
Firman yang menyadari bahwa Arin semakin menjauhkan jarak duduknya hanya bisa tersenyum di dalam hatinya. Ingin rasanya ia sesekali bersikap nakal dengan melaju sangat cepat dan berlagak berhenti mendadak. Supaya Arin bisa terjungkal dan tanpa sengaja menabraknya dari belakang. Namun hal itu tidak Ia lakukan. Ia khawatir nantinya Arin akan marah dan semakin membencinya. Bukan hanya itu saja, bisa-bisa ia akan turun dan memaksa menaiki kendaraan lain. Padahal ini kesempatan yang sangat langka bagi Firman membawa Arin dengan motornya. Ia menjadi lebih berhati-hati dan tau diri.
Setelah tiba ke tempat tujuan. Arin segera mencari tempat dimana papanya berada. Tak butuh waktu lama untuk mencarinya.
“Papa! I miss you!” seru Arin sambil berhambur ke pelukan papanya. Terpancar bagaimana suasana bahagia sedang menyelimuti hatinya saat ini. “Papa kenapa gak telpon Arin kalau mau kesini?” tanya Arin sedikit merajuk manja.
“Papa sengaja mau memberi kejutan sayang.” ujar Pak Irawan sambil terus memeluk erat tubuh Arin. Sesekali Ia usap rambut Arin yang tampak sedikit berantakan. “Gimana masa orientasinya? Sudah kamu lalui dengan happy?” lanjut pak Irawan dengan sedikit berbasa-basi.
“Apaan, sebel tauk!” jawab Arin dengan nada yang sedikit kesal dan wajah yang tertekuk cemberut. Ia melepaskan pelukan papanya dan berusaha memperbaiki rambutnya yang sedikit berantakan.
“Kenapa? Sering kena hukum?” tanya pak Irawan sekali lagi. Sambil menyeruput kopi dalam cangkir yang sedari tadi terhidang di hadapannya. Dari arah pintu masuk, Firman datang dan segera duduk di kursi yang berhadapan dengan Arin.
“Ini pa, yang bikin Arin sebel dan males ikut orientasi.” ujar Arin sambil menunjuk ke arah Firman yang sedikit terkejut dengan tuduhan Arin yang diajukan ke arahnya barusan.
“Tentang masalah apa ya?” tanya Firman berlagak tidak tau topik yang sedang dibicarakan mereka berdua. Firman pura-pura bingung dan memberikan isyarat dengan mata melototnya pada Arin.
“Jadi Artis dadakan nih dia pa!” ujar Arin mencoba memberikan sedikit penjelasan tentang duduk perkara yang sedang ia bahas dengan papanya. Ia sedikit mencibir ke arah Firman yang masih bersikap tidak tau menau. “Sok kegantengan, sok populer, sok cuek, sok cool, dan banyak lagi sok-sok yang lain.” Arin melanjutkan protesnya yang selama orientasi ia pendam sendirian.
Mendengar hal itu Firman malah tertawa Renyah. Ia menyadari bahwa ternyata Arin termasuk salah satu dari sekian orang yang bergosip tentangnya.
“Itu artinya, kamu sering ngobrolin aku dong?” tanya Firman dengan nada sedikit menginterogasi.
__ADS_1
“Apa? Ngobrolin kamu? Hahaha! Kayak gak ada kerjaan aja. Gak bermanfaat banget!” jawab Arin dengan gaya juteknya.
“Kok bisa ada komentar yang banyak gitu tentang aku? Berarti kamu perhatiin aku dong! Selama masa orientasi?” pertanyaan Firman kali ini benar-benar membuat Arin tidak bisa berkata-kata lagi. Ia hanya terlihat semakin kesal dengan pernyataan Firman yang terkesan menghakimi dirinya.
“Bukan aku kok, yang sering gosipin kamu! Tuh mereka, cewek-cewek yang rabun. Pada gak sadar apa. Kalau yang diidolakan tuh orangnya kayak gitu? Sampe panas telingaku mendengarnya.” Ucap Arin ceplas-ceplos.
“Emang aku kayak gimana?” tanya Firman penasaran dengan yang dimaksud oleh perkataan Arin.
“Yang ngaca dong sana di toilet!”
Melihat hal itu, Om Irawan hanya tersenyum sumringah sambil menengahi percekcokan antara keduanya. “Sudah, sudah, Papa Ngajak kamu kesini mau traktir kalian makan enak loh! Bukan malah mencoba membuat kalian bertengkar!” protes Om Irawan pada Arin dan Firman. Arin masih tampak kesal dan ogah-ogahan berada di hadapan Firman. “Firman, Silahkan dipilih! Daftar menunya sudah ada di depanmu!” kata om Irawan sambil menunjuk ke arah buku yang berisi daftar menu di hadapan Firman. “Mas, mas! Minta satu lagi daftar menunya ya!” perintah Om Irawan pada salah satu waitress yang kebetulan berdiri tak jauh dari mereka sejak tadi.
Setelah memilih menu yang sesuai selera mereka masing-masing. Om Irawan membuka pembicaraan untuk kembali mencairkan suasana yang tadi sempat terjeda oleh pemilihan menu makanan yang akan dipesan.
“Firman, kamu sudah semester berapa sekarang?” tanya om Irawan sambil menatap Firman.
“semester lima om, sudah separuh perjalanan. Tinggal separuh lagi. Doakan tetap lancar ya Om!” jawab Firman tanpa sungkan. Sedekat itu hubungan diantara mereka. Seakan-akan Ia memperlakukan Firman seperti Ia memperlakukan anak kandungnya sendiri.
“Ok, bagus. Om titip Arin ya! Bantu dia kalau misalkan butuh apa-apa. Tapi jangan sampai membantu dalam mengerjakan tugas atau hal lain yang mengarah pada hal membuat dia malas dan tidak bertanggung jawab pada kewajiban dia sendiri. Om juga minta kamu supaya jagain Arin. Khawatir ia salah gaul di kota besar ini. Karena gak ada om dan tante yang bisa mengontrol semua aktifitasnya.” Kata om Irawan pada Firman.
“Pasti om! Firman pasti bantu jagain Arin.” Jawab Firman mantap dan tanpa keraguan. Mendengar hal itu Arin malah terbelalak kaget. Ia setengah tak percaya, bahwa papanya menitipkannya pada orang yang paling Ia benci sejagat raya.
__ADS_1
“Papa apaan sih! Arin udah dewasa pa, udah tau mana yang baik dan mana yang buruk! Gak usah minta tolong ama dia buat jagain Arin!” jawab Arin yang semakin terlihat mangkel.
“Sayang, kamu itu perempuan. Hidup sendirian di kota sebesar ini. Papa sama nenek setiap hari khawatir. Kalau gak karena ingin mewujudkan keinginan dan mimpi-mimpi kamu. Kami juga gak akan pasrah membiarkan kamu sendirian di sini.”
“Iya, aku tau pa! Aku bisa jaga diri kok. Lagipula aku kan gak tinggal sendirian. Banyak kok teman-teman sekampus yang tinggal satu kosan sama aku.” Arin mencoba memberi pengertian.
“Gak bisa! Mereka pasti akan sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Gak akan ada yang bisa jagain kamu sebaik Firman!” papa Arin ngotot.
“Sudah om, jangan berdebat lagi. Saya pasti jaga Arin kok. Saya janji!” Firman mencoba meyakinkan.
Mendengar perkataan Firman Arin jadi semakin dongkol di dalam hatinya. Ia ingin sekali menyumpahi orang di depannya itu. Tapi sayang, disana ada papanya. Mau tidak mau ia harus menjaga emosinya.
“Arin pilihan kamu hanya itu ya! Kalau tidak, kamu kuliah di rumah aja!” Ancam Pak Irawan pada Arin.
“Ugh, iya iya pa!” Arin terpaksa setuju. Padahal di dalam hati ia tidak mau.
[Awas aja nanti! Tunggu perhitungan dariku.] ucap Arin di dalam hatinya. Ia menetap sinis ke arah Firman yang sedang berhadapan dengannya.
Mereka akhirnya memilih membicarakan hal lain dan menikmati makanannya.
Arin pulang ke kosan diantar oleh papanya. Ia memaksa papanya untuk mengantarnya. Karena tak ingin Firman memboncengnya lagi.
__ADS_1