
Setelah Firman menelpon papa Arin dan memberitahukan keadaan yang terjadi sebenarnya. Awalnya pak Irawan sangat khawatir dan juga sedikit marah. Bahkan ia memerintah Firman untuk membawa Arin pulang saja. Tidak usah melanjutkan kegiatan kemah baktinya.
Firman yang sangat pintar dan juga cerdik mampu memberaikan sedikit pengertian dan juga mengendalikan amarah pak Irawan. Sehingga mereka berdua tetap boleh melanjutkan kegiatan itu asalkan dengan beberapa syarat.
Firman langsung menyetujui syarat yang sebenarnya sangat mudah baginya. Tentu saja syarat itu berkaitan dengan penjagaan ekstra dirinya terhadap Arin. Pak Irawan memerintah agar ia selalu mengawasi Arin dan harus fokus pada Arin saja.
Papa Arin juga melakukan panggilan video call langsung dengan Arin. Demi memastikan bahwa anak semata wayangnya memang benarl-benar baik-baik saja. Ia juga memberikan beberapa nasehat dan kepada Arin. Supaya lebih berhati-hati dan lebih mendengarkan Firman. Dan tentu saja peringatan untuk tidak boleh jauh-jauh dari Firman.
Arin mengangguk dan mengiyakan semua pesan papanya. Termasuk juga ia berjanji untuk selalu berada dalam jangkauan Firman.
Firman yang mendengar hal itu tentu hanya bisa tersenyum dan bangga. Begitu percayanya pak Irawan kepadanya sehingga semua yang berkaitan dengan Arin. Beliau pasrahkan semua kepada Firman.
“Jadi, ehm tentang tadi yang kita lakukan di-“ Firman merasa ragu untuk mengingatkan Arin peristiwa yang terjadi ketika mereka berdua terjebak di dalam jurang.
“Eh! Aku lapar! Boleh enggak aku makan?” tanya Arin berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia tau betul apa yang akan Firman katakan. Ia merasa malu jika membahas lagi masalah itu. Lebih tepatnya ia belum siap menerima kenyataan bahwa dirinya sudah melakukan hal tak seharusnya ia lakukan.
“Oh iya aku sampai lupa!” ucap Firman sangat khawatir. “Tunggu sebentar ya! Aku cari makan dulu!” ucap Firman sambil mengacak-ngacak rambut Arin. Arin pun hanya bisa mengangguk dan merasa nyaman dengan sikap Firman yang memperlakukannya demikian.
Firman dengan segera mencari makanan yang dapat ia beli di sekitar puskesmas. Untung saja ada warung nasi yang masih buka. Jika tidak ia harus pergi lebih jauh lagi untuk mencarinya. Karena untuk saat ini tidak mungkin ia berinisiatif untuk memasak sendiri. Sementara Arin sudah kepalaran sejak tadi. Bahkan tidak hanya Arin saja yang kelaparan. Firman pun juga sampai lupa untuk makan. Karena terlalu sibuk mencari dan juga mengurusi Arin sejak tadi sore.
Firman sengaja membeli dua porsi nasi. Supaya ia juga sekalian bisa mengisi perutnya. Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan. Ia pun kembali lagi kepada Arin.
“Aku suapin ya?” tanya Firman menawarkan diri.
“Enggak usah mas! Aku ini gak sakit kok!” jawab Arin menolak tawaran itu. “Kamu makan juga sana gih!” perintah Arin saat melihat bungkusan lain yang ada di atas meja.
“Ok, aku makan dulu juga ya?” Firman meminta izin kepada Arin.
__ADS_1
“Iya!” jawab Arin singkat.
Sebenarnya dalam hati Firman sangat ingin membahas kejadian tadi ketika di dalam jurang. Dimana ia telah mencium Arin dengan sengaja. Namun, ia tiba-tiba khawatir Arin akan marah. Ia tak tau bagaimana cara memastikan apa sebenarnya hubungan yang ada di antara mereka berdua setelah semua yang terjadi. Tidak mungkin rasanya jika mereka hanya berstatus sebagai teman lagi.
Sedangkan Arin memilih tidak ingin membahasnya. Ia tau betul bahwa apa yang ia lakukan seharusnya bukan membalas ciuman itu. Bukankah selama ini ia mendekati Firman hanya untuk tujuan balas dendam? Tidak seharusnya ia larut oleh perasaannya sendiri. Tapi setelah semua yang Firman korbankan untuknya bagaimana mungkin ia tidak luluh? Bagaimanapun juga arin jugalah manusia biasa yang memiliki rasa dan pikiran. Bukanlah robot yang bekerja sesuai data.
Tiba-tiba Arin merasa ragu akan benar-benar melaksanakan dendamnya atau tidak. Ia tak ingin menyakiti Firman yang begitu tulus menyayanginya dan mencintainya sebesar itu. Ia tau betul betapa dalamnya perasaan itu saat tadi menatap kedua mata Firman yang begitu khawatir akan dirinya dan sangat takut kehilangannya.
“Aku kapan boleh keluar?” tanya Arin pada Firman sedikit berbasa-basi. Agar suasana tidak canggung antara mereka berdua.
“Besok pagi kamu udah boleh ikut kegiatan!” jawab Firman sambil mengunyah nasinya.
“Aku tidur di sini malam ini ya?” Arin bertanya sekali lagi. Untuk memestikan bahwa ia memang benar-benar harus menginap di kamar yang sebenarnya sangat tidak ia sukai.
“Iya! Kenapa? Kamu pengen tidur di perkemahan?” tanya Firman seolah tau apa yang da di pikiran Arin saat ini.
“Aku gak suka rumah sakit!” ucap Arin sedikit protes.
“Iya! Aku takut! Sepertinya aku tidak akan bisa tidur kalau harus menginap di sini!” ucap Arin terus terang.
“Kan ada aku yang bakalan nemenin kamu!” jawab Firman menenangkan Arin.
“Nanti kalau kamu ketiduran gimana? Aku kan takut!”
“Tenang sayang! Ada aku kok!” jawab Firman keceplosan memanggil sayang. Reflek ia menutup mulutnya yang seolah tanpa sengaja mengucapkannya.
Mendengar hal itu Arin tiba-tiba merasa grogi dan tak tau harus berbicara apa lagi. Ia memilih untuk menyudahi makannya dan segera memperbaikil selimut untuk tidur. Di dalam hati ia begitu berbunga-bunga di panggil demikian oleh Firman. Namun ia berusaha sekuat tenaga menyembunyikan perasaan itu.
__ADS_1
Firman dengan jelas melihat reaksi keterkejutan Arin saat tadi ia mengucapkan kata sayang. Ia tau betul Arin sebenarnya hanya pura-pura tidak mendengar dan memilih acuh. Ia menjadi tak sabar dan menghampiri Arin.
“Kamu yakin mau tidur setelah apa yang telah kamu lakukan tadi?” Firman bertanya sambil menarik selimut Arin.
Seketika Arin terkejut dan terbelalak. Ia tak tau harus menjawab apa dan bagaimana. Jujur saja ia belum siap ditanya langsung seperti itu.
“Arin kamu udah tau kan gimana perasaan aku sama kamu?” tanya Firman langsung ke inti pembicaraan.
“Maksud kamu?” Arin merasa menjadi orang terbodoh saat ini. Pikirannya benar-benar blank. Namun hatinya begitu bergejolak.
“Maksud akun setelah tadi apa yang terjadi pada kita berdua. Apakah kita akan diam dan pura-pura gak ada apa-apa lagi? Seperti sebelum-sebelumnya?”
Arin masih terdiam dan tak menjawab. Ia tak tau harus menjawab Apa.
Firman yang tidak sabaran memegang kedua pipi Arin dan membuat Arin menatap matanya langsung.
“Aku cinta sama kamu!” ucap Firman seketika. Ia menatap langsung ke dalam mata Arin yang bening.
“Aku gak bisa jawab sekarang! Aku butuh waktu. Tadi itu aku hanya linglung sejenak. Mungkin efek kepalaku yang terbentur ketika jatuh!” ucap Arin sambil menepis kedua tangan Firman. Ia langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Menghindari tatapan Firman yang begitu menghujam hingga ke dalam lubuk hatinya.
“Apa?” Firman hanya bisa heran dan tak habis pikir Arin mengatakan hal itu. Seketika hatinya mencelos dan patah. Ia merasa kecewa dengan jawaban Arin yang tak sesuai harapannya.
“Aku mau tidur! Tolong jangan ganggu aku! Temani saja aku. Kalau kamu ngantuk silahkan tidur di sofa itu!” ucap Arin begitu santai dan tenang. Ia berusaha menahan hatinya yang sebenarnya sedang bergejolak. Ia juga berusaha menahan perasaannya yang sebenarnya sangat menggebu-gebu.
Arin memang jago dalam hal memendam rasa. Ia sangat pintar menyembunyikan semuanya.
Firman yang kecewa hanya bisa duduk pasrah di sofa panjang yang tersedia di ruangan itu. Dalam hati ia mengutuk dirinya yang bertindak gegabah. Ia tau betul bagaimana perasaan Arin yang sesungguhnya. Namun, untuk kesekian kalinya Arin dengan segala kegengsiannya lagi-lagi menolak dirinya dan perasaannya.
__ADS_1
Setelah itu Firman memilih diam saja dan berusaha memejamkan matanya yang sebenarnya tidak mengantuk sama sekali. Arin pun juga demikian. Ia hanya berbaring dan berusaha memejamkan matanya. Namun oikirannya jauh menerawang kemana-mana memikirkan semua hal yang akan ia lakukan setelah ini.