
“Ya udah deh. Aku kesini bukan buat tengkar loh ya?”
“Iya kamu ada apa dong? Biasanya kan kamu memang gak pernah suka dekat-dekat sama aku! Apalagi ampe nyariin aku kayak gini. Tumben banget tau enggak?”
“Aku nyariin kamu itu mau ngebahas masalah UKM kemaren. Aku gak mau ikut UKM aku pengennya aktif di BEM. Kira-kira ada gak nih perekrutan anggota baru?” tanya Arin mulai serius.
“Perekrutan anggota baru sih ada. Cuman di tes tulis dulu. Yang lolos seleksi tes tulis. Baru deh, di tes wawancara.” Ujar Firman menjelaskan.
“Nah itu, kapan ada perekrutan atau tes tulis?” tanya Arin bersemangat.
“Dalam bulan ini sih. Tapi belum dipastikan tanggalnya.” Ucap Firman agak ragu. “Tapi, ini beneran kamu serius mau jadi anggota BEM?” tanya Firman sekali lagi pada Arin.
“Ya, serius lah! Kenapa? Apa aku gak pantas?”
“Ya bukan begitu dek! Heran aja. Ini kamu bakalan ketemu aku setiap hari loh. Kalau lolos seleksi!” Firman berusaha mengingatkan. Karena ia tau, sejak dulu Arin sangat anti dengan dirinya.
“Ya aku mau profesional lah. Urusan gak suka sama kamu. Itu lain hal. Aku mau banyak belajar dalam organisasi.” Ucap Arin berusaha memberikan alasan terlogis.
Mendengar penjelasan Arin membuat Firman segera menanggapi keseriusannya itu.
“OK, aku akan infokan kalau tanggalnya udah dipastikan.” Jawabnya dengan segera sebelum Arin berubah pikiran.
“Beneran ya! Aku tunggu loh, infonya. Ya udah, kalau gitu aku duluan ya? Aku ada kuliah bentar lagi.” Arin mencoba berpamitan.
“Loh, segitu doang?” tanya Firman reflek.
“Maksudnya? Kan aku ada kuliah pagi. Jadi mesti gimana lagi coba?”
“Kamu nelpon aku dan nyuruh aku datang kesini hanya untuk itu aja?”
“Ya, iyalah. Kenapa? Merasa rugi datang buru-buru kesini hanya demi nemuin aku dan menjawab satu pertanyaanku?” tanya Arin mulai agak tersinggung dengan kata-kata Firman.
“Ya enggak lah adek! Aku Cuma ngerasa kurang banget ngobrol-ngobrol berdua gini sama kamu. Kamu selama ini kan selalu menghindari aku. Jangankan ngobrol berdua. Ketemu Aku aja kamu udah ngerasa enggak banget!” ujar Firman sedikit mengungkapkan perasaannya.
Mendengar hal itu Arin jadi sedikit berpikir dan mencoba menanggapi dengan kata-kata yang harusnya mudah diterima oleh pemikiran Firman.
“Ya udah, aku akan berusaha dewasa. Gak akan kayak anak kecil lagi. Apalagi kita kan berasal dari kota yang sama. Wajarlah kita akan sering saling membantu ke depannya.” Ucap Arin berusaha menjelaskan.
“Kamu gak lagi sakit kan dek?” tanya Firman sambil memegang dahi Arin. Mencoba mengecek apakah hari ini Arin sedang dalam keadaan tidak sadar dengan kelakuannya.
“Ya enggak lah!” Arin menepis tangan Firman kasar. “Lagian apaan sih? Kamu kira aku gak waras gitu?” Arin mulai marah dengan tingkah Firman.
“Bukan gitu dek! Aku bener-bener merasa ini adalah hal yang ajaib loh. Beneran sumpah! Kamu tiba-tiba bersikap kayak gini membuat aku heran banget. Jangan salahkan aku dong! Kalau aku masih setengah tak percaya!”
“Ya udah, itu pilihan kamu kalau masih ragu dengan sikapku. Intinya aku hanya ingin direkrut jadi anggota BEM. Ini serius dan aku mau berusaha untuk serius.” Ucap Arin sambil beranjak dari tempat duduknya.
“Eh, tunggu! Kamu udah sarapan?” tanya Firman berusaha mencari kesempatan.
“Belum. Ini aku mau ke kantin buat sarapan dulu.” Jawab Arin.
“Aku temani ya?” tanya Firman mencoba keberuntungannya.
“Boleh.” ucap Arin lagi-lagi jawaban itu membuat Firman terkejut dan tak menyangka ia akan benar-benar seberuntung itu.
Arinpun segera berlalu dan Firman mengikutinya dari belakang. Melihat tingkah laku Firman yang hanya berjalan di belakangnya membuat Arin sedikit kesal.
__ADS_1
“Kamu kenapa jalannya di belakang aku? Aku kan gak nyaman kalau gitu!” protes Arin saat mereka melewati sebuah koridor.
“Trus, aku mesti jalan dimana?”
“Sini deh jalan duluan! Aku aja yang mau jalan di belakang kamu!” perintah Arin.
“OK,” jawab Firman sambil melangkah agak maju. Namun bukannya mendahului Arin ia malah memilih berjalan di sampingnya.
Melihat tingkah Firman Arin hanya menghela nafas berat dan meneruskan jalannya. Ia tak merasa risih ataupun terganggu meski Firman kini berjalan di sampingnya.
Firman juga hanya bisa tersenyum bahagia karena hal itu merupakan moment pertama mereka berjalan berdampingan. Setelah sekian lama akhirnya ia dapat merasakan perasaan itu. Perasaan yang begitu bergemuruh di dadanya. Ia benar-benar tidak menyangka Arin tidak memarahinya sama sekali. Biasanya jangankan untuk berjalan berdampingan. Untuk bertemu dengan Firman saja Arin sangat enggan dan menghindar.
Berbeda dengan Firman. Arin justru merasa risih untuk berjalan berdampingan dengan Firman. Namun semua itu ia tahan. Hal ini tentu demi suatu tujuan. Tujuan untuk memperdaya Firman. Ia sengaja berlemah lembut supaya nanti kebelakangnya Firman akan benar-benar percaya bahwa Ia memang sudah tidak membencinya lagi. Padahal di dalam hati Arin, ingin rasanya ia memaki tingkah laku Firman yang menurutnya menyebalkan.
Tak ada yang tau isi hati mereka satu sama lain. Namun Arin cukup bisa membaca dari ekspresi yang Firman tunjukkan. Bahwa ia begitu bahagia berjalan bersama Arin.
“Kamu.mau makan apa?” tanya Firman saat mereka tiba di kantin dan memilih duduk di satu meja namun bersebrangan.
“Aku mau pecel aja kalau ada.”
“Ok, minumnya?”
“Teh hanget aja deh. Tenggorokanku agak kering jadi males mau minum yang dingin-dingin.”
Setelah mengetahui menu yang ingin Arin pesan Firman langsung memanggil salah satu karyawan kantin. Ia mengutarakan beberapa pesanannya pada karyawan itu.
Setelah itu ia memilih segera kembali duduk di sebelah Arin lagi.
“Hari ini ada kuliah apa?” tanya Firman memulai percakapan di antara mereka berdua.
“Pengantar Ilmu Pertanian” jawab Arin.
“Yang namanya kesukaan mana mungkin bisa berubah?”
“Iya, kayak aku juga. Dari kecil suka banget mengayomi binatang. Karena itu aku pilih ingin jadi dokter hewan aja. Di desa kita jarang banget dokter hewan.” ucap Firman menjelaskan alasan ia memilih kuliah di jurusan kedokteran hewan.
“Aku sebenarnya agak ragu kuliah di pertanian.”
“Loh, kenapa?”
“Aku enggak tau apakah aku harus kembali ke kampung atau cukup tinggal sama mama aja.” Ucap Arin sambil merenungi bagaimana nasib masa depannya.
“Apa kamu gak mau kembali ke rumah papa?” tanya Firman mencoba mengorek isi pikiran Arin.
“Aku lebih bahagia sama mama. Mama juga udah banyak berkorban demi membesarkan aku.”
“Tapi rin, papa kamu juga ingin kamu kembali hidup bersamanya. Apalagi nenek Aminah sudah semakin tua. Ia ingin kamu menemaninya hingga masa tuanya kelak.”
“Trus, aku harus ninggalin mama gitu?” tanya Arin mulai sedikit emosi karena pernyataan Firman.
“Bukan begitu maksud aku! Gini loh, Apa gak mungkin untuk tante Widia dan om Irawan bersama kembali?”
“Enggak, papa udah menghianati mama. Mama udah gak mungkin membuka pintu hatinya kembali.”
“Arin, apakah kamu tau yang sebenarnya terjadi?”
__ADS_1
“Maksud kamu?” tanya Arin tak mengerti apa maksud perkataan Firman barusan.
__ADS_1