
Jam menunjukkan pukul lima sore. Suara nada dering ponsel Firman membangunkannya dari tidur pulasnya. Saat membuka ponsel dan melihat bahwa itu merupakan telpon dari salah seorang teman kelasnya ia agak malas untuk menjawab dan memilih mematikan saja ponsel itu.
Firman bangun dalam keadaan bermandikan keringat. Efek dari obat penurun panas yang tadi ia minum sebelum tidur. Membuat demamnya turun secara berangsur-angsur. Menyadari bahwa tenaganya tidak selemah tadi pagi. Ia mencoba turun dari tempat tidur.
Namun tiba-tiba Firman teringat sesuatu. Ia ingat bahwa tadi siang Arin ada di rumah itu dan merawatnya. Ia yang tak menemukan Arin di dalam kamar. Bergegas mencari Arin dan berharap ia belum pergi. Saat membuka pintu kamar untuk keluar. Hatinya tampak lega begitu melihat Arin yang masih ada di rumah itu dan tertidur pulas di sofa.
Firman melangkah mendekati Arin pelan-pelan. Khawatir Arin akan terbangun oleh langkah kakinya. Saat berada di dekat Arin ia mulai memandangi wajah Arin yang tampak cantik meski dalam keadaan tidur. Wajah Arin yang teduh membuatnya betah berlama-lama menatapnya.
Firman tersenyum puas saat mengingat bahwa Arinlah yang sejak tadi siang merawatnya. Ia sangat merasa bersyukur ada Arin yang menemani di sampingnya. Ia tak menyangka Arin akan berbuat hal itu terhadap dirinya. Arin kini benar-benar kembali menjadi Arin kecil yang dulu sangat menyayanginya.
Namun, tak butuh waktu lama saat ia menikmati moment yang menurutnya sangat indah itu. Arin tiba-tiba mulai membuka kelopak matanya. Begitu ia sadar bahwa Firman ada di hadapannya dan sedang menatapnya. Ia langsung bengun dan duduk.
“Kamu kok gak bangunin aku sih mas?” tanya Arin grogi.
“Hm, aku gak tega melihat kamu tidur sangat nyenyak seperti itu.” Jawab Firman
“Arin melihat kearah dinding. Mencoba menyusurinya dan berniat mencari jam disana. Namun ia tak menemukan benda itu. Iapun mengambil tasnya yang ada di atas meja dan mencari ponsel di sana. Hal itu ia lakukan karena ingin mengetahui pukul berapa saat ini.
Setelah melihat bahwa jam menunjukkan pukul tujuh belas lebih tiga puluh menit ia langsung teringat bahwa ia harus pulang. Iapun juga merasakan lapar di perutnya yang keroncongan.
“Kamu udah baikan?” tanya Arin sambil menempelkan tangannya ke dahi Firman. Saat tau bahwa suhu tubuh Firman kini suda membaik. Ia berinisiatif untuk pulang saja ke tempat kosnya. “Aku pulang dulu ya?” tanya Arin.
Mendengar perkataan Arin Firman langsung menolak hal itu.
“Jangan! Makan dulu sebelum pulang! Kamu kayaknya laper deh. Perutmu bunyi tuh dari tadi.” Ucap Firman khawatir pada Arin.
“Aku bisa makan dikosan mas!”
“Jangan dek! Aku udah pesenkan makan lewat gofood. Bentar lagi datang kok! Aku juga mau makan lagi. Temenin aku ya?”
Arin masih agak bimbang untuk menjawab.
“Pulang entar malem saja ya!” tanya Firman sambil memohon.
__ADS_1
“Hm, ok deh! Tapi kamu beneran makan lagi ya!” ucap Arin pada Firman.
“Iya! Aku janji!” Firman tersenyum lebar.
“Tapi, aku-“ ucap Arin ragu dan menghentikan ucapannya.
“Ada apa lagi?” tanya Firman
“Aku pengen mandi. Boleh aku numpang mandi?” tanya Arin agak ragu.
“Iya! Boleh. Boleh!” jawab Firman agak kaku. “Kamar mandinya ada di sebelah dapur kamu tau kan?”
“Iya aku tau! Hm, boleh pinjam handuk?” Arin berusaha menghilangkan rasa groginya.
“Tunggu sebentar! aku ambilkan handuk bersih di lemari!” perintah Firman sambil segera bergegas ke dalam kamarnya.
Suasanya agak canggung di antara mereka. Karena itu adalah pertama kalinya Arin mandi di rumah seorang laki-laki lajang yang tinggal sendirian. Begitu juga Firman. Ini juga kali pertama ada seorang cewek yang menumpang mandi di rumahnya. Bahkan selama dua tahun lebih kuliah di Jakarta. ia tak pernah meski hanya satu kali membawa seorang perempuan ke dalam rumahnya.
Setelah mendapatkan handuk bersih dari Firman, Arin segera pergi ke kamar mandi. Ia merasa gerah dan seluruh badannya seolah lengket oleh keringat.
Arin yang masih asyik mandi belum menyadari jika seluruh pakaiannya jatuh ke lantai. Sehingga ia tak segera memungutnya. Alhasil seluruh pakaian itu terkena percikan air mandi Arin. Saat selesai dan berbalik untuk mengambil handuk. Barulah Arin terkejut dan syok berat. Bagaimana tidak, seluruh pakaian dalam dan juga bajunya basah seketika oleh aliran Air yang berada di sekitarnya. Untung saja handuknya tidak serta merta ikut jatuh bersama beberapa pakaian itu.
Kini Arin hanya bisa menggigit jarinya dan bingung akan menggunakan apa. Sementara ia tidak membawa baju ganti saat tadi berencana ke rumah Firman. Ia menyesal karena tak memperkirakan semuanya dari awal. Kini ia bahkan tidak memiliki ****** ***** cadangan.
Dengan sangat terpaksa ia memanggil Firman dari dalam kamar mandi. Karena tak mungkin juga ia berlama-lama di dalam tanpa berbuat apa-apa.
“Mas!” teriaknya nyaring.
Di tunggu beberapa detik belum ada jawaban.
“Mas!” ia mencoba memanggil Firman kembali. Namun, tetap tidak ada jawaban dari luar kamar mandi.
Tak menyerah iapun terus memanggil-manggil nama Firman dari dalam kamar mandi. Karena yang dipanggil belum kunjung menjawab pangggilannya. Iapun terpaksa keluar dengan menggunakan sehelai handuk yang ia pakaikan ke seluruh tubuhnya yang basah. Handuk yang tak terlalu lebar itu hanya cukup menutupi bagian dada hingga sedikit di atas lutut saja. Arin sebenarnya merasa risih dan tidak nyaman mengenakannya.
__ADS_1
Begitu keluar dari dalam kamar mandi. Arin mengamati kaeadaan sekitar. Tetnyata Firman memang tidak ada di ruang tamu. Pantas saja ia tak mendengar ada seseorang yang memanggil-manggil namanya. Arin melangkah perlahan seakan takut handuknya terlepas. Karena bisa fatal akibatnya jika handuk itu benar-benar terlepas dati tubuhnya.
Saat ia menuju sofa dan hendak mengambil ponselnya dari dalam tas. Tiba-tiba pintu kamar Firman terbuka. Reflek Arin menoleh dan melihat Firman berdiri mematung di depan pintu kamar. Tampaknya ia tetkejut melihat Arin dalam keadaan seperti itu. Firman hanya bisa berdiri mematung dan tak berkedip. Ia begitu terkesima melihat penampilan Arin yang demikian. Tak pernah seumur hidupnya ia menyaksikan seorang yang berlainan jenis dengannya berada dalam satu ruangan dalam keadaan hanya memakai handuk yang tak seberapa besar.
Ia ingin menoleh namun hati kecilnya menolak. Kini ia hanya bisa menelan ludah dan tetap menatap lurus ke arah Arin.
“Jangan dilihat!” teriak Arin seketika saat mulai sadar Firman memandang intens ke arahnya.
Firman langsung memalingkan wajahnya dan hendak kembali ke dalam kamarnya.
“Eh! Tunggu! Aku mau pinjem baju! Pokoknya baju apapun yang bisa aku pakai sementara. Semua pakaianku basah!” ucap Arin cepat dan tanpa jeda. Ia kini malu menghadapi Firman dengan hanya memakai handuk di tubuhnya.
“Iya, tunggu sebentar!” jawab Firman setengah bergetar. Tubuhnya sedikit terasa kaku dan berat untuk melangkah. Kali ini bukan karena demam tingginya. Melainkan karena masih syok melihat Arin yang begitu seksi.
Firman membuka lemari gantungnya dan mencari kaos yang bisa dipakai oleh Arin. Tidak hanya kaos ia juga memilih beberapa kemeja yang sekiranya agak panjang. Setelah memilih dengan sedikit terburu-buru ia langsung keluar lagi untuk menyerahkannya ke Arin. Sebelum keluar Firman menarik nafasnya dalam-dalam. Hal itu ia lakukan untuk menstabilkan hatinya dan juga perasaannya.
“Eh! Mas jangan keluar!” ucap Arin saat Firman mulai membuka pintu kamar.
“Tetap disitu aja! Aku aja yang ambil kesitu. Tutup mata dulu mas!” perintah Arin kepada Firman.
“Apa?” Firman tampak bingung dan tak mengerti dengan perintah Arin.
“Tutup mata deh! Kalau aku suruh tutup mata ya ditutup!” ucap Arin sedikit kesal.
“Iya. Iya! Ini aku udah merem.” Ucap Firman sambil memejamkan matanya.
Arin melangkah perlahan dan mencoba meraih baju yang ada di tangan Firman. Setelah mendapatkannya ia pun mendorong Firman perlahan supaya keluar dari kamar. Sedangkan Arin sendiri memilih masuk ke dalam kamar Firman.
“Udah?” tanya Firman.
“Aku ganti baju dulu di dalam! Kamu gak boleh masuk ya! Aku penjam kamarnya dulu!” ujar Arin.
Firman hanya bisa tersenyum dan tetap memejamkan matanya rapat.
__ADS_1
“Gubrak!!” terdengar suara pintu yang ditutup secara terburu-buru oleh Arin. Ketika Arin benar-benar sudah masuk ke dalam kamarnya. Firman mulai membuka matanya perlahan sambil menggelengkan kepalanya. Ia juga mengelus dadanya yang sedari tadi bergemuruh hebat. Hal itu ia lakukan untuk menenangkan gejolak di hatinya.