
“Bisa ngomong berdua aja enggak sebentar?” ajak Arin saat melihat Firman keluar dari kantor BEM. Kebetulan Firman sudah selesai dengan tugas-tugasnya dan sudah berniat untuk pulang. Namun ia kaget ketika ada Arin yang tiba-tiba menghadang jalannya.
“Bi- bisa!” jawab Firman sedikit gugup. Kedatangan Arin yang tiba-tiba membuat hatinya tidak stabil. Masalahnya sudah beberapa hari ini ia menunggu Arin yang tak kunjung menghubunginya setelah peristiwa malam itu. Namun Arin tak pernah sekalipun memberi kabar dan menyapanya meski hanya lewat telpon.
Kini Arin tiba-tiba hadir di hadapannya dan mengajaknya berbicara empat mata. Membuat Firman sangat penasaran tentang apakah hal yang akan Arin sampaikan pada dirinya.
“Ikut aku ke tempat lain. Di sini banyak orang!” perintah Arin tanpa banyak basa-basi. Ia melangkah menuju halaman kampus.
Firman hanya bisa nunut dan mengekorinya dari belakang. Nabila dan Vivi sengaja tidak mau ikut campur dan memilih menunggu di tempat lain. Mereka berdua sudah berusaha mencegah Arin untuk tidak terlalu percaya perkataan Viona. Namun nasehat mereka bagaikan angin lalu yang tidak digubris sama sekali oleh Arin. Ia sudah terlalu kesal dan merasa dicurangi.
Setelah sampai di sebuah tempat yang lumayan sepi. Arin berhenti di bawah sebuah pohon besar yang ada di salah satu sudut kampus. Karena pohonnya besar maka suasana sekitar menjadi sangat rindang dan sejuk. Biasanya tempat seperti ini menjadi tempat favorit para pasangan yang sedang pacaran. Namun entah kenapa hari ini tak ada satupun manusia yang ada di bawahnya maupun sekitarnya.
“Kamu apa-apaan sih mas? Sengaja ya mau bikin malu aku?” tanya Arin tiba-tiba.
Ditanya demikian Firman hanya melongo dan tak tau harus menjawab apa. Ia tak mengerti kemana arah pembicaraan Arin saat ini.
“Aku denger dari seseorang kalau kamu yang memaksa memasukkan aku ke struktural BEM. Padahal nilai aku gak memenuhi standart kriteria penilaian untuk bisa masuk.” Arin langsung ke inti pembicaraan.
“Apa?” Firman masih bingung. Ia paham perkataan Arin. Namun yang membuat ia bingung adalah tuduhan Arin yang demikian. “Kamu- tau darimana info beginian?” akhirnya Firman hanya bisa bertanya seperti itu.
“Gak penting aku tau darimana! Aku Cuma mau bilang satu hal sama kamu! Jangan terlalu ikut campur dalam kehidupan aku!” ucap Arin kepada Firman. Seketika wajah Firman pucat dan Ia merasa kata-kata Arin begitu menusuk sampai ke dalam hatinya. Kata-kata Arin terasa menyakitkan bahkan untuk sekedar di dengarkan.
“Aku gak pernah melakukan hal yang kamu tuduhkan itu! Dan kalau memang kamu merasa aku terlalu ikut campur dalam kehidupan kamu. OK, aku gak akan melakukan hal itu lagi!” Firman menjawab dengan kata-kata yang tak kalah menyakitkan.
“OK, lagian siapa juga yang selama ini selalu berusaha mendekati duluan? Kamu kan? Kamu itu bukan siapa-siapa aku! Jangan ngaku-ngaku pada semua orang kalau kita saudara!” Arin semakin emosi dan tak mau kalah. Egonya membuatnya mengeluarkan kata-kata yang sebenarnya tidak berasal dari hatinya.
__ADS_1
“Sejijik itu kamu sama aku? Sebenci itu kamu sama aku?” tanya Firman penuh emosi.
“Iya aku sangat benci kamu!” Lagi-lagi Arin mengeluarkan kata yang mencengangkan dan mengejutkan Firman.
“Pertama, aku bukan siapa-siapa di BEM. Aku hanya sekretaris. Bukan ketua! Jadi gak mungkin aku bisa melakukan hal itu. Dan yang kedua, aku gak ikut dalam rapat pemilihan anggota baru! Saat itu aku sedang sibuk di kantor! Terserah kamu mau percaya atau tidak!” Firman mencoba membela diri dan menjelaskan bahwa hal itu memang bukan ia yang melakukannya.
Namun mendengar kata-kata terakhir Arin membuat Firman sudah terlanjur sakit hati dan hancur. Ia lebih memilih pergi sebelum Arin semakin menjadi-jadi.
Firman melangkah pergi dengan perasaan yang sangat terluka. Seakan seluruh dunianya kini runtuh dan hancur. Hatinya begitu sakit mendengar setiap kata-kata yang Arin ucapkan. Tanpa terasa ia melangkah sambil sedikit meneteskan air mata. Begitu besar harapannya yang kini Arin hancurkan. Semua terasa gelap dan menyesakkan.
Firman kira semua sudah baik-baik saja karena mereka berdua sudah lumayan dekat kembali akhir-akhir ini. Ia tak menyangka bahwa Arin ternyata masih membencinya.
Sedangkan Arin yang masih berdiri sendirian di bawah pohon mulai sedikit sadar. Bahwa kata-katanya tadi sangat keterlaluan. Ia menyesal mengatakan hal yang sudah ia lontarkan.
“Arin!” Nabila tiba-tiba datang dan menghampiri Arin yang merasa bahwa dirinya kini tak memiliki harapan lagi untuk bisa berbaikan dengan Firman.
“Arin!” sekali lagi Nabila memanggil namanya dengan lantang.
Seketika Arin menoleh. Namun wajahnya tampak menyiratkan wajah penuh penyesalan. Air matanya tiba-tiba keluar dari kedua pelupuk matanya dengan deras.
“Arin? Apa yang terjadi?” tanya Nabila mulai panik melihat Arin yang tiba-tiba menangis dan berhambur ke pelukannya.
Arin tak menjawab karna ia merasa tangisnya seolah tak bisa terbendung lagi. Ia butuh waktu untuk bisa menceritakan semuanya. Ia hanya bisa menangis tersedu-sedu di dalam pelukan Nabila.
“Jangan bilang kalau kamu sedang bertengkar dengan kak Firman?” akhirnya Nabila yang penasaran menanyakan hal itu pada Arin. Arin hanya mengangguk dan terus menangis.
__ADS_1
Nabila mencoba menenangkan dengan cara memeluk Arin.
Tak lama setelah itu Vivi datang dengan langkah yang sedikit tergesa-gesa. Nafasnya ngos-ngosan. Tampak bahwa ia tadi berlari saat menuju ke arah Arin dan Nabila.
“Loh? Arin kenapa?” tanya Vivi begitu tiba dan melihat Arin yang menangis dalam pelukan Nabila.
“Arin menarik dirinya dan menyeka.air matanya. Kini keadaannya sudah sedikit tenang. Ia menghela nafas dan mulai menceritakan pertengkarannya dengan Firman. Mendengar hal itu Vivi maupun Nabila langsung memberi respon jika Arinlah yang salah dalam hal ini. Ia menuduh tanpa adanya bukti yang jelas.
“Kamu sih Rin! Kena hasutan cewek lampir itu!” ucap Nabila kesal.
Mendengar Nabila menyebutnya seperti itu. Arin jadi sedikit tertawa.
“Aku tadi udah nanya loh ke kenalanku di BEM. Dan dia juga pengurus inti di sana.” Ucap Vivi mulai bercerita jika ia tadi mencari orang yang dapat dipercaya dalam struktural BEM. Ia menanyakan perihal yang diceritakan Viona kepada mereka.
“Trus gimana?” tanta Nabila penasaran.
“Yah gak adalah kak Firman melakukan hal yang kayak gitu! Ada senior lain yang ngotot untuk memasukkan Arin. Tapi bukan kak Firman! Dan masalah nilai Arin itu sebenarnya bukannya gak memenuhi standart. Tapi, kertas jawaban Arin pas ujian seleksi pertama itu hilang! Jadi nilai ujian tulis Atin kosong deh! Begitu cerita Aslinya!” Vivi menjelaskan pajang lebar.
“Tuh kan Rin! Kamu malah asal nuduh sih! Si Viona itu sengaja deh kayaknya mau adu domba kamu sama kak Firman. Dia itu salah satu fans fanatik kak Firman!” ucap Nabila mendukung perkataan Vivi.
“Iya, iya deh aku memang salah!” jawab Arin merasa menyesal saat mendengarkan penjelasan kedua sahabatnya.
“Trus gimana? Gak mau minta maaf?” tanya Nabila pada Arin hanya menggeleng sedih.
“Entahlah! Sepertinya tadi kata-kataku terlalu menyakitkan buat dia!” ucap Arin menyadari kesalahannya. “Sepertinya perkataannku tidak akan termaafkan!”
__ADS_1
Mendengar perkataan Arin baik Arin maupun Nabila hanya bisa geleng-geleng dan tak mengerti dengan sikap Arin yang gegabah.