
Setelah tiga tahun kemudian.
Tanpa terasa Arin kecil yang centil dan lucu itu kini menjelma menjadi seorang remaja cantik yang anggun juga menawan. Arin yang kini sudah mulai Kuliah di salah satu Universitas negeri ternama di kota Jakarta. Kota yang sangat jauh dari kota nenek Aminah tinggal. Kota yang juga sangat jauh dari semua keluarganya. Baik mama, papa maupun keluarga dekatnya.
Hari ini merupakan hari pertama ia resmi sebagai mahasiswa baru di kampusnya. Sebagaimana mahasiswa baru yang lain. Hari ini juga merupakan hari ia mengikuti orientasi siswa cinta almamater yang biasa disingkat (OSCAR). Berbagai persiapan dan perlengkapan sudah ia bawa sesuai aba-aba di papan pengumuman yang seminggu lalu ia baca di area mading kampus. Sebelum berangkat tadi pagi, ia sudah mengecek berbagai keperluan yang harus ia bawa di dalam ranselnya. Termasuk di dalamnya juga ia persiapkan beberapa obat. Karna ia tau bagaimana selama tiga hari Kedepan akan menjadi hari-hari yang kurang menyenangkan.
Terbayang bagaimana menyebalkannya masa-masa orientasi yang biasa ia lalui dulu ketika pertama masuk SMP maupun SMA. Namun, ia tau bahwa semua hanya bagian dari pengalaman yang mau tidak mau harus ia rasakan.
Sebelum acara Oscar dimulai secara resmi. Para mahasiswa baru diperintahkan untuk berbaris di halaman kampus yang sangat lebar. Mereka diberi aba-aba supaya mengikuti arahan dari para senior yang merupakan anggota dari Badan eksekutif Mahasiswa.
“Hai! Kamu Arin kan?” sorang perempuan berambut sebahu menyapa Arin dari arah kanan. Berdiri tepat disamping Arin. Dia tersenyum lebar sambil memperlihatkan deretan gigi putihnya.
“Hai juga! Iya, aku Arin.” Jawabnya sambil tersenyum kearah suara itu.
“Kenalkan, namaku Nabila. Kita satu jurusan loh!” Nabila menjelaskan sambil mengulurkan tangannya.
“Arinal Haque. Panggil saja Arin. Kamu mahasiswa pertanian juga? “ tanya Arin lebih lanjut.
“Iya, mulai hari ini kita temenan mau kan?”
“Of course! Soalnya aku juga belum ada yang kenal satupun anak jurusan Pertanian”
“Iya? Emang kamu darimana? Em, maksudnya kota asal kamu tinggal?”
“Aku dari Jawa timur. Kamu darimana? “
“Aku dari Karawang Jawa Barat.”
“Oh iya, kamu kok tau nama aku duluan? “ tanya Arin penasaran.
“Aku tau dari kak Okky, kemaren waktu kamu ke kantor buat ngumpulin formulir pendaftaran ulang. Aku tanya ama dia. Kamu satu kost ama kak Okky kan?”
“Iya, aku kenal dia dulu waktu masih SMA. Dia kan satu kecamatan sama aku. Kamu kok kenal kak Okky?”
“Sst... Dia kan pacar sepupuku”. Jawab Nabila sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
“Oh! Pantesan.”
“Udah Ya dek ngobrolnya! Ditunda Ntar aja. Ini pembukaan bentar lagi udah mau mulai. Harap diam dulu ya!” sebuah suara dengan penuh nada kesinisan menyindir Arin maupun Nabila saat itu.
Arin tau bahwa itu salah satu senior BEM. Dia langsung terdiam seribu bahasa. Sedangkan Nabila hanya memgisyaratkan kode diam dengan cara membekap mulutnya sendiri.
Beberapa menit kemudian acara orientasi secara resmi dibuka oleh rektor kampus.
Setelah acara pembukaan selesai. Para mahasiswa baru di perintahkan masuk ke ruangan yang sesuai dengan nama kelompoknya. Arin langsung berjalan beriringan dengan Nabila sambil mencari ruangan yang harus ia tuju.
Sesampainya disana. Ia memilih tempat duduk yang berdekatan dengan Nabila.
“Rin, untung aja kita satu kelompok. Kita saling bantu ya kalo kenapa-napa!” Nabila membuka pembicaraan sambil tersenyum senang karena ternyata ia satu ruangan dengan Arin.
“Pasti dong!” jawab Arin meyakinkan.
“Eh Rin! Kamu beneran gak ada yang kenal satupun anak pertanian?”
“Iya. Aku tuh ngerasa asing banget di kota dan kampus sebesar ini.” Jawab Arin dengan nada penuh penekanan. Menandakan bahwa sebenarnya ia masih khawatir dan agak sedikit takut untuk menjalaninya sendirian. Namun ini sudah pilihan hatinya. Hidup mandiri jauh dari keluarganya di rumah.
“Emang kamu banyak kenal?”
“Gak banyak sih. Hanya beberapa orang aja. Tapi, kan lumayan buat nambah-nambah teman.”
“Oh! Asyik dong kalo gitu. Aku bakal punya banyak teman baru.” Ujar Arin penuh semangat.
Merekapun semakin asyik berkenalan satu sama lain dengan peserta lain yang ada di ruangan itu. Setelah beberapa menit berlalu tampak dua orang senior mereka masuk ruangan dengan memakai almamater kampus. Salah satunya merupakan seorang perempuan manis berjilbab dan juga mengenakan kacamata lumayan tebal. Sedangkan yang lain seorang laki-laki yang tak terlalu tinggi berambut ikal dan berkulit sedikit gelap.
Masing-masing mulai memperkenalkan nama, posisi serta tugas-tugasnya selama acara orientasi berlangsung. Namun mereka tidak memperkenalkan diri sebagai ketua ruang. Yang artinya nanti masih akan ada senior lagi yang tentunya bertugas sebagai ketua atau penanggung jawab utama ruangan itu.
Benar saja. Belum selesai senior perempuan yang bernama mita menjelaskan dengan pidato singkatnya. Seorang laki-laki masuk dengan membawa map berwarna merah di tangannya. Laki-laki itu memiliki tinggi sekitar seratus delapan puluhan serta berkulit putih bersih. Perpaduan antara hidung, mata maupun alisnya sangat serasi. Di tambah lagi dengan pesona lesung pipi di sebelah pipi kanan serta gigi gingsul yang menawan.
Beberapa orang sedikit terpana melihatnya. Terdengar beberapa mahasiswa yang ramai berbisik-bisik Pada teman sekitarnya. Memberi isyarat bahwa sepertinya orang yang terakhir masuk ruangan barusan adalah ketua ruangan itu.
Seketika itu mereka diam dan memandang kompak ke arah depan. Tiba-tiba ruanganpun menjadi sunyi dalam sekejap.
__ADS_1
Arin yang duduk tak terlalu jauh di belakang dibuat terkejut dan terperanjat dengan kedatangan senior yang satu ini. Bukan karna ketampanannya yang membuat mata semua tertuju padanya. Bukan juga karena statusnya yang saat ini sebagai ketua yang harus disegani. Namun hal itu karena ia tak menyangka akan melihat sosok itu berdiri di sana.
Ia adalah sosok yang sangat Arin benci dalam beberapa tahun ini. Sosok yang selalu Arin hindari setiap ada kesempatan untuk bertemu. Sosok yang tak pernah sekalipun Arin harapkan keberadaannya dimanapun ia berpijak. Seseorang itu adalah Firmansyah Abdala. teman masa kecil Arin dulu ketika hidup di desa tempat nenek Aminah tinggal.
“Selamat Pagi semuanya?” tanya Firman memulai pidatonya?
“Pagi kak!” jawab mereka kompak dan bersamaan.
“Sudah siap mengikuti oscar pagi ini?” tanyanya berbasa-basi sebelum memperkenalkan namanya.
“Siap kak!”
“Baik, perkenalkan. Nama saya Firmansyah Abdala. Ketua ruangan ini.”
Setelah memberikan penjelasan dengan pidatonya yang lumayan panjang. Ia memberikan sebuah map berwarna merah pada senior Mitha. Hal itu bertujuan untuk mengabsen seluruh peserta yang hadir hari ini.
Arin hanya memilih diam dan menunggu giliran namanya di panggil. Dalam pikirannya berkecamuk tentang semua isi hatinya saat ini. Ia benar-benar tidak ingin keberadaannya disadari oleh Firman. Ia berusaha menundukkan kepalanya supaya tak terlalu terlihat. Bahkan ia berusaha menutupi separuh wajahnya dengan blok note yang ada ditangannya.
“Arinal Haque!” senior yang bernama Mitah memanggil nama Arin saat tiba gilirannya untuk diabsen.
Arin yang terkejut namanya dipanggil. Bukannya menjawab ia malah tidak fokus.
“Arinal Haque!” terdengar suara yang memanggil untuk kedua kalinya.
“Rin! Kamu dipanggil tuh!” ucap Nabila menyikut lengan Arin.
“Eh, iya. Ada senior!” teriak Arin kikuk. Ia mengangkat tangannya dan dengan cepat menurunkan kembali.
“Harap fokus ya! Untuk yang lain setelah ini. Jangan sampai namanya dipanggil dua kali baru jawab. Itu gak sopan!” ucap Mitha tegas dan sedikit mengintimidasi dalam setiap ucapannya.
“Baik senior!” jawab para peserta kompak. Seketika semua mata tertuju ke arah Arin. Mereka tampak sedikit kesal karna ulah Arin. Terlihat tatapan yang sinis dan juga sebal.
Di dalam ruangan itu. Arin seketika ingin menghilang. Belum lagi terlihat Firman yang tampak.menatap lurus ke arahnya. Seperti sedang mengawasinya. Arin semakin mengumpat dalam hati.
[Awas aja dia ntar mempersulit aku. Akan kulaporkan kelakuannya pada papa.] ucap Arin dalam hatinya.
__ADS_1
Firman tersenyum manis ke arahnya. Arin berusaha mengalihkan pandangan dan pura-pura sibuk dengan perlengkapan oscarnya.