diri. Jika tidak, ia merasa bisa menjadi gila karena hal itu.
[ Dek, besok sore jangan lupa tes kedua ya!] isi pesan teks dari Firman membuat Arin semakin khawatir. Ia memilih tak menjawab pesan masuk itu.
Karena tak ada jawaban Firman berusaha menelpon Arin.
__ADS_1
Arin semakin dibuat panas dingin oleh panggilan telpon dari Firman. Ia yang masih berada di sebelah mamanya yang sama-sama menjalani perawatan dengan sigap menolak panggilan itu. Ia khawatir mamanya akan tau bahwa ia sebenarnya berhubungan baik dengan Firman.
“Siapa yang nelpon? Kenapa gak diangkat saja?” tanya Mama Arin mendengar beberapa kali ada panggilan masuk dan beebrapa kali juga Arin hanya menolaknya.
“Teman aku ma! aku lagi kesal ama dia!” jawab Arin gugup.
“Oh! Mama harap kamu tidak pernah memiliki dan menyimpan nomer Firman di handphonemu!” ucap mama Arin seakan curiga dengan panggilan itu.
Mendengar mamanya berkata demikian Arin menjadi semakin gugup dan berusaha mematikan saja ponselnya. Supaya Firman berhenti menelponnya terus menerus.
Firman yang tau bahwa kini Arin sudah menonaktifkan handphonenya menjadi semakin yakin bahwa Arin sedang berusaha menjauhinya. Ia benar-benar resah dan ingin rasanya pergi ke kosan Arin untuk berbicara dengannya. Namun hal itu ia urungkan. Karena ia tak mau Arin menjadi semakin membencinya.
Firman yang bingung akhirnya memutuskan keluar rumah dan pergi mencari angin segar. Ia mendatangi Alvian sahabat terbaiknya. Ia mengajak Alvian keluar dan mencari tempat pelampiasan atas semua kegalauannya. Ia juga menceritakan perihal yang terjadi antara dirinya dan Arin kepada Alvian.
Firman menumpahkan semua hal yang ada di dalam hatinya terhadap Alvian.
“Sedalam itu perasaan kamu sama dia bro?” tanya Alvian begitu mendengar curahan hati Firman terhadapnya.
Firman hanya terlihat mengangguk pasrah.
“Kamu harus ungkapin perasaan itu secepatnya bro! Sebelum kamu menjadi stress seorang diri!” perintah Alvian pada sahabatnya yang sedang galau itu.
“Masalahnya dia seakan membenciku lagi!” ucap Firman dengan raut wajahnya yang menyedihkan. “Aku takut dia akan semakin membenciku dan menjauhiku!” Firman melanjutkan ucapannya.
Alvian hanya tersenyum mendengar alasan Firman barusan.
“Kalau begitu. Kamu harus siap menderita seorang diri bro! Tapi, kalau kamu mengungkapkannya. Bagaiamanapun hasilnya nanti. Yang pasti ada aku yang akan menemani kamu. Jangan khawatir terluka. Jangan takut bro! Seorang lelaki sejati tidak akan takut jika itu menyangkut masalah hatinya!” ucap Alvian mencoba menyulut semangat Firman.
Mendengar hal itu. Firman sadar jika ia memang penakut dan pengecut. Ia tak mau menjadi seperti itu. Ia akhirnya bertekad akan mengungkapkan perasaannya kepada Arin. Tak peduli bagaimana akhirnya. Toh meskipun tidak seperti itu. Arin memang selalu membencinya.
__ADS_1