
Firman tidak pernah menyangka bahwa Arin akan sekasar itu terhadapnya. Bahkan tadi Arin dengan tanpa perasaan bersalah menampar tepat di wajahnya. Seumur hidup baru kali ini Ia merasa diperlakukan kasar seperti itu. . Meski kenyataannya, ketika kejadian itu berlangsung. Nyaris tidak ada seorangpun mahasiswa ataupun teman-teman yang ia kenali berlalu lalang. Kalau tidak, tentunya Ia akan merasa semakin malu.
Malam ini Ia banyak merenungkan kesalahan-kesalahannya tempo dulu. Ia penasaran kesalahan apa yang pernah Ia lakukan hingga Arin begitu membencinya sedemikian rupa. Arin kecil sahabat yang sangat disayanginya kenapa bisa bersikap sesangar itu. Arin kecil sahabatnya yang begitu penyayang dan lucu kenapa berubah seratus delapan puluh derajat dari sifatnya yang dulu.
Meski demikian hal itu tak membuat Firman benci maupun dendam terhadap Arin. Perasaan sayang yang sedari kecil memang sudah tertanam dalam dirinya tak mudah Ia hilangkan begitu saja. Dalam Hati Ia berjanji bahwa Ia akan membuat Arin kembalinya menyayanginya seperti dulu.
Malam ini Firman tak dapat memejamkan matanya. Ia teringat dengan seluruh kenangan masa kecilnya bersama Arin. Tiba-tiba Jauh di lubuk hatinya Ia merindukan Arin kecil yang dulu selalu ada di sampingnya.
Ia mulai berpikir keras, apa hal yang harus dilakukannya supaya Arin mau menerimanya kembali sebagai sahabat masa kecilnya. Saat sibuk dengan berbagai pikirannya mengenai Arin, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Iapun meraih ponsel yang ada diatas nakas di samping tempat tidurnya. Sebuah nama tertera disana. Tetnyata itu telpon dari om Irawan, papa Arin.
“Halo! Iya om?” jawab Firman sigap tanpa basa-basi.
“Firman, besok om ke Jakarta. Mungkin om akan mampir ke tempat kamu. Sekalian mau ketemu Arin. Ada beberapa urusan bisnis yang harus om kerjakan. Besok sore bisa kan kita ketemuan?” tanya om Irawan pada Firman.
“Sore kira-kira jam berapa om?” bukannya langsung menjawab pertanyaan om Irawan, Firman malah balik bertanya.
“Sekitar jam setengah lima atau jam limaan mungkin”
“Kalo jam segitu kayaknya acara orientasi Udah selesai om. Jadi kemungkinan Bisa om, mau ketemuan dimana?”
“Besok om kabari lagi ya! Om harap kamu gak sibuk.”
“ Enggak om, besok setelah orientasi aku free.”
“Oke, ya sudah itu aja yang ingin om kabari. Om tutup dulu ya?”
__ADS_1
“Iya om, selamat malam! “
“Selamat malam juga.”
Setelah menutup telponnya Firman kembali lagi teringat dengan Arin. Semakin ia berusaha memejamkan mata, semakin berkelebat ingatan-ingatan yang terangkum dalam berbagai bingkai kenangan bersama Arin. Ia mencoba menghidupkan ponselnya dan mencari nomer Arin disana. Sudah berapa bulan ia mendapatkan nomer itu dari om Irawan. Namun tak pernah punya keberanian untuk satu kali saja menghubunginya. Ia khawatir hal itu akan membuat Arin semakin kesal dan marah terhadapnya. Bukan karena takut dengan omelannya dan tingkah kasarnya. Bahkan di mata Firman omelan-omelan Arin justru tampak lucu. Hanya saja ia khawatir tak memiliki kesempatan untuk berbaikan kembali jika yang ada malah menimbulkan kebencian yang semakin dalam.
Hari ke tiga masa orientasi. Sesuai permintaan Arin, Firman tidak lagi mencari tentang seluruh aktifitas Arin seperti dua hari sebelumnya. Ia menyibukkan diri dengan mendisiplinkan peserta lain yang menjadi tanggung jawabnya.
“Arin!” teriak Nabila dari dalam ruangan, sambil berjalan menghampiri Arin yang sudah keluar duluan dari dalam ruangan. “Mau ke kantin? Barengan yuk! Mana Vivi?” Nabila memandangi keadaan sekitar dengan tujuan mencari Vivi.
“Tadi dia buru-buru ke toilet. Barusan chat aku, suruh tunggu di kantin dan pesenin makanan duluan.” Jawab Arin sambil menyodorkan ponselnya yang berisi percakapannya dengan Vivi di kolom whatsapp.
“Oh gitu, ya udah buruan yuk! Entar gak kebagian tempat duduk” ajak Nabila penuh semangat. “Aku lapor banget.. “ rengeknya sambil bergaya memegangi perutnya yang mulai keroncongan.
Kantin memang selalu jadi tujuan utama para mahasiswa untuk mengisi perutnya yang kosong saat jam istirahat berlangsung. Selain karna tempatnya yang ada di dalam kampus, menu yang disajikanpun tak kalah enak dari warung-warung tepi jalan di pinggiran kota Jakarta. Sehingga para mahasiswa tak perlu jauh-jauh keluar kampus untuk makan pagi, siang maupun malam. Seolah buka dua puluh empat jam. Karena tak jarang para dosen yang mengisi jam kuliah malam hari.
“Rin, kamu tau enggak? Berita terpanas dan terbaru seseantero peserta OSCAR?” tanya Nabila sambil menggeser kursi duduknya supaya lebih dekat dengan Arin. Hal itu Ia lakukan supaya obrolan mereka bisa lebih nyaman tanpa gangguan dari pengunjung lain di kantin yang sedang ramai itu.
“Emang ada berita apa?” tanya Arin penasaran.
“Banyak yang ngefans banget sama ketua ruang kita loh!” jawab Nabila antusias. “Oh! Aku bangga punya wali ruang Kak Firman. Apalagi kamu ya? Yang emang udah kenal dari dulu! Apalagi masih ada hubungan saudara. Siap-siap aja deh banyak yang nyariin buat minta bantuan kamu.”
“Bantuan apa?” tanya Arin setengah heran dengan perkataan Nabila yang nyerocos tanpa jeda.
“Ya bantuan buat PDKT sama kak Firman lah! Masak sama kamu!”
__ADS_1
“Idih, enggak mau aku deh buat dijadikan mak comblang! Kayak gak ada kerjakan lain aja!.” Protes Arin setengah bersungut marah. “Apa hebatnya dia coba? Banyak kan yang lebih ganteng?”
“Bukan masalah tampang doang Arin.. Masalahnya dia itu paket komplit. Paling sabar dalam menghadapi peserta OSCAR. Paling pinter kata teman-teman seangkatannya. Paling cuek dan gak banyak mengintimidasi kayak yang lain.” Nabila menjelaskan satu persatu kelebihan Firman pada Arin.
“Kalo paling cuek sih kayaknya aku setuju. Tapi kalau paling sabar, kayaknya enggak deh!” protes Arin pada Nabila yang sedang sibuk mengotak atik layar handphonenya.
“Hai! Aku gak lupa dipesenin kan?” Sapa Vivi yang tiba-tiba datang dari arah belakang mereka. Ia menarik kursi lalu mendudukinya.
“Iya, udah dipesenin. Pesen bakso gak pake gubis dan mie. Kuahnya dikit aja dan pake lontong.” Ujar Nabila menjelaskan pada Vivi.
“Oke sep! Oh ya, emang lagi ngobrolin apaan sih? Kok aku gak dikabar-kabari? Lagi ngegosip ya?” Vivi penasaran tentang apa yang mereka obrolan dari tadi.
“Ngobrolin yang lagi update!” Nabila sengaja memancing rasa penasaran Vivi. Benar saja, Vivi langsung kepancing dan merapatkan posisi duduknya ke arah Nabila.
“Hmmm... Ulang lagi dong!” pintanya setengah merengek.
“Apaan sih Vi! Berita biasa aja, jangan dibuat heboh.” Ucap Arin sedikit jengkel. Kalau topiknya berkaitan dengan Firman dia memang menjadi orang yang paling males dan ogah menanggapi.
“Itu loh, Senior Firman. Si Mark Print versi Indonesia! Jadi idola kampus tauk. Seluruh peserta OSCAR yang ciwi-ciwi dibuat klepek-klepek ama dia.” Nabila menjelaskan dengan suara yang sedikit dipelankan dari sebelumnya. Khawatir gosipnya terdengar ke telinga pengunjung lain.
“WHATT??” Vivi terbelalak sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya. “Ternyata bukan hanya aku saja ya yang kepincut dengan pesonanya?” kata Vivi dengan suara yang tak kalah pelan dari suara Nabila.
“HAH?” kali ini Arin dan Nabila yang dibuat kaget oleh Vivi. Mereka berdua tak menyangka bahwa Vivi termasuk salah satu dari sekian mahasiswa yang idola juga pada Senior Firman.
“Aduh! Bakal banyak saingan dong!” ujar Vivi dengan sedikit meringis.
__ADS_1
“Selamat bersaing deh! Aku gak mau ikutan.” kata Arin sambil menerima pesanan mereka yang di bawa oleh salah seorang pelayan. “Udah ya, aku makan dulu! Kalau kalian masih mau ngegosip, mending nanti aja deh! Biar aman aku makan dengan tenang dulu.” Pinta Arin pada Vivi dan Nabila.
Setelah sarapan mereka menuju ke lapangan untuk apel pagi bersama peserta lain yang juga ikut orientasi.