
Waktu menunjukkan pukul dua belas lewat lima menit. Seluruh peserta orientasi dipersilahkan istirahat untuk makan siang. Untuk sesi selanjutnya akan dimulai pada jam tiga belas pas.
Arin bergegas menuju kantin kampus untuk makan siang.
Awalnya ia berniat mengajak makan Nabila. Tapi sayang, Nabila tidak bisa menemaninya karena ada beberapa kepentingan yang mendesaknya untuk tidak ikut makan siang bersama Arin.
Arin Memutuskan untuk pergi seorang diri. Karena baginya masih belum ada teman lain yang cukup akrab dan bisa diajak makan bersama. Sesampainya di kantin, Ia langsung memesan seporsi makanan yang lengkap dengan minuman favoritnya. Belum juga ia menyendok makanan ke mulutnya. Tiba-tiba dari arah samping dudukah seseorang yang entah dari mana datangnya. Karena penasaran, Arin menolehkan pandangannya ke samping. Sekali lagi ia dibuat terkejut dengan kedatangan orang ini. Seseorang yang sudah tidak asing lagi baginya.
“Hai! “ sapanya pada Arin sambil tersenyum lebar
Arin diam tak menjawab. Ia kesal dan dongkol saat tau orang itu adalah Firmansyah.
“Hai nona! Sendirian aja? Boleh mas temenin enggak? “
Arin masih tetap diam tak menjawab. Ia bergegas mengangkat piring dan gelas yang ada di hadapannya. Bermaksud pindah pada meja lain yang kosong. Tapi sayang, saat ia menatap sekitar. Meja yang lain sudah terisi penuh oleh mahasiswa lain.
“Kayaknya stok mejanya udah habis loh nona! Jadi bolehkan saya juga ikut makan disini?” Firman masih gigih dengan beberapa pertanyaannya. Arin memilih duduk kembali dengan keadaan yang sangat terpaksa. Ia diam tak menjawab.
“Hmm, neng Arin yang cantik_”
“Bisa enggak kalau diam? Ganggu orang lagi asyik makan aja!” bentak Arin dengan sinis memotong percakapan Firman barusan.
“Duh, jutek amat non? Aku tuh kesini karena_”
“Gak penting tau enggak! Masa bodoh! Males liat muka kamu. Bikin gak nafsu makan aja!” bentak Arin sekali lagi memotong Pembicaraan Firman.
Arin bergegas dari tempat duduknya untuk pergi dari meja itu. Namun dengan sigap Firman meraih tangannya.
“Arin tunggu! Kamu mau kemana?”
“Bukan urusan kamu! Lepasin gak?”
“Arin kamu belum makan. Oke, aku pergi. Tapi kamu harus makan ya!”
“Udah gak nafsu!”
“Arin tadi Om Irawan telpon aku. Minta tolong buat nyamperin dan melihat keadaan kamu.”
“Ok, silahkan laporkan kalo keadaan aku baik-baik saja sebelum aku tau kalau kamu ternyata juga kuliah di kampus ini”. Jawab Arin sambil menarik tangannya dari genggaman Firman. Setelah itu ia langsung berpaling dan berlalu. Tak menyerah Firman mengekorinya dari belakang. Berjalan lebih cepat dan menghadang langkah Arin.
“Boleh gak aku minta sesuatu ama kamu?” tanya Arin tanpa memandang kearah Firman.
“Boleh banget!” jawab Firman penuh semangat.
__ADS_1
“Bisa enggak? Kalau kita bertingkah seolah gak pernah kenal?”
“Maksud kamu? “
“Tolong abaikan aku, dan bersikaplah seperti kita gak mengenal satu sama lain,!”
“Gak bisa!” jawab Firman singkat.
Arin menggeser posisinya lalu segera berlalu dengan cepat. Berharap Firman tidak lagi menghalangi langkahnya. Kali ini Ia tidak hanya berjalan namun setengah berlari.
“Arin! Kamu belum makan siang!” teriak Firman dari arah belakang.
Arin tak mendengarkan dan memang sengaja tak mau mendengarkan. Ia segera merogoh ponsel yang ada di saku almamaternya.
“Halo, papa! Papa kok gak bilang sih kalau Mas Firman juga kuliah di sini? Di kampus yang sama dengan Arin? “ Tanya Arin pada papanya penuh emosi.
“Sayang, kalau papa memberi tahu dari awal. Mana mau kamu kuliah disitu?”
“Trus ini ceritanya sengaja gitu? Papa maksa aku kuliah disini. Supaya bisa satu kampus dengan dia?”
“Betul banget sayang! Kamu jangan marah dulu sama Firman. Ini memang rencana papa!”
“Enggak pa! Aku gak suka! Apa-apaan sih ini? “
“Sayang, dengarkan papa dulu! Hanya Firman yang bisa papa minta tolong buat jagain kamu di kota sebesar dan sebahaya Jakarta! Papa gak tenang kalau kamu kuliah ditempat yang sekiranya gak ada orang yang kamu kenal. Gak ada kerabat yang bisa jagain kamu dan membantu kamu!”
“Kamu gak tau sayang. Gimana bahayanya kota yang kamu tinggali saat ini. Jika tidak memiliki seseorang yang bisa melindungi”
“Tapi pa, kenapa harus dia sih? “
“Karena dia laki-laki yang terbaik yang papa percaya. Di mata papa. Kamu tau sendiri kan gimana papa sangat mempercayai Firman?”
“Tau gitu, Arin gak mau kuliah disini.”
“Dan papa gak mungkin ngebolehin kamu kuliah jauh-jauh dari mama dan papa. Jika akhirnya gak ada yang bisa jagain kamu.”
“Ya sudah, percuma debat sama papa. Pada akhirnya aku masih di anggap anak-anak sama papa. Aku tutup dulu ya teleponnya “. Ujar Arin ketus dan langsung menekan panel end di layar handphonenya.
Setelah berdebat panjang lebar. Akhirnya Arin menyadari, bahwa percuma saja Ia protes sedemikian keras. Karena pada akhirnya. Semua yang terjadi harus sesuai dengan kehendak papanya.
Mama, Arin harus segera mengabari mamanya. Iapun menekan lagi ponselnya dan menghubungi nomer mamanya.
“Halo, ma!”
__ADS_1
“Iya sayang? Ada apa?”
“Mama tau enggak? Aku satu kampus sama dia ma!” ucap Arin tiba-tiba.
“Dia siapa maksud kamu?” tanya mama Arin yang masih belum paham kemana maksud pembicaraan Arin.
“Firmasyah Abdala ma! Anak dari tante Fatimah.”
“Apa?” mama Arin begitu terkejut saat mendengarnya. “Kamu satu kampus sama dia?”
“Iya ma. Tadi aku udah telpon papa dan menanyakan hal ini. Papa bilang, dia sengaja menguliahkan aku di kampus ini. Supaya aku bisa satu almamater ama orang itu. Supaya aku ada yang jaga kata papa.”
“Oh tuhan, apa-apaan papamu ini!” jawab mama Arin mulai kesal.
“Ma, tolong dong telpon papa! Mama marahin papa ma! Bilang aku gak mau satu kampus ama dia. Aku pokoknya mau dia yang pindah dari Universitas ini. Karena aku gak mungkin membatalkan kuliahku di sini. Aku udah nyaman banget di sini ma!” ucap Arin merengek pada mamanya.
“Arin, kalau di pikir-pikir, ada benarnya juga kamu satu Universitas sama dia nak. Kamu itu sekarang udah mau dewasa. Mama pikir inilah saat yang tepat.” ujar mama Atin mencoba memberi solusi.
“Maksud mama? Aku gak ngerti.”
“Maksud mama. Ini saatnya kamu memulai pembalasanmu sama dia. Bukannya kamu bilang bahwa mereka harus membayar penderitaan kita?” mama Arin mulai tersenyum licik.
“Jadi, aku harus gimana ma?” tanya Arin polos.
“Aduh, Arin! Arin! Katanya kamu mau balas dendam? Mama rasa ini saat yang tepat.”
“Apa yang harus aku lakukan ma?”
“Tenang saja sayang, kita atur strategi dulu. Kamu sekarang fokus saja dulu sama masa orientasimu itu. Gimana? Seru?”
“Yah, ini sih belum apa-apa ma. Baru pembukaannya aja. Tau deh nantinya gimana.”
“Ya sudah. Kamu udah makan siang?”
“Belum. Ini aku lagi mau cari makan.”
“Ya udah buruan gih, makan dulu! Nanti kita telponan lagi.”
“Oke, palingan entar malem mah. Oscar kan acaranya seharian.”
“Iya gak papa. Mama tunggu.”
“Miss you ma!” ucap Arin bermaksud menutup percakapannya.
__ADS_1
“Miss you to” jawab mama Arin dan menutup telponnya.